Prisbiter Episkopal Jadi Katolik – Kisah James Anderson

James Anderson (Sumber: EWTN YouTube Channel)

Yang paling awal dalam ingatan saya tentang iman adalah pembaptisan saya. Waktu itu hari Minggu pagi di musim semi dan saya berusia 4 tahun. Saya masih ingat dengan apa yang saya lihat ketika saya tepat berada di hadapan tempat kudus, sambil memandang umat. Pendeta Methodist kami bernama Doktor Trost, membantu saya naik ke sana, dan itulah peristiwa penting dalam hidup saya. Saya tidak ingat tentang air baptisannya atau memahami mengapa air itu penting, tapi itulah yang menjadi kenangan baik yang hangat dan unik.

Iman merupakan hal penting di masa kecil saya ketika saya dibesarkan di Lombard, Illinois. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, menjadi hal biasa bagi saya untuk ke sekolah Minggu dan ke gereja seminggu sekali. Begitu juga dengan sekolah Alkitab liburan musim panas. Pada masa itu adalah masa ketika kami menyanyikan lagu-lagu rohani Kristen secara terang-terangan di sekolah dasar. Liburan musim semi selalu terjadi pada Pekan Suci, dan kami libur sekolah ketika hari Jumat Agung.

Ada satu hari Jumat Agung yang sangat saya ingat dengan baik. Waktu itu saya berusia 7 tahun, dan saya baru saja menonton tayangan televisi tentang penderitaan dan penyaliban Yesus. Saya sangat tersentuh dengan apa yang saya lihat. Ketika acara televisi itu usai, saya berjalan ke jendela depan ruang tamu dan melihat lalu lintas di jalanan Madison. Yang saya pikirkan hanyalah: “Apakah orang-orang ini tidak tahu apa yang terjadi? Bagaimana mereka bisa menjalani hidup dengan santai?” Meskipun saya belum dewasa, saya sangat tahu bahwa wafat Yesus itu sangat penting dan krusial.

Meskipun demikian, ketika tiba waktunya untuk peneguhan sidi di kelas tujuh, pengetahuan saya masih dangkal.  Kenyataannya ada 60 anak dalam kelas peneguhan sidi kami yang di dalamnya terdiri dari 30 anak perempuan. Bagi saya itu sesuatu yang sangat penting! Dan sebelum peneguhan sisi, saya ketahuan menggunakan “contekan” untuk bagian yang harus kami hafal (Syahadat Para Rasul, Mazmur 23, dan lain-lain) [Tambahan TerangIman.com: ketahuan menggunakan contekan di depan banyak anak perempuan berarti sesuatu yang sangat memalukan]. Untungnya Pendeta Lichtenberger, pemimpin kami merasa terpaksa, ia mengasihani saya dengan mendaftarkan di kelas anak SMP, saya merasa “Akhirnya saya lolos!”

Syukurlah tidak disebutkan pelanggaran saya waktu ujian akhir saya dengan Pendeta Sweeney, dan di akhir pembicaraan singkat kami, ia menyarankan saya supaya pergi ke tempat kudus (kami orang Methodist menyebut seluruh bagian ruang ibadah sebagai “tempat kudus”). Saya yakin kalau Pendeta Sweeney menyuruh saya supaya berdoa di sana, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya berjalan di depan, lalu berlutut di tempat komuni dan menutup mata. Dalam beberapa menit, saya dilingkupi Kehadiran yang menyelimuti segalanya. Rasanya luar biasa sekaligus menggentarkan. Saya berlutut beberapa saat sambil terisak-isak. Hal yang saya lakukan berikutnya, saya berada di belakang tempat kudus bersiap-siap untuk pergi. Saya tidak pernah memberi tahu kepada siapa pun tentang pengalaman yang satu ini selama bertahun-tahun, tatapi saya selalu berpikir bahwa pribadi Tuhan semesta alam yang murah hati hanya ingin memberi tahu saya, “Jimmy, Aku ada di sini. Aku nyata. Aku bersamamu. Kamu milik-Ku.”

Terombang-ambing – Ditarik ke dalam Iman – Terombang-ambing lagi

Terlepas dari pengalaman luar biasa yang diberikan Tuhan ini, sayangnya saya kembali ke ketidakdewasaan anak SMP pada umumnya. Meskipun guru-guru kami sudah memohon dengan sangat bahwa “peneguhan sidi bukanlah kelulusan,” sedangkan saya bertindak seolah-olah peneguhan sisi saya “lulus” dari gereja. Saya berhenti ikut serta sebagian besar acara gereja, kecuali pada Natal dan Paskah. Ada beberapa orang teman yang terlibat dalam MYF (Methodist Youth Fellowship). Bukan saya yang terlibat. Selama beberapa tahun berikutnya, saya mulai merokok, minum-minum [minuman keras], pacaran, dan keluyuran bersama teman-teman “gerombolan” versi saya. Beberapa tahun kemudian tibalah titik balik yang mengejutkan dan menyakitkan. Waktu itu bulan April 1968, hari Sabtu malam sesudah Martin Luther King Jr. dibunuh. Saya bersama tujuh atau delapan teman saya bersiap untuk pesta malam. Namun, sepintas saya menyebutkan pemikiran saya bahwa MLK seorang yang baik. Karena komentar itu saya menjadi sasaran ejekan yang menghina dan memalukan. Hanya ada seorang teman yang sepaham dengan pemikiran saya. Kepada Russ yang berhati baik, saya berkata diam-diam: “Saya harus mendapatkan teman-teman yang baru.”

Sejak hari itu, saya melakukannya. Saya mulai menghadiri kedai kopi setempat dan lebih sering bergaul dengan kelompok kontra-budaya. Teman saya sekarang adalah kelompok “calon orang hippie.” Kami menerbitkan surat kabar tidak resmi, memanjangkan rambut, dan mendengarkan lagu-lagu Byrds, Jefferson Airplane, dan The Beatles di panggung sambil mabuk-mabukan. Meskipun saya diberkati dengan bertemu dan menjalin beberapa teman sejati, saya juga mulai berteman dengan beberapa orang yang sangat mempengaruhi pikiran saya dalam obat-obatan. Kurang dalam waktu setahun, saya terperosok dalam budaya narkoba pada akhir tahun 1960-an. Dulu saya seorang pengguna dan pengedar, dan saya mengganggap diri sebagai pria yang keren. Oleh karena itu, hal ini hampir membuat saya mati. Sekali lagi, karena Sabtu malam dengan “teman-teman.”

Pada musim panas waktu saya berusia 17 tahun, saya berada di lantai basement dengan jantung berdebar-debar dan sangat takut kalau malaikat maut hendak menjemput saya. Saya menelan beberapa zat yang tidak saya ketahui dari mana asalnya. Alih-alih memberikan pelarian yang menggembirakan dan meneguhkan, malah menimbulkan teror yang mematikan. Saya berteriak kepada Tuhan sambil putus asa supaya Ia menyelamatkan saya. Tuhan mendengar tangisan saya, rasa takut saya mereda. Saya bertahan hidup dan saya berjanji untuk tidak pernah lagi melakukan sesuatu yang sebodoh itu. Sejak malam itu, saya belum melakukannya. Melalui pengalaman ini mejadi bukti bagi saya tentang kebenaran besas bahwa “satu ketakutan sebanding dengan 20 pelajaran!”

Saya memutuskan untuk hidup yang lurus. Tiga peristiwa terjadi di tahun yang sama dan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan rohani saya.

Pertama, melalui upaya baik dari satu pasangan yang sangat peduli dan saleh yang saya kenal melalui gereja dan waktu SMA, saya ikut seminar akhir pekan yang ditawarkan oleh Institut Ekumenis di Chicago. Akhir pekan itu disebut “Religious Studies I (Pelajaran Agama I)” yang memberikan inspirasi serta mencerahkan. Saya akan bahas hal ini lebih lanjut nanti.

Kedua, dalam ledakan antusiasme, saya mengirimkan surat kepada Garrett Theological Seminary di Evanston, Illinois, supaya saya memperoleh katalog. Seminari itu merupakan seminari Methodist yang terletak berdekatan dengan Northwestern University. Saya merasakan panggilan yang kuat untuk mengejar tahbisan di Gereja Methodist. Waktu itu pendeta saya adalah Pendeta Darby, ia yang menyemangati saya. Saya mulai membaca tulisan dan khotbah John Wesley dan George Whitefield. Bahkan saya menempelkan foto John Wesley di kotak pencukur listrik Norelco saya! Mungkin itu agak janggal, tapi hal itu menjadi perubahan besar dari kekaguman pada Jim Morrison dan Frank Zappa.

Yang ketiga, saya ikut Misa Malam Natal di Gereja Katolik Sacred Heart di Lombard. Karena tidak tahu apa-apa, saya ikut dalam antrian Komuni dan menerima Komuni Kudus. Ketika saya memberi tahu saudari ipar saya yang seorang Katolik yang saleh, kalau saya sudah menerima Komuni. Dia berkata kepada saya dengan sukacita yang luar biasa dalam suaranya: “Oh, Jimmy, kamu sudah menerima Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus!” Karena saya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu, saya tidak tahu bagaimana cara menanggapinya, namun saya merenungkan kata-katanya dalam hati saya.

Pada titik ini, saya harus mengatakan bahwa Georgie adalah keluarga besar saya yang paling saya kasihi, seperti juga bibi saya yang namanya Loretta, dia menikah dengan saudara ibu saya, yang bernama Tom yang adalah paman saya. Paman Tom pada tahun 1940-an dan saudara saya Ed pada tahun 1960-an,  mereka berubah keyakinan dan menjadi orang Katolik Roma. Hal ini menjadi pola bagi pria Protestan muda dalam keluarga kami yang menikahi wanita Katolik yang cantik dan mereka akan pindah keyakinan. Hal ini akan berperan dalam diri saya, secara besar-besaran pada satu setengah dekade mendatang. Tak seorang pun bisa meremehkan kekuatan kecantikan wanita sebagai alat penginjilan Katolik!

Ketika saya berusia 18 tahun, saya bergabung dengan komunitas keagamaan di Institut Ekumenis, yang pada puncaknya punya lebih dari 3.500 anggota di seluruh dunia. Empat tahun berikutnya, saya hidup dalam komunitas Kristen yang khas dan ditujukan dengan maksud demikian, dan komunitas itu dikenal dengan sebutan Ordo. Kami beribadah bersama, makan bersama, bernyanyi dan belajar bersama, dan tinggal di tempat yang berdekatan. Pada tahun 1970-an, misi kami adalah mengubah dunia melalui pembaruan gereja-gereja Kristen setempat. Di saat yang sama, saya sedang belajar untuk meraih gelar akademik sehingga saya bisa menjadi seorang guru. Anehnya, mengingat banyaknya pendeta Methodist yang menjadi anggota sekaligus pemimpin di Ordo itu, entah bagaimana saya kehilangan panggilan untuk menjadi pendeta waktu di Institut. Bagaimana dan mengapa hal itu terjadi masih menjadi misteri bagi saya. Mungkin bukan kebetulan bahwa pada saat yang sama saya berbelok kembali ke sekularisme, Institut Ekumenis menjadi Institut Urusan Budaya, menjadi suatu entitas yang sepenuhnya sekuler yang memusatkan perhatian pada transformasi sosial.

Empat tahun berikutnya, setelah saya meninggalkan EI, menjadi tahun-tahun yang terombang-ambing. Saya tidak didasari tata cara yang serius dan dewasa. Saya tidak lagi doa pagi di komunitas bersama dengan ratusan orang lain, yang pada dasarnya syaa tidak ikut lagi ibadah rutin. Saya punya berbagai macam pekerjaan sambilan setelah lulus perguruan tinggi. Dan ini menyebabkan saya tinggal di berbagai tempat berbeda. Saya menjadi orang yang sangat egois sehingga saya memperlakukan hubungan pribadi sebagai sesuatu yang tidak penting dan sembrono. Melihat kembali ke periode awal saya hingga pertengahan rentang usia 20-an itu membuat saya merasa malu. Saya sama sekali tidak bangga dengan kurangnya karakter diri saya. Tepat di pertengahan rentang usia 20-an, muncul dalam pikiran saya kalau saya ingin melakukan perjalanan sangat jauh sebagai cara “menemukan diri saya sendiri.” Pikiran awal saya adalah mendaki Key West, Florida ke ujung barat laut negara bagian Washington. Setibanya di Georgia setelah perjalanan menyusuri Florida dalam dua bulan, saya memutuskan untuk menuju Appalachian Trail untuk melanjutkan pendakian saya. Pada Hari Kemerdekaan [Amerika Serikat], saya berhasil mencapai Roanoke, Virginia, tempat saya memilih untuk mengakhiri perjalanan saya. Selama lima bulan, saya membawa dua buku: kumpulan karya Henry David Thoreau dan Perjanjian Baru. Ternyata, Allah menggunakan waktu terombang-ambing ini dan dengan cara yang lembut menarik saya kembali ke keindahan dan kekuatan Injil yang mengubah hidup saya. Saya kembali ke daerah Chicago dengan tubuh yang ramping, tenang, dan fokus. Allah berbelas kasih kepada saya. Seolah-olah Allah berkata kepada saya: “Jimmy, Aku belum selesai denganmu. Aku akan memberikanmu awal yang baru. Aku punya masa depan bagimu. Aku punya tujuan untukmu!”

Menjadi “Anglo-Katolik”

Selama musim panas 1978, saya bisa memperoleh pekerjaan mengajar di SMA di pinggiran kota yang masih dekat dengan kota, di sebuah area yang sangat Katolik. Saya menganggapnya sebagai perubahan yang menarik dan menyegarkan dari latar belakang WASP (White Anglo-Saxon Protestant) di kota asal saya yang jauh dari perkotaan. Hal ini segera menjadi sesuatu yang penting karena saya diberikan kesempatan menjadi guru privat Gina, dia seorang siswi berusia 14 tahun yang sedang hamil 4 bulan. Hal itu umum pada masa itu, dia tidak diperbolehkan untuk ikut pelajaran di kelas. Hal ini menjadi peristiwa yang mengubah hidup dalam beberapa cara yang penting.

Selama sisa tahun ajaran, dari November hingga Juni, saya mengajar Gina dan biasanya saya berada di rumahnya tiga hari dalam sepekan. Saya hampir seperti menjadi anggota keluarganya. Ibu Gina yaitu Rose, dia seorang wanita yang luar biasa. Dia ramah dan ceria. Dia juga seorang Katolik yang bangga dan penuh semangat! Dia seorang pro-kehidupan, pro-keluarga, dan selalu menyediakan tempat di mejanya bagi siapa pun yang menghendakinya. Gina berusia 15 tahun di musim semi dan beberapa pekan kemudian dia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Menyerahkan bayinya untuk diadopsi merupakan hal yang traumatis baginya, namun itu sudah menjadi rencananya selama ini. Beberapa dekade kemudian, Gina bisa berjumpa lagi dengan putranya. Putranya itu dibesarkan oleh keluarga yang penuh kasih, menjadi seorang arsitek, dan memulai sebuah keluarganya sendiri.

Saya menyebutkan semua ini untuk menunjukkan bahwa bulan-bulan yang saya bersama dengan keluarga ini di bungalow sederhana mereka, bisa membuka cara pandang yang benar-benar bagi saya. Rumah Gina adalah “gereja rumah tangga” yang lembut, tapi efektif, yang menginjili saya dalam kehidupan Katolik dengan cara terbaiknya yang bersemangat dan bersahaja. Tepatnya, saudaranya yang bernama Mike yang berperan penting dalam memperkenalkan saya kepada seorang wanita muda Katolik, setahun kemudian, wanita muda ini pada akhirnya menjadi istri saya.

Akhir tahun itu, pada bulan Oktober 1979, saya sangat tersentuh oleh kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Chicago. Misa di Grant Park dihadiri satu setengah juta orang. Pesannya tentang kasih dan kehadiran Allah sangat menyentuh saya. Hati dan pikiran saya terbuka untuk kebenaran yang lebih besar.

Setelah dua tahun mengajar, saya menerima pemberitahuan “pengurangan kekuatan” [dalam bidang militer], bersama dengan tujuh orang guru lainnya, kami tidak terikat kontrak lagi. Itulah prinsip terjadinya “masuk terakhir, keluar pertama.” Dengan berakhirnya zaman Baby Boom menyebabkan penurunan pendaftaran sekolah di seluruh negeri, dan distrik saya juga tidak luput dari itu. Pada musim panas 1980, saya dipekerjakan untuk mengajar sekolah musim panas untuk terakhir kalinya. Saya rutin hadir di gereja, berlatih untuk Chicago Marathon, dan menikmati persahabatan yang dijalin kembali. Namun, saya tidak terlalu senang. Keinginan saya untuk menikah dan memiliki anak tidak bisa terpenuhi karena berbagai alasan. Meskipun saya melirik beberapa orang wanita, tidak ada momentum menjalin hubungan yang serius dan tenang.

Pada suatu Sabtu malam di bulan Juli 1980, saya dalam keadaan hampir putus asa, saya hanya berdoa di dalam hati: “Tuhan, tolong saya perkenankan saya bertemu dengan seseorang yang bisa saya cintai!” Hanya itu. Kemudian saya tertidur. Saya tidak tidak pernah mendoakan doa seperti itu. Tuhan dengan belas kasihnya yang lembut, Ia mendengar dan menjawab doa saya.

Ketika saya bangun pada hari Minggu pagi, cuacanya sudah panas, sampai 99 derajat (sekitar 38°C)! Tak lama kemudian saya mendengar kabar kalau wanita yang akan saya kencani di utara Chicago sedang sakit dan saya tidak bisa pergi bersama saya. Setelah beberapa meneleponnya tanpa hasil, saya bisa menghubungi Marlene, seorang temannya yang dikenalkan oleh Mike, saudara Gina. Tapi Marlene juga tidak bisa ikut. Saya bertanya kepada Marlene apakah dia tahu orang lain yang bisa pergi dengan saya dalam waktu sesingkat itu (pertunjukan siang akan dimulai dalam waktu kurang dari 4 jam). Dia bilang ya, dia tahu seseorang yang bisa ikut bersama saya. Dia menelepon temannya yang bernama Bernie dan menjelaskan keadaannya, dan beberapa saat kemudian saya terjebak dalam “kencan buta” pertama dalam hidup saya. Kami bersenang-senang dan benar-benar merasa jatuh cinta pada kencan pertama itu, itulah hari yang sangat panas di pertengahan bulan Juli 1980.

Kami mulai rutin bertemu. Setiap hari kami mengobrol di telepon. Bernie sangat taat dalam iman Katoliknya. Saya sering ikut Misa, kadang-kadang dia ikut kebaktian Methodist bersama saya. Bernie suka dengan nyanyian yang bersemangat dan khotbah yang menarik serta bijaksana di gereja Methodist. Ketika saya ikut Misa, saya menemukan devosi yang menarik terhadap Komuni Kudus. Saya tidak pernah lupa dengan apa yang dikatakan oleh Georgia bertahun-tahun sebelumnya, bahwa Komuni Kudus itu menjadi Tubuh Kristus yang sebenarnya. Sebagai seorang Methodist, saya diajarkan bahwa Perjamuan Tuhan yang biasa diadakan tiga bulan sekali hanyalah cara mengingat kembali Perjamuan Malam Terakhir. Tetapi sekarang saya mulai berpikir lebih dalam tentang ajaran Katolik mengenai Ekaristi.

Pada saat yang sama, saya kembali memikirkan kemungkinan ikut masuk seminari dan mengejar pelayanan tahbisan. Entah bagaimana, saya menemukan Gereja Episkopal dan ikut kebaktian di Grace Church di Oak Park, Illinois. Terpesona dengan miripnya dengan Misa Katolik, di sana saya mengambil risalah kecil yang berjudul “Kehadiran Nyata.” Risalah kecil ini memberikan banyak jawaban dari pertanyaan yang saya pikirkan. Keyakinan mereka bahwa komuni itu benar-benar Tubuh dan Darah Kristus merupakan suatu wahyu. Semakin saya menjelajahi Gereja Episkopal, semakin menarik bagi saya sebagai jalan tengah antara Katolikisme dan Metodisme. Saya belajar tentang suksesi apostolik dan peran para kudus, termasuk Maria dalam rencana keselamatan Allah. Saya mendapatkan suatu perasaan mendalam mengenai keindahan dan rasa hormat dalam ibadat liturgi. Untuk pertama kali, saya melihat kitab Injil diangkat, dicium, dan peristiwa itu membuat saya terpana. Saya ketagihan! Yang terbaik adalah sesuatu yang Katolik!  Tepatnya, “Anglo-Katolik.”

Setidaknya mereka mengatakan demikian. Tampaknya itulah yang terbaik dari semua dunia yang mungkin diikuti. Saya berencana pindah keyakinan.

Saya dan Bernie menikah di Gereja Katolik St. Daniel the Prophet di Chicago pada akhir Oktober 1981. Beberapa pekan kemudian, saya dikukuhkan dalam Gereja Episkopal. Kami memulai kehidupan perkawinan kami bersama dengan harapan besar akan berkat di masa depan. Saya menemukan ceruk dalam dunia investasi dan tampak menarik dan menghasilkan. Bernie bekerja penuh waktu, sampai kami memperkirakan kelahiran anak pertama. Kami merayakan ulang tahun pertama perkawinan di Rumah Sakit Loyola, tempat Bernie dirujuk karena mengalami kehamilan berisiko tinggi. Putra kami, Christopher lahir hanya hidup dalam waktu 4 jam. Sindrom langka yang ia alami 100% fatal dalam waktu 24 jam pertama kehidupannya. Kami sangat terpukul. Hidupnya yang singkat sepertinya mengejek semua harapan dan kegembiraan. Namun, Christopher dibaptis oleh seorang presbiter Katolik, meskipun rasa sakit kami begitu berat, dukungan penuh kasih dari keluarga dan teman-teman sangat menghibur kami. Upacara bagi orang meninggal di Gereja Episkopal St. Christopher membawa kesembuhan. Kehilangan ini membuat kami memikirkan secara mendalam tentang iman kami tentang kehidupan kekal dan juga mendorong kami untuk memikirkan bahwa mungkin saya ditujukan untuk masuk seminari. Perencanaan kami mulai berpusat sekitar pemikiran itu.

Lima tahun kemudian dan dengan dua anak yang sehat, kami berkemas dan pindah ke Sewanee, Tennessee untuk bersekolah di Sekolah Teologi di The University of the South. Bagi orang Yankee dari kota besar ini, hal ini merupakan perubahan besar. Sewanee merupakan kota kecil yang menawan, dan kampus universitasnya indah. Anak-anak kami, Jenny dan Danny, tumbuh besar dalam komunitas yang berpusat pada keluarga dari mahasiswa teologi menikah yang punya anak. Saya dan Bernie suka mengenang kehidupan kami yang lebih sederhana di sana. Saya berterima kasih kepada para profesor yang mengasihi Allah dan juga baik dan mereka menanggapi panggilan mereka untuk mengajar dan membantu membentuk pelayanan Injil di masa depan.

Ketika sudah tiba waktunya lulus dan melanjutkan hidup, kami merasa senang ditawari kesempatan untuk pindah ke Baton Rouge, Lousiana untuk melayani di Gereja St. Luke. Gereja itu merupakan paroki Anglo-Katolik yang besar. Saya salah seorang dari empat presbiter di sana, dan di sana adalah gereja yang dinamis dengan rasa hormat akan liturgi dan pendidikan Kristen yang sangat baik. Waktu kami di Baton Rouge sangat menyenangkan. Anak-anak kami bersekolah di sekolah paroki, dan kami semua mendapatkan banyak teman.

Di balik itu, saya semakin disadarkan akan perselisihan yang berkecamuk. Pemimpin Uskup  yang baru adalah seorang progresif yang tanpa henti dan tidak punya selera humor, ia melihat segala sesuatunya melalui lensa keadilan sosial menurut versinya sendiri. Yang artinya, tahbisan bagi gay, hak aborsi, dan lain sebagainya. Bahkan ia melangkah terlalu jauh dengan mengatakan “bagi mereka yang tidak bisa menerima perubahan ini, mungkin inilah saatnya untuk berkata kepada mereka, sayang sekali di sana ada pintunya [maksudnya adalah silakan keluar bagi yang tidak setuju –red.].” Pada awal tahun 1990-an, saya mulai merasa bahwa gereja itu bukanlah gereja yang sama yang saya ikuti satu dekade sebelumnya.

Dengan penuh syukur, kami pindah ke Burlington, Wisconsin pada tahun 1991, hanya berjarak sekitar satu setengah jam dari sebagian besar keluarga kami. Di sana saya menjadi rector di Gereja Episkopal St. John the Divine. St. John merupakan suatu komunitas yang baik dengan 200 umat yang setia. Masa tiga setengah tahun di sana merupakan sukacita luar biasa. Saya suka pelayanan di sana dengan menjadi pastor di gereja setempat, terutama dengan memimpin Ekaristi kudus dua kali setiap hari Minggu. Namun, seiring berlalunya waktu, saya terus merasa khawatir dengan perselisihan yang terjadi. Seorang presbiter di keuskupan kami yang juga seorang tradisionalis, berkata kepada saya di pertemuan para presbiter, katanya: “Permasalahan yang ada di gereja kita adalah kita tidak punya Magisterium.” Saya mengangguk seolah-olah tahu artinya, sepanjang waktu saya bertanya-tanya: “Apa itu Magisterium?”

Semua hal itu memuncak pada musim semi tahun 1994, ketika saya menghadiri pertemuan tingkat keuskupan untuk membahas masalah-masalah yang “tajam.” Aturan dasar ditetapkan di mana tidak ada kritik yang diajukan kepada pembicara mana pun, kapan pun, dan apa pun pernyataannya. Saya tidak akan memperdebatkan masalahnya, cukup dengan mengatakan bahwa ada banyak pernyataan aneh dibuat, yang tidak diizinkan untuk membuat pernyataan bantahan. Saya pulang sore itu dan memberi tahu Bernie bahwa Gereja Episkopal bukan lagi rumah kami. Sudah saatnya bagi kami untuk melakukan perubahan serius. Perencanaan kami dimulai pada hari itu juga. Kami akan pindah dan memulai hidup baru. Kami juga akan menjadi Katolik.

Pulang ke Roma

Meskipun sedih rasanya mengucapkan selamat tinggal ke paroki kami dan sulit bagi anak-anak kami meninggalkan teman-temannya, tapi kami harus melakukan perubahan ini. Saya beruntung dipekerjakan oleh sebuah perusahaan pialang tingkat nasional. Melalui serangkaian peristiwa yang kebetulan, kami pindah ke Pickerington, Ohio, yang dekat dengan Colombus. Saya menganggap hal ini sebagai pertanda baik bahwa gereja di tempat tinggal kami, gereja Katolik yang ada di sana adalah paroki St. Elizabeth Ann Seton. Bunda Seton, seorang kudus kelahiran Amerika, yang juga mantan Episkopal yang sudah “berenang di Sungai Tiber” dua abad sebelumnya. Paroki kami menyambut kami dengan tangan terbuka. Bernie sangat gembira bisa pulang ke Gereja masa kecilnya. Kami menjadi aktif dalam proses program RENEW (pembaruan) di paroki, yang dimulai tepat saat kami tiba di sana. Format sharing iman dalam kelompok kecil sangat ideal bagi kami untuk mengenal komunitas baru kami ini. Saya menerima penguatan pada musim semi berikutnya. Selama dua dekade berikutnya, saya sangat terlibat di kehidupan paroki. Saya berada di tim RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) selama bertahun-tahun. Saya juga membantu persiapan Sakramen Penguatan selama dua tahun, juga bekerja dengan kelompok kepengurusan dan memimpin beberapa kelompok studi Alkitab. Saya juga menemukan manfaat dari kelompok sharing iman pria, seperti yang saya lakukan selama satu setengah tahun bekerja dengan Radio Katolik St. Gabriel di Colombus.

Saya percaya bahwa semua pengalaman dan pelatihan saya sudah bersatu dalam membantu saya dalam pelayanan saat ini. Selama empat tahun terakhir saya menjadi kapelan (pengurus kapel) Katolik di Palos Hospital di barat daya pinggiran kota Chicago. Rumah sakit itu didirikan oleh sebuah ordo biarawati Katolik seabad yang lalu. Saat ini, hampir dua pertiga pasien kami adalah orang Katolik, tentu saja, setiap hari saya mengunjungi semua pasien. Setiap hari saya diberkati untuk membagikan pesan pengharapan serta untuk “bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:15-16).

Bergabung dengan Gereja yang didirikan Yesus merupakan sukacita. Saya sudah menjadi “Katolik” bertahun-tahun sebelumnya, meskipun jika dipikir-pikir saya adalah tiruan yang kusam dari Gereja Katolik. Apa yang saya sadari adalah Reformasi Inggris harus diakhiri, bukan hanya untuk saya saja. Melalui sebuah film hebat yang berjudul A Man For All Seasons, saya menjadi tahu bahwa ada pilihan antara tiran pemberontak, Raja Henry VIII dan martir heroik, St. Thomas More, dan seorang yang bijaksana tentu saja harus memilih St. Thomas. Saya sudah selesai dengan “kelompok sempalan” Metodisme dan Anglikanisme. Sekarang saya menjadi bagian dari kepenuhan sejati dari Iman Kristen: satu Gereja yang punya sesuatu yang penting, yaitu Magisterium! Saya berada di rumah.

Seperempat abad terakhir sudah menjadi perjalanan akan pertumbuhan dan pendalaman pengetahuan. Secara khusus mengenai Bunda Kudus Maria, dalam kebijaksanaannya yang lembut, dia masih mengundang saya dalam iman yang lebih kuat lagi akan Putranya, Juruselamat kita, Yesus. Begitu juga kita semua dipanggil untuk iman yang demikian.

“Hidup harus berjalan maju, namun hanya bisa dimengerti dengan melihat ke belakang.” Itulah kutipan dari filsuf Denmark yang bernama Søren Kierkegaard, dan kutipan itu dengan tepat menyimpulkan perubahan keyakinan saya ke Gereja Katolik. Melihat ke belakang, saya melihat banyak sekali peristiwa rahmat dan banyak orang beriman yang bersumbangsih. Ketika saya melakukan perubahan pada tahun 1994, tidak ada yang menghalangi saya. Saya senang bergabung dengan Gerejanya St. Petrus, St. Maria Magdalena, St. Yohanes Paulus II, St. Teresa dari Kalkuta, dan St. John Henry Kardinal Newman. Tidak pernah sekali pun saya melihat ke belakang dengan rasa sesal.

Maka, izinkan saya menutup kisah ini dengan mengatakan bahwa saya juga percaya bahwa generasi saya yang terkenal (mungkin sebagian orang mengatakan tidak terkenal) dengan sebutan “Boomer” memiliki perjumpaan dengan takdir, sebelum kami keluar dari panggung kehidupan. Kita yang berusia pertengahan 50-an sampai 70-an punya panggilan penting untuk membantu memajukan misi ilahi Gereja Katolik. Kita semua, berapa pun usia kita dan di mana pun kita berada, kita harus menjadi kehadiran Kristus yang hidup di dunia ini, yang Allah kasihi dan hendak Ia selamatkan.

James (Jim) Anderson seorang mantan presbiter Episkopal yang selama empat tahun melayani sebagai kapelan di Palos Hospital di barat daya pinggiran kota Chicago. Ia dan Bernie, istrinya, tinggal di dekat sana dan menikmati waktu mereka bersama dengan keluarganya, termasuk dua anak yang sudah dewasa dan tiga orang cucu yang masih kecil. Jim senang sekali menjadi Katolik, dan suatu hari berjanji untuk menyelesaikan membaca Summa Theologica karya St. Thomas Aquinas.

Sumber: “A Boomer Comes Home to Rome”

Posted on 14 April 2021, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: