Otoritas Kitab Suci – Kisah Vivian Centurion

Vivian Centurion (Sumber: chnetwork.org)

Kenapa seorang Kristen yang percaya Alkitab bisa bergabung dengan Gereja Katolik? Saya tidak mengabaikan Kitab Suci, sebaliknya saya mendalami Kitab Suci. Hal itu yang memicu saya. Saya sudah mengajar sebuah kelompok kecil dalam bidang studi Alkitab bagi wanita selama bertahun-tahun. Saya tahu bagaimana melakukan riset dan melihat tafsiran. Tapi saya punya banyak keraguan, pertanyaan, dan kesulitan yang saya sembunyikan karena saya tidak menemukan jawaban atau jawaban yang saya temukan itu tidak memuaskan. Namun kemudian, saya mencari jawaban di mana-mana kecuali di Gereja Katolik. Pengalaman saya berjumpa dengan orang-orang Katolik adalah kalau mereka itu orang yang percaya takhayul dan tidak tahu akan Kitab Suci – bahkan mereka itu punya doktrin sendiri yang tidak mampu memberikan jawaban yang cerdas untuk mendukung keyakinan mereka. Maka saya pikir mereka itu yang sebaik-baiknya adalah orang yang berpikiran sederhana dan yang paling buruk adalah orang-orang sesat.

Saya sudah menjadi Kristen di sepanjang hidup saya. Ayah saya berasal dari Iman Ortodoks, dan ibu saya dari Protestan. Saya dibaptis sewaktu bayi di Lebanon di Gereja Ortodoks Suriah, datang ke Amerika waktu umur 5 tahun. Di Amerika, pembentukan iman saya terjadi di berbagai denominasi Protestan dan juga melalui radio, buku-buku tafsir dan buku-buku lainnya. Kami mengunjungi gereja Ortodoks hanya beberapa kali dalam setahun, hanya untuk acara-acara khusus, sampai saya berusia sekitar 8 atau 10 tahun. Kami tidak “menjalankan iman” Ortodoks karena ibu sayalah yang menjadi penggerak rohani di keluarga kami. Dia akan membawa kami berlima, biasanya berjalan kaki ke berbagai gereja, tergantung di mana kami tinggal, tapi gerejanya selalu Protestan.

Waktu saya berusia 2 tahun, ada kecelakaan dengan mata saya. Sepupu saya yang sudah remaja sedang bermain dengan saya, dan tidak sengaja menusuk mata saya yang menyebabkan infeksi. Kecelakaan itu membuat saya juling selama delapan tahun. Nenek saya dari pihak ibu sering mengurapi kepala saya dengan minyak dan mendoakan saya, dan ibu saya serta banyak orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya berumur 10 tahun, kami sedang menonton TV. Ada sekelompok orang mengunjungi Tanah Suci dan berbicara tentang makam Yesus yang kosong. Ibu saya menyuruh saya untuk menyentuh layar TV dan memohon supaya Tuhan menyembuhkan mata saya. Saya melakukannya, dan seketika mata saya sembuh setelah delapan tahun hidup dengan mata juling. Inilah pertama kalinya dalam hidup saya, saya bisa melihat dengan mata lurus (tidak juling lagi).

Keluarga besar saya mengira bahwa saya sudah dioperasi, mereka tidak percaya kalau Tuhan telah melakukan mukjizat. Peristiwa inilah yang menanamkan benih dalam diri saya. Seiring waktu berlalu, seperti kebanyakan anak remaja, saya menjadi kurang kuat dalam iman, saya berusaha mencari pijakan saya dan tempat di mana saya cocok dengan dunia. Dunia menarik Anda di sisi lain dan di arah lain Tuhan memanggil Anda. Saya tidak menyadari pentingnya agama dalam kehidupan saya selanjutnya.

Ketika saya berusia 18 tahun, untuk pertama kalinya saya membaca Alkitab, saya “mempersembahkan kembali” hidup saya kepada Yesus dan “dibaptis ulang” di sebuah gereja Foursquare. Setelah saya mengalami kemunduran selama beberapa tahun, tapi Tuhan membawa saya kembali kepada-Nya. Selama 30 tahun kemudian, saya hidup sebagai seorang Protestan – Foursquare, Baptis, Injili non-denominasi. Saya rutin membaca Alkitab dan ikut kebaktian, ikut  hadir di sana dan kemudian mengajar studi Alkitab, dan saya bersyukur atas setiap khotbah yang memelihara iman saya. Itulah puncak dari tahun-tahun yang membangkitkan semangat saya, yang membuat saya ingin mengejar sesuatu yang lebih. Pikiran saya adalah: jangan pernah berpuas diri dengan proses yang telah Anda lakukan, karena Tuhan lebih besar, jadi kejarlah Tuhan.

Pada tahun 2002, saya menikah dan punya tiga anak, kami tinggal di rumah ini sampai sekarang di Northridge, California. Dalam kekacauan membesarkan anak-anak, saya menemukan penghiburan dari Kitab Suci. Dalam membaca Alkitab, saya menyukai cara kedua Perjanjian terhubung satu sama lain. Kecermatan Tuhan dalam merangkai segalanya dan menghasilkan kesatuan dan kesempurnaan. Namun ada sesuatu yang hilang. Berkali-kali ada satu pertanyaan muncul dalam benak saya, mendorong saya untuk mencari jawabannya. Begitu mendebarkan untuk menemukan jawaban dan menghubungkan titik-titiknya. Sebelum saya menyadarinya, selama bertahun-tahun – khususnya lima tahun terakhir – perjalanan iman Kristen saya berubah dari perjalanan menjadi petualangan yang obesesif. Saya tertarik untuk mencari tahu bagaimana kita berada di sini. Mengapa begitu banyak denominasi? Siapa yang benar? Bisakah kami bersatu lagi? Apakah Yesus mendirikan satu Gereja yang kelihatan atau Gereja yang tak kelihatan?

Saya berutang banyak kepada Scott, suami saya, ia seorang Katolik KTP yang tidak pernag sekalipun mencoba mengajak saya ke Katolik. Dan apa yang ia lakukan jauh lebih mendalam: ia tetap teguh akan imannya. Meskipun kami saling mencintai, kami sering berdebat. Enam tahun pertama perkawinan kami adalah siklus perdebatan tentang agama. Semakin saya berdoa supaya Tuhan mengubah Scott, semakin Tuhan mengubah saya.

Sulit ketika Anda tidak bisa mengobrol tentang iman dengan pasangan terdekat Anda. Alih-alih menyatukan kami, iman bagaikan pagar pembatas dalam perkawinan kami. Akhirnya kami bergerak ke pertentangan kemudian berhenti pada saling menerima cara pandang iman satu sama lain: kami sepakat untuk tidak setuju. Ketika saya berserah diri pada Tuhan dan percaya kepada-Nya dengan suami saya, maka suami saya tidak merasa sedang diserang. Jadi perlahan-lahan kami pindah ke posisi yang lebih baik dalam perkawinan kami. Sementara kami dipersatukan di banyak aspek dalam perkawinan kami, kami terpisah dalam hal yang paling inti.

Kami punya tiga anak kecil dan kami sepakat bahwa ke gereja sebagai satu keluarga adalah hal yang penting. Bertahun-tahun lamanya kami ikut di dua tempat, pada Sabtu malam kami ke gereja non-denominasi dan pada Minggu pagi ke Misa Katolik. Di suatu saat, saya merasa lebih betah di Misa Katolik ketika saya mendengarkan bacaan dan doa secara aktif. Saya tidak lagi merasa cocok dengan gereja non-denominasi, tapi saya juga tidak cocok di gereja Katolik. Saya tidak bisa melawan hati nurani saya dan pindah keyakinan hanya untuk mengindari keributan. Namun, semakin saya mendengar dan berpartisipasi dalam Misa Katolik, semakin saya jatuh cinta pada sikap hormat dan penyembahan dalam liturgi. Ketika anak-anak bersekolah di sekolah Katolik, kami menjadi sukarelawan dan terlibat dalam berbagai kegiatan. Kami mulai mengurangi aktivitas di gereja saya. Sementara itu, Tuhan membuka pintu bagi suami saya untuk melakukan pelayanan dalam berbagai pelajaran Alkitab di paroki kami. Selama bertahun-tahun, saya juga membantu di berbagai bidang. Ketika perlahan-lahan keluar dari kondisi saya ini, saya mulai melihat bahwa ada umat Katolik yang adalah “Kristen sejati.” Mereka sebenarnya tidak berbeda dengan orang Protestan dalam komitmen mereka yang tulus dan mendalam kepada Kristus. Saya mulai melihat ada persamaan iman kami, yakni kami punya banyak kesamaan. Tuhan sudah menanamkan sebuah paroki yang besar bagi kami, dengan seorang pastor yang yang luar biasa dan umat paroki yang ramah. Presbiter kami menyambut saya, meskipun saya bukan Katolik dan tidak berniat pindah keyakinan. Ia mengasihi saya dan mengizinkan saya untuk menggunakan bakat saya di parokinya.

Bukan hanya perubahan keyakinan saya yang lambat – pada saat ini saya sudah menikah selama 24 tahun dan terlibat di paroki selama 14 tahun – namun juga banyak menghadapi pergumulan dan perenungan. Ketika saya berusaha untuk menemukan siapa Tuhan itu, saya mulai mendapatkan gambaran yang lebih dalam dan luas tentang Gereja-Nya. Hal itu bukan tentang “saya dan Yesus” tapi tentang seluruh keluarga Kristen. Yesus berdoa bagi kita untuk menjadi satu keluarga, berdoa bagi kita untuk menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu (lihat Yohanes 17). Tuhan bukan hanya memanggil saya kepada-Nya, Ia memanggil saya ke dalam keluarga-Nya, baik di dunia maupun di surga (lihat Efesus 3:15).

Sekitar lima tahun sebelum pindah keyakinan, kami hanya hadir di paroki Katolik kami. Kami berhenti ikut ke gereja saya. Saya merasa tidak perlu ikut di gereja non-denominasi untuk mendengarkan khotbah yang bagus, karena saya bisa mendengarkannya di TV atau radio. Saya merasa terbagi dengan identitas saya sendiri, karena saya mempertanyakan apakah saya perlu ke gereja untuk menjadi seorang Kristen. Mengapa saya perlu ke gereja, khususnya ke sebuah megachurch? Saya benar-benar tidak mendapatkan apa-apa darinya. Saya sudah melakukan pendalaman Alkitab saya sendiri. Khotbah dirancang untuk membawa orang banyak maju ke panggilan altar untuk menerima Kristus, untuk membaktikan kembali kehidupan seseorang atau berdoa. Mungkin hal ini bisa bermanfaat bagi orang-orang itu, tapi setelah bertahun-tahun di gereja itu, bagi saya menjadi tidak masuk akal bagi seorang Kristen berpengalaman seperti saya untuk duduk selama khotbah lalu menonton peristiwa panggilan altar. Hampir setiap hari, saya sudah terbiasa dengan topik yang dikhotbahkan, dan bahkan saya menambahkan catatan saya sendiri ketika pengkhotbah sedang berceramah. Surat kepada orang Ibrani 10:25 memberi tahu kita supaya tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan dengan umat beriman. Maka saya berpikir, jika saya punya kelompok studi Alkitab, apakah pertemuan itu bisa dianggap? Saya pikir, jika seseorang tidak menjadi masalah apakah saya ikut kebaktian di gereja, maka saya akan ikut Misa dengan suami saya.

Saya pun mulai mempertanyakan apa arti ibadah. Apakah ibadah itu hanyalah lagu dan khotbah? Lagu-lagunya mulai terasa seperti konser, dan khotbahnya yang paling bagus seperti pelajaran Alkitab dan yang paling buruk seperti ceramah motivasi yang dicampur dengan humor. Meskipun hal itu ada manfaatnya, saya harus bertanya: apakah itu ibadah? Persekutuan adalah simbol untuk membantu kita mengingat apa yang Kristus perbuat di kayu salib. Apakah itu ibadah? Saya mulai merasa ingin tahu tentang bagaimana umat Kristen mula-mulai beibadah. Apa arti ibadah bagi mereka?

Saya mulai memperhatikan perbedaan di antara gereja-gereja kami. Di Gereja Katolik diasumsikan bahwa semua orang di bangku gereja adalah Kristen karena tidak ada yang namanya panggilan altar, tidak ada orang yang maju ke depan untuk berdoa, lain halnya di gereja Protestan, di mana diasumsikan bahwa setiap orang perlu diinjili.

Ada lebih banyak hal yang terjadi dalam Misa. Khotbah atau homili bukan menjadi alasan seseorang ikut Misa, meskipun khotbah dan homili itu ada manfaatnya. Anda ikut Misa karena di sana ada Yesus. Banyak umat Protestan yang punya masalah dengan Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi, tapi Kehadiran ini bukanlah gagasan yang gila bagi saya karena dua hal: 1) Pemahaman terbatas saya tentang iman Ortodoks bahwa mereka percaya akan Kehadiran sejati Kristus dalam Ekaristi, meskipun mereka menyebutnya sebagai Misteri, bukan Sakramen. 2) Saya mempercayainya, ketika seseorang menerima komuni, Yesus ada bersama saya pada saat itu. Itulah mengapa kita diajarkan dalam Kitab Suci bahwa menerima komuni dalam keadaan berdosa merupakan sesuatu yang berbahaya. St. Paulus memperingatkan kita untuk tidak ikut ambil bagian dengan cara yang tidak layak (lihat 1 Korintus 11:27). Saya menyamakannya dengan kutuk karena ketidaktaatan dan berkat untuk yang patuh seperti yang diberikan Musa kepada bangsa Israel ketika mempersiapkan untuk masuk ke Tanah Terjanji ( lihat Ulangan 28). Ada pepatah yang mengatakan bahwa matahari yang sama bisa mengeraskan tanah liat dan melelehkan lilin. Maka berkat dan kutuk berasal dari sumber yang sama. Sehingga tidak pernah masuk akal bahwa persekutuan hanya simbolis jika ada penghakiman yang menyertainya.

Merasa tidak cocok di berbagai gereja, saya mulai mencari gereja-gereja yang berbeda di wilayah tempat tinggal kami, mencoba menemukan jalan tengah ke Gereja Katolik. Mencari sesuatu yang terasa Katolik tanpa menjadi Katolik. Saya menyebut diri saya “wanita tanpa bangsa.” Tidak ada yang terasa benar. Beberapa gereja punya suasana liturgis, tapi ada sesuatu yang hilang. Merasa frustasi, saya menjadi cemburu pada suami saya dan imannya. Ia tahu dari mana ia berasal, dan ia dengan tulus percaya bahwa ia adalah bagian dari Gereja yang didirikan Kristus. Saya jengkel pada para Reformator. Bukan salah saya Gereja mengalami perpecahan – beberapa terjadi perpecahan dan terus bertambah. Saya merasa seperti anak dari keluarga yang bercerai. Mengapa Gereja harus bubar? Kami seperti membuang bayi bersama dengan air mandinya. Untuk memperjelas hal ini, saya tidak memandang Gereja Katolik dengan cara pandang yang indah, saya tahu dengan sejarahnya. Tapi seperti yang dikatakan suami saya, 2.000 tahun kemudian Gereja Katolik masih berdiri, bukan karena anggotanya yang berdosa, tapi karena “alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18).

Sekarang, saya bukan hanya membaca untuk bertumbuh dalam iman. Saya sedang mengejar sesuatu. Saya tidak bisa mengartikulasikannya, tapi Gereja Katolik tidak ada dalam perhatian saya. Perjalanan saya itu disengaja, maka saya harus menemukan jawabannya. Karena gelisah, saya harus mengetahui “kebenaran,” meskipun ternyata saya salah tentang keyakinan saya. Inilah dosa saya selama bertahun-tahun. Saat saya membaca jalan saya menuju Gereja, saya melakukannya dengan doa yang sungguh-sungguh.

Sementara itu, saya masih ikut Misa Katolik, dan terus menerus saya akan tenggelam dalam doa ketika saya melihat hal-hal yang terjadi dalam Misa dengan apa yang saya baca dari para Bapa Gereja mula-mula. Perubahan keyakinan saya ini dimulai secara intelektual, dengan alasan, logika, dan fakta, bahkan dengan semua pengetahuan yang saya dapatkan ini, saya tidak bisa menyerah sampai saya mengalami pengalaman yang mendalam.

Pada masa inilah saya sudah ikut di sebuah paroki Katolik sekitar 14 tahun.  Ya, saya keras kepala! Saya masih tidak yakin dengan Gereja-Nya, lalu seharusnya seperti apa ibadah di abad ke-21. Pada tanggal 10 Juni 2019, bendungan yang ada dalam diri saya mulai jebol. Yang saya ingat dengan jelas hanyalah satu kata: otoritas.

Saya tidak akan pernah menduga bahwa benteng saya adalah otoritas. Saya pikir masalahnya tentang para kudus, Maria, api penyucian, dan doktrin-doktrin lainnya yang biasanya ditolak oleh orang-orang Protestan. Tapi konsep otoritas inilah yang menghubungkan kepala dan hati saya. Dan itu tidak mudah diterima. Doa saya yaitu ingin tahu kebenaran, bahkan jika saya salah. Jika Kristus adalah otoritas tertinggi, mengapa saya tidak berada di bawah otoritas yang telah Ia tetapkan? Saya merasa seperti Paulus dalam perjalanan ke Damsyik.

Selama bertahun-tahun, saya sudah melawan Tuhan tapi saya tidak mengetahuinya. Saya menilai bahwa orang-orang kudus dan anak-anak-Nya adalah orang-orang yang tersesat, tapi merekalah yang setia pada otoritas-Nya. Saya sakit secara fisik selama seminggu. Saya bergumul dengan luapan emosi dari benteng yang sudah hancur dalam diri saya ini, merasakan seluruh spektrum emosi seperti sukacita pembebasan dan beratnya penyesalan. Tuhan sudah mematahkan asumsi saya sebelumnya dan prasangka yang sudah mendarah daging, yang tidak saya ketahui sampai saya berhadapan muka dengan kedua hal itu. Tuhan sudah membuat saya merendahkan diri. Tapi sekarang, Ia yang yang mendapat perhatian saya, Ia juga yang akan membangun diri saya kembali (lihat Hosea 6:1).

Satu per satu saya melahap buku-buku apologetika Katolik. Sementara itu, suami saya diam. Anda akan berpikir kalau suami saya akan melompat kegirangan ketika saya berbicara kepadanya mengenai yang terjadi dengan diri saya, tapi ia hanya diam. Kemudian saya bertanya kepadanya, mengapa dia tidak bersemangat, dan ia menjawab bahwa ia “sangat optimis.” Ia tidak menyadari seberapa dekat saya dengan keputusan yang akan diambil. Ia tahu kalau saya sedang mencari-cari dan berjuang untuk sementara waktu, tapi dengan situasi yang aneh di hadapannya, ia membutuhkan waktu untuk bertindak dengan apa yang terjadi dengan saya.

Sekarang saya mendengarkan untuk memahami, bukan untuk mendengarkan untuk mencari kesalahan. Sikap ini sangat memengaruhi saya, karena jika pencerahan itu berasal dari Tuhan, maka saya harus berserah diri seutuhnya.

Tapi bagaimana jika semua ini berasal dari setan sehingga saya ditipu olehnya? Beberapa kali, pikiran semacam itu muncul di benak saya, tapi tidak bertahan lama. Pikiran semacam itu tidak mendapat kesempatan untuk menancapkan pengaruhnya di benak saya, karena saya sudah sampai pada kesimpulan pencarian saya. Saya begitu kewalahan dengan bukti dan oleh kasih karunia Tuhan saya bersyukur sehingga semua keraguan teratasi.

Dulu saya pernah merasa terhina ketika umat Katolik mengatakan bahwa mereka punya kepenuhan iman; sekarang saya sudah mengerti. Dalam buku Catholics and Protestants: What Can We Learn from Each Other? Karya Peter Kreeft, ia menulis bahwa, “ketika seorang Yahudi menjadi Kristen, ia percaya akan sesuatu yang lebih, bukan berkurang. Ia tidak kehilangan apa pun dalam Yudaisme tapi mendapat penggenapannya … Ketika seorang Protestan menjadi Katolik, ia tidak kehilangan hal yang baik dalam Protestanisme tapi menyempurnakannya” (hal. 61). Saya menjadi lebih Kristen. Tidak mungkin itu penipuan. Itulah karya Roh Kudus yang menarik saya lebih dekat.

Saya membaca buku Catholicism and Fundamentalism. Buku ini begitu mengena. Buku itu membantu saya bagaimana iman saya dipengaruhi dan dibentuk oleh ajaran Fundamentalis. Tanpa saya menyadarinya, dampak Fundamentalisme ada pada diri saya, meskipun saya tidak pernah ikut di gereja Fundamentalis. Saya sadar kalau saya sudah menyerap ajaran anti-Katolik yang ditanamkan sepanjang pembentukan diri saya, baik disengaja maupun tidak. Saya sudah mendengarkan banyak khotbah di radio Kristen dari berbagai denominasi Kristen. Ketika mereka membuat tuduhan, atau memutarbalikkan ajaran Katolik, atau berbicara sebagai mantan Katolik tentang mengapa mereka meninggalkan Gereja, saya hanya menerima ajaran mereka. Saya tidak punya alasan untuk meragukan mereka, karena mereka adalah pendeta yang dihormati. Seiring waktu berlalu, saya mendapatkan pemikiran bahwa Gereja Katolik salah besar, dan bersyukur kepada Tuhan untuk pada Reformator yang menyelamatkan Kekristenan. Sampai saya menghadapi persoalan itu, saya tidak sadar kalau ini sudah menjadi sistem kepercayaan saya. Selama ini saya ingin menghindari kalau saya ditipu oleh orang Katolik, dan sekarang saya merasa setidaknya hal itu menjadi bentuk salah informasi dan yang paling buruk adalah ditipu oleh Protestanisme. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, otoritas menjadi benteng saya, dan Tuhan baru saja menghancurkan benteng itu dan segala hal yang berkaitan dengan itu.

Tautan dari berbagai macam video membawa saya ke video Peter Kreeft, dan dari sana saya menemukan Coming Home Network. Dalam sekejap saya merasa di rumah. Bukan lagi “wanita tanpa bangsa,” saya tidak bisa lagi membaca dan menonton kisah-kisah mereka. Mereka semua sudah mengambil keputusan sulit yang sama, banyak yang harus mengorbankan mata pencaharian dan relasi. Saya kewalahan. Saya melihat kisah saya sendiri dalam narasi yang tak terhitung jumlahnya. Saya pikir kalau saya sendirian, tidak ada orang lain yang mengalami apa yang saya alami atau tidak yang punya dilema saya seperti yang saya hadapi, yaitu saya satu-satunya yang tidak cocok berada di gereja mana pun. Apa yang Tuhan katakan kepada Elia ketika ia mengira dirinya sendirian dan ingin mati? Engkau bukan satu-satunya, masih ada tujuh ribu orang sepertimu (lihat 1 Raja-raja 19:18). Wah, ternyata masih banyak lagi orang yang seperti saya.

Agama Katolik menjawab pertanyaan lama saya. Saya mulai menghubungkan titik-titik itu. Setelah peristiwa rahmat mendalam yang saya alami pada tanggal 10 Juni, waktu itu Tuhan merendahkan saya dan menunjukkan kepada saya bahwa masalah saya yaitu otoritas, semuanya menjadi jelas. Saya tidak perlu menolak dan membantah doktrin Katolik lagi. Ketika mendengarkan untuk memahami, saya bisa menerima apa yang Tuhan hendak berikan kepada saya. Sangat membebaskan untuk tunduk pada otoritas ketika saya membaca Katekismus Gereja Katolik, saya menemukan bahwa sepanjang katekismus itu dirajut oleh Kitab Suci. Pendapat yang sama, dulu tidak masuk akal menjadi masuk akal. Bahkan saya tidak lagi perlu untuk mempertahankan pandangan saya, karena lebih penting berada di bawah otoritas yang Kristus tempatkan atas diri saya. Saya berhenti melontarkan pendapat saya, dan hanya mendengarkan.

Kami membuat janji temu untuk berbicara dengan presbiter kami untuk mengetahui langkah selajunjutnya untuk saya tempuh. Saya gugup sekaligus senang, tapi mudah untuk berbicara dengannya karena saya sudah mengenalnya lebih dari 10 tahun. Presbiter saya itu berkata kalau saya tidak perlu ikut kelas RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) karena saya sudah melakukan riset dan belajar sendiri. Kami memutuskan untuk menunggu beberapa bulan untuk waktu yang tepat. Suster yang menjabat direktur RCIA sedang libur musim panas bersama dengan ordonya, dan juga wali saya yaitu umat paroki yang sudah lama di sana sekaligus teman dekat saya perlu juga hadir. Maka lebih baik menunggu dan membiarkan hanyut di dalamnya. Empat bulan kemudian, pada tanggal 6 Oktober 2019, saya menerima peneguhan. Meskipun demikian, saya ikut kelompok RCIA sebelum dan sesudah peneguhan saya, karena selalu saja ada yang bisa kita pelajari, dan yang tidak diajarkan di buku.

Semua pembelajaran yang saya lakukan selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Saya pikir saya harus mulai dari awal dan mengulangi studi Alkitab, tapi bukan itu masalahnya. Saya memang perlu memperbaiki teologi saya yang salah, tapi Tuhan tidak membuang bayi bersama dengan air mandinya. Saya mulai menggabungkan semuanya dan saya masih merasakah sesuatu yang menakjubkan dengan betapa banyak yang harus saya pelajari. Saya menemukan banyak jawaban dalam Alkitab New King James, di mana saya sudah menggarisbawahi dan melingkari banyak ayat. Tuhan benar-benar menjumpai kita di mana kita berada, Ia berbicara dalam bahasa hati kita. Bahasa hati saya adalah Kitab Suci. Ia menjumpai saya di sana dan menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dengan cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya, karena Iman Katoliklah yang menghubungkannya. Dengan cara yang mendalam, Alkitab menjadi hidup.

Mengenai Ekaristi: Sekarang saya melihat Misa Katolik adalah perpanjangan dari akar Yahudi. Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat tetapi untuk menggenapinya (lihat Matius 5:17). Jika Perjanjian Lama adalah gambaran dan bayangan dari yang akan datang, maka Perjanjian Baru adalah penggenapannya, bukan gambaran yang lain (lihat Ibrani 8:5-6). Penetapan Ekaristi adalah penggenapan Paskah dan manna di padang gurun. Maka Ekaristi tidak bisa menjadi simbol belaka. Dalam Yohanes 6, dengan jelas Yesus berkata (meskipun bertahun-tahun saya sudah menutupinya) bahwa kita harus makan Tubuh-Nya supaya tinggal di dalam-Nya. Bangsa Israel di Mesir makan anak domba Paskah, yang merupakan simbolisme Kristus. Di padang gurun mereka makan mana yang juga menjadi simbolisme Kristus. Sekarang Sang Mesias sudah datang, apakah kita harus memakan simbol lain lagi supaya kita bisa bersekutu dengan-Nya? Jika kita makan simbol lain lagi, bagaimana dengan penggenapannya?

Paulus berbicara tentang konsekuensi besar bagi mereka yang menerima Tubuh dan Darah dengan cara yang tidak layak (lihat 1 Korintus 11:24-30). Maka tidak masuk akal jika simbol belaka menyebabkan konsekuensi berat.

Mengenai Maria: saya mulai merenungkannya dalam penuh doa mengenai perannya dalam sejarah keselamatan. Saya mempelajari tentang Maria dari Kitab Suci dan buku-buku lainnya. Buku Behold Your Mother karya Tim Staples sangat membantu saya. Saya harus mendalami Maria, dan bukan menganggapnya lebih dari sekadar lukisan dan patung. Kami menganggap bahwa Darah Yesus sebagai kuasa dan keselamatan, saya mulai memikirkan tentang Darah. Dari mana asalnya? DNA Yesus berasal dari Maria. Tubuh dan Darah-Nya berasal dari Ibu-Nya, karena Yesus tidak punya ayah biologis. Maria adalah orang Kristen pertama. Ia “berkomunikasi” dengan-Nya selama 9 bulan dalam kandungan sampai berusia 33 tahun. Percakapan apa yang sudah mereka lakukan selama itu!

Mengenai api penyucian: Saya diajarkan bahwa 1 Korintus 3:11-15 berbicara tentang “pekerjaan” Anda bukan “pribadi Anda.” Ya, dalam perikop ini, perbuatan saya yang dihakimi, tapi penghakiman sedang berada atas diri saya. Siapa yang saya pilih, bagaimana saya menjalani hidup, keterikatan duniawi – semua itu bagian diri saya, jadi diri saya yang sedang dihakimi di sini.

Perikop ini berbicara tentang seorang beriman, bukan orang yang belum beriman. Oleh karena itu, hanya mereka yang “diselamatkan” yang akan diadili dengan cara ini. Kapan ini akan terjadi? Pengalaman memberi tahu kita bahwa hal itu tidak terjadi dalam masa hidup kita di dunia, jadi jelas hal ini bicara tentang kehidupan setelah kematian. Wahyu 20:11-12 berbicara tentang penghakiman dari takhta putih yang besar. Kitab yang akan dibuka adalah Kitab Kehidupan. Kita tahu bahwa Kitab Kehidupan tertulis semua orang yang percaya; itulah reservasi kita ke surga. Tentang apa “kitab yang lain” itu? Kita akan dihakimi berdasarkan perbuatan kita (lihat Roma 2:6-8). Bagaimanapun juga, kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik (lihat Efesus 2:10). Sudahkah kita menjalaninya?

Maka menjadi masuk akal bahwa ada peristiwa membakar pekerjaan kita (yang punya bentuk pekerjaan kerajaan, tapi ketika diuji akan terbakar habis) akan menyakitkan bagi saya, karena inilah perbuatan dalam hidup saya. Hal ini sejalan dengan pemikiran bahwa adanya penyucian diri sebelum seseorang masuk surga. Bukan sebagai hukuman, melainkan penyucian dari segala hal sehingga semuanya kudus dan baik; semua yang saya pikir itu sebagai perbuatan kerajaan. Suatu waktu untuk melepaskan diri dari keterikatan dan kesalahahpahaman duniawi. Saya mengira bahwa semua ini akan menjadi semacam rasa sakit yang dikuti dengan masa istirahat yang membawa penghiburan. Hanya terasa sakit sewaktu terjadi saja, kemudian terasa menyenangkan untuk dibersihkan, dimurnikan, dan dikuduskan.  Begitulah cara saya berpikir tentang api penyucian. Itulah Kristus yang menyelesaikan pekerjaan pengudusan dalam diri saya (lihat Filipi 1:6). Sebagai seorang Protestan, saya percaya akan pengudusan. Tapi sekarang saya melihat perkembangannya sampai kesudahannya yang dapat disebut sebagai api penyucian.

Dengan yakin saya sekarang bahwa dalam Gereja ada keteraturan, logika, sejarah, dan gambaran yang lebih besar tentang keluarga Allah. Saya sudah berada di rumah.

 

Vivian Centurion seorang istri juga ibu. Dia tinggal bersama suami dan tiga anaknya yang sudah dewasa di pinggiran Los Angeles, California. Dia masuk persekutuan penuh dengan Gereja pada tanggal 6 Oktober 2019.

 

Sumber: “The Authority of Scripture”

Posted on 22 January 2022, in Kisah Iman and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: