Barabas, Putra dari Bapa?

Oleh Dr. Brant Pitre

Choice between Jesus and Barabbas (Sumber: bobkaylor.com)

Setelah kisah pengkhianatan terjadi, Matius menceritakan peristiwa terkenal mengenai Yesus di hadapan Pontius Pilatus untuk diadili. Dalam peristiwa itu, Pilatus menawarkan dua pilihan kepada orang-orang Yerusalem, yaitu membebaskan Barabas atau Yesus. Mari kita lihat kisahnya  untuk melihat apa yang hendak digenapi Yesus dalam Matius 27:15:

Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya.

Dan ada sesuatu yang hanya ditampilkan dalam Injil Matius:

“Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.” Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.” Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!” Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!”

Pada saat inilah ada sesuatu yang terjadi yang hanya diberitahukan Matius kepada kita. Inilah yang akan kita soroti:

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kita berhenti sejenak di sini. Apa yang sedang terjadi tentang Yesus dan Barabas? Bagaimana hal ini dipahami dalam cara pandang orang Yahudi abad pertama supaya kita bisa mengerti hal itu pada zaman sekarang? Ada beberapa poin penting yang bisa membantu kita memahami maksud Matius. Pertama dan yang paling penting, kebanyakan orang memperoleh gagasan bahwa ketika Pilatus menawarkan pilihan antara Yesus dan Barabas, sebenaranya menawarkan pilihan Yesus Sang Mesias yang merupakan Mesias tanpa kekerasan, Mesias yang damai, dibandingkan dengan Barabas yang seorang revolusioner. Dan orang banyak memilih seorang revolusioner dibandingkan Mesias tanpa kekerasan. Dan saya kira orang banyak sudah biasa tentang gagasan itu, namun Matius lebih dalam dalam memaknainya dengan menekankan nama revolusioner karena “Barabbas” adalah nama bahasa Aram, yang secara literal bermakna putra dari bapa. “Bar” artinya putra dan “abba” seperti yang sudah diketahui banyak orang artinya, ayah atau bapa.

Maka. Di satu sisi ketika Pilatus berkata inilah “putra dari bapa” yang seorang revolusioner yang kejam, dan inilah “putra dari Bapa” yang lainnya, yang merupakan hamba yeng menderita. Mana yang orang banyak pilih? Dan tentu saja, mereka salah memilih putra dari bapa yang palsu yaitu Barabas dan menolak putra dari Bapa yang sesungguhnya yaitu Yesus. Maka inilah hal yang menarik dalam bagian manuskrip di Injil Matius yang disoroti dalam berbagai terjemahan, kita bukan hanya mendapat nama belakang Barabas saja, namun juga tahu nama depannya. Jadi dalam bagian manuskrip Injil Matius itu, dituliskan bahwa nama depan Barabas adalah Yesus Barabas. Maka ironinya menjadi lebih tajam lagi karena Barabas adalah “Yesus putra dari bapa” yang seorang revolusioner dan Yesus Putra Allah. Dengan demikian kita melihat ironi dalam pemilihan Barabas terhadap Yesus. Dan ironi itu terus berlanjut ke suatu dampak yang terkenal atau pernyataan atas orang banyak yang berbunyi, “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Dan hal ini hanya ada dalam Injil Matius dan merupakan ayat yang kontroversial, karena beberapa orang, beberapa orang Kristen, selama berabad-abad sudah mengambil ayat ini untuk diterapkan kepada orang Yahudi secara keseluruhan untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menetapkan kutukan atas diri mereka sendiri dan sekarang dianggap sebagai orang yang terkutuk oleh Allah. Dan saya ingin menekankan bahwa Gereja dengan jelas menolak penafsiran seperti itu dalam Katekismus Gereja Katolik. Maka dari itu saya akan menjelaskan apa arti sebenarnya tentang bagian ini. Pada tingkat sejarah, apa yang terjadi di sini adalah orang banyak mengatakan kematian menimpa mereka. Mereka bertanggung jawab atas kematian-Nya karena Pilatus baru saja mencuci tangannya dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini.” Maka orang banyak berkata, “Biarlah kami bertanggung jawab untuk darah orang ini.” Pada tingkat sejarah apa artinya “darahnya ditanggungkan kepada kita dan pada anak-anak kita.”

Apa yang KGK tunjukkan pada paragraf 597 hal itu tidak berarti orang Yahudi secara keseluruhan bertanggung jawab atas kematian Kristus, gara-gara sekelompok orang pada suatu peristiwa sejarah yang mengambil tanggung jawab atas kematian Kristus. Dan apa yang dikatakan Katekismus pada paragraf 598 bahwa “semua pendosa pun adalah penyebab dan pelaksana semua siksa yang Kristus derita.” Dengan kata lain, ada suatu perasaan yang nyata pada tingkatan mistik bagi setiap orang yang pernah dilahirkan, setiap orang berdosa adalah yang bertanggung jawab atas kematian Yesus. Karena kita berdosa maka dalam artian tertentu, kita menyalibkan Yesus sekali lagi. Kita ikut ambil bagian dalam kejahatan yang membuat-Nya berada di kayu salib. Maka itulah yang perlu saya tekankan. Orang Kristen pada zaman sekarang perlu menjelaskan bahwa pernyataan orang-orang Yahudi pada waktu pengadilan dan kematian Yesus bukan menjadi sesuatu yang menjadikan semua orang Yahudi di sepanjang zaman bertanggung jawab secara kolektif atas kematian Yesus. Namun, di sini ada ironi seperti yang dikatakan oleh Paus Benediktus dalam bukunya yang berjudul Jesus of Nazareth, dengan mengatakan “darah-Nya ditanggungkan kepada kita dan anak-anak kita,” ironinya ada di tingkat spiritual yang lebih dalam, yaitu dalam artian berdoa untuk apa yang kita butuhkan dengan tepat yakni kuasa darah penebusan Yesus untuk “dilimpahkan pada kita dan atas anak-anak kita.” Sehingga kuasa darah-Nya mampu membersihkan kita dari dosa dan membebaskan kita dari dosa dan maut. Itulah ironi dalam pernyataan mereka, sama seperti ironi Barabas. Maka semua tingkat makna ini sedang digenapi dalam kisah yang menakjubkan dalam kisah sengsara Yesus dalam Injil Matius. Peristiwa itu menjadi peristiwa yang kuat, peristiwa yang penting. Sebagai umat Kristen, kita ingin darah Kristus ditumpahkan atas kita dan anak-anak kita, karena kita semua bertanggung jawab atas penyaliban dan kematian Kristus.

Sumber: “Barabbas – Son of the Father?”

Posted on 30 March 2021, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: