Keberanian untuk Berpindah – Kisah Courtney Comstock

Courtney Comstock (Sumber: chnetwork.org)

Memori masa kecil mula-mula saya tentang gereja yaitu waktu saya masih di prasekolah pada pertengahan 1980-an. Ibu saya mengantar saya ke sekolah Minggu di First Southern Baptist Church di Prescott Valley, Arizona, sementara itu ibu saya ikut kebaktian dewasa. Saya tidak terlalu ingat lagi tentang masa itu kecuali belajar lagu, “Yes, Jesus loves me, the Bible tells me so (lirik versi bahasa Indonesia: Ya, Yesus sayang, Dia sayang padaku).” Kami tidak lama menjadi umat di gereja itu. Ibu saya berpindah-pindah gereja sampai menemukan gereja yang dia senangi. Ayah saya tidak ikut ke gereja bersama kami, ia sudah meninggalkan Gereja Mormon sewaktu remaja dan tidak lagi beragama. Ketika kami mencoba gereja yang berbeda-beda, saya masih ingat ikut gereja aliran Pentakosta yang jemaatnya berbicara dan bergumam dalam bahasa roh. Orang-orang maju ke depan dan menangis dengan keras sambil pendeta menumpangkan tangannya atas mereka dan dengan keras mengusir setan. Saya sangat ketakutan! Saya pikir kalau suasana seperti itu diperlukan untuk dekat dengan Tuhan, saya tidak mau ikut di dalamnya.

Akhirnya ibu saya menetap di gereja Assemblies of God (Sidang-Sidang Jemaat Allah). Waktu itu, saya sudah lelah ikut ke gereja pada hari Minggu bersama dengan ibu. Saya bertengkar dengannya setiap minggu. Sekolah Minggu terasa membosankan, dan saya melihat bahwa itu tidak ada gunanya. Akhirnya, ibu berhenti mengajak saya.

Sekitar tahun 1998, waktu saya di SMA, saya mulai pacaran dengan anak laki-laki Katolik. Ia tidak berapi-api dalam imannya, tapi ia pernah sekali mengajak saya ikut Misa. Pengalaman yang benar-benar berbeda dari apa yang pernah saya alami. Setelah itu, ia memberi saya salah satu rosario plastik yang biasanya disimpan di meja belakang rumahnya. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan benda itu, tapi benda itu membuat saya tertarik. Ketika saya sampai di rumah, saya sangat bersemangat untuk memberi tahu pengalaman saya ini kepada ibu saya. Saya kira dia akan senang bahwa saya ke gereja lagi. Namun yang terjadi sebaliknya: dia terkejut! Dia bilang kalau agama Katolik itu buruk dan tidak alkitabiah, kalau umat Katolik itu menyembah Maria dan patung. Dia bilang kalau Alkitab dikatakan untuk tidak menyembah patung. Kemarahannya membuat saya buta. Saya tidak tahu harus berkata apa, maka saya menghentikan pembicaraan.

Lompat ke awal usia 20-an. Ibu saya mengajak saya ikut bersamanya ke gereja Foursquare. Saya merasa nyaman dengan khotbahnya, pendeta dan istrinya orang yang menyenangkan, maka saya ikut bersama dengan saya meskipun tidak rutin.

Pada tahun 2004, waktu saya berusia 21 tahun, pacar saya melamar, dan kami menikah di gereja itu. Yang kami alami adalah pertunangan jarak jauh, maka persiapan perkawinan dilakukan oleh saya sendirian. Tunangan saya seorang umat beriman, tapi ia tidak ke gereja. Seperti yang bisa diterka, Tuhan bukan menjadi bagian besar dalam perkawinan kami. Setelah dua tahun mengalami pelecehan emosional dan verbal, perkawinan itu kandas.

Inilah saya, seorang berusia 23 tahun dan sedang menghadapi perceraian. Saya memutuskan untuk tinggal di Iowa bersama sahabat dan pamannya. Saya akan menyelesaikan gelar untuk mengajar sambil membatin karena luka perceraian saya. Perceraian sendiri adalah hal yang buruk, dan saya mengalami masa yang sulit. Suatu hari, saya menangis ketika paman teman saya itu pulang kerja. Ia memberikan saya kalung salib emas dan menyarankan supaya saya bersandar pada Yesus untuk memohon pertolongan. Ia sendiri bukan Katolik, melainkan seorang Lutheran. Bagaimanapun juga, kebaikannya sangat menyentuh saya.

Natal tahun itu, saya kembali ke Arizona untuk mengunjungi kedua orang tua saya. Saya mengenakan kalung itu ketika mereka menjemput saya di bandara, dan ketika saya mau memeluk ibu saya, dia berhenti sejenak, menatap kalung itu dan bertanya dengan marah, benda apa yang saya pakai itu. Saya mengatakan kepadanya bahwa kalung itu adalah hadiah. Dia mengejek dan berkata bahwa Yesus sudah bangkit; Ia tidak lagi berada di kayu salib. Saya merasa hancur. Kalung itu sangat berharga bagi saya.

Beberapa tahun berikutnya, agama dan gereja disingkirkan lagi dari hidup saya. Saya mulai mengejar karir dalam bidang mengajar, tidak lagi memikirkan Tuhan dan ajaran-Nya. Sekitar tahun 2009, saya berelasi lagi dengan Kenny, pacar lama saya. Kami menikah pada tahun 2011, dan pindah ke New Mexico, tempat ia ditugaskan di Angkatan Udara. Pada tahun 2012, saya mengandung Cameron, putri kami. Saya bersyukur atas peran saya dalam membawa kehidupan baru ke dalam dunia, akhirnya saya mulai bertanya-tanya mengenai kuasa yang lebih tinggi. Pasti ada hubungannya dengan Tuhan.

Saya mengingat kembali pengalaman saya dengan ibu saya dan kemarahannya terhadap agama Katolik. Saya menelepon Rachel, teman saya yang ada di Arizona. Saya bertanya kepadanya mengapa ada begitu banyak permusuhan terhadap agama Katolik. Ada miliaran umat Katolik, pasti mereka tidak seburuk itu? Bagaimana bisa ada begitu banyak orang yang salah dalam keyakinannya? Dia tertawa kecil dan mengatakan bahwa agama Katolik sangat disalahpahami. Dia merekomendasikan supaya saya melakukan riset sendiri. Dia juga memberi saran supaya saya membaca buku Why Do Catholics Do That? karya Kevin Orlin Johnson. Buku itu menjadi titik balik dan memicu keingintahuan. Dan juga menjelaskan dengan sangat ringkas, dengan perikop-perikop Kitab Suci yang mendukung bahasannya. Ada penjelasan alkitabiah untuk segala sesuatu mulai dari salib, membungkuk, Maria, dan semuanya itu masuk akal! Saya tahu kalau saya perlu belajar lebih banyak lagi. Selama dua tahun, saya membaca banyak buku dan membanjiri Rachel dengan banyak pertanyaan. Kemudian saya kembali dan membaca ulang buku pertama itu dan menandai, menggarisbawahi, dan memperhatikan halaman-halamannya.

Pada tahun 2015, suami saya meninggalkan Angkatan Udara dan kami pindah kembali ke Arizona. Rachel mengajak saya ikut Misa di Paroki Katolik St. Germaine. Meskipun saya tidak bisa mengikuti apa yang terjadi selama Misa, saya sendiri merasa senang dan terus ikut Misa bersama Rachel dan keluarganya.

Rachel menghadiahi saya buku Butler’s Lives of the Saint karya Bernard Bangley. Setiap hari saya membaca orang kudus yang baru saya ketahui. Orang kudus yang diperingati pada tanggal 12 Oktober adalah St. Siprianus dari Kartago. Seperti saya, ia masuk dalam Iman Katolik di kemudian hari. Ia melahap buku-buku karya penulis Kristen dan menjadi seorang uskup. Ia membimbing umatnya dengan ratusan surat, yang dalam suratnya ia menjelaskan Iman. Sesuatu yang memaksa saya untuk belajar lebih banyak tentang orang kudus ini. Saya menemukan karya-karyanya yang lengkap, dan saya perlu satu tahun untuk membacanya semua. Risalahnya membantu saya memutuskan untuk pindah keyakinan.

Setelah saya menceritakan keputusan saya dengan Rachel, dia memberi nomor guru RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.)  kepada saya. Saya bertemu dengannya dan saya menceritakan gambaran singkat tentang latar belakang saya dan kenapa saya mau jadi Katolik. (Karena kebenaran itu sendiri, saya tidak sanggup menyangkalnya!) Ketika guru RCIA mendaftarkan saya, ia menyebut apakah saya memerlukan anulasi. Saya berpikir tentang hal itu, dan ia menjelaskan karena saya sudah pernah bercerai, maka saya memerlukan supaya perkawinan sebelumnya dianulasi dan perkawinan yang sekarang bisa disahkan oleh Gereja sebelum saya bisa menjadi Katolik. Ia memberikan nomor telepon diakon yang bertanggung jawab dalam bidang pelayanan anulasi. Saya benar-benar kebingungan.

Keesokan harinya, saya menelepon diakon dan kami membuat janji temu. Ia akan membahas ajaran Gereja tentang perkawinan yang tidak dapat diceraikan. Menurut Alkitab, secara teknis saya melakukan perzinahan dengan bercerai dan kawin lagi. Karena saya belum pernah mendengar hal itu di tempat lain, saya mengalami masa sulit untuk menerima hal ini. Ia membantu saya melalui proses untuk mendapatkan pernyataan nulitas dan ia juga memberi tahu saya bahwa pengadilan tribunal di Keuskupan Phoenix memerlukan waktu 18 bulan sampai 2 tahun. Hati saya kecewa. Saya sangat ingin menjadi Katolik, tapi sekarang saya perlu menjalani masa-masa untuk melihat kembali memori masa lalu yang sangat menyakitkan. Saya berjuang untuk menggali dan mengungkapkan sejarah saya kepada seorang pria yang tidak saya kenali ini. Saya tidak mau menghidupkan kembali memori itu, saya merasa tidak adil dan tidak baik untuk kesehatan mental saya. Saya punya daftar panjang pertanyaan dan keberatan untuk ditanyakan kepada diakon dan guru RCIA. Untungnya, mereka memberi saya ruang untuk melampiaskan dan mengomel selama masa sulit itu. Semuanya itu membuat saya bertanya-tanya apakah saya sudah melakukan hal yang benar untuk pindah keyakinan.

Saya mulai ikut RCIA pada musim gugur 2017, dengan Rachel sebagai wali saya. Saya juga mulai proses anulasi. Pada masa ini, saya tahu kalau suami saya juga perlu anulasi, karena ia juga pernah menikah sebelumnya. Saya sama sekali tidak mengerti semua ini, karena suami saya tidak religius dan tidak berkeinginan untuk menjadi Katolik. Kenapa ia juga harus melalui proses itu juga? Rasanya sesuatu yang membuat saya mundur datang terus menerus. Syukurlah, Kenny sepakat untuk melalui proses anulasi juga, asalkan saya tidak memaksanya untuk menjadi Katolik atau melakukan apa yang tidak mau ia lakukan. Sepakat!

Ia juga sepakat kalau Cameron dibaptis secara Katolik. Saya mengundang keluarga dan teman-teman dekat saya. Tak mengherankan juga, ketika saya mengundang ibu dan keluarga pihak ibu (kakek-nenek, bibi, dan paman) semuanya menolak hadir. Kendati demikian, banyak teman saya bahkan ayah saya datang untuk memberikan dukungan kepada kami ketika Cameron dibaptis pada bulan Agustus 2017.

Beberapa bulan kemudian, saya tahu kalau saatnya sudah tiba untuk memberi tahu ibu saya kalau saya mau pindah keyakinan. Saya mengambil napas dalam-dalam untuk meneleponnya. Pengakuan yang saya buat disambut dengan sikap diam, ibu tergagap tidak percaya. Dia terus menerus mengomel menentang agama Katolik dan cara-caranya yang “jahat.” Saya menangis. Dari situ kami mengakhiri pembicaraan kami, karena kalau dilanjutkan tidak akan menghasilkan apa-apa. Hati saya hancur. Apakah pindah keyakinan itu sepadan dengan semua yang saya alami ini? Apakah saya melakukan hal yang benar?

Menjelang RCIA usai, dan proses anulasi yang tak kunjung selesai, kami melakukan retret rohani. Saya merasa putus asa dan tidak yakin dengan keputusan saya untuk jadi Katolik. Saya tidak bisa menemukan pelipur lara dalam Rosario seperti yang diajurkan oleh banyak orang. Selama retret, kelas kami berakhir dan kami punya waktu hening. Kami berada di hutan belantara, di sebuah peternakan sementara. Di sana ada jalan setapak yang menjauh dari pergedungan menuju pepohonan dan ladang. Beberapa orang dari kamu berjalan menyusuri jalan setapak itu untuk merenung dalam ketenangan. Belum terlalu jauh, saya melihat satu batu besar. Saya duduk di batu itu dan menangis tak henti di sana sambil bertanya kepada Tuhan mengapa saya merasakan hal seperti ini. Mengapa semua kekacauan ini terjadi? Saya memejamkan mata dan membiarkan air mata berlinang. Kemudian saya membuka mata dan memandang ke atas. Di sana, sekitar sepuluh kaki (± 3 meter) di hadapan saya ada seekor kuda. Saya tidak mendengar kuda itu mendekati saya. Saya mencari teman sekelas saya tapi tidak menemukan seorang pun. Saya benar-benar sendirian. Kemudian kuda kedua berjalan dan berhenti di belakang kuda pertama. Kemudian kuda ketiga datang di belakang kuda kedua. Ketiga kuda itu melihat saya. Selama beberapa menit saya dan kuda-kuda itu saling memandang. Air mata saya berhenti, dan saya berkata halo. Saya merasa tenang. Akhirnya, perlahan-lahan kuda-kuda itu berlalu. Saya melihat di sekitar saya, berharap setidaknya saya melihat ada satu orang saja, tapi tidak ada. Seolah-olah Tritunggal Mahakudus telah datang untuk meredakan ketakutan dan kebingungan saya. Oleh karena itu, hari ini punya kenangan tersendiri dalam hati saya untuk Tritunggal.

Paskah 2018 tiba dan berlalu, saya hanya bisa menyaksikan teman-teman sekelas saya dibaptis dan menerima penguatan tanpa ada saya. Beberapa bulan kemudian, pada bulan Juli, akhirnya saya menerima anulasi. Saya merasa ada beban yang terangkat dari pundak saya. Namun, anulasi Kenny masih diproses. Masih menunggu, dengan kesabaran yang semakin menipis. Sementara itu saya terus ikut Misa sambil merasa cemas untuk hari itu ketika akhirnya saya bisa menerima Yesus dalam Ekaristi.

Pada tanggal 30 Maret 2019, anulasi Kenny dikabulkan. Segera saya menelepon pastor dan bertanya apakah saya bisa dibaptis pada Paskah tahun ini yang hanya beberapa pekan lagi. Ia berkata, saya harus membuat perkawinan saya disahkan, dan ia tidak yakin bisa selesai sebelum Malam Paskah. Saya merasa kecewa lagi. Tolong ya Tuhan, jangan buat saya menanti lebih lama lagi! Pastor berkata kalau ia akan menelepon tribunal dan bertanya mengenai apa yang kita bisa lakukan berikutnya. Sementara itu, ia menyarankan supaya saya berdoa melalui perantaraan Bunda Maria Pengurai Simpul. Saya menjalani hari-hari itu memohon Bunda maria untuk melepaskan simpul-simpul yang kelihatannya tak pernah berakhir dalam hidup saya.

Kemudian pada pekan itu, pastor menelepon saya untuk memberitakan bahwa saya sudah siap untuk dibaptis pada Vigili Paskah. Tidak diperlukan konvalidasi perkawinan! Hati saya melonjak kegirangan. Pada Vigili Paskah tanggal 20 April 2019, saya dibaptis dan menerima penguatan. Saya memilih St. Siprianus sebagai nama penguatan. St. Siprianus berperan besar dalam perubahan keyakinan secara intelektual. Pada malam itu, Rachel ada di samping saya, juga ada ayah saya, Kenny, Cameron, dan beberapa teman dekat. Mereka datang untuk menyaksikan yang saya dambakan bertahun-tahun terwujud. Saya merasa sedih karena ibu saya tidak hadir, tapi topik iman adalah topik berbahaya di antara kami. Kamu sudah sepakat untuk tidak setuju dalam hal ini, dan kami tidak akan membahasnya.

Setelah resmi menjadi anggota Gereja Katolik, saya mengajukan diri untuk menjadi asisten pengajar di program pendidikan agama. Saya mengajar siswa kelas dua, mempersiapkan mereka untuk pengakuan pertama. Kemudian, saya didekati diakon yang mengerjakan anulasi saya. Ia bertanya apakah saya bersedia untuk mempertimbangkan menjadi pelayan untuk nulasi di paroki. Saya menerima posisi itu. Saya menyelesaikan pelatihan di Tribunal Keuskupan Phoenix, dan sekarang saya membantu orang lain yang pernah berada di posisi saya, perlu supaya perkawinan mereka selaras dengan apa yang diimani Gereja. Sungguh ironis, mengingat pada awalnya saya mencerca proses ini, sekarang saya berada di sisi lain, tapi saya percaya bahwa pengalaman saya yang istimewa ini membuat saya memenuhi syarat untuk membantu orang lain dalam hal ini.

Cameron melakukan pengakuan pertamanya tahun lalu, dan saat ini sedang mempersiapkan Komuni Pertama dan Penguatan. Saya bersyukur bahwa Tuhan sudah membawa saya pulang dan juga sudah membantu putri saya tumbuh secara rohani. Kenny bukan seorang Katolik, ia belum tertarik untuk pindah keyakinan, tapi masih ada waktu bagi kasih karunia Tuhan bekerja dalam dirinya. Lagi pula, perlu tiga puluh tahun lebih untuk Tuhan mendapat perhatian saya. Syukur kepada-Nya atas apa yang telah Ia perbuat.

 

Courtney Comstock adalah mantan guru SD yang saat ini menjadi pustakawan akademik. Dia lahir dan dibesarkan di Prescott, Arizona. Dia menikah dengan Kenny, suaminya selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka dikaruniai seorang gadis cantik berusia delapan tahun bernama Cameron. Courtney juga suka membaca buku-buku Katolik baik fiksi maupun non-fiksi, berkemah, berburu dan membuat kruistik. Sejak menjadi Katolik pada tahun 2019, dia sudah ikut terlibat dalam pendidikan agama dan saat ini menjadi petugas urusan nulasi di Paroki St. Germaine di Prescott Valley, Arizona.

 

Sumber: “The Courage to Convert”

Posted on 20 February 2022, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: