7 Tradisi Minggu Palma dan Simbolismenya

Oleh Philip Kosloski

Minggu Palma by Sebastien Desarmaux Godong (Sumber: aleteia.org)

Sekilas beberapa tradisi Minggu Palma yang umum dirayakan dalam Ritus Romawi

Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan menandai awal Pekan Suci, menjadi pekan terakhir persiapan menjelang Hari Raya Paskah. Dalam Ritus Romawi, perayaan Misa punya tradisi tertentu yang membuat Misa itu terlihat jauh berbeda dari Misa hari Minggu pada umumnya.

Banyak tradisi ini sudah berusia berabad-abad, dan berakar dalam Gereja perdana, dan berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perikop-perikop Injil.

Perbedaan ini dimaksudkan untuk memperkaya peringatan Sengsara Yesus, membenamkan diri kita ke dalam berbagai peristiwa dengan cara yang khas untuk membantu jiwa kita dalam merenungkan keindahan dan kekayaan misteri Paskah.

Berikut ini 7 tradisi dan simbolisme di baliknya.

Mengapa Misa Minggu Palma dimulai dengan prosesi?

Selain meniru prosesi Yesus memasuki Yerusalem, wilayah panti imam dalam gereja secara natural ditujukan sebagai tempat yang melambangkan surga, dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi.

Selain itu, seringkali panti imam letaknya lebih tinggi dengan adanya beberapa anak tangga. Ini juga punya simbolisme, selain mengangkat mata (dan hati) kepada Allah, tapi juga mengingatkan kita akan  Yesus yang sedang mendaki Gunung Kalvari. Imam mengambil peran ini dan naik ke Gunung Kalvari untuk mempersembahkan kurban Misa, berpartisipasi dalam satu kurban Yesus di salib.

Mengapa daun palem atau tanaman lain digunakan untuk prosesi?

Para ahli Alkitab sering menerjemahkan ranting-ranting yang digunakan orang banyak ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan jaya dengan istilah umum, seperti dalam Injil Matius, “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan” (Matius 21:8).

Intinya, ketika daun palem tidak ada, maka sangat bisa diterima bagi mereka untuk mencari semua jenis ranting yang pantas untuk memperingati Minggu Palma.

Ranting-ranting itu dimaksudkan sebagai isyarat simbolis, yang melambangkan kebutuhan kita untuk meletakkan hati kita di hadapan Yesus, memperkenankan Yesus masuk ke dalam batin terdalam kita. Inilah sebabnya, meskipun Anda tidak punya ranting untuk digunakan untuk perayaan, Anda masih bisa ikut serta dalam tema rohani dalam Minggu Palma.

Mengapa imam mengenakan warna merah?

Merah merupakan warna darah dan melambangkan kasih, api, sengsara, dan darah kurban. Warna merah dipakai pada Minggu Palma, Jumat Agung, dan hari-hari lain yang berkaitan dengan Sengsara Yesus, pada Hari Pentakosta, dan hari peringatan bagi mereka yang mati karena iman (martir).

Mengapa patung dan gambar diselubungi?

Tampak aneh di waktu yang paling sakral dalam setahun umat Katolik menutupi segala sesuatu yang indah dalam gereja, bahkan juga salib. Bukankah seharusnya kita bisa melihat pemandangan yang menyakitkan di Kalvari saat kita mendengar kisah Sengsara pada waktu Minggu Palma?

Meskipun mungkin kelihatannya bertentangan dengan menyelubungi patung dan gambar pada pekan-pekan terakhir dalam Masa Prapaskah, Gereja Katolik merekomendasikan bahwa praktik ini untuk meningkatkan indra kita dan membangun kerinduan akan Minggu Paskah dalam diri kita. Tradisi ini seharusnya tidak hanya dilakukan di paroki setempat, tetapi juga menjadi aktivitas yang berdaya guna untuk dipraktikan dalam “Gereja-keluarga.”

Mengapa bacaan Injilnya begitu panjang?

Bagi umat Katolik Roma, bacaan Misa Minggu sangat singkat jika dibandingkan dengan kisah Sengsara yang dibacakan (atau dinyanyikan) setiap tahun setiap Minggu Palma. Hal ini menjadikan Minggu Palma sebagai ritual yang sulit diikuti oleh mereka yang kesulitan berdiri selama Injil dibacakan atau membawa anak kecil.

Namun, tahukah Anda bahwa setiap hari Minggu mungkin seperti itu pada zaman Gereja perdana?

Banyak orang Kristen perdana adalah orang Yahudi, dan oleh karena itu, tidak mengherankan, mereka juga merancang liturginya seperti dalam kebaktian di sinagoga. Hal ini termasuk pembacaan Kitab Suci yang bersambung dari satu pekan ke pekan berikutnya. Bacaan Kitab Suci dibagi menjadi dua bacaan terpisah, satu dari “Kitab Taurat” dan yang satunya dari “Kitab Para Nabi.”

Mengapa umat ikut ambil bagian dalam bacaan Pasio?

Pekan Suci menjadi waktu paling sakral dalam kalender liturgi Gereja, yang sepenuhnya berpusat pada sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Satu tema yang berulang sepanjang pekan itu yang menjadi panggilan menemani Yesus selama masa paling menyakitkan dalam hidup-Nya di bumi.

Minggu Palma membuka Pekan Suci dengan pembacaan yang khusyuk mengenai Sengsara Yesus, dan biasanya setiap orang memiliki peran masing-masing. Ketika dirayakan di dalam gereja, umat seringkali berperan sebagai khalayak ramai. Hal ini memuncak ketika umat berkata, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Dalam contoh ini kita mengakui peran dosa kita dalam penyaliban Yesus dan bagaimana Yesus menderita dan wafat bagi kita, meskipun kita belum dilahirkan.

Apa yang harus saya lakukan dengan daun palem yang sudah diberkati?

Setelah meninggalkan gereja pada hari Minggu Palma, Anda pulang dengan beberapa ranting daun palem yang panjang yang digunakan ketika perayaan masuknya Yesus dengan jaya ke dalam kota Yerusalem.

Mungkin Anda bertanya pada diri sendiri, “Harus diapakan daun palem ini?”

Apa pun yang hendak Anda lakukan, jangan dibuang begitu saja!

Berdasarkan Kitab Hukum Kanonik, benda-benda yang sudah diberkati tidak boleh dibuang ke tempat sampah, tapi diperlakukan dengan hormat (lih. KHK Kanon 1171). Dalam Misa, ranting daun palem ini dipisahkan dengan suatu berkat dari imam dan dijadikan “sakramentali,” yakni suatu benda yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri ke dalam perayaan tujuh sakramen. Maka, membuang ke tempat sampah sama saja mengabaikan tujuan suci benda-benda itu layaknya benda lain yang tidak lagi kita perlukan.

Sumber: “7 Palm Sunday traditions at Mass and their symbolism” dengan tambahan seperlunya

Posted on 27 March 2021, in Ekaristi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: