Natal “Membaptis” Winter Solstice?

Oleh Steve Weidenkopf

Musim Dingin (Sumber: catholic.com)

Penetapan tanggal Natal pada 25 Desember tidak terlalu berkaitan dengan winter solstice, tapi lebih berkaitan dengan tradisi Yahudi

Dua hari raya umat Kristen yang selalu diperhatikan oleh mereka yang coba-coba untuk menjadi penyanggah tuduhan sejarawan sekuler dan anti-Katolik adalah Natal dan Paskah. Dalam semangatnya, orang Kristen yang ingin membela iman ini justru membuat mitos menurut pandangan mereka sendiri. Pada waktu winter solstice (titik balik matahari musim dingin), kami sedang bersiap-siap merayakan Natal di akhir pekan – jadi kita mulai membela Paskah, lalu kita pindah membela Natal.

Setiap musim semi sebelum Paskah tiba, organisasi berita besar memuat berita yang “membongkar” salah satu prinsip utama iman Kristen, yaitu Kebangkitan Yesus. Beberapa media merancangnya dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengaku sebagai ahli Alkitab yang mengemukakan alasan untuk meragukan kebenaran Injil tentang Kebangkitan; sedangkan yang lainnya memaksakan laporan adanya “penemuan” arkeologi yang menyangkal Kebangkitan, seperti osuarium yang berisi tulang belulang Yesus. Apapun bentuk serangan ini, mereka punya tujuan yang sama, yaitu menaburkan keraguan dalam benak umat beriman dan menegaskan semua itu dalam benak orang-orang yang tidak percaya.

Salah satu mitos umum tentang Kebangkitan ini juga dianut oleh sebagian besar umat Kristen berkaitan dengan perayaan Paskah. Teorinya adalah Paskah adalah festival pagan yang “dibaptis” oleh orang-orang Kristen. Narasi palsu ini berasal dari penggunaan kata Easter untuk menyebut Hari Raya Kebangkitan Tuhan.  Orang-orang skeptis menekankan bahwa kata itu mirip dengan kata Inggris kuno Eostre, yang konon adalah nama dewi Teutonik kuno tentang terbitnya cahaya dan musim semi. Buktinya, mereka menunjuk bagian dalam On the Reckoning of Time karya Santo Beda dari Inggris (672-735), di mana ia menulis, “April, Eosturmonath … yang namanya sekarang diterjemahkan sebagai ‘bulan Paskah’ dan yang pernah disebut dengan nama dewi mereka yang bernama Eostre, yang perayaan pemujaannya dirayakan pada bulan itu.”

Meskipun St. Beda menyebutkan nama dewi, ia satu-satunya penulis yang melakukannya, tidak ada bukti di luar karyanya tentang eksistensi dewi ini dalam mitologi Anglo-Saxon, Norse, atau Jerman. Dan perlu diperhatikan bahwa seluruh argumen ini hanya berlaku dalam bahasa Inggris (Easter), karena semua bahasa Eropa lainnya mendapat kata Paskah dari bahasa Yunani pascha,  sebutlah bahasa Prancis menggunakan kata Pâques. Dari bahasa Yunani pascha sebenarnya berasal dari kata Ibrani pesach yang artinya Paskah Yahudi (Passover).

Ketika sejarah pertobatan orang-orang Anglo-Saxon di Inggris dan juga mempertimbangkan orang-orang Saxon di Eropa daratan, maka menjadi jelas bahwa tidak ada hubungan antara Paskah dengan ritus pagan. Orang-orang Anglo-Saxon bertobat pada akhir abad ke-6 oleh St. Agustinus dari Canterbury (wafat 604) dan Karel yang Agung (782-814) yang memaksa orang Saxon daratan masuk iman Kristen pada abad ke-8. Kedua perubahan keyakinan ini sudah terjadi lama sesudah orang Kristen merayakan Paskah, yang buktinya tertanam kuat dalam kalender liturgi Gereja pada abad ke-2. Perayaan kebangkitan Tuhan juga tercatat dengan baik dalam Kitab Suci dan tulisan-tulisan umat Kristen perdana. Bahkan ada krisis Gereja perdana tentang penanggalan Paskah, sehingga ketika uskup Gereja Timur yaitu St. Polikarpus (69-155) berkunjung ke Roma pada tahun 154, ia merundingkan penanggalan Paskah dengan Paus St. Pius I (menjabat pada tahun 140-155). Akhinya, masalah ini diselesaikan dalam Konsili Nikea tahun 325.

Bukan Paskah yang sering dibandingkan dengan perayaan pagan, tapi Natal, berbagai tuduhan seperti winter solstice, dan berbagai perayaan dewa Romawi kuno seperti untuk Saturnus dan Sol Invictus. Perbandingan ini juga mempengaruhi aliran Puritan yang menolak perayaan Natal dengan menyebutnya sebagai “Foolstide (Kebodohan).” Pengaruh Puritan di Amerika Serikat membuat bangsa ini tidak mengakui Natal sebagai hari libur federal sampai dengan tahun 1870.

Pesta dewa pertanian Romawi yaitu Saturnus adalah perayaan dua hari dari akhir musim tanam yang dikenal sebagai Saturnalia. Pada pemeritahan masa pemerintahan Kaisar Agustus (memerintah 27 SM-14 M), Saturnalia dimulai pada tanggal 17 Desember, tapi kemudian tanggalnya dipindahkan oleh Kaisar Domitianus (memerintah pada 51-96 M) menjadi 25 Desember. Pada abad kedua Masehi, perayaan itu berlangsung selama satu pekan penuh.

Sekte Sol Invictus (Matahari yang Tak Terkalahkan) diperkenalkan pada tahun 274 oleh Kaisar Aurelianus (memerintah 270-275 M), tapi tidak berkaitan dengan acara tahunan. Meskipun tanggal perayaan Sol Invictus adalah 25 Desember (yang kadang-kadang di dunia kuno dianggap sebagai titik balik matahari musim dingin), satu-satunya sumber tertulis untuk tanggal itu adalah kalender bergambar dari abad ke-4 untuk seorang Kristen yang kaya yang dikenal dengan Chronography 354.

Mudah sekali bagi orang-orang skeptis membuat pernyataan kalau Natal itu dipinjam dari paganisme, kerena Kitab Suci tidak memberi tahu tanggal atau waktu kelahiran Yesus. Tapi dengan tidak adanya kalender yang khusus dalam Alkitab tidak membuktikan bahwa Gereja memutuskan untuk “membaptis” perayaan pagan dengan Kelahiran Tuhan. Tidak pernah ada tulisan Kristen atau dari tulisan pagan yang menunjukkan bahwa tanggal 25 Desember dipilih karena ada hubungannya dengan Saturnalia atau kelahiran Sol Invictus. Kenyataannya, umat Kristen perdana berusaha keras untuk menunjukkan bahwa mereka berbeda dengan orang-orang pagan. Mereka menyadari bahwa Kelahiran Tuhan layak mendapat tempat dalam kalender liturgi, sehingga pada abad ke-3 Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember (di Barat) dan 6 Januari (di Timur).

Perayaan Paskah berakar pada Kebangkitan Yesus dari kematian dan menjadi pusat utama umat Kristen perdana. Hari Sabat diubah oleh orang Yahudi yang menjadi Kristen dari Sabtu ke Minggu sebagai pengakuan akan Kebangkitan dan tidak berasal dari praktik orang pagan.

Penetapan Natal pada tanggal 25 Desember tidak terlalu berkaitan dengan kebiasaan orang pagan atau titik balik matahari musim dingin, atau juga Sol Invictus. Melainkan lebih berkaitan dengan tradisi Yahudi daripada kebiasaan orang pagan. Dalam tradisi Yahudi, tanggal 25 Maret diperingati sebagai tanggal pengorbanan Ishak oleh Abraham, Ketika Tuhan berjanji akan mengirimkan seekor domba untuk dipersembahkan. Dan juga tanggal itu menandari hari pertama Penciptaan, Ketika Tuhan menjadikan terang. Umat Kristen perdana dengan mudah melihat hubungan antara Kristus Sang Anak Domba dengan Terang, dan menetapkan konsepsi dan wafat-Nya pada tanggal 25 Maret. Jika Inkarnasi terjadi pada tanggal 25 Maret, maka Kelahiran Tuhan terjadi sembilan bulan kemudian yaitu pada tanggal 25 Desember. Bagi umat Kristen perdana “faktor yang menentukan adalah hubungan penciptaan dan salib, penciptaan dengan konsepsi Kristus,” bukan keinginan untuk membaptis perayaan orang pagan.

Artikel ini diadaptasi dari buku The Real Story of Catholic History karya Steve Weidenkopf yang bisa diperoleh di toko online Catholic Answers.

Sumber: “A Christmas Baptism of the Winter Solstice?”

Posted on 24 December 2021, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: