Mantan Pendeta Baptis Jadi Katolik – Kisah John Thompson

John Thompson (Sumber: ncregister.com)

“Jika Gereja inilah yang sama dan bisa dilacak akarnya sampai ke para Rasul, ya! Di sinilah tempat semua orang berada di dalamnya,” kata Thompson

John Thompson adalah seorang Katolik yang ceria, energik, dan sangat ingin menceritakan imannya kepada Kristus dengan orang lain. Ia berbicara dengan penuh keyakinan dan kepastian yang teguh ketika ia menyatakan Gereja Katolik sebagai “Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik yang didirikan oleh Kristus,” dan mengajak orang lain untuk menyelidiki sejarah dan ajaran Gereja.

Namun demikian, John tidak selalu berpandangan demikian. Pada tahun 1990, waktu ia berusia 41 tahun, ia mengundurkan diri sebagai pendeta senior di First Baptist Church of Orange, California, suatu persekutuan umat berjumlah 125 orang yang tidak jauh dari Holy Family Cathedral, yang sebelumnya merupakan gereja katedral Keuskupan Orange (sebelum membeli Christ Cathedral di Garden Grove).

Ia lahir di Long Beach dan dibesarkan di Fullerton, John sudah berkunjung ke banyak paroki untuk menceritakan kisah perubahan keyakinannya. Ia berbicara dengan  penulis ini (Jim Graves) untuk mendiskusikan kisah imannya ini, dan berbagai perspektifnya tentang Gereja dan Protestanisme.

Bagaimana sikap awal Anda terhadap Katolik?

Buruk. Saya dibesarkan dengan bias yang anti-Katolik. Saya tidak tahu apa-apa tentang Katolik, selain mereka adalah orang-orang penyembah berhala sekuler dan profan, yang jelas sekali sebagai orang-orang yang tidak mengenal Allah, mereka tidak membicarakan Allah dalam kehidupan pribadi mereka. Saya menganut banyak prasangka tidak jelas sebagai orang yang dibesarkan secara Protestan. Yang entah bagaimana orang Katolik itu lebih rendah dari orang Protestan, mereka benar-benar bukan orang Kristen dan mereka tidak menghidupi imannya. Ada banyak ketakutan dan tidak percaya terhadap Gereja Katolik yang berdasarkan pada ketidaktahuan.

Kapan Anda merasakan keraguan terhadap iman Baptis Anda?

Sekitar tahun 1988. Saya mulai mempelajari dan mencari tahu mengapa ada berbagai agama Kristen yang berbeda-beda itu punya ibadah yang berlainan bentuk. Bentuk ibadah Kristen itu sangat beraneka ragam. Dalam pikiran saya, saya ingin memastikan bahwa iman yang sudah membesarkan saya itu sungguh benar.

Saya melihat kembali cara ibadah di Gereja perdana. Saya berharap menemukan Gereja Baptis dengan khotbah dan penyembahan yang mencerminkan kepercayaan Baptis. Namun, saya menemukan dokumen sesudah Kitab Suci yang paling awal yang kita miliki ternyata berbicara tentang liturgi sejak awal mulanya. Anda tidak akan menemukan penyembahan bebas dari tradisi Baptis atau Injili. Anda akan menemukan liturgi, bentuk ibadah dan doa-doa yang ditetapkan sejak awal di dalam Gereja.

Dan yang paling penting adalah Anda bukan hanya menemukan Liturgi Sabda di mana Sabda Allah diwartakan atau dikhotbahkan, tetapi ada Liturgi Ekaristi. Maka, Anda akan menemukan tindakan ganda yaitu mendengarkan Sabda Allah dan menanggapinya dengan mempersembahkan Kurban yang melalui itu Anda menerima Tubuh, Darah, Jiwam dan Keilahian Kristus dalam Ekaristi. Ketika saya mulai melihat ini, saya tersentuh. Inilah yang sudah saya lewatkan dalam ibadah, dua tindakan ganda yaitu mendengarkan dan menerima.

Kedengarannya seperti bincang-bincang kisah Thomas Howard [1935-2020] dalam buku “Evangelical is Not Enough”

Tepat sekali, ketika saya membaca bukunya itu, saya menyadari betul inilah yang saya rasakan. Howard menjelaskan banyak kekurangan Protestanisme Injili. Saya sangat merekomendasikan bukunya yang ditulis dengan indah. Menjadi sesuatu yang mengandaskan kepercayaan Protestan Injili dari sudut pandang bahwa Reformasi Protestan itu sudah membuang inti dari Gereja, sebagaimana memang diperlukan reformasi dalam Gereja Katolik yang mungkin terjadi pada zaman Martin Luther.

Mungkin yang diingat dari Martin Luther adalah ajarannya bahwa setiap orang percaya diselamatkan oleh karena hanya iman.

Betul, tapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman saja! Dengan iman, ya, tapi bukan dengan iman saja. Akan tetapi, segenap Alkitab mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman dan perbuatan, seperti yang diajarkan Gereja Katolik. Kitab Suci mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman yang bekerja oleh kasih (Galatia 5:6).

Sebagai seorang pendeta Baptis, saya merasa terganggu ketika saya menemukan perikop-perikop di mana Tuhan Yesus berkata siapa yang bertahan sampai kesudahannya akan diselamatkan (Matius 24:13). Dan beberapa kali Paulus menyamakan pengalamannya dengan berlari dan bagaimana dikatakan bahwa ini belum selesai, ia belum memenangkan hadiah yang ia perjuangkan (1 Korintus 9:27-27). Paulus juga menasihati kita untuk mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Filipi 2:12).

Ada banyak ayat Kitab Suci lainnya, saya sebagai seorang Protestan Injili hanya menutup risletingnya. Seluruh Yohanes bab 6 yang kami tutupi untuk membahasnya. Apa yang Yesus maksud dengan makan daging-Nya dan minum darah-Nya? Aliran Baptis tentu tidak setuju dengan itu.

Topik ini membawa kita ke seluruh pertanyaan mengenai ‘sola scriptura’ yakni kepercayaan umum Protestan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber wahyu Allah, bahwa setiap orang percaya secara pribadi punya otoritas tertinggi untuk menafsirkan Kitab Suci.

Ketika saya berjuang dalam identitas saya sebagai seorang Baptis, saya bisa melihat dengan jelas bahwa sola scriptura membukakan pintu ke permasalahan yang nyata dalam kehidupan Gereja. Setiap orang bebas membaca Kitab Suci, berdoa kepada Roh Kudus, dan kemudian menentukan arti Kitab Suci menurut diri mereka sendiri. Kemudian umat beriman bebas memilih denominasi Kristen yang paling sesuai dengan cara membaca Alkitab seseorang, dan dalam hal ini mulai membuat denominasinya sendiri!

Namun, ada sesuatu yang salah. Ketika Kitab Suci diberikan Tuhan kepada kita, Ia pasti punya sesuatu yang ada dalam pemikiran-Nya. Jika bagian tertentu berarti A, maka hal itu tidak berati B, meskipun denominasi XYZ mengatakan artinya seperti itu.

Bagi saya sebagai seorang pendeta Baptis, ini benar-benar suatu ketegangan, bagaimana saya bisa mengetahui arti Kitab Suci yang sebenarnya? Scott Hahn, seorang mantan pendeta Injili, mengatakan jika seorang pendeta Protestan benar-benar jujur dalam mempersiapkan dan menyampaikan khotbah mereka, maka mereka akan berkata di mimbar, “Saya pikir, inilah Firman Tuhan.”

Itulah yang saya rasakan. Kitab Suci bukanlah sesuatu yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Baptis dan Injili! Sabda Allah adalah sesuatu yang lebih mengalir daripada sekadar tinta kering yang ada dalam selembar kertas. Kitab Suci adalah dokumen hidup yang mencerminkan Allah bekerja melalui manusia. Di sanalah Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa sabda Allah turun kepada kita bukan hanya di secarik kertas, tetapi melalui tradisi Gereja yang hidup. Ketika Anda membuang otoritas pengajaran Gereja seperti yang dilakukan orang Protestan, maka tidak ada cara untuk mengetahui Sabda Allah secara otoritatif.

Akibatnya, perspektif ini  akan memecah belah orang Kristen dan membawa mereka ke berbagai macam arah yang berbeda-beda.

Perpecahan yang luar biasa dalam Kekristenan dan penyebaran ribuan denominasi Kristen yang berbeda itulah yang sudah mengganggu saya sejak lama. Kristus mendirikan Gereja-Nya, satu Gereja, satu dalam kasih, satu dalam doktrin, satu dalam Roh, namun apa yang terjadi, itulah yang dipicu oleh Martin Luther yang merupakan seluruh proses perpecahan. Dan ketika para pengikut Martin Luther tidak sepakat mengenai tafsiran Kitab Suci dengan Martin Luther sendiri, mereka memecahkan diri, dan memecahkan diri lagi, dan lagi, dan begitu seterusnya.

Apa yang kemudian hari muncul bukan lagi kerja sama, persatuan dan kasih seperti yang dimaksudkan Kristus, melainkan persaingan sengit antar denominasi. Itulah salah satu hal yang paling mengganggu saya mengenai Protestan Injili, persaingan yang terkadang tak terucap di antara gereja-gereja untuk mendapatkan umat.

Tentu saja hal ini memberikan tekanan yang luar biasa bagi para pendeta Protestan untuk bertindak.

Tentu saja, seperti yang terjadi dengan saya di gereja Baptis kecil saya itu. Tapi ambil contoh sebuah gereja besar yang sedang bertumbuh seperti Calvary Church of Santa Ana. Apa yang terjadi jika pendetanya pension, pindah, atau meninggal? Jika mereka bisa menemukan seseorang yang dinamis yang seperti pendeta itu dalam hal berbicara, kepribadian, dan karisma, jika tidak maka umat di gereja itu bisa menurun drastic. Jadi kelemahan lain dari Protestanisme adalah masing-masing gereja bergantung pada kepribadian dan karisma pendeta mereka dalam kesuksesannya.

Mengapa kita memandang gereja-gereja Prostestan itu terpecah belah daripada mempersatukan?

Bagi saya, hal ini harus kembali ke sesuatu seperti Kredo (Syahadat/Pengakuan Iman). Ada inti dari iman kita, yang kita akui sebagai umat Katolik. Seorang Injili akan melihat Pengakuan Iman dan berkata: “Saya setuju dengan itu. Meskipun saya tidak yakin dengan kalimat ‘Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik; saya harus mendefinisikan ulang istilah-istilah itu yang sedikit berbeda dari Gereja Katolik. Tapi, saya akan berpegang pada Pengakuan Iman itu.”

Tapi adakah Kitab Pengakuan Iman? Tidak ada, karena itu adalah tradisi. Itulah tradisi Gereja Katolik. Orang-orang Protestan memang berpegang pada beberapa tradisi yang mereka anggap berguna dan sesuai dengan interpretasi mereka sendiri, namun kemudian mereka menolak apa yang tidak mereka temukan dalam Kitab Suci. Mereka pikir bahwa tradisi itu anti-Alkitab. Ya, hal yang menakjubkan bagi saya adalah semakin saya mempelajari kepercayaan dan praktik Katolik, yang selama ini saya pikir tidak sesuai dengan Alkitab, semakin saya menyadari bahwa tradisi itu sepenuhnya selaras dengan Kitab Suci. Tidak semua ajaran Katolik ditemukan kata demi kata dalam Kitab Suci, tapi ajaran-ajaran itu ada di dalam roh.

Dan suatu saat nanti saya akan bertanya kepada saudara-saudari saya yang Kristen non-Katolik: Bagaimana kita bisa membuang hal-hal seperti otoritas Gereja? Bagaimana kita bisa membuang kepemimpinan Gereja dalam diri para uskup dan presbiter yang ditahbiskan? Bagaimana kita bisa membuang sakramen-sakramen? Bagaimana kita bisa membuang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi? Bagi saya, ajaran-ajaran ini menjadi nyata dan menarik. Gereja Katolik tidak terlihat seperti Pelacur Babel seperti yang saya duga sebelumnya. Lebih dari itu, Gereja menjadi mempelai Kristus yang anggun, yang sudah memanggil saya untuk mengatakan bahwa dalam Gereja itulah ada kebenaran-Nya.

Apakah Allah memanggil semua orang untuk menjadi Katolik?

Ya! Ya! Saya sangat mempercayainya. Tidak semua orang bisa mendengar pesan itu dan tidak semua orang juga bisa mendapat karunia iman untuk melihat kebenaran di dalam Gereja Katolik. Tapi tentu saja, jika Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan di atas Batu Karang yang adalah Petrus dan Gereja yang dikaruniai oleh Roh-Nya, jika Gereja inilah yang sama dan bisa dilacak akarnya sampai ke para Rasul, ya! Di sinilah tempat semua orang berada di dalamnya.

Saya sudah mengalami kenyataan ini baik dengan pikiran dan hati saya, dan saya bersyukur kepada Allah atas karunia iman dan menuntun jalan saya menuju Gereja-Nya. Sungguh bahagia berada di rumah.

 

Dikisahkan oleh Jim Graves untuk National Catholic Register

 

Sumber: “Former Baptist Pastor Explains His Conversion to Catholicism”

Posted on 4 September 2021, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: