Allah Menciptakanmu untuk Suatu Tujuan

Oleh Kimberly Hahn

A Couple foto oleh Artem Beliaikin (Sumber: stpaulcenter.com)

Allah menciptakan saya dan Anda untuk suatu tujuan. Takdir kita bukan didasarkan pada bakat, keterampilan, kemampuan, karunia, Pendidikan, kekayaan, atau pun kesehatan kita, meskipun semuanya itu berguna bagi kita. Rancangan Allah untuk hidup kita didasarkan pada kasih karunia Allah dan tanggapan kita kepada-Nya. Segala yang kita miliki adalah anugerah dari Allah. Seperti apa diri kita menjadi hadiah balasan bagi-Nya.

Dalam Efesus 1:12 dinyatakan bahwa, “kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Rancangan Allah supaya hidup kita membawakan kemuliaan-Nya. Allah telah memlilih kita dalam kasih, untuk menjadi cerminan yang hidup dari-Nya. Bagian tanggapan kita adalah panggilan kita, cara pelayanan tertentu yang memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam kekudusan dan menjadi semakin seperti-Nya.

St. Josemaría Escrivá sering menjawab pertanyaan dari hadirin di akhir konferensi. Ketika ia ditanya tentang panggilan seseorang, St. Josemaria akan menanyakan apakah orang itu sudah menikah. Jika sudah, ia akan meminta nama pasangan hidupnya. Tanggapannya kurang lebih seperti ini, “Gabriel, engkau mempunyai panggilan ilahi dan Namanya adalah: Sarah.”

Panggilan perkawinan bukanlah panggilan umum, melainkan panggilan khusus untuk menikah dengan orang tertentu. Pasangan hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jalan pasangannya menuju kekudusan.

Kadang-kadang orang banyak mempunyai pemahaman terbatas mengenai panggilan, menggunakan istilah itu untuk membatasi mereka yang dipanggil ke dalam presbiterat atau kehidupan religius. Tapi Allah memanggil kita semua menuju kekudusan, dan jalan menuju kekudusan mencakup panggilan tertentu. Untuk beberapa orang jalannya dengan hidup melajang atau hidup bakti, untuk beberapa orang lagi yaitu perkawinan.

Dalam perkawinan ada banyak kesempatan di setiap harinya untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Tuhan dalam kekudusan. Allah tidak memandang rendah orang-orang yang menikah! Saya juga mengalami hari-hari ketika terlambat makan malam, anak yang rewel, telepon terus menerus berdering, dan Scott pulang terlambat. Pikiran saya bisa melayang ke adegan para biarawati yang berdoa di biara dengan damai, dan menunggu bel makan berbunyi. Oh, saya bisa menjadi biarawati untuk sehari!

Saya kewalahan, terperangkap dalam betapa menantangnya panggilan hidup saya. Kemudian saya menyadari bahwa panggilan hidup saya ini tidak ada yang lebih menantang daripada panggilan hidup yang lain. Bagi saya, panggilan hidup saya ini lebih menantang karena itulah panggilan Allah dalam hidup saya. (Sejak itu, ada banyak biarawati meyakinkan saya bahwa biara itu tidak selalu kebahagiaan yang damai seperti yang saya bayangkan).

Perkawinan saya dengan Scott adalah bagaimana Allah memurnikan saya dan memanggil saya menuju kekudusan, demikian juga perkawinan dengan saya adalah bagaimana Allah memurnikan Scott. Kami berdua memberi tahu anak-anak kami, “Kalian bisa mengejar panggilan apa pun, hidup bakti, melajang, atau menikah, kami akan mendukung kalian dalam panggilan yang kalian ambil. Tetapi ada yang tidak bisa dinegosiasikan yaitu kalian sudah mengenal Tuhan, kasihi dan layani Ia dengan segenap hati.”

Suatu kali ada dua orang seminaris yang berkunjung ke rumah kami, salah satu anak kami berjalan mondar-mandir dengan popok yang penuh, tentunya dengan aroma yang tidak enak. Seorang seminaris menoleh ke rekannya dan sambal bercanda berkata, “Saya senang dan yakin kalau saya dipanggil ke dalam presbiterat!”

Segera saya menyahut (dengan senyuman), “Pastikan Anda tidak memilih suatu pekerjaan untuk menghindari tantangan yang lain.”

Dengan sedikit kebijaksanaan yang berlaku dua arah: Seseorang hendaknya tidak memilih panggilan hidup perkawinan untuk menghindari tantangan membujang dalam hidup bakti, atau juga memilih hidup bakti untuk menghindari tantangan hidup perkawinan. Allah menciptakan kita masing-masing untuk panggilan hidup tertentu, dan akan ada sukacita besar dalam melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Panggilan Allah tidak akan pernah menjadi suatu panggilan hidup yang tidak kita inginkan.

 

Kimberly Hahn seorang pembicara dan penulis Katolik yang selama beberapa dekade sudah menceritakan kebijaksanaannya kepada pada istri dan para ibu. Dia seorang penulis berbagai buku, termasuk buku yang berjudul “Chosen and Cherished: Biblical Wisdom for Your Marriage.”

 

Sumber: “God Created You for a Purpose”

Posted on 4 January 2021, in Keluarga and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> bloggers like this: