Kasih Kristus dan Persatuan Gereja

Oleh Dr. Brant Pitre

‘The good Shepherd’ mosaic in mausoleum of Galla Placidia. UNESCO World heritage site. Ravenna, Italy. 5th century A.D. (Sumber wikipedia.org)

Dalam naskah mengenai Yesus gembala yang baik (Yohanes 10:11-18). Ada aspek lain darlam naskah ini yang sangat penting dan perlu ditekankan adalah gambaran Yesus akan kesatuan Gereja. Saya tidak tahu dengan pengalaman Anda, tapi dari pengalaman saya yang dibesarkan sebagai seorang Katolik di Amerika Serikat, sejak masa kanak-kanak, saya selalu menyadari adanya banyak denominasi Kristen yang berbeda-beda, atau banyak gereja-gereja Kristen yang berbeda, di sini seringkali kita dengan bebas menggunakan istilah jamak mengenai ini [gereja-gereja]. Dan memang ada ribuan denominasi saat ini maupun di sepanjang waktu. Dan itulah bagian kehidupan kita, jika Anda seorang Kristen yang hidup pada munculnya Reformasi Protestan yang terjadi pada abad ke-16 yang menyebabkan perkembangbiakan berbagai bentuk denominasi gereja-gereja Kristen atau komunitas gerejawi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita sudah terbiasa dengan kenyataan dengan adanya banyak gereja, tetapi jika diperhatikan bahwa hal seperti itu bukan visi Yesus ketika Ia menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik. Yesus bukan hanya mengungkapkan identitas-Nya sendiri sebagai seorang raja sejati, atau imam sejati yang akan memelihara kawanan-Nya. Tapi Ia juga memberi tahu kita mengenai kodrat Gereja, Ia menunjukkan bahwa Gereja-Nya harusnya menjadi satu. Seharusnya menjadi satu Gereja yang bersatu, sama seperti hanya ada satu Mesias, hanya ada satu raja, dan hanya ada satu imam agung, yaitu Kristus sendiri. Demikian pula, seharusnya ada satu kawanan, hanya ada satu kandang domba. Maka akan ada satu Gereja, satu tubuh dari para murid-Nya yang idelanya bersatu satu sama lain seperti Yesus dan Bapa. Kita akan melihatnya nanti ketika kita melihat doa-Nya sebagai imam agung dalam Yohanes 17.

Maka tema persatuan para murid Kristus ini secara khusus menjadi tema utama dalam Injil Yohanes. Yohanes menyoroti suatu keadaan bahwa Tuhan kita bukan hanya membuat visi sebuah Gereja yang bersatu seperti yang akan kita lihat dalam Yohanes 17. Visi itu akan menjadi salah satu hal terakhir yang Yesus doakan sebelum Ia menyerahkan hidup-Nya dalam sengsara dan wafat-Nya. Jadi saya menekankan ini karena sebagai seorang Katolik, inilah salah satu tanda dari Gereja yang kita nyatakan dalam Kredo (Syahadat), yakni Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Nah dari mana kita mendapatkan pemikiran tentang satu Gereja? Bukankan itu semacam impian? Apakah itu tidak realistis? Tidak, aspek dalam Kredo adalah salah satu tanda dari Gereja yang otentik. Dan hal itu, kembali ke kehendak Kristus sendiri, kembali ke ajaran Kristus sendiri. Ketika Ia berada di Yerusalem, di hadapan pemimpin orang Yahudi dan Ia menyatakan dirinya bahwa, ‘Akulah gembala sejati dan hanya ada satu kawanan.’ Bangsa-bangsa bukan Yahudi akan masuk dan kita semua akan dipersatukan dalam satu kawanan, atau yang Ia sebutkan dalam Injil Matius sebagai Ecclesia-Nya, Gereja-Nya, kumpulan umat-Nya.

Hal terakhir dari ajaran Yesus dalam pengajaran gembala yang baik ini adalah kebebasan Sang Kristus untuk menuju salib. Inilah hal yang paling penting. Yesus dengan kebebasannya menyerahkan hidup-nya di Kalvari. Ia berkata dalam ayat 18, “Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.” Saya pikir hal ini sangat penting untuk diberi penekanan khusus, karena pada zaman sekarang ini, kita telalu menekankan pada kemanusiaan Kristus dan dengan mudah melupakan keilahian atau kedaulatan Kristus. Kedaulatan dan keilahian-Nya ini merupakan kebenaran bahwa Yesus memegang kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi di setiap peristiwa sengsara-Nya. Sengsara-Nya bukanlah semacam kecelakaan yang tragis. Anda tahu kalau Yesus bukan tiba-tiba terperangkap dalam jerat Romawi dan disalibkan. Meskipun beberapa ahli modern menggambarkan penyaliban sebagai sesuatu tragedi yang malang. Bukan seperti itu, Kristus dengan bebas memilih untuk menyerahkan nyawa-Nya. Nanti dalam Injil, Yesus akan memberi tahu Pilatus, “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yohanes 19:11). Yang artinya bahwa sengsara dan wafat-Nya adalah rencana penyelenggaraan Ilahi Allah, yang dengan itu Ia akan menyelamatkan dunia, dan itulah sesuatu yang dipilih secara bebas.

Itulah sesuatu yang penting kita tekankan. Karena hal itu menunjukkan kepada kita bahwa apa yang membuat wafat Sang Kristus menjadi berjasa, apa yang membuat wafat-Nya menjadi begitu berharga di mata Bapa, jadi bukan seberapa besar penderitaan Kristus. Apa yang saya maksud adalah penderitaan menunjukkan kasih-Nya bagi kita, tapi seberapa besar Ia mengasihi kita dengan bebas memilih untuk menyerahkan hidup-Nya. Bahwa dalam Injil Matius dikatakan, Yesus bisa saja dalam sekejap menurunkan satu atau dua belas pasukan (legiun) malaikat (bdk. Matius 26:53). Perlu diketahui bahwa satu legion itu sekitar 6.000 malaikat, jadi ini sedang membicarakan malaikat yang sangat banyak. Dengan kata lain, sebenarnya Yesus bisa dengan mudah menghentikan sengsara-Nya dengan sekejap ketika Ia didera atau waktu diadili, atau ketika Ia dihina, maka dari itu, semuanya adalah sesuatu yang Ia pilih dengan bebas. Dan dengan menyatukan semua itu dalam kehendak bebas-Nya, Ia membuat semua itu menjadi suatu tindakan kasih yang besar. Dan kasih itulah yang menebus kita, dan kasih itulah yang dikatakan Petrus ‘menutupi banyak sekali dosa’ (1 Petrus 4:8).  Dan kasih itulah yang diungkapkan kepada kita bahwa Yesus benar-benar adalah gembala yang baik, yang bukan hanya ingin melindungi domba-domba-Nya, Ia bukan hanya ingin supaya kita bertumbuh, tapi Ia rela menyerahkan nyawa-Nya demi kita supaya kita memiliki hidup yang berlimpah.

 

Sumber: “The Love of Christ and the Unity of the Church”

Posted on 9 September 2021, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: