Menemukan Kebenaran Melalui Newman – Kisah Diakon Scott Carson Ph.D.

Diakon Scott Carson (Sumber: diosteub.org)

Kisah perjalanan saya memasuki Gereja Katolik merupakan suatu kisah pertumbuhan. Yakni pertumbuhan spiritual, pertumbuhan psikologis, dan yang paling penting adalah pertumbuhan akan pemahaman dan kapasitas untuk kasih Kristiani.

Saya memulai perjalanan hidup saya sebagai bukan bagian umat beriman. Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat skeptis dan cenderung ke saintisme, dan sekarang saya seorang diakon permanen untuk Keuskupan Steubenville, Ohio, dengan panggilan melayani komunitas akademis di wilayah itu. Banyak hal yang berubah dalam rentang waktu 60 tahun.

Rumah kami berada di Stow, Ohio, tempat kedua orang tua saya membawa saya sesudah saya dilahirkan pada tahun 1958. Hanya berjarak dua rumah dari Gereja Katolik setempat, namun sampai hari ini saya tidak pernah melihat bagian dalam dari gereja itu. Kedua orang tua saya bukan Katolik, bahkan juga tidak religius, kecuali dalam arti yang lemah, pada zaman dulu dan sekarang, merasa berkewajiban untuk berkomitmen pada prinsip moral Kristen yang samar-samar. Namun hal itu tidak berarti kalau mereka tidak bersedia menjalani gaya hidup yang sesuai dengan keyakinan keagamaan yang dipraktikan pada ruang dan waktu zaman itu. Ayah saya seorang manajer di Goodyear Tire & Rubber Company, sedangkan ibu saya adalah yang sebelumnya disebut sebagai “ibu rumah tangga,” seorang wanita yang tinggal di rumah, mengurus rumah dan anak-anak Ketika suaminya bekerja. Dari pihak ayah saya adalah penganut Presbiterian, sedangkan dari pihak ibu saya penganut Southern Baptist. Namun Ketika saya dibesarkan, kedua orang tua saya sendiri jarang sekali ke gereja. Natal dan Paskah dirayakan dalam cara sekuler dengan pohon Natal, lampu, dan kado, keranjang, telur Paskah, dan permen.

Tema yang berulang kali hadir dalam kisah hidup saya adalah peranan wanita dalam perjalanan iman saya, dan dimulai dengan ibu saya. Saya masih ingat dengan jelas bahwa ibu saya mengajari saya kata-kata dalam doa Bapa Kami Ketika saya berusia sekitar 5 tahun. Namun, setelah itu saya tidak mengingat doa itu, dan saya juga tidak pernah melihat ibu saya berdoa, maka sampai dengan hari, saya tetap bersyukur atas apa yang kelihatannya menjadi pemberian akan rahmat yang murni yaitu doa yang diajarkan karena tidak ada alasan lain selain memberikan sebuah doa. Ibu saya tidak bisa mengetahui betapa pentingnya doa bagi saya di kemudian hari.

Kakak perempuan saya yang usianya lebih tua 14 tahun, mulai merasakan kepekaan akan kehidupan religius Ketika dia berada di sekolah menengah (setara SMA –red.). Dia mulai menjadi anggota yang sah di gereja Presbiterian yang baru ada di Stow, Ohio. Jelas, hal ini membuat kedua orang tua saya terkesan dengan semangatnya, karena di gereja itu saya dibaptis ketika berusia 3 tahun. Namun demikian, dengan kehadiran di gereja yang sporadis seperti itu, saya hanya punya sedikit kenangan dengan gereja itu.

Pada bulan November 1965, ayah saya meninggal dunia mendadak karena serangan jantung pada usia 48 tahun. Waktu itu saya berusia tujuh tahun. Kehilangan orang tua sangat berat di usia berapa pun juga, namun bagi seorang anak kecil, hal itu meninggalkan celah yang tidak pernah bisa diisi oleh apa pun. Ibu saya tidak menikah lagi, dan kakak perempuan saya sudah pindah untuk memulai kehidupannya sendiri, maka mendadak keluarga saya hanya kami berdua. Ibu saya mendapatkan pekerjaan, sehingga saya menjadi anak yang tanpa pangawasan orang tua. Pada masa itu, kami hidup berpindah-pindah, namun kami selalu tinggal satu atau dua rumah dari sekolah saya, sehingga memudahkan saya untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas ke sekolah di pagi hari dan membaca buku (atau yang lebih mungkin) menonton televisi di sore hari.

Ibu saya menikah dengan ayah saya setelah lulus SMA, ayah saya mengandalkan gelar sarjana tekniknya untuk menafkahi keluarganya. Setelah ia meninggal, keterbatasan model keluarga tahun 1950-an dan 1960-an dan kekuatan penghasilan yang menurun drastis karena diploma SMA ibu saya. Meskipun ibu saya bekerja sangat keras di pekerjaan yang sulit, dia tidak digaji dengan pantas, dia selalu berangan-angan supaya saya mendapatkan pendidikan yang baik dan yang lebih penting lagi, ibu saya terus menerus mendorong saya untuk mengembangkan dan mengejar minat intelektual. Saya suka membaca buku dan punya keingintahuan intelektual tentang dunia di sekitar saya. Meskipun ibu saya acuh tak acuh dengan agama, dia punya rasa yang ingin tahu yang mendalam tentang kekaguman akan dunia alam yang hampir mengarah ke hal religius, dan tentu saja hal ini menular: Saya tertarik dalam bidang astronomi dan kosmologi dan membaca banyak buku tentang sains yang dia belikan dengan senang hati untuk saya. Sungguh, hampir semua buku menjadi permainan yang adil bagi ibu saya; jika saya menunjukkan minat dalam membaca sesuatu yang menurutnya layak dibaca, dia akan membelinya untuk saya.

Kebangkitan Rohani

Sejak tahun 1968 sampai ibu saya meninggal, dia bekerja sebagai sekretaris di Kent State University, di mana dia bisa mengambil kelas tanpa biaya kuliah. Dia belajar psikologi, dan yang mengejutkan saya, dia mempelajari agama. Saya tidak tahu apa yang mendorong ibu saya untuk mengambil kelas yang bukan salah satu disiplin ilmu itu, namun dia mulai membaca buku karangan Carl Jung dan Teilhard de Chardin. Saya sekilas melihat buku-buku de Chardin, namun ketika saya berusia 13 tahun, saya lebih tertarik dengan The Lord of the Rings, yang pada awal tahun 1970-an diminati banyak orang, atau yang lebih baru sebanding dengan fenomena Harry Potter. Sama seperti anak muda saat itu, saya sangat terpikat dengan dunia yang diciptakan oleh Tolkien. Namun kisah dibaliknya, yang diuraikan secara rinci oleh Tolkien dalam lampiran karya itu, itulah yang mendorong saya untuk berpikir tentang tema yang lebih besar daripada pertempuran dan cincin ajaib.

Ibu saya mengenal baik karya Tolkien karena karyanya populer di kampus-kampus pada zaman itu, dan saya dan ibu saya akan membicarakan tema yang lebih besar itu. Suatu hari, ada hal yang mengejutkan saya, ibu saya membawakan saya satu set buku C.S. Lewis yang berjudul Chronicles of Narnia. Saya senang membaca volume buku ini dan tidak begitu lepas dari agama hingga saya melewatkan nuansa Kristen yang cukup jelas dalam karya itu. Saya tersentuh oleh keluhuran beberapa tokoh, dan tentu saja alur utama cerita itu sendiri yang cukup kuat. Untuk pertama kalinya, saya menganggap serius pemikiran bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih sekadar makhluk dan eksistensi di dunia alam dari yang bisa diamati. Namun demikian, tanpa adanya bimbingan, pemikiran saya tetang tema-tema besar ini menjadi serampangan dan tanpa arah, lebih seperti dunia fantasi yang saya baca daripada penyelidikan sistematis ke yang transenden. Tetapi pada masa inilah saya mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa ada lebih banyak lagi kehidupan yang belum didengar dan belum dilihat.

Jika ingin membuahkan hasil, perjalanan spiritual tidak boleh dilakukan sendirian atau dalam isolasi. Inilah wawasan yang hanya perlahan-lahan menyadarkan saya ketika saya memulai perjalanan saya sendirian dan dalam isolasi. Agama Kristen adalah agama komunal, cara hidup yang dianut oleh sebuah keluarga yang siap membantu satu sama lain. Pertama kali saya melihat ini ketika saya masih kuliah. Karena pekerjaan ibu saya, saya bisa kuliah di Kent State University dengan biaya yang sangat murah. Di sana saya bertemu dengan seorang wanita muda yang membuat saya sangat dekat dengannya, dia seorang Kristen yang serius, dialah orang pertama yang saya kenal dengan sangat baik. Darinya saya mulai mempelajari dasar-dasar tentang apa artinya percaya kepada Allahnya orang Kristen. Dia seorang Methodist, dan saya ikut kebaktian bersamanya, tapi tidak rutin. Saya sendiri tidak tertarik dengan kebaktian itu. Tapi saya menemukan kalau saya semakin tertarik akan agama yang lebih terperinci lagi. Karena saya mengambil jurusan Studi Klasik dan belajar Bahasa Latin dan Yunani, saya membeli Kitab Suci terjemahan St. Hieronimus yang dikenal dengan nama Vulgata. Mencoba untuk membacanya lebih ke latihan menerjemahkan daripada teologi, tapi saya menggabungkan antara membacanya dengan diskusi tentang agama secara lebih umum. Yang saya lakukan sekarang dengan para mahasiswa Kristen adalah membuat saya berpikir bahwa realitas transenden mungkin lebih penting daripada yang saya bayangkan. Namun, pada titik inilah, minat saya akan agama masih sangat teoritis dan tidak terlalu spiritual.

Akhirnya saya melanjutkan sekolah pascasarjana di jurusan klasik. Tujuan saya merai gelar Ph.D. dan mengajar Bahasa Latin dan Yunani di perguruan tinggi. Ini artinya saya harus meninggalkan rumah dan hidup di tempat baru. Saya pindah ke Chapel Hill, North Carolina, di mana saya mendaftar di University of North Carolina. Saya terbiasa bergaul dengan akademisi, tapi di sini akademisinya pada tingkatan yang baru sekali. Saya bagaikan “ikan besar di kolam kecil” menjadi “ikan kecil di kolam besar.” Mahasiswa pascasarjana lain di jurusan saya berasal dari latar pendidikan yang kuat, seperti Yale, Harvard, Priceton, atau Barkeley. Saya merasa sangat terbebani. Tetapi mereka itu sangat baik, dan kebanyakan adalah umat Kristen bahkan Katolik.

Awalnya, saya lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa dari jurusan lain, karena saya tinggal di asrama mahasiswa pascasarjana dari seluruh universitas. Di sana saya bertemu dengan seorang wanita muda lainnya yang menjadi sangat dekat dengan saya. Dia juga seorang Kristen, seorang Episkopal. Saya sama sekali tidak akrab dengan berbagai denominasi Kristen, jadi saya juga tidak tahu betapa berbedanya pergi ke gereja dengannya. Namun, pertama kali saya hadir bersamanya, saya bisa melihat suasana yang sangat berbeda. Saya terpesona dengan kelayakan liturgi, keindahan musiknya, dan martabat dan penghormatan dari perkataan dan tata geraknya. Saya tertarik dengan pengalaman ini dengan perasaan menarik sekaligus sesuatu yang tidak saya kenali. Saya tidak sepenuhnya yakin mengapa pengalaman itu menarik bagi saya, tetapi pada saat itu saya percaya bahwa yang saya alami bukan reaksi subjektif terhadap pengalaman estetika.

Menggali lebih dalam

Kemudian saya diberkati untuk berkenalan dengan seseorang yang bagi saya menjadi yang utama, dan mungkin yang paling penting, dan pembimbing spiritual dalam perjalanan hidup saya. Pastor pembantu untul pelayanan mahasiswa di Chapel of the Cross Episcopal Church adalah Romo Robert Duncan. Ia seorang yang berdedikasi, setia, dan spiritual, penuh kejujuran dan baik hati, cerdas dan bijaksana. Ia sudah memulai program di kapel itu yang disebut sebagai Anglican Student Fellowship, sebuah kelompok mahasiswa yang mengadakan pertemuan pada hari Rabu malam untuk Ekaristi dan persekutuan. Sejauh yang saya tahu, semua anggota kelompok itu memandang Romo Duncan dengan sikap hormat yang tinggi dan melihatnya sebagai pemimpin yang berkarisma dan luar biasa. Dari sudut pandang saya, ia lebih dari itu, ia luar biasa cerdas dengan cara yang lembut, seseorang yang bisa memimpin Anda untuk melihat berbagai hal tentang diri Anda sendiri yang bahkan tidak ingin Anda lihat, dan juga seseorang yang bisa memotivasi Anda untuk mendambakan hal-hal yang lebih tinggi dan lebih baik. Ia selalu bersedia untuk membicarakan tentang masalah agama dan darinya saya belajar tentang para Bapa Gereja dan perkembangan teologi Kristen.

Mengenal mahasiswa Kristen di jurusan saya, saya juga melakukan pembicaraan yang informatif denngan beberapa orang Katolik. Saya sedang mengejar gelar Ph.D., menulis disertasi tentang filsuf Yunani yang bernama Aristoteles. Dan dalam percakapan saya dengan beberapa mahasiswa pascasarjana yang Katolik saya menemukan bahwa teologi Katolik didasarkan pada pemikiran Aristoteles. Pada saat itulah saya mulai menjelajahi tulisan-tulisan St. Thomas Aquinas, seorang teolog abad pertengahan dan presbiter Dominikan yang karyanya sangat dipengaruhi prinsip-prinsip filsafat Yunani, terutama dari Aristoteles. Bacaan ini, dan juga pembicaraan saya dengan Romo Duncan, meyakinkan saya bahwa saya harus punya komitmen untuk mengikuti Kristus. Dan pada tahun 1981, saya secara resmi masuk ke Gereja Episkopal.

Air yang bergejolak

Terlepas dari kenyataan bahwa saya menemukan begitu banyak hal tentang gereja Episkopal yang menyenangkan, beberapa pertanyaan yang mengganggu mulai bermunculan ketika saya mengeksplorasi dasar-dasar teologis dari iman. Khususnya, saya mulai sangat meragukan alasan pemisahan Gereja Inggris dari Roma pada waktu pemeritahan Henry VIII. Kenyataannya, banyak keberatan atas keutamaan Roma dari Gereja Roma dan para reformator Protestan menurut saya lebih ke motivasi politik, bukan teologis. Menurut saya teologi Romawi itu masuk akal, baik secara historis maupun filosofis. Selain itu, saya tidak begitu yakin bahwa perbedaan praktik Romawi dan Anglikanisme yang saya ikuti itu punya perbedaan yang besar. Singkatnya, saya mulai merasa bahwa jika saya tidak punya alasan untuk “protes,” saya tidak boleh menjadi seorang Protestan.

Dengan Newman, saya merasa senang menyebut melalui media bahwa tradisi Anglikan sebagai “jalan tengah” antara Katolisisme dan Protestanisme. Saya menganggap bahwa Anglikanisme sebagai bentuk kebahagiaan sampai saya benar-benar mempelajari lebih dalam lagi karya John Henry Newman. Dari sana, saya belajar bahwa Newman, di kemudian hari, melihat konsepsinya melalui media itu sebagai sesuatu yang salah, atau suatu kesimpulan yang ia capai setelah melakukan penelitian ekstensif mengenai para Bapa Gereja perdana.

Meskipun Newman sudah memberikan tulisan mengenai perubahan keyakinannya dalam Apologia Pro Vita Sua, tapi bukan kisah itulah yang paling memengaruhi saya. Sebaliknya, yang memengaruhi saya adalah karyanya yang lebih ke soal teknis yaitu An Essay on the Development of Christian Doctrine. Buku itu menjelaskan dengan gamblang dan luar biasa bagaimana doktrin Kristen yang ditanamkan oleh Kristus sendiri dalam diri para Rasul, bertumbuh dan berkembang sepanjang waktu, hampir seperti organisme. Saya menemukan bahwa hal itu tidak mungkin dipercaya bahwa ajaran yang tidak dapat salah itu bisa berubah seiring waktu. Jika sesuatu tidak dapat salah di satu waktu, maka akan benar di sepanjang zaman, tapi ini sangat jelas bahwa pemahaman kita tentang Sang Jalan yang merupakan kehidupan dan pengalaman pengikut Kristus sudah berkembang dalam banyak hal sejak awal mula. Untuk menjelaskan hal ini, Newman menunjukkan bagaimana doktrin iman beradaptasi dengan keadaan tanpa mengubah isinya yang penting dan substansial. Contohnya, sudah jelas dalam naskah Perjanjian Baru bahwa ada tiga pribadi sentral yang harus dipertanggungjawabkan dalam iman kita, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tapi ada pemahaman yang lebih kompleks lagi dari tiga pribadi ini sebagai Pribadi yang berbeda dari Trinitas yang Esa yang tidak dinyatakan dalam bentuk langsung atau cara yang eksplisit di sepanjang waktu dalam naskah-naskah itu. Sebaliknya, hal itu dibuat menjadi eksplisit di sepanjang waktu, dan akhirnya menemukan rumusan yang konkret dalam Kredo dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Oleh karena itu, doktrin Trinitas itu tidak muncul begitu saja. Hal itu sudah tersirat dalam Wahyu yang utuh dan sempurna yaitu hidup Kristus, tetapi perlu adanya otoritas pengajaran dari Tradisi Apostolik untuk memilahnya, untuk menjelaskannya, dan menyajikannya kepada generasi-generasi umat beriman berikutnya yang bisa diperoleh dalam berbagai konteks budaya.

Semakin saya merenungkan kisah Newman tentang perkembangan doktrin, semakin jelas bagi saya bahwa Tradisi Apostolik sudah dipelihara secara utuh dalam Magisterium Gereja Katolik, dan bahwa motivasi politik yang saya curigai ada di balik banyak kritik Reformasi terhadap Roma yang sebenarnya adalah inovasi.

Dalam tulisan Newman, Magisterium Gereja seperti organisme yang hidup, sesuatu yang bertumbuh dan berkembang tanpa mengubah sifat dasarnya. Bagi saya, wawasan itu adalah pengaruh yang sangat besar tapi bukan satu-satunya. Gereja sebagai institusi terdiri dari para anggotanya, individu-individu yang membentuk Tubuh Kristus di bumi. Selain ketertarikan yang saya rasakan terhadap teologi Gereja Katolik, saya juga menemukan bahwa orang-orang Katolik yang ada dalam lingkaran pertemanan saya merupakan sejenis komunitas kekeluargaan, yang keindahannya sulit ditolak. Sala satunya yaitu Lisa Jacobs yang menjadi seorang teman dekat, dan akhirnya menjadi istri saya. Lisa tidak dibesarkan dalam keluarga yang religius, tapi ketika dia tiba di Chapel Hill untuk belajar ilmu klasik, dia sudah berencana masuk Gereja Katolik pada Paskah tahun berikutnya. Dia sedang mempersiapkan Sakramen Inisiasi (Baptisan, Penguatan, dan Ekaristi), dan ketika saya menemaninya dalam perjalanan hidupnya, saya sangat terkesan dengan imannya, yang bagi saya tampak murni dan otentik, yang didasarkan pada kasih yang sederhana dan penuh sukacita akan Allah. Jika perubahan teologis saya dibantu dengan pemikiran Newman, perubahan spiritual saya dibantu oleh teladan hati Lisa yang secara bebas diberikan kepada Allah. Pada saat Lisa diterima di Gereja pada Paskah 1983, saya juga memutuskan untuk bergabung dengan Gereja Katolik.

Persetujuan yang Nyata

Saya mengambil pengajaran dari seorang presbiter Katolik di Chapel Hill, dan pada Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis (24 Juni 1983), saya diterima dalam persekutuan penuh dengan Roma. Meskipun ini merupakan langkah besar bagi saya, ini baru permulaannya. Sebelumya, saya mencatat bahwa langkah pertama saya dalam perjalanan ini sebagian besar adalah “teoritis dan tidak terlalu spiritual.” Ini yang menurut saya adalah kutukan bagi banyak akademisi: terlalu banyak kepala, tidak cukup hati. Terlepas dari teladan Lisa, saya masih melakukan perjalanan dalam cara yang sebagian besar masih teoritis, dan ketika saya mulai melakukan langkah pertama di sepanjang via Romana, Newman yang datang menyelamatkan saya.

Setelah menyelesaikan studi Ph.D. dalam jurusan klasik, saya mengajar selama beberapa tahun tapi saya merasa gelisah dan tidak puas dengan pekerjaan saya. Ketertarikan saya pada filsafat sudah bertumbuh selama ini, dan terpikir bagi saya bahwa saya lebih suka mengerjakan topik filosofis penuh waktu. Jadi saya berhenti belajar klasik dan kembali ke kuliah pascasarjana, kali ini di Duke University, di mana saya memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang filsafat. Selama studi saya, saya memiliki kesempatan untuk membaca magnum opus (karya terbesar) Newman, yang berjudul An Essay in Aid of a Grammar of Assent. Ini adalah karyanya yang paling teknis, berurusan dengan yang disebut para filsuf lapangan sebagai “epistemologi” yaitu studi sistematik tentang pengetahuan itu sendiri: apa itu, bagaimana itu diperoleh, apa objeknya, dan lain sebagainya.

Seseorang mungkin keberatan: “Tapi tunggu! Kata Anda sudah ada ‘terlalu banyak kepala, tidak cukup hati.’ Bagaimana buku seperti itu bisa membantu Anda di saat seperti ini?” Newman menarik perbedaan penting dalam karya ini, antara dua cara kita bisa pasti sepakat terhadap sesuatu, dan perbedaan ini sangat membantu saya. Kita bisa sepakat dengan gagasan “secara nosional” atau kita bisa “benar-benar” menyetujuinya. Persetujuan nosional merupakan jenis persetujuan mental di mana kita memberikan gagasan dan konsep umum seperti “Semua umat manusia punya kesetaraan martabat.” Kepastian yang kita rasakan dengan jenis persetujuan ini berasal dari bukti atau demonstrasi logis. Sebaliknya, persetujuan nyata adalah jenis kepastian mental yang kita peroleh dengan mengalami sesuatu secara langsung untuk diri kita sendiri, terlepas dari bukti atau demonstrasi logis siapa pun. Sebagai seorang filsuf, saya sudah terbiasa dengan banyak upaya untuk “membuktikan” keberadaan Tuhan dengan berbagai demonstrasi logis. St. Thomas Aquinas, St. Anselmus, dan banyak penulis lain menawarkan bukti serupa. Tapi percaya akan Tuhan tidak sesederhana menemukan demonstrasi logis tentang keberadaan-Nya. Ada banyak yang percaya, tapi banyak juga yang ateis. Bukti logis terkadang bisa memaksa sesuatu seperti persetujuan nosional, tapi tidak dapat memaksa persetujuan nyata.

Apa yang sudah saya temukan pada tahun-tahun perubahan keyakinan saya adalah kepercayaan kepada Tuhan, yaitu kepercayaan radikal yang sepenuhnya dituntut dari seorang murid, sesuatu yang bukan dipelajari dari buku teks, tetapi sesuatu yang harus dialami. Saya sudah belajar banyak hal tentang Kekristenan selama bertahun-tahun menjalani perjalanan hidup ini, tapi saya masih belajar apa itu menjadi seorang Kristen, karena saya masih menghidupi Sang Jalan. Saya membandingkan pertumbuhan dalam persetujuan nyata ini terhadap perkawinan. Saya dan Lisa menikah pada bulan Julli 1989, dan saya bisa membuktikan bahwa pada hari perkawinan, orang itu merasakan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan oleh perasaan senang sebelumnya. Pada hari itu mungkit sulit membayangkan cinta seseorang untuk pasangannya yang tumbuh semakin besar atau semakin dalam. Namun, setelah 30 tahun menikah, saya pikir bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang sudah menikah yang menemukan bahwa cinta memang tumbuh semakin dalam dan semakin dalam lagi seiring waktu. Semakin saya terpikat pada istri saya pada hari pertama kehidupan perkawinan kami dalam hidup bersama, saya tidak akan menukarkan apa yang saya miliki dengannya sekarang untuk perasaan tergila-gila di hari pertama perkawinan. Pada hari perkawinan kami saya yakin sekali bahwa saya mencintai istri saya, sekarang saya tahu apa yang saya lakukan, dan saya mengetahuinya dari semacam pengalaman langsung yang tidak mungkin saya alami pada hari pertama itu.

Demikian juga iman akan Kristus dan kasih yang memanggil kita sebagai pengikut-Nya. Ketika kita pertama kali percaya, kita dalam artian tertentu “tergila-gila” dengan Gereja, dalam ajarannya, liturginya, dan lain sebagainya. Namun, seiring waktu saat kita bertumbuh dalam iman, kita melihat bahwa sesuatu yang lain dituntut dari kita. Tidaklah cukup untuk mengasihi ajaran Gereja, seseorang harus menghidupinya, karena dalam hal jenis kasih tertentu yang dituntut dari kita, mengasihi adalah menghidupi dengan cara tertentu.

Inilah yang dibawa pulang kepada diri saya dalam cara yang dramatis beberapa tahun lalu, ketika saya harus menjalani operasi retina yang sobek. Saya sangat takut akan kehilangan penglihatan, dan operasi yang saya jalani terlihat cukup menakutkan, situasi kalah-kalah. Tapi, syukurlah, operasinya berjalan dengan baik. Dokter bedah saya memiliki keahlian dan dia mendapatkan banyak bantuan di ruang operasi. Memang, ada seorang perawat yang memegangi yangan saya selama prosedur itu, memberikan perasaan tenang yang tidak bisa dihasilkan oleh obat penenang. Setelah masa pemulihan saya selesai, saya merenungkan kenyataan bahwa begitu banyak kebaikan yang sudah dilakukan dalam ruangan itu atas nama saya. Saya juga merenungkan suatu kenyataan bahwa seandainya saya tidak membutuhkan bantuan, kebaikan itu tidak akan terjadi. Dalam Penyelengaraan Ilahi, Allah mampu mendatangkan kebaikan dari apa yang buruk. Ini menggarisbawahi sejauh mana saya membutuhkan satu sama lain, kita di sini untuk orang lain, bukan hanya membantu mereka yang membutuhkan, tapi untuk dibantu orang lain ketika kita sendiri sedang membutuhkan. Inilah misteri besar cinta yang memberikan dirinya: hidup kita bukan milik kita, mereka bukan untuk kita, tapi untuk orang lain. Dengan cara ini, kita adalah gambaran kecil Kristus sendiri, yang memberikan diri-Nya sendiri sepenuhnya dan seutuhnya demi kita, tanpa mengharapkan imbalan.

Jadi, untuk menjalani kehidupan itu secara lebih utuh, saya memasuki formasi Diakon Permanen di Keuskupan Steubenville, Ohio. Dan saya ditahbiskan menjadi diakon pada bulan Desember 2016. Kanonisasi John Henry Kardinal Newman oleh Paus Fransiskus pada tanggal 13 Oktober 2019 menegaskan langkah saya. Perlindungannya sangat relevan dengan pekerjaan saya sebagai profesor filsafat, karena merenungkan kehidupan dan karyanya terus menerus di pikiran saya membuat hal-hal itu bertumbuh: waktu adalah rahmat. Bekerja dengan mahasiswa merupakan cara yang baik untuk meneladani keimanan dan pada saat yang sama saya belajar kesabaran, empati, bahkan pengorbanan diri. Sekarang saya menjalani cinta saya dengan cara yang tidak dapat saya lakukan sebelumnya, baik karena saya tidak punya pengalaman yang cukup atau tidak punya empati yang cukup, atau karena saya tidak diberi kesempatan untuk memberikan diri saya kepada orang lain. Saya kira, seseorang juga memperoleh pelajaran dari menjadi orang tua. Saya dan Lisa mempunyai dua anak, Michael dan Olivia, yang telah dikaruniakan kepada kami hampir setengah hidup kami, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Kebanyakan orang tua mempelajari itu, jika Anda mengharapkan sesuatu dari cinta Anda, maka Anda bukan hanya mencari kekecewaan, Anda juga tidak benar-benar mencintai. Namun, ini bisa menjadi pelajaran yang sulit untuk dipelajari, terutama bagi orang tua dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Mengasihi anak-anak sebenarnya siapa dan apa mereka dalam mendapatkan waktu dan pengalaman bersama mereka. Oleh karena itu, perjalanan ini sedang berlangsung, memang hanya berakhir dengan kematian. Kematian itu ketika kita tidak lagi melakukan perjalanan tetapi sudah sampai di tujuan. Aristoteles pernah berkata bahwa kita tidak boleh menganggap seorang pun bahagia sampai ia mati, karena hanya dengan begitu, kita akan berada dalam posisi melihat ke belakang seluruh jalan hidup seseorang, dan bisa melihat apakah ia hidup dengan baik. Bagi orang Kristen, satu-satunya cara untuk menentukan apakah kita sudah hidup dengan baik adalah dengan melihat seluruh hidup kita apakah kita sudah mengasihi dengan baik.

 

Diakon Scott Carson adalah diakon permanen untuk Keuskupan Steubenville, Ohio dan seorang profesor filsafat pembantu di Ohio University di Athens, Ohio, di mana ia tinggal bersama dengan istrinya selama lebih dari 30 tahun. Istrinya, Lisa adalah seorang sarjana klasik independen. Mereka memiliki dua anak yang sudah dewasa.

 

Sumber: “Discovering Lived Truth Through Newman”

Posted on 28 January 2021, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: