Paskah, Salib Tidak Perlu Lagi?

Oleh Joe Heschmeyer

Salib Yesus (Sumber: wallpapertag.com)

Ketika Paskah tiba, sangat menggoda untuk menghapus Jumat Agung, seolah-olah salib tidak perlu dipikirkan lagi

Rasanya canggung membicarakan peristiwa Penyaliban Yesus selama oktaf Paskah, tapi perlu diperhatikan seberapa sering kita temukan bacaan yang merujuk Jumat Agung selama oktaf Paskah ini. Dan itu menjadi proklamasi kabar Paskah yang paling awal. Dalam khotbah Pentakosta yang terkenal itu, St. Petrus dengan berani menyatakan bahwa “[Yesus] yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” dan mengakhiri khotbahnya dengan berbicara, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kisah Para Rasul 2:23, 36).

Maka menggoda sekali untuk memperlakukan Paskah sebagai hari yang menghapus hari Jumat Agung, seolah-olah kita tidak perlu memikirkan salib lagi. Namun, pendekatan para rasul tidak demikian. Mereka memandang Paskah sebagai yang mengungkapkan makna terdalam dari Jumat Agung dan menunjukkan bagaimana salib menjadi tempat kemenangan Allah, bukan sebagai tempat kekalahan-Nya.

Pesan radikal itulah yang harus mengubah cara kita memahami berbagai peristiwa menjelang hari Paskah. Misalnya, perbincangan yang Yesus lakukan dengan ibu rasul Yakobus dan Yohanes, ketika dia mendekati Yesus memohon sesuatu:

Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya” (Matius 20:21-23).

Kelihatannya hal ini seperti contoh lain ketidakmengertian Dua Belas Rasul yang mengharapkan bahwa Yesus akan menjadi semacam Mesias duniawi. Mereka terlalu memperhatikan keberhasilan diri mereka sendiri di kerajaan yang akan datang. St. Matius berkata bahwa bahwa “marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu” (Matius 20:24). Maka tepat kalau mengatakan kalau ini merupakan bagaimana orang lain memahami kata-kata Yesus pada zamannya. Kenyataannya, Yesus menunjukkan kepada mereka (dan juga kepada kita) ada hubungan antara salib dan kemuliaan, sesuatu yang mudah sekali terlewatkan.

Tanggapan Yesus akan permohonan ini dan juga kemarahan sepuluh murid lain oleh karena ulah dua orang murid, adalah menjelaskan “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28). Itulah rujukan yang paling jelas mengenai salib, meskipun ada rujukan lainnya. Ketika Yesus bertanya tentang “cawan,” Yakobus dan Yohanes tampaknya merasa sangat senang untuk makan bersama Yesus di meja-Nya. Namun Yesus sepertinya punya sesuatu yang lain dalam pikiran-Nya. Lagipula, pertanyaannya adalah apakah mereka bisa meminum cawan itu. Makna ‘minum cawan’ tidak jelas sampai di Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” di sana pula Yesus menegur St. Petrus dengan berkata, “Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18:11).

Pada awalnya, kelihatannya perkataan itu seperti teguran kepada para murid yang ingin ikut ambil bagian dalam kemuliaan Kristus sebagai raja, melainkan Yesus ingin mereka ikut ambil bagian dalam salib-Nya. Tapi intinya semuanya itu berada dalam satu poin yang sama. Yesus berkata kepada Nikodemus, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14). Dalam ayat itu, Yesus sedang merujuk pada Bilangan 21, ketika Allah memerintahkan Musa untuk menaruh ular tembaga di atas tiang sehingga siapa pun yang melihatnya akan diselamatkan dari ular-ular yang mematikan yang mematuki bangsa Israel. Makna akan peristiwa ini jelas, Penyaliban adalah Kristus yang ditinggikan (baik secara harfiah maupun kiasan). Beberapa saat kemudian dalam Injil St. Yohanes, Yesus berkata: “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yohanes 12:31-32). Kedengarannya seperti rujukan ke peristiwa Kenaikan-Nya ke Surga, namun Yohanes menjelaskannya di ayat berikutnya bahwa “Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati” (Yohanes 12:33).

Masuknya Kristus ke dalam kemuliaan terjadi dengan menggulingkan Iblis sebagai penguasa dunia ini dan menarik semua orang kepada diri-Nya dengan salib. Itulah makna dari Jumat Agung, tapi itulah makna yang bisa kita lihat dalam terang kemuliaan Paskah. Hanya dengan daya guna Kebangkitan, kita bisa melihat ke belakang, bahwa di Kalvari merupakan penobatan Kristus di kayu salib. Inilah mengapa Yesus tidak bisa membicarakan memasuki kemuliaan-Nya sebagai raja tanpa membicarakan cawan yang hendak Ia minum, dan juga tentang pemberian diri-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak. Bukan menjadi sia-sia, pertama kali kita menemukan gelar “Yesus dari Nazaret, Raja Orang Yahudi” yang ditetapkan secara tertulis kepada Yesus dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani di atas kayu salib (Yohanes 19:19).

Menyadari bahwa Yesus sedang membicarakan salib juga menjelaskan mengenai tanggapan-Nya bahwa “hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya” (Matius 20:23). Ketika Kristus bertahta di kayu salib, “dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya” (Matius 27:38). Pertimbangkan masalah ini dari sudut pandang para penyamun itu. Dari sejak semula, Allah menghendaki titik paling rendah mereka akan menjadi peristiwa rahmat yang paling besar dalam hidup mereka. Kedua penyamun itu mati dalam kematian yang keji dalam bentuk penyaliban, mereka seharusnya disatukan oleh Allah sendiri di kayu salib yang bersebelahan. Dengan kata lain, saat-saat terakhir mereka sebelum kematian mereka adalah pentahtaan Yesus di Kalvari. Tentu saja, hal ini adalah kehormatan di sepanjang hidup mereka, bagi sepadang penjahat yang terkutuk ini menjadi kesempatan seumur hidup.

Ada pelajaran mengenai hal ini bagi kita masing-masing. Pada saat-saat terendah, yang paling menyakitkan, dan bahkan paling memalukan, apakah kita mengenali sosok Yesus Kristus di samping kita? Seorang penjahat menanggapi Yesus dengan sakit hatinya dengan berbicara, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Lukas 23:39). Jika Yesus adalah Kristus, mengapa kita masih menderita? Di manakah “penebusan dosa” salib-Nya menggantikan salib-salib kita? Mana kesehatan dan kekayaan bagi mereka yang mengikuti-Nya? Tapi seorang penjahat yang kedua, ia yang menurut tradisi dikenang sebagai “Penjahat yang Baik” menyadari kesia-siaan dengan keluhan seperti itu, melainkan ia menanggapi temannya itu dengan berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah?” (Lukas 23:40). Penjahat yang pertama diberi kesempatan luar biasa untuk mati bersama Kristus, dan ia menyia-nyiakan salibnya dengan mengasihani diri sendiri dan mencemooh. Sebaliknya, penjahat kedua, mengakui keadilan akan hukuman yang diterimanya, berpaling kepada Kristus untuk memohon belas kasihan dengan berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:41-42). Dan Yesus berjanji untuk menggenapi doanya “hari ini” karena pada saat inilah Yesus memasuki “kuasa rajawi” itu (Lukas 23:42-43).

Inilah kabar gembira yang diungkapkan dalam Paskah, bahwa apa yang kelihatannya menjadi titik terendah Kristus sebenarnya menjadi saat kemenangan-Nya. Dan apa yang kelihatannya menjadi titik terendah kita justru menjadi saat-saat di mana kita juga bisa menemukan kemenangan dalam Kristus. Segala hal yang kita perlukan adalah kita tidak boleh menyia-nyiakan salib-salib yang Allah berikan dalam jalan hidup kita dalam belas kasihan-Nya yang tidak terbayangkan.

Sumber: “Don’t Waste Your Cross this Easter”

Posted on 8 April 2021, in Kenali Imanmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: