Apa itu Septuagesima?

Oleh Joseph Shaw

Septuagesima (Sumber: catholic.com)

Sampai dengan reformasi kalender liturgi pada tahun 1969, umat Katolik Ritus Latin merayakan masa persiapan untuk Prapaskah: tiga hari Minggu Septuagesima, Sexagesima, dan Quinquagesima. Nama-nama itu berasal dari angka bahasa Latin: Minggu Prapaskah I adalah quadragesima yang artinya adalah “empat puluh,” septuagesima artinya “tujuh puluh,” sexagesima artinya “enam puluh,” dan quinquagesima artinya “lima puluh.” Inilah hitungan kasar mundur menuju Paskah.

Seperti pada masa Prapaskah, masa ini juga menggunakan warna liturgi ungu serta bacaan dan doanya mengacu pada kebutuhan kita akan pertobatan dan penebusan dosa. Masa ini sebenarnya lebih tua dari Rabu Abu, yang dibahas dalam tulisan-tulisan Paus St. Gregorius Agung yang wafat pada tahun 604. Ada masa semacam sebelum Prapaskah dalam kalender liturgi Gereja Timur, hal ini juga dipelihara dalam Buku Doa Umum Anglikan dan di beberapa kalender Lutheran, yang dipulihkan dalam Ibadah Ilahi dan liturgi Ordinariat, juga ditemukan dalam perayaan Misa pra-Vatikan II, usus antiquior. Faktanya, saat ini kalender liturgi sesudah Konsili Vatikan II, tidak umum dilakukan tanpa adanya Septuagesima.

Sering dikatakan bahwa masa persiapan Prapaskah tidak masuk akal, karena masa Prapaskah sendiri merupakan masa persiapan untuk menyambut Paskah. Argumen seperti ini tidak kuat. Sama seperti masa akhir dengan belajar atau latihan intensif sebelum ujian atau kompetisi olahraga, tentu saja ini menjadi persiapan untuk ujian atau kompetisi itu sendiri, tapi tidak berarti tidak perlu didahului dengan beberapa persiapan.

Namun dalam hal ini, bisa dikatakan kalau Anda hendak menentukan titik dari suatu persiapan. Apakah kita mempersiapakan diri untuk suatu persiapan?

Namun, kita tidak perlu mentukan sama sekali titik persiapan itu. Jika Anda serius tentang kiprah akademik atau karier olahraga, Anda sama sekali tidak akan meremehkan masa-masa persiapan, dan tentu saja tidak akan demikian dalam jangka waktu yang panjang. Sebagai umat Katolik, segenap hidup kita adalah persiapan menuju kematian, dan harus selalu punya aspek pertobatan, seberapa besar pun tingkat silih itu bisa berfluktuasi di antara masa-masa tobat dan hari raya.

Khusus pada masa Prapaskah, menjadi masa tobat utama Gereja dan hampir satu-satunya. “Masa tobat” Pesta St. Mikael (29 September) ketika St. Fransiskus menerima stigmata, tidak lagi dirayakan; empat masa tobat dalam Pekan Ember (Ember Weeks) yang dulu pernah menguduskan empat musim, cenderung diabaikan, sikap tobat pada malam pesta besar sudah lama dilupakan; Adven, masa tobat sebelum Natal sudah terlalu sering menjadi masa pesta dan bersenang-senang. Masa Prapaskah menjadi yang satu-satunya dalam setahun, sebagai upaya untuk menopang perbuatan silih yang akan dihadapi umat Katolik. Bahkan sekarang sudah dikepung upaya dari dunia sekuler untuk mengubah Prapaskah menjadi musim makan cokelat. (Di Amerika, saya membeli cokelat berbentuk telur Paskah untuk keluarga dengan sangat murah sesudah Minggu Paskah. Toko-toko tampaknya tidak menyadari bahwa perayaan Paskah berlangsung hingga Pentakosta, bahkan sampai Minggu Tritunggal Mahakudus).

Oleh karena itu, beberapa persiapan untuk masa Prapaskah lebih penting untuk masa sekarang ini daripada untuk masa lalu. Untuk memperoleh hasil maksimal dari masa Prapaskah, seseorang harus berpikir serius tentang cara apa yang bisa diadopsi dan sedikit penyesuaian dengan praktik-praktik yang bisa bermanfaat. Di gereja-gereja Timur, dua hari Minggu sebelum Prapaskah disebut Minggu Penghakiman Terakhir (Meatfare, secara harfiah selamat tinggal daging) dan Minggu Pengampunan (Cheesefare, secara harfiah selamat tinggal keju), karena mereka mengucapkan selamat tinggal pada jenis makanan itu sampai Paskah nanti.

Manfaat dari masa persiapan untuk kerasnya usaha pertobatan Prapaskah ditegaskan oleh Paus Paulus VI ketika membahas topik Septuagesima selama masa reformasi liturgi setelah Konsili Vatikan II. Arsitek reformasi ini yaitu Uskup Agung Annibale Bugnini sendiri mencatat penjelasan Paus:

Pada suatu kesempatan Paus Paulus VI membandingkan rangkaian yang terdiri dari Septuagesima, Prapaskah, Pekan Suci, dan Triduum Paskah, dengan lonceng untuk memanggil orang banyak untuk Misa Minggu. Bunyi bel pada waktu satu jam, setengah jam, lima belas menit dan lima menit sebelum Misa dimulai, berdampak psikologis dan mempersiapkan umat beriman secara jasmani dan rohani untuk perayaan liturgi.

Keputusan Konsili, badan yang dibentuk untuk melakukan reformasi liturgi yang diterima oleh Paulus VI untuk menghapus masa Septuagesima didasarkan pada argument bahwa (seperti yang diungkapkan Bugnini) “tidak mungkin mengembalikan pentingnya masa Prapaskah seperti semula tanpa mengorbankan Septuagesima yang merupakan perpanjangan dari Prapaskah.”

Sah-sah saja untuk mempertanyakan kebijaksanaan dari keputusan ini yang ditegaskan oleh contoh Ordinariat yang dibentuk untuk eks-Anglikan yang punya masa Septuagesima dalam kalender yang lazim digunakan mereka. Maka jelas sekali, ketika kalender liturgi ini sedang dipersiapkan, pandangan Takhta Suci beralih ke arah lain: bagaimanapun juga, banyak peristiwa terjadi sejak tahun 1969. Inilah topik penting karena versi pendapat Bugnini diterapkan ke dalam banyak hal dalam liturgi selain Septuagesima. Harapannya bahwa dengan penyajian yang lebih sederhana dan lebih tajam dari pesan-pesan utama liturgi akan lebih berdampak pada umat beriman dari yang sudah-sudah. Pandangan alternatifnya adalah untuk menyampaikan pesan itu perlu diumumkan sebelumnya, diulangi dalam istilah yang berbeda, dengan aspek yang berbeda untuk dibawa ke permukaan, dan dikelilingi dengan berbagai upacara, simbol, dan kebiasaan umum yang menekankan pesan itu, membuatnya lebih mudah diingat, dan semakin merasuk dalam kehidupan sehari-hari umat beriman. Singkatnya, inilah pandangan yang tersirat dalam kebiasaan liturgi Gereja selama berabad-abad.

Pembaca mungkin ingin mempertimbangkan faktor-faktor kunci yang merintangi tata cara yang bisa memberikan manfaat dari masa agung Prapaskah dan bagaimana rintangan itu bisa dikurangi. Pengalaman saya yang saya yakin orang banyak hadapi adalah perasaan bahwa kita belum terlalu memikirkan dengan cermat bagaimana menandai masa Prapaskah sebelum Rabu Abu tiba. Entah bagaimana, meskipun hal ini menonjol dalam kalender liturgi, kita tidak sadar akan hal itu.

Faktanya, mungkin kita tidak terlalu tertarik untuk memikirkan latihan-latihan Prapaskah dengan serius, tapi bisa dijalankan.  Tata cara semacam itu kemungkinan besar akan menjadi tantangan dari sesuatu yang enggan kita lakukan mungkin juga tantangan bagi rasa nyaman kita. Seperti memilih buku-buku rohani untuk memandu doa batin, memikirkan cara berpuasa dan berpantang, menemukan cara untuk melakukan amal kasih dan derma di mana kita bisa terlibat di dalamnya. Semua hal ini membutuhkan waktu dan usaha. Maka latihan apa pun yang memerlukan penyesuaian dengan rutinitas kita, seperti bangun lebih awal, menggunakan waktu istirahat makan siang dengan sesuatu yang berbeda, ikut Misa harian, mungkin bukan hanya perlu memikirkannya jauh hari, tapi dengan melakukan beberapa eksperimen. Masalahnya adalah menyesuaikan resolusi Prapaskah yang kurang praktis di pertengahan minggu kedua Prapaskah bisa berakibat gagal total.

Jawabannya adalah melakukan pemikiran dan eksperimen ini sebelum masa Prapaskah dimulai, yaitu pada masa persiapan Prapaskah. Sama dengan waktu Misa sebenarnya dimulai itu bukan ketika kita berpikir mau berjalan menuju gereja, demikian juga Rabu Abu bukan saatnya untuk memikirkan apa yang harus dilakukan pada masa Prapaskah. Ada tiga Minggu Septuagesima, Sexagesima, dan Quinquagesima yang memang seperti lonceng gereja untuk mengingatkan kita Misa segera dimulai: waktunya memanggil anak-anak, waktunya mengenakan pakaian yang pantas, waktunya pergi dari rumah.

 

Sumber: “What Is Septuagesima?”

Posted on 28 February 2022, in Ekaristi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: