Apa itu Kebenaran? – Kisah Marcus Grodi

Marcus Grodi (Sumber: chnetwork.org)

Saya mantan pendeta Protestan. Sama seperti banyak orang yang sudah menempuh jalan menuju Roma melalui negara yang dikenal sebagai Protestan, saya tidak pernah membayangkan suatu hari saya akan pindah ke Katolik.

Dengan temperamen dan pelatihan, saya lebih condong ke pendeta daripada seorang ahli, maka kisah perubahan keyakinan saya ke Gereja Katolik tidak punya detail teknis yang dilalui oleh para teolog yang disukai oleh para pembaca. Tapi saya berharap saya akan menjelaskan secara akurat mengapa saya melakukan apa yang saya lakukan, dan mengapa saya percaya dengan sepenuh hati bahwa semua orang Protestan melakukan hal yang sama.

Saya tidak akan menjelaskan dengan detail di tahun-tahun awal yang saya alami, kecuali saya mengatakan bahwa saya dibesarkan oleh dua orang tua yang penuh kasih di sebuah keluarga Protestan. Saya menjalani sebagian besar pengalaman yang membentuk masa kanak-kanak dan remaja dari seorang baby boomer khas Amerika.

Saya diajarkan untuk mengasihi Yesus dan ke gereja pada hari Minggu. Saya juga mengalami kesalahan besar yang bagi banyak orang adalah kesalahan bodoh yang dilakukan anak-anak pada generasi saya. Tetapi, setelah masa pemberontakan remaja, ketika saya berusia 20 tahun, saya mengalami perubahan radikal kepada Yesus Kristus. Saya menjauh dari godaan dunia dan serius dalam hidup doa dan pelajaran Alkitab.

Sebagai seorang dewasa muda, saya membuat komitmen kembali kepada Kristus, menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, berdoa supaya Ia membantu saya memenuhi misi dalam kehidupan yang sudah Ia pilih bagi saya.

Semakin saya mencari dalam doa dan belajar untuk mengikuti Yesus dan menyesuaikan hidup saya dengan kehendak-Nya, semakin saya merasakan kerinduan yang menyakitkan untuk membaktikan hidup saya sepenuhnya untuk melayani-Nya. Berangsur-angsur, tepat ketika fajar menyinari cakrawala yang gelap, keyakinan mulai tumbuh bahwa Tuhan sedang memanggil saya untuk menjadi seorang pendeta.

Keyakinan itu semakin kuat sejak saya masih kuliah dan kemudian dalam pekerjaan saya sebagai insinyur. Akhirnya saya tidak bisa mengabaikan panggilan itu. Saya yakin kalau Tuhan ingin saya menjadi seorang pendeta, maka saya berhenti dari pekerjaan saya dan mendaftar di Seminari Teologi Gordon-Conwell di pinggiran kota Boston. Saya meraih gelar Master of Divinity dan tak lama kemudian saya ditahbiskan menjadi seorang pendeta Protestan.

Jon-Marc, putra saya yang waktu itu berusia 6 tahun sedang menghafal sumpah Cub Scout (di Indonesia adalah Pramuka –red.) yang ada berbunyi: “Saya … berjanji untuk melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugas saya kepada Tuhan dan negara saya.”  Sumpah masa kanak-kanak yang sungguh-sungguh ini dengan baik merangkum alasan saya sendiri untuk berhenti dari pekerjaan bidang teknik demi melayani Tuhan dengan total dalam pelayanan penuh waktu.

Saya mengambil tugas pastoral saya yang baru dengan serius, dan saya ingin melakukannya dengan benar dan setia. Kemudian, di akhir hidup saya ketika saya berhadapan muka dengan muka dengan Allah, saya bisa mendengarkan-Nya mengucapkan kata-kata yang sangat penting itu: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Matius 25:21). Ketika saya hidup dalam kehidupan yang cukup menyenangkan sebagai seorang pendeta Protestan, saya merasa senang dan merasa damai dengan diri saya sendiri dan juga Tuhan, akhirnya saya merasa kalau saya sudah sampai.

Saya belum sampai.

Tak lama kemudian saya dihadapkan dengan sejumlah besar pertanyaan teologis dan administatif yang membingungkan. Ada dilema eksegetis tentang bagaimana menafsirkan bagian-bagian Kitab Suci dengan benar, serta keputusan liturgi yang dengan mudah bisa memecah belah umat. Studi di seminari saya tidak cukup mempersiapkan diri saya untuk menghadapi banyak pilihan seperti ini.

Saya hanya ingin menjadi seorang pendeta yang baik. Tapi saya tidak bisa menemukan jawaban yang konsisten atas pertanyaan-pertanyaan saya dari sesama rekan pendeta, atau dari buku-buku “bagaimana caranya” yang ada di rak buku saya, tidak juga menemukan jawaban dari para pemimpin denominasi Presbiterian. Seolah-olah setiap pendeta diharapkan untuk mengambil keputusan sendiri mengenai masalah ini.

Mentalitas “menemukan kembali kemudi sesering yang kamu butuhkan” yang merupakan inti etos pastoral Protestan menjadi hal yang sangat mengganggu saya. “Mengapa saya harus menemukan kembali kemudi?” Saya bertanya kepada diri saya sendiri dengan kesal. “Bagaimana dengan para pendeta Kristen yang menghadapi masalah yang sama selama berabad-abad? Apa yang mereka lakukan?”

Kami diajar di seminari untuk melihat “kejayaan” Reformasi atas “Romanisme” sebagai bentuk emansipasi Protestan dari hukum dan dogma “buatan manusia” kepunyaan Roma yang sudah “membelenggu” umat Kristen selama berabad-abad. Namun, “emansipasi” itu mulai terlihat seperti anarki daripada kebebasan sejati.

Saya tidak mendapatkan jawaban yang saya perlukan, meskipun saya sudah terus menerus berdoa untuk mohon bimbingan. Saya sudah kehabisan bahan dan tidak tahu harus mencari di mana lagi. Ironisnya, rasa frustasi karena kehilangan jawaban ini adalah berkat. Hal ini membuat saya terbuka dengan jawaban yang ditawarkan Gereja Katolik. Saya yakin jika saya merasa memiliki semua jawaban, saya tidak akan bisa atau tidak mau menyelidikinya lebih dalam.

Runtuhnya Pertahanan Saya

Di dunia kuno, kota-kota didirikan di atas bukit dan dikelilingi tembok kokoh yang melindungi penduduk dari para penyerbu. Ketika penyerbu mengepung sebuah kota (seperti ketika pasukan Nebukadnezar mengepung Yerusalem dalam 2 Raja-raja 25:1-7), penduduknya aman selama makanan dan air tersedia dan tembok kotanya bisa menahan serangan katapel tempur dan penggali parit. Tapi ketika tembok kota runtuh, kota itu musnah.

Kesediaan saya untuk mempertimbangkan pernyataan Gereja Katolik dimulai sebagai akibat runtuhnya teologi Protestan Reformed yang sudah mengelilingi jiwa saya. Selama hampir 40 tahun saya bekerja keras untuk membangun tembok itu, batu demi batu disusun untuk melindungi keyakinan Protestan saya.

Batu-batu itu dibentuk dari pengalaman pribadi saya, pendidikan seminari, relasi, dan kesuksesan dan kegagalan dalam pelayanan. Adukan yang merekatkan batu-batu itu adalah keyakinan dan filsafat Protestan saya. Tembok saya tinggi dan tebal, dan saya pikir tidak akan ada yang bisa menembusnya.

Bagaimanapun juga, saya merasa khawatir ketika adukan semennya runtuh, dan batu-batunya mulai bergeser dan roboh. Pada awalnya tidak terlihat, namun kemudian runtuhnya terjadi dengan cepat. Saya berusaha keras untuk memahami alasan mengapa saya semakin tidak percaya akan doktrin Protestanisme.

Saya tidak yakin apa yang sedang saya cari untuk menggantikan keyakinan Calvinis saya. Tapi saya tahu kalau teologi saya tidak mampu menjawabnya. Saya membaca lebih banyak buku dan berkonsultasi dengan para teolog sebagai usaha menambal tembok, tapi saya tidak mengalami kemajuan.

Saya sering merenungkan Amsal 3:5-6: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Inilah nasihat yang membayang-bayangi dan juga menghibur saya ketika saya bergulat dengan kebingungan doktrinal dan kekacauan prosedural dalam Protestanisme.

Para Reformator sudah memperjuangkan gagasan penafsiran pribadi dari Alkitab oleh individu. Saya mulai merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut dalam terang Amsal 3:5-6.

Orang-orang Protestan yang percaya akan Alkitab mengklaim bahwa mereka mengikuti ajaran ayat ini dengan memohon bimbingan Tuhan. Masalahnya, orang Protestan merasa bahwa Tuhan sedang mengarahkan mereka untuk menempuh ribuan jalan pengajaran yang berbeda-beda. Dan doktrin-doktrin ini sangat bervariasi menurut denominasi.

Saya bergumul dengan beberapa pertanyaan: Bagaimana saya tahu apa kehendak Allah bagi hidup saya dan orang-orang dalam umat saya? Bagaimana saya yakin bahwa apa yang saya khotbahkan itu benar? Bagaimana saya tahu apa itu kebenaran?

Mengingat kekacauan doktrinal yang ada dalam Protestanisme, di mana setiap denominasi mempertaruhkan doktrinnya masing-masing berdasarkan penafsiran orang yang mendirikannya. Ada pepatah standar Protestan, “Saya hanya percaya pada apa yang Alkitab katakan,” mulai terdengar hampa bagi saya. Saya mengaku dengan melihat Alkitab saja untuk menentukan kebenaran, tapi doktrin Reformed yang saya warisi dari John Calvin, John Knox, dan Puritan bentrok dalam banyak hal dengan yang dipegang oleh teman-teman saya yang Lutheran, Baptis, dan Anglikan.

Dalam Injil, Yesus menjelaskan apa artinya menjadi murid yang sejati (lihat Matius 19:16-23). Menjadi murid lebih dari sekadar membaca Alkitab, atau mencantumkan nama Anda dalam daftar keanggotaan gereja, atau ikut kebaktian Minggu dengan rutin, atau bahkan juga mendoakan doa pertobatan sederhana untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Meskipun hal-hal ini baik, tapi tidak menjadikan murid Yesus yang sejati.

Menjadi murid Yesus Kristus berarti membuat komitmen radikal untuk mengasihi dan menaati Tuhan dalam setiap perkataan, perbuatan, dan sikap, dan berjuang untuk memancarkan kasih-Nya kepada orang lain. Kata Yesus, murid sejati itu mereka yang rela menyerahkan nyawanya, bahkan jika perlu nyawanya sendiri untuk mengikuti Tuhan.

Saya sangat yakin dengan kenyataan ini. Ketika saya mencoba mempraktikkannya dalam hidup saya sendiri (meskipun tidak selalu berhasil), saya melalukan yang terbaik untuk meyakinkan umat saya bahwa panggilan menjadi seorang murid itu bukanlah sebuah pilihan, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan oleh orang Kristen. Ironisnya, teologi Protestan membuat saya tidak berdaya untuk memanggil mereka ke dalam pemuridan yang radikal, dan itu membuat mereka tidak berdaya untuk mendengarkan dan mengindahkan panggilan itu.

Seseorang mungkin bertanya, “’Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan’ (Roma 10:9), lalu mengapa saya harus berubah? Oh, tentu saja, saya harus mengubah cara hidup saya yang berdosa. Saya harus berusaha menyenangkan Tuhan. Tapi jika saya tidak melakukannya, apa masalahnya? Keselamatan saya terjamin.”

Ada seorang reporter surat kabar di New York City ingin menulis artikel tentang apa yang dianggap orang sebagai penemuan yang paling menakjubkan di abad ke-20. Ia turun ke jalan, mewawancarai orang banyak dengan acak, dan menerima berbagai jawaban: pesawat terbang, telepon, mobil, komputer, energi nuklir, perjalanan ke luar angkasa, dan antibiotik. Jawaban-jawaban terus berlangsung sampai ada satu orang memberikan jawaban yang tidak masuk akal.

Kata orang itu, “Tentu saja penemuan yang paling menakjubkan itu adalah termos.”

Termos?” tanya reporter itu sambil mengangkat alisnya.

“Tentu saja. Termos membuat benda panas tetap panas dan benda dingin tetap dingin.”

Reporter itu mengedip, “Terus kenapa?”

“Nah, bagaimana ia bisa tahu?”

Anekdot ini punya makna tersendiri bagi saya. Karena hal itu adalah tugas dan keinginan saya untuk mengajarkan kebenaran tentang Yesus Kristus kepada umat saya, perhatian saya yang sedang berkembang saat itu cukup sederhana: “Bagaimana saya tahu apa itu kebenaran dan apa yang bukan?”

Setiap hari Minggu saya berdiri di mimbar dan menafsirkan Kitab Suci untuk umat saya. Saya tahu bahwa dalam radius 15 mil dari gereja saya ada lusinan pendeta Protestan lainnya. Mereka semua percaya bahwa hanya Alkitab yang menjadi otoritas tunggal untuk doktrin dan praktik iman, namun masing-masing pendeta mengajarkan sesuatu yang berbeda dari yang apa saya ajarkan.

Apakah tafsiran Kitab Suci saya itu benar atau tidak? Saya heran. Mungkin salah satu pendeta itu benar, dan saya sudah menyesatkan orang-orang yang percaya kepada saya.

Saya juga punya pengetahuan bahwa suatu hari saya akan mati dan berdiri di hadapan Tuhan Yesus Kristus, Sang Hakim Kekal. Saya akan diminta untuk menjawab bagaimana saya memimpin orang-orang yang sudah Ia berikan kepada saya untuk digembalakan.

Saya bertanya kepada Tuhan berulang kali, “Apakah saya mengkhotbahkan kebenaran atau kesalahan? Saya pikir saya benar, tapi bagaimana meyakinkannya?”

Dilema seperti ini yang membayang-bayangi saya.

Saya mulai mempertanyakan setiap aspek pelayanan saya dan teologi Reformed, dari masalah yang tidak penting sampai ke masalah yang penting. Sekarang saya melihat ke belakang dengan merasa malu tapi lucu tentang bagaimana saya resah selama masa ketidakpastian itu.

Pada suatu titik, saya bergumul dengan keraguan apakah saya akan mengenakan kerah klerikal. Pendeta Presbiterian tidak punya tata cara berpakaian klerus yang wajib. Beberapa orang mengenakan kerah, beberapa orang lagi mengenakan pakaian bisnis, beberapa orang lagi mengenakan juban, dan ada juga yang kombinasi dari semuanya itu.

Seorang teman pendeta menyimpan kerah klerikalnya di kantong mobilnya, kalau-kalau ia bisa memakainya di waktu yang menguntungkannya. “Seperti terbebas dari tuduhan ngebut,” seperti yang ia akukan dengan seringai konspirasi. Saya memilih untuk tidak mengenakan kerah klerikal. Pada kebaktian Minggu, saya mengenakan jubah paduan suara hitam polos di atas setelah bisnis saya.

Begitu juga bentuk dan isi liturgi hari Minggu, setiap gereja punya pandangannya masing-masing tentang bagaimana hal-hal itu harus dilakukan, dan setiap pendeta bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya dengan alasannya sendiri.

Tanpa amanat pedoman denominasi untuk mengarahkan saya, saya melakukan apa yang semua pendeta lain lakukan: Saya melakukan improvisasi. Nyanyian pujian, khotbah, memilih Kitab Suci, partisipasi umat, dan pelayanan baptisan, perkawinan, Perjamuan Kudus semuanya tanpa pilih-pilih menjadi ladang eksperimen. Saya merinding ketika ingat pada suatu hari Minggu, dalam rangka membuat kebaktian remaja menjadi lebih menarik dan “relevan” saya mengucapkan kata-kata konsekrasi Tuhan, “Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku, lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku,” di atas cangkir besar berisi minuman soda dan semangkuk keripik kentang.

Pertanyaan teologis paling membuat saya kesal. Saya ingat waktu saya berdiri di samping ranjang rumah sakit di mana ada seorang pria yang berada dalam kondisi hampir meninggal setelah mengalami serangan jantung. Istrinya dengan putus asa bertanya kepada saya, “Apakah suami saya akan masuk surga?”

Untuk sementara waktu saya ragu-ragu sebelum memberikan tanggapan sebagai seorang Presbiterian. Saya mempertimbangkan keragaman besar dari tanggapan alternatif yang saya hendak berikan, tergantung apakah penanya itu seorang Methodist, Baptis, Lutheran, Sidang Jemaat Allah, Nazarene, Kristen Sains, Foursquare Gospel, Saksi-saksi Yehuwa, atau apa pun itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengucapkan kata-kata saleh tapi tidak jelas, “kita harus percaya kepada Tuhan” tentang jaminan keselamatan suaminya.

Dia mungkin terhibur, tapi permohonannya yang penuh air mata menyiksa saya. Bagaimanapun, sebagai seorang pendeta Reformed saya percaya doktrin Calvinis tentang predestinasi dan syafaat para kudus. Bapak ini sudah memberikan hidupnya bagi Kristus, ia sudah dilahirkan kembali dan yakin bahwa ia adalah salah satu orang pilihan Allah. Tapi bapak itu siapa?

Saya sangat tidak nyaman dengan pengetahuan bahwa tidak peduli seberapa sungguh-sungguh ia berpikir kalau ia ditakdirkan untuk masuk surga, dan tidak peduli seberapa tulus mereka di mata orang-orang yang ada disekelilingnya yang percaya bahwa ia masuk surga, ia mungkin tidak masuk surga. Maka sangat menarik bahwa hampir semua orang yang berkhotbah doktrin predestinasi dengan tegas percaya bahwa mereka sendiri asalah salah satu orang yang terpilih.

Dan bagaimana jika ia “mundur” diam-diam dan masuk ke dosa serius dan hidup dalam pemberontakan melawan Allah pada serangan jantung yang mengejutkan itu? Teologi Reformed memberi tahu saya bahwa jika itu masalahnya, maka orang itu akan tertipu oleh rasa aman yang palsu, mengira bahwa dilahirkan kembali dan ditakdirkan untuk masuk surga, padahal sebenarnya ia belum dilahirkan kembali selama ini dan sedang menuju neraka. Calvin mengajarkan bahwa ada kehendak pilihan Tuhan, mereka harus bertekun dalam rahmat dan pilihan. Jika seseorang meninggal dalam kondisi memberontak terhadap Allah, ia membuktikan bahwa ia tidak pernah menjadi salah seorang yang terpilih.

Jenis jaminan absolut apa itu? Saya bertanya-tanya.

Saya merasa lebih sulit untuk memberikan jawaban yang jelas dan yakin kepada umat saya untuk pertanyaan seperti ini “Akankah suami saya masuk surga?” Setiap pendeta Protestan yang saya kenal punya seperangkat kriteria berbeda yang menjadi daftar yang “perlu” untuk memperoleh keselamatan. Sebagai seorang Calvinis, saya percaya bahwa jika seseorang dengan terang-terangan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka ia akan diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman. Bahkan tetapi ketika saya menghibur orang lain dengan kata-kata yang kedengaran bagus ini, saya merasa terganggu dengan gaya hidup duniawi dan terkadang sangat berdosa, yang sudah dihidupi oleh para anggota keluarga jemaat yang meninggal ini.

Hanya setelah beberapa tahun pelayanan, saya mulai ragu apakah saya harus melanjutkan pelayanan ini.

Memikirkan Burung Pipit

Suatu hari saya bangun pagi sebelum fajar menyingsing, dan mengambil kursi lipat, jurnal saya, dan Alkitab, saya pergi ke lapangan yang sepi di samping gereja saya. Itulah waktu yang paling saya cintai dalam satu hari, ketika burung-burung berkicau terhadap dunia yang merekah.

Saya sering mengagumi keriuhan burung di pagi hari. Sungguh kenangan kecil yang mereka miliki! Mereka memuai setiap hari dari kehidupan sederhana mereka dengan simfoni pujian kepada Tuhan yang menciptakan mereka, sama sekali tidak memikirkan perhatian atau rencana. Kadang-kadang, saya akan “memikirkan burung pipit” dan merenungkan kesederhanaan hidup mereka.

Duduk tenang di tengah lapangan yang ditutupi embun sambil menantikan matahari terbit, saya membaca Kitab Suci dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu saya, menempatkan kekhawatiran saya di hadapan Tuhan. Alkitab memperingatkan saya untuk “janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5),” maka dari itu saya bertekad untuk percaya kepada Allah yang akan membimbing saya.

Saya sedang mempertimbangkan untuk menginggalkan kependetaan saya, saya melihat ada tiga pilihan. Satu, menjadi pemimpin pelayanan orang muda di sebuah gereja Presbiterian yang menawarkan posisi itu. Kedua, meninggalkan semua pelayanan dan kembali ke bidang teknik. Ketiga, kembali ke sekolah dan mendalami pendidikan ilmiah yang akan membuka banyak pintu ke pekerjaan professional lain. Saya sudah diterima di program pascasarjana di bidang biologi molekuler di Ohio State University.

Saya memikirkan pilihan-pilihan ini, memohon kepada Allah supaya membimbing Langkah saya. Suara yang dapat didengar akan menjadi luar biasa, pikir saya sambil tersenyum, ketika saya menutup mata dan menunggu jawaban Tuhan. Saya tidak tahu jawabannya akan seperti apa, tapi tak lama kemudian jawabannya datang.

Lamunan saya berakhir tiba-tiba ketika seekor burung pipit yang sedang berkicau riang terbang melewati saya dan buang kotoran di atas kepala saya!

“Apa yang Engkau katakan, ya Tuhan?” Saya berteriak dengan kesedihan Ayub. Suara burung ketakutan adalah satu-satunya tanggapan yang terjadi. Tidak ada suara dari langit (bahkan suara cekikikan pun tidak ada), hanya ada suara alam yang terbangun dari tidurnya di ladang jagung Ohio.

Apakah itu tanda ilahi atau cuma sekadar komentar guyonan atas kekhawatiran saya? Dengan jijik, saya melipat kursi saya, mengambil Alkitab saya, dan pulang.

Sesudah hari itu, ketika saya memberi tahu Marilyn, istri saya, tentang tiga pilihan yang sedang saya pertimbangkan dan insiden berantakan dengan burung itu, dia tertawa dan menyatakan kebijaksanaan khasnya: “Maknanya jelas, Marcus. Allah berkata, ‘Tidak satu pun dari pilihan itu!”

Meskipun saya lebih suka metode komunikasi yang tidak terlalu memalukan, saya tahu bahwa tidak ada yang terjadi dengan kebetulan, dan baik burung pipit dan kotorannya tidak jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Allah. Saya menganggap ini setidaknya sebagai petunjuk lucu dari Allah supaya saya tetap di pelayanan.

Tapi saya masih tahu situasi saya yang tidak benar. Mungkin yang saya butuhkan adalah gereja yang lebih besar dengan anggarang yang lebih besar dan staf yang lebih besar. Tentu saja saya akan Bahagia. Maka saya pergi ke arah gereja “lebih besar, lebih baik” yang menurut saya bisa memuaskan hati saya yang gelisah.

Dalam waktu enam bulan, saya menemukan satu gereja yang saya sukai yang umatnya besar dan tampaknya menyukai saya. Mereka menawarkan saya suatu jabatan sebagai pendeta senior, lengkap dengan staf kantor dan anggaran sepuluh kali lebih besar daripada yang saya miliki di gereja saya sebelumnya. Dan yang terbaik dari semuanya adalah gereja ini adalah gereja Injili (Evangelikal) dengan banyak anggota yang aktif dalam studi Alkitab dan pelayanan awam.

Saya sangat suka berkhotbah di hadapan umat yang besar dan sebagian besar umat ini setuju dengan isi khotbah setiap Minggunya. Awalnya, saya pikir kalau saya sudah memecahkan masalah. Tetapi sesudah sebulan, saya menyadari bahwa lebih besar itu tidak lebih baik. Rasa frustasi saya semakin besar secara proporsional.

Senyuman sopan mewarnai wajah saya setiap kali saya berkhotbah. Tapi, saya juga tidak buta akan kenyataan bahwa bagi banyak umat, nasihat saya yang penuh gairah untuk menjalani kehidupan yang penuh kebajikan hanya terseret di lapisan religiusitas, seperti tetesan air di wajan panas.

Banyak orang berkata, “Khotbah yang luar biasa! Benar-benar memberkati saya!” Namun, tampaknya jelas bahwa yang mereka maksud adalah: “Khotbahnya bagus untuk orang lain, Pak Pendeta. Khotbah buat orang berdosa, tapi saya kan sudah sampai pada iman. Nama saya sudah tercatat di surga. Saya tidak perlu merasa khawatir tentang semua hal ini, tapi saya setuju dengan Anda, Pak Pendeta, bahwa kita harus memberi tahu semua orang berdosa untuk menjadi orang yang dibenarkan Allah.”

Suatu hari, saya berada di rumah dinas pendeta setempat sebagai pembicara untuk sekelompok pendeta dan umat biasa yang membela gagasan bahwa ketika kita menggunakan tata bahasa ‘orang tua/parental’ dalam doa bersama, kita harus menyebut-Nya “Bapa,” bukan “Ibu” atau “Orang Tua.” Saya mempertahankan posisi ini dengan mengacu pada Kitab Suci dan tradisi Kristen.

Yang membuat saya kecewa, saya sadar bahwa ada kelompol yang saya wakili adalah minoritas dan bahwa kami sedang kalah berperang. Isu ini akan diselesaikan bukan dengan seruan yang beralasan terhadap Kitab Suci atau sejarah Gereja, tetapi dengan pemungutan suara. Mayoritas adalah kaum liberal yang pro-gender netral dalam tata Bahasa. Pertemuan pertama inilah saya pertama kali mengenali prinsip anarkistik yang terletak di pusat Protestanisme.

Orang-orang liberal ini sangat salah dalam skema mereka untuk merendahkan Allah hanya sebagai fungsi “pencipta, penebus, dan pengudusan” bukan sebagai Pribadi Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mereka hanyalah ingin menjadi seorang Protestan yang baik. Mereka hanya mengikuti jalanya protes yang dipetakan bagi mereka oleh para nenek moyang teologis mereka, Martin Luther, John Calvin, dan para Reformator lainnya. Pepatah Reformasi tentang “Saya tidak akan mematuhi suatu ajaran kecuali saya percaya kalau ajaran itu benar dan alkitabiah” digunakan oleh kaum Protestan liberal untuk mendukung aksi protes mereka terhadap nama-nama maskulin Allah.

Tiba-tiba, saya tersadar bahwa saya mengamati Protestanisme dalam kemuliaan solipsistik penuh dari kodrat alaminya: “Gereja macam apa saya ini?” Saya bertanya kepada diri saya sendiri sambil merasa sedih pada saat pemungutan suara diambil dan pihak saya kalah.

Pada masa ini, Marilyn, istri saya yang pernah menjadi direktur pusat kehamilan krisis pro-life, mulai menantang saya untuk bergumul dengan ketidakkonsistenan dari keyakinan pro-life kami yang teguh dan sikap pro-choice yang diambil oleh denominasi Presbiterian kami. Dia bertanya, “Bagaimana kamu bisa menjadi seorang pendeta di sebuah denominasi yang memberikan kesepakatan dalam pembunuhan bayi yang belum dilahirkan?”

Kepemimpinan denominasi sudah takluk di bawah tekanan feminis radikal, homoseksual, pro-aborsi, dan kelompok ekstrimis yang menekan denominasi itu. Meskipun, seolah-olah, individu umat bisa memegang pendirian pro-life dan tradisi tradisional lainnya, mereka memberlakukan pedoman liberal ketat dalam proses perekrutan pendeta baru.

Ketika Marilyn menyadarkan saya dengan kenyataan bahwa sebagian iuran umat saya kepada Presbyterian General Assembly sepertinya untuk membayar aborsi, saya terkejut. Meskipun saya dan umat saya tidak bisa melakukan apa-apa.

Saya dan Marilyn tahu kalau kami harus meninggalkan denominasi ini, tanpi ke mana kami akan pergi? Pertanyaan ini membuat pertanyaan lainnya. Di mana saya bisa mencari pekerjaan sebagai seorang pendeta? Saya membeli sebuah buku yang merinci semua denominasi Kristen arus utama dan say amula melakukan evaluasi beberapa denominasi yang menarik minat saya.

Saya membaca ringkasan doktrinal, kemudian saya berpikir, denominasi ini bagus, tapi saya tidak suka pandangan mereka mengenai baptisan. Yang ini OK, tapi pandangan tentang akhir zamannya agak terlalu membuat panik. Yang ini kedengarannya persis dengan yang saya cari, tapi saya tidak nyaman dengan gaya kebaktiannya.

Setelah memeriksa setiap kemungkinan dan tidak menemukan yang saya sukai, saya menutup buku itu dengan rasa frustasi. Saya tahu kalau saya akan meninggalkan Presbiterianisme, tapi saya tidak tahu denominasi mana yang “tepat” untuk saya ikuti. Sepertinya ada yang salah dengan masing-masing denominasi-denominasi. Dengan sendu, “Sayang sekali saya tidak bisa memadukannya menjadi gereja saya yang ‘sempurna.’”

Pada masa ini, ada seorang teman dari Illinois menelepon saya. Ia juga seorang pendeta Presbiterian dan sudah mendengar dari selentingan bahwa saya berencana meninggalkan denominasi Presbiterian.

Ia memarahi saya, “Marc, kamu tidak bisa pergi dari gereja! Kamu tidak boleh meninggalkan gereja; Kamu sudah berkomitmen pada gereja. Seharusnya tidak menjadi masalah bahwa beberapa teolog dan pendeta sudah keluar batas. Kita harus berpegang pada gereja dan bekerja untuk pembaruan dari dalam! Kita harus menjaga persatuan dengan segala cara!”

Saya jawab dengan kesal, “Jika itu benar, kenapa kita sebagai orang Protestan memisahkan diri dari Gereja Katolik?”

Saya tidak tahu dari mana asal kata-kata itu. Dalam hidup saya, saya tidak pernah berpikir sekilas pun apakah para Reformator itu benar atau salah karena sudah memisahkan diri dari Gereja Katolik. Sudah menjadi sifat esensial Protestanisme untuk berusaha melakukan pembaruan melalui perpecahan dan terpecah-pecah. Moto Presbiterianisme adalah “telah tereformasi harus terus bereformasi” (seharusnya ditambahkan, “dan bereformasi, dan bereformasi, dan bereformasi, dan bereformasi …”)

Saya bisa pergi ke denominasi lain, dengan mengetahui bahwa pada akhirnya saya mungkin pindah ke denominasi lain ketika saya merasa tidak puas, atau saya bisa memutuskan untuk tetap tinggal di denominasi saya berada dan mengambil yang tidak cocok menurut saya. Namun kemudian, bagaimana saya bisa membenarkan posisi denominasi saya berada? Mengapa saya tidak kembali ke kelompok denominasi sebelumnya yang sebelumnya kami memisahkan diri dan menjadi Presbiterian? Tidak satu pun dari pilihan ini benar, maka saya memutuskan bahwa saya akan meninggalkan pelayanan sampai saya bisa menyelesaikan masalah dengan suatu cara atau cara lainnya.

Kembali ke sekolah kelihatannya menjadi cara termudah untuk beristirahat dari semua hal ini, jadi saya mendaftar di program pascasarjana di bisang biologi molekuler di Case Western Reserve University. Tujuan saya adalah menggabungkan latar belakang ilmiah dan teologis saya ke dalam karier bidang bioetika. Saya menemukan bahwa gelar Ph.D. dalam biologi molekuler bisa memberi saya cara pandang yang lebih baik dari para ilmuwan daripada gelar dalam teologi atau etika.

Perjalana ke kampus Cleveland memakan waktu lebih dari satu jam dalam sekali jalan. Maka selama delapan bulan berikutnya saya punya banyak waktu teduh untuk introspeksi dan doa.

Tak lama kemudian saya sangat disibukkan oleh proyek penelitian rekayasa genetika, yang melibatkan pengambilan dan reproduksi DNA manusia yang diambil dari ginjal yang sudah dihomogenisasi. Programnya sangat menantang, tapi saya menyukainya. Meski begitu, dibandingkan dengan kompleksitas asam amino dan siklus biokimia, bergulat dengan konjugasi bahasa Latin dan deklinasi bahasa Jerman tiba-tiba menjadi jauh lebih enteng.

Proyek itu membuat saya terpesona dan takut. Saya menyukai stimulasi intelektual dari penelitian ilmiah. Tapi saya juga melihat betapa tidak manusiawinya yang dilakukan dalam laboratorium penelitian.

Jaringan genetik, diambil dari jenazah pasien yang meninggal di Klinik Cleveland, dikirim ke lab kami untuk penelitian DNA. Saya sangat tersentuh oleh kenyataan bahwa jaringan ini berasal dari orang banyak, dari orang tua, anak-anak, dan kakek-nenek yang pernah tinggal dan bekerja dan mencintai. Di laboratorium, botol-botol jaringan yang diberi nomor dengan rapi ini hanyalah tabung “barang,” “bahan” eksperimen yang benar-benar dipisahkan dari pribadi manusia yang pernah memilikinya.

Saya menulis esai tentang masalah etika terkait dengan transplantasi jaringan janin dan mulai berbicara kepada kelompok-kelompok Kristen tentang berkat dan bahaya dari teknologi biologi moden. Segala sesuatu tampak berjalan sesuai rencana, setidaknya sampai saya menyadari bahwa alasan sebanarnya saya kembali ke sekolah bukanlah untuk mendapat gelar. Tapi supaya saya bisa membeli surat kabar lokal di Cleveland.

Suatu Jumat pagi, setelah perjalanan panjang ke Cleveland, saya sedang sarapan dan menghabiskan waktu sebelum kelas dimulai, saya berusaha supaya tidak ketiduran. Biasanya saya menyempatkan sedikit waktu untuk belajar, tapi pagi ini saya melakukan sesuatu yang tidak biasa: Saya membeli surat kabar The Plain Dealer.

Ketika saya memasukkan uang ke mesin penjual surat kabar, saya tidak tahu bahwa saya sudah sampai di persimpangan jalan yang penting. Saya akan memulai jalan yang akan membawa saya keluar dari Protestanisme. (Saya kira jika saya tahu ke mana arahnya, saya akan lari ke arah lain.)

Saat membaca sekilas, dengan sedikit minat, saya menemukan sebuah iklan kecil yang muncul di benak saya: “Teolog Katolik Scott Hahn akan berbicara di paroki Katolik setempat pada Minggu sore ini.”

Saya tersedak ketika minum kopi. “Teolog Katolik Scott Hahn?” Tidak mungkin Scott Hahn yang dulu saya kenal. Kami bersekolah Bersama di Gordon-Conwell Theological Seminary di awal tahun 80-an.

Waktu itu Scott adalah seorang Calvinis anti-Katolik yang paling gigih di kampus! Saya pernah berada di sekitar kelompok belajar intens Calvinis yang dipimpin oleh Scott. Tetapi waktu Scott dan yang lainnya menggunakan waktu berjam-jam menjelajahi Alkitab layaknya detektif yang mencoba mengungkap setiap sudut dari setiap implikasi teologis, saya malahan main basket.

Meskipun saya belum pernah melihat Scott sejak ia lulus pada tahun 1982, saya sudah mendengar rumor gelap yang beredar bahwa ia akan menjadi Katolik. Saya tidak terlalu memikirkannya. Entah rumor itu salah, dibuat-buat oleh seseorang yang tidak suka dengannya (atau iri dengan) intensitas keyakinan Scott, atau Scott sudah membalikannya. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan satu setengah jam lagi untuk mencari tahu. Saya sama sekali tidak siap dengan apa yang akan saya temukan.

“Semakin Banyak Belajar, Semakin Gila”

Saya gugup ketika saya berhenti di tempat parker bangunan Gotik yang besar. Saya tidak pernah berada di dalam sebuah gedung gereja Katolik, dan saya tidak tahu apa yang diharapkan.

Saya memasuki gereja dengan cepat, melawati tempat air suci, dan bergegas ke lorong, dan saya tidak yakin dengan protokol yang benar untuk masuk ke bangku gereja. Saya tahu orang Katolik akan membungkuk atau berlutut atau melakukan sikap hormat tertentu ke arah altar sebelum memasuki bangku. Tapi saya hanya menyelinap dan meringkuk, berharap mereka tidak akan mengenali saya sebagai seorang Protestan.

Beberapa menit kemudian, ketika tidak ada penerima tamu berwajah muram yang menepuk pundak saya dan mengacungkan jempolnya supaya keluar dan berbicara, “Ayo sobat, kami tahu kamu bukan umat Katolik.” Saya mulai merasa lega. Saya terpesona melihat bagian dalam gereja yang aneh sekaligus indah itu.

Beberapa saat kemudian, Scott melangkah ke podium dan memulai ceramahnya dengan sebuah doa. Ketika ia membuat tanda salib, saya tahu kalu ia benar-benar sudah pindah haluan. Hati saya tenggelam.

Saya berpikir dan mengerang di dalam hati, Scott yang malang. Orang-orang Katolik itu sudah menipunya dengan argumen cerdiknya.

Saya mendengarkan dengan saksama ceramahnya tentang Perjamuan Malam Terakhir yang judulnya “The Fourth Cup/Cawan Keempat,” saya berusaha keras untuk mendeteksi kesalahan dalam pemikirannya. Tetapi saya tidak bisa menemukan satu kesalahan pun. (Pembicaraan Scott sangat bagus, saya menjiplak sebagian besar ceramahnya dalam khotbah perjamuan kudus saya berikutnya.)

Ketika ia berbicara menggunakan Kitab Suci dalam setiap langkah untuk mendukung ajaran Katolik tentang Misa dan Ekaristi, saya merasa terpesona dengan apa yang saya dengar. Scott menjelaskan Katolikisme dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan, yaitu dari Alkitab! Saat ia menjelaskan, Misa dan Ekaristi tidak menyerang atau asing bagi saya. Pada akhir pembicaraannya, ketika Scott mengeluarkan seruannya yang menggugah untuk pertobatan radikal kepada Kristus, saya bertanya-tanya, apakah mungkin ia pura-pura bertobat sehingga ia bisa menyusup ke Gereja Katolik dan membawa pembaruan dan pertobatan dari umat Katolik yang mati secara rohani.

Tidak butuh waktu lama sebelum saya mengetahuinya.

Setelah tepuk tangan hadirin berakhir, saya pergi ke depan untuk melihat apakah Scott mengenali saya. Sekelompok orang dengan banyak pertanyaan mengelilinginya. Saya berdiri tidak jauh darinya dan mengamati wajahnya saat ia berbicara dengan pesona dan keyakinannya yang khas sepada banyak orang.

Ya, inilah Scott yang sama dengan yang saya kenal di seminari. Ia sekarang berkumis dan berjanggut (cukup berubah dari penampilan kami di seminari yang bersih). Tapi ketika ia melihat saya, matanya berbinar saat ia tersenyum dalam diam.

Tak lama kemudian, kami berdiri bersama, kami berjabat tangan dengan hangat. Ia meminta maaf jika ia sudah menyinggung perasaan saya. “Tidak, tentu saja tidak!” Saya meyakinkannya saat kami tertawa gembira karena bisa bertemu lagi.

Setelah beberapa saat mengobrolkan basa-basi, seperti pertanyaan “Bagaimana kabar istri dan keluargamu?” saya melontarkan pertanyaan dalam pemikiran saya. “Saya rasa memang benar seperti yang saya sudah dengarkan itu. Mengapa kamu pindah haluan dan menjadi Katolik?”

Scott memberikan penjelasan singkat tentang perjuangannya menemukan kebenaran iman Katolik. Kerumunan orang di sekitar kami mendengarkan dengan saksama kisah singkat perubahan keyakinannya. Ia menyarankan supaya saya mengambil rekaman kisah perubahan keyakinannya, yang banyak diambil orang di ruang penerima tamu.

Kami bertukar nomor telepon dan berjabat tangan lagi, dan saya menuju belakang gereja. Saya menemukan sebuah meja yang dipenuhi kaset tentang iman Katolik oleh Scott dan istrinya, Kimberly, dan juga ada kaset oleh Steve Wood, seorang yang berpindah keyakinan ke Katolik yang juga pernah belajar di  Gordon-Conwell Theological Seminary. Saya membeli masing-masing satu kaset itu dan sebuah buku yang direkomendasikan Scott yaitu Catholicism and Fundamentalism karya Karl Keating.

Sebelum saya pergi, saya berdiri sejenak di belakang gereja, mengamati ciri khas Katolikisme yang aneh tapi menarik: ikon-ikon dan berbagai macam patung, altar berornamen, lilil, bilik pengakuan dosa yang gelap. Saya berdiri sejenak di sana, bertanya-tanya mengapa Allah memanggil saya ke tempat ini. Lalu saya melangkah ke udara malam yang dingin, kepala saya pusing karena pikiran dan hati dibanjiri oleh campur aduk emosi yang membingungkan.

Saya pergi ke restoran cepat saji, membeli burger untuk perjalanan pulang, dan memasukan kaset yang isinya rekaman perubahan keyakinan ke dalam tape. Saya kira akan mudah menemukan kesalahannya. Namun, sebelum saya berada di tengah-tengah perjalanan pulang, saya sudah diliputi emosi yang sedemikian rupa ada di pikiran saya, sehingga saya harus keluar kendaraan untuk berhenti di jalan raya untuk menjernihkan pikiran.

Meskipun perjalanan Scott ke Gereja Katolik sangat berbeda dari yang saya sendiri tidak sadari, pertanyaan yang Scott ajukan pada dasarnya sama dengan yang saya punya, dan jawaban yang Scott temukan sudah mengubah hidupnya secara drastis, dan sangat menarik. Kesaksiannya meyakinkan saya bahwa alasan ketidakpuasan saya terhadap Protestanisme yang semakin memuncak tidak bisa diabaikan. Katanya, jawaban atas pertanyaan saya bisa ditemukan di Gereja Katolik. Gagasan ini menembus sampai ke jantung saya.

Saya langsung ketakutan dan gembira dengan pemikiran bahwa Allah mungkin memanggil saya ke Gereja Katolik. Saya berdoa sebentar, sementara kepala saya bertumpu di setir, sambil mengumpulkan pikiran, sebelum saya berkendara pulang ke rumah.

Keesokan harinya, saya membuka buku Catholicism and Fundamentalism, dan membacanya langsung dan selesai sampai bab terakhir pada malam itu juga. Waktu saya siap-siap untuk pensiun pada malam itu, saya tahu kalau saya sedang berada dalam masalah! Jelas bagi saya sekarang bahwa dua dogma utama Reformasi Protestan, sola Scriptura (hanya Kitab Suci) dan sola fide (pembenaran oleh hanya iman), berada di landasan alkitabiah yang goyah, begitu juga saya.

Keinginan untuk membaca semakin besar, saya mulai membaca buku-buku Katolik, terutama para Bapa Gereja perdana. Tulisan mereka membantu saya memahami kebenaran tentang sejarah Katolik sebelum Reformasi. Saya sudah menggunakan waktu berjam-jam untuk debat dengan orang Katolik dan Protestan, melakukan yang terbaik untuk menundukkan pernyataan Katolik dengan argumen alkitabiah yang paling kokoh yang bisa saya temukan.

Seperti yang bisa Anda duga, Marilyn tidak senang ketika saya menceritakan tentang pergumulan saya dengan pernyataan Gereja Katolik. Meskipun pada awalnya dia berkata, “Ini juga akan berlalu, akhirnya hal-hal yang saya pelajari mulai membuat Marilyn penasaran. Jadi, dia juga mulai belajar sendiri.

Saat saya membaca buku demi buku, saya menceritakan ajaran Gereja Katolik yang jelas dan masuk akal, yang sedang saya temukan. Lebih sering daripada tidak sama sekali, kami akan menyimpulkan bersama betapa masuk akal dan begitu benarnya pandangan Gereja Katolik dengan Kitab Suci, lebih dari apa pun yang kami temukan di berbagai opini Protestan. Ada kedalaman, ada kekuatan sejarah, ada konsistensi filosofis dalam posisi Katolik yang kami temui. Tuhan melakukan banyak transformasi luar biasa dalam kehidupan kami berdua, membujuk kami, berjalan bahu membahu, langkah demi langkah, tetap bersama di sepanjang perjalanan iman kami.

Namun, dengan semua hal baik yang kami temukan dalam Gereja Katolik, kami juga dihadapkan dengan beberapa masalah yang mengganggu dan membingungkan. Saya bertemu dengan para presbiter yang menganggap saya aneh karena sudah mempertimbangkan Gereja Katolik. Mereka merasa bahwa perubahan keyakinan itu tidak perlu dilakukan.

Kami bertemu dengan umat Katolik yang kurang memahami imannya dan juga gaya hidupnya bertentangan dengan ajaran moral Gereja. Ketika kami ikut Misa, kami merasa kalau kami itu tidak disukai dan juga tidak dibantu oleh siapa pun juga. Meskipun demikian, dengan berbagai rintangan yang menghalangi jalan kami menuju Gereja, kami terus bertekun dalam belajar dan berdoa memohon bimbingan Tuhan.

Setelang mendengarkan banyak kaset dan buku, saya tidak bisa lagi menjadi seorang Protestan. Semakin jelas bahwa jawaban orang Protestan tentang pembaruan gereja dan segala macam hal lainnya itu tidak alkitabiah. Yesus sudah berdoa untuk persatuan di antara pengikut-Nya, dan Rasul Paulus dan Rasul Yohanes menantang pengikutnya supaya berpegang teguh pada kebenaran yang telah mereka terima, dan tidak membiarkan ada pendapat yang bisa memecah belah mereka.

Tapi, sebagai Protestan, kami menjadi tergila-gila dengan kebebasan kami, menempatkan pendapat pribadi di atas otoritas mengajar Gereja. Kami sudah percaya bahwa bimbingan Roh Kudus sudah cukup untuk menuntun setiap orang yang tulus mencari makna sebenarnya dari Kitab Suci.

Tanggapan Katolik mengenai pandangan ini bahwa misi Gereja untuk mengajar dengan kepastian yang tidak dapat salah. Kristus menjanjikan kepada para Rasul dan para penggantinya: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku” (Lukas 10:16).

Gereja perdana percaya mengenai hal ini juga. Suatu hari, ada suatu bagian dari tulisan Klemens, Uskup Roma, yang terlintas di benak saya ketika dulu saya belajar sejarah Gereja. Tulisan itu ditulis pada zaman yang sama dengan Injil Yohanes:

Para Rasul telah menerima Injil bagi kita dari Tuhan Yesus Kristus; dan Yesus Kristus yang telah diutus dari Allah. Oleh karena itu, Kristus berasal dari Allah, dan para Rasul berasal dari Kristus. Maka, kedua hal ini yang sudah dirancang oleh kehendak Allah. Sudah menerima pengajaran mereka dan menjadi yakin seutuhnya pada kisah Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, dan dikukuhkan dalam iman oleh Firman Allah, mereka pergi dengan keyakinan penuh dari Roh Kudus, memberitakan kabar baik bahwa Kerajaan Allah sedang datang. Mereka mengajar melalui pedesaan dan perkotaan, dan mereka menetapkan orang-orang yang bertobat, menguji mereka dengan Roh, untuk menjadi para uksup dan diakon bagi umat beriman yang akan datang. Ini juga bukan hal yang baru: karena para uskup dan diakon sudah ditulis sejak lama. Memang, di suatu tempat dalam Kitab Suci dituliskan: “Aku akan mengangkat uskup bagi mereka dalam kebenaran dan diakon bagi mereka dalam iman.” (Surat Klemens kepada jemaat di Korintus 42:1-5)

Ada juga kutipan bapa Gereja lainnya yang membantu saya untuk meruntuhkan dinding pengandaian Protestan yang saya anut, yaitu tulisan dari Irenaeus, Uskup Lyon, yang ditulis pada sekitar tahun 180:

Oleh karena itu, ketika kita punya bukti seperti itu, maka tidak perlu mencari kebenaran lainnya, yang sudah diperoleh dengan mudah dari Gereja. Bagi para Rasul, seperti seorang kaya yang berada di bank, mereka menyimpannya dengan segala sesuatu yang banyak kepunyaan Gereja yang berhubungan dengan kebenaran; dan setiap orang, siapa pun yang berkehendak, menimba air minum kehidupan dari Gereja. Karena dia [Gereja] adalah pintu masuk menuju kehidupan, sedangkan yang lainnya adalah para pencuri dan perampok. Itulah sebabnya mengapa menjadi sangat penting untuk menghindarinya, sementara itu kita menghargai dengan ketekunan yang utuh hal-hal yang berkaitan dengan Gereja, dan untuk mempertahankan tradisi kebenaran. Lalu bagaimana? Jika harus ada perselisihan mengenai suatu pertanyaan, tidakkan seharusnya kita memohon bantuan kepada Gereja-Gereja kuno di mana para Rasul mengenalnya, dan menarik dari mereka apa yang jelas dan pasti mengenai pertanyaan itu? Bagaimana jika sebenarnya para Rasul tidak meninggalkan tulisan bagi kita? Apakah tidak perlu mengikuti tatanan dari tradisi, yang diturunkan kepada mereka yang telah dipercayakan kepada Gereja? (Melawan Bidah/Against Heresies, 3, 4, 1)

Saya mempelajari sebab-sebab terjadinya Reformasi. Gereja Katolik pada masa itu memang perlu pembaruan, tetapi Martin Luther dan para Reformis lainnya memilih metode yang salah dan tidak alkitabiah untuk menghadapi masalah-masalah yang mereka lihat di Gereja. Rute yang benar adalah seperti yang teman Presbiterian saya katakan: Jangan meninggalkan Gereja, jangan merusak persatuan iman. Bekerja untuk reformasi yang sejati berdasarkan rancangan Allah, bukan dengan rancangan manusia, seharusnya mencapainya melalui doa, mati raga, dan teladan baik.

Saya tidak bisa lagi menjadi Protestan. Menjadi Protestan berarti saya harus menyangkal janji Kristus untuk membimbing dan melindungi Gereja-Nya dan mengutus Roh Kudus untuk memimpinnya ke dalam semua kebenaran (lihat Matius 16:18-19, 18:18, 28:20; Yohanes 14:6, 25, 16:13). Tetapi saya tidak tahan memikirkan diri saya untuk menjadi seorang Katolik. Saya sudah lama diajarkan untuk membenci “Romanisme,” meskipun secara intelektual saya sudah menemukan bahwa Katolikisme itu benar, saya sudah mengalami masa yang sulit dalam mengguncangkan prasangka emosi saya terhadap Gereja.

Salah satu kesulitan utama yang saya alami adalah penyesuaian psikologis terhadap kompleksitas teologi Katolik. Sebaliknya, bentuk Protestanisme saya itu sederhana: Mengakui Anda itu orang berdosa, bertobat dari dosa-dosa Anda, menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi, percaya kepada-Nya untuk mengampunimu, dan Anda diselamatkan.

Saya terus belajar Kitab Suci dan buku-buku Katolik, dan juga saya menghabiskan banyak waktu untuk berdebat dengan teman-teman dan kolega Protestan saya tentang masalah-masalah yang pelik seperti Maria, berdoa kepada para kudus, indulgensi, api penyucian, hidup selibat dari presbiter, dan Ekaristi. Akhirnya saya menyadari bahwa satu-satunya masalah terpenting adalah otoritas. Semua perselisihan tentang bagaimana menafsirkan Kitab Suci ini tidak akan membawa hasil jika tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti dan tidak dapat salah bahwa penafsiran seseorang itu benar.

Otoritas mengajar Gereja dalam Magisterium berpusat pada kursi Petrus. Jika saya bisa menerima ajaran ini, saya tahu bahwa saya bisa mempercayai Gereja dalam segala hal.

Saya membaca buku Romo Stanley Jaki yang berjudul And on This Rock dan The Keys to the Kingdom, serta dokumen Konsili Vatikan II dan konsili-konsili sebelumnya, khususnya Konsili Trente. Saya dengan hati-hati mempelajari Kitab Suci dan tulisan-tulisan Calvin, Luther, dan para Reformator lain untuk menguji argumen Katolik. Seiring waktu berlalu, saya menemukan bahwa argumen Protestan menentang keutamaan Petrus tidaklah alkitabiah atau historis. Tapi hal itu menjadi jelas bahwa posisi Katolik itu alkitabiah.

Roh Kudus mengirimkan sebuah pamungkas pada sisa-sisa prasangka anti-Katolik saya ketika saya membaca sebuah buku penting dari Beato John Henry Newman yang berjudul An Essay on the Development of Christian Doctrine. Kenyataan yang terjadi, keberatan yang saya punya menguap ketika saya sampai pada satu bagian di tengah-tengah buku itu. Di sini Newman menjelaskan perkembangan bertahap dari otoritas kepausan begini: “Sedikit sulit bahwa supremasi kepausan tidak secara formal diakui secara resmi pada abad ke-2, daripada tidak ada pengakuan formal dari pihak Gereja mengenai doktrin Tritunggal Mahakudus sampai pada abad ke-4. Tidak ada doktrin dirumuskan sampai terjadi adanya pelanggaran” (4, 3, 4).

Studi saya tentang pernyataan-pernyataan Katolik memerlukan waktu sekitar satu setengah tahun. Pada masa ini, saya dan Marilyn belajar Bersama, sebagai satu pasangan kami berbagi rasa takut, harapan, dan tantangan yang menyertai kami di sepanjang jalan menuju Roma. Kami ikut Misa setiap Minggu, melakukan perjalanan ke sebuah paroki yang cukup jauh (mantan gereja Presbiterian saya kurang dari satu mil dari rumah kami) untuk menghindari kontroversi dan kebingungan yang tidak diragukan lagi akan timbul jika mantan umat saya tahu kalau saya sedang menyelidiki Roma.

Perlahan-lahan, kami mulai merasa nyaman dengan semua hal yang dilakukan oleh umat Katolik dalam Misa (tentu saja, kecuali menerima Komuni). Secara doktrinal, emosional, dan spiritual, kami merasa siap untuk masuk ke Gereja secara resmi. Namun, masih ada satu penghalang yang harus kami atasi.

Sebelum saya dan Marilyn bertemu dan jatuh cinta, dia sudah bercerai dalam perkawinan pertamanya yang singkat. Karena kami umat Protestan, ketika kami bertemu dan menikah, maka hal ini tidak menjadi masalah, sejauh kami dan denominasi kami mempermasalahkannya. Baru setelah kami merasa siap untuk masuk ke Gereja Katolik, kami diberi tahu bahwa kami tidak bisa melakukannya kecuali Marilyn menerima anulasi dari perkawinan pertamanya.

Pada awalnya, kami merasa seolah-olah Allah sedang mempermainkan kami! Kemudian kami berubah dari terkejut menjadi marah. Tampaknya sangat tidak adil dan sangat munafik: Kita telah melakukan dosa-dosa lain, tidak peduli seberapa kejinya dosa itu, dan dengan sekali pengakuan dosa maka semuanya dibersihkan untuk diterima di Gereja. Tapi, untuk kesalahan satu ini, masuknya kami ke dalam Gereja Katolik serasa terhenti dalam kebuntuan.

Tetapi kemudian, kami mengingat apa yang sudah membawa kami sampai ke titik ini dalam ziarah spiritual kami: Kami harus percaya kepada Allah dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pemahaman kami sendiri. Kami harus mengakui-Nya dan percaya bahwa Ia akan mengarahkan jalan kita. Jelaslah ini menjadi ujian terakhir ketekunan yang dikirim oleh Allah.

Maka Marilyn memulai proses investigasi anulasi yang sulit, dan kami menunggu. Kami terus ikut Misa, tetap duduk di bangku, hati kami pedih ketika mereka yang ada di sekitar kami maju untuk menerima Tuhan dalam Ekaristi Kudus. Dengan tidak bisa menerima Ekaristi, kami belajar untuk menghargai hak istimewa luar biasa yang Yesus limpahkan kepada kekasih-Nya untuk menerima-Nya, Tubuh dan Darah, Jiwa dan Keilahian dalam Sakramen Mahakudus. Janji Tuhan dalam Kitab Suci menjadi nyata bagi kami selama berkali-kali Misa: “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya” (Ibrani 12:6).

Setelah Sembilan bulan menunggu, kami tahu kalau anulasi Marilyn sudah dikabulkan. Tanpa penundaan lebih lanjut, perkawinan kami diberkati, dan kami diterima masuk ke dalam Gereja Katolik dengan kegembiraan dan perayaan luar biasa. Rasanya luar biasa, akhirnya kami bisa berada di rumah, tempat kami berada.  Saya berlinang air mata bahagia dan bersyukur pada Misa perdana ketika saya bisa berjalan maju dengan saudara-saudari Katolik yang lain untuk menerima Yesus dalam Komuni Kudus.

Saya sudah berkali-kali bertanya kepada Tuhan, “Apa itu kebenaran?” Ia menjawab dalam Kitab Suci dengan mengatakan, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan.” Saya bersukacita karena sekarang saya sebagai seorang Katolik dan saya tidak hanya bisa mengetahui Kebenaran tapi juga menerima-Nya dalam Ekaristi.

Beberapa Kata Terakhir

Saya pikir penting untuk menyebutkan satu lagi wawasan dari Beato John Henry Newman (yang kemudian dikanonisasi menjadi Santo pada 13 Oktober 2019) yang membuat perbedaan penting dalam proses perubahan keyakinan saya ke Gereja Katolik. Mengenai penelitiannya yang terkenal menyebutkan: “Mendalami sejarah berarti berhenti menjadi Protestan.” Satu baris ini menyimpulkan alasan utama saya meninggalkan Protestanisme, melawati Gereja Ortodoks Timur, dan menjadi Katolik.

Newman benar. Semakin saya membaca sejarah Gereja dan Kitab Suci, semakin tidak nyaman untuk tetap menjadi Protestan. Saya melihat bahwa Gereja Katolik yang didirikan oleh Yesus Kristus, dan semua yang mengklaim gelar “gereja sejati” harus menyingkir. Oleh karena Alkitab dan sejarah Gereja yang membuat saya menjadi Katolik, bertentangan dengan keinginan saya (setidaknya pada awalnya) dan akhirnya sangat mengejutkan saya.

Saya juga belajar sisi lain dari pepatah Newman yang juga benar: Berhenti mendalami sejarah berarti menjadi seorang Protestan. Itulah mengapa kita sebagai umat Katolik harus tahu mengapa kita ercaya apa yang Gereja ajarkan serta sejarah di balik kebenaran keselamatan kita. Kita harus mempersiapkan diri dan juga anak-anak kita sehingga kita “siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu” (1 Petrus 3:15).

Dengan menghidupi dan mewartakan iman kita dengan berani, banyak orang akan mendengar Kristus berbicara melalui kita dan akan dibawa kepada pengetahuan tentang kebenaran dan seluruh kepenuhannya dalam Gereja Katolik. Tuhan memberkatimu dalam perjalanan iman Anda sendiri!

 

Marcus Grodi meraih gelar Master of Divinity dari Gordon-Conwell Theological Seminary dan ditahbiskan dalam pelayanan pastoral Protestan. Akhirnya, pertanyaan tentang penafsiran Alkitab dan otoritas pengajaran menuntunnya dan juga istrinya, Marilyn, untuk bergabung dengan Gereja Katolik pada tahun 1992. Sekarang Marcus melayani sebagai Pendiri / Presiden dari The Coming Home Network International, sebuah organisasi kerasulan awam Katolik nirlaba yang bertujuan untuk membantu orang-orang Kristen non-Katolik, baik rohaniwan maupun umat biasa, untuk berpulang ke Gereja Katolik. Ia juga menjadi pembawa acara “The Journey Home” di EWTN, yang merupakan acara televisi mingguan, dan “Deep in Scripture” yang merupakan acara radio dan podcast mingguan. Ia juga penulis buku “Thoughts for the Journey Home,” buku novel “How Firm a Foundation and Pillar and Bulwark,” dan penyunting dan penulis “Journeys Home.” Ia juga mengajar kursus Kateketik, Pelayanan Orang Muda, Kepemimpinan, dan Teologi di Franciscan University of Steubenville dan Pontifical College Josephinum. Ia rutin menulis untuk majalah Catholic Answer dan publikasi Katolik lainnya.

 

Sumber: “What Is Truth?”

Posted on 15 February 2021, in Kisah Iman and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: