Tradisi Yahudi dalam Tri Hari Suci

Oleh Sean Innerst

Carrying the Cross karya Giovanni Battista Tiepolo (Sumber: stpaulcenter.com)

Hari-hari raya dalam Pekan Suci, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Paskah, merupakan penggenapan tiga pesta musim semi Yahudi yang pada awalnya terjadinya bertepatan dengan peristiwa di akhir kehidupan Yesus di bumi. Kita menyebutnya tiga liturgi agung Pekan Suci, Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih malam, ibadat Jumat Agung, dan Vigili Paskah, tiga perayaan ini disebut Tri Hari Suci. Pada tahun wafat Sang Kristus, yaitu pada Paskah Yahudi pada 14 Nisan akan dimulai pada saat matahari terbenam pada hari Kamis, malam yang sama dengan perayaan Perjamuan Malam Terakhir dan selesai pada saat matahari terbenam pada hari Jumat Agung, hari wafat-Nya.

Apa yang kita sebut sebagai Sabtu Suci merupakan hari ketika Kristus terbaring di makam, satu hari tanpa liturgi, yang bertepatan dengan hari raya Roti Tidak Beragi pada 15 Nisan yang erat kaitannya dengan Paskah Yahudi (Passover/Pesakh). Ragi menjadi tanda dosa, maka ragi dibersihkan dalam rumah semua orang Yahudi pada malam Paskah Yahudi. Dan tujuh hari setelah hari raya Roti Tidak Beragi, yang disebut dalam Ulangan 16:3 sebagai “roti penderitaan” dirayakan dan dimulai pada hari sesudah Paskah Yahudi sebagai peringatan pembebasan dari Mesir dan juga peringatan bagi setiap orang Yahudi tentang “apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir” (Keluaran 13:8).

Hari raya Buah Sulung pada tahun itu bertepatan dengan hari Kebangkitan Kristus dan memperingati setumpuk panen pertama jelai, yang dimulai setelah matahari terbenam pada tanggal 15 Nisan (menurut perhitungan orang Yahudi menjadi awal tanggal 16 Nisan). Hari raya ini dilakukan dengan upacara pemotongan dan persembahan buah sulung panen ini, memohon berkat Allah untuk mengantisipasi panen penuh di musim semi pada hari raya Minggu-minggu (Shavout) atau Pentakosta Yahudi.

Singkatnya, Yesus wafat pada sore di hari Paskah Yahudi, satu hari ketika seekor domba disembelih dan dimakan untuk memperingati keselamatan anak sulung Israel pada tulah kesepuluh di Mesir. Sama seperti darah anak domba dibubuhkan di ambang pintu rumah tangga Israel untuk memastikan keselamatan mereka saat malaikat maut menghampiri anak sulung bangsa Mesir. Maka sekarang dalam Kristus, darah Anak Domba Allah yang disembelih menyelamatkan kita dari kematian karena dosa. Pada hari yang kita sebut sebagai Sabtu Suci, ketika orang Yahudi merayakan penolakan dosa dari hari raya Roti Tidak Beragi, Tubuh Yesus yang sudah dipersembahkan oleh diri-Nya sendiri kepada para rasul-Nya sebagai roti hidup pada Perjamuan Malam Terakhir dan dengan pasti Yesus mengalahkan dosa dengan wafat-Nya di Kayu Salib yang kemudian dibaringkan di makam. Pada Minggu Paskah pagi, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagaimana yang kemudian dikatakan St. Paulus sebagai “yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Korintus 15:20). Dan inilah yang Yesus lakukan pada hari yang disebut sebagai Buah Sulung oleh orang Yahudi! Maka, Yesus menetapkan Ekaristi kemudian Ia wafat pada hari Paskah Yahudi, dimakamkan pada hari raya Roti Tidak Beragi, dan bangkit pada hari Buah Sulung.

Seperti yang kita ketahui dalam Kisah Para Rasul 2, pada hari Pentakosta Kristen yang pertama. Di mana orang Yahudi merayakan panen dan pemberian Hukum di Gunung Sinai pada hari ke-50 sesudah Keluaran. Janji buah sulung terlihat dalam Kebangkitan Kristus, tergenapi dalam pengutusan Roh Kudus dengan panen tiga ribu jiwa dari setiap bangsa Yahudi diaspora. Perlu dicatat pula, tiga ribu orang mati akibat kegagalan iman mereka dan penyembahan berhala anak lembu emas (Keluaran 32:28), sedangkan penggenapan Pentakosta Yahudi adalah tiga ribu orang mati karena dosa dalam air Baptis menjadi hidup dalam Kristus yang Bangkit (Kisah Para Rasul 2:38-42).

Sean Innerst merupakan seorang yang berpindah ke iman Katolik dari aliran Religious Society of Friends (Quaker). Ia seorang profesor dan katekis. Sean juga menjadi contributor dalam buku serial “Catholic for a Reason”

Sumber: “Understanding the Holy Triduum”

Posted on 31 March 2021, in Ekaristi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: