Serba-serbi Wali Baptis

Oleh Diakon Harisson Garlick

Wali Baptis (Sumber: catholic.com)

Waktu Anda diminta untuk menjadi wali baptis, ketahui apa tujuannya. Jangan sampai lengah!

Sewaktu Attila orang Hun dan pasukannya menyerbu Paris, St. Genoveva mendorong supaya orang-orang untuk berdoa dan melakukan silih.

Wanita muda itu terkenal di antara orang Paris. Sejak usia dini, dia sudah menunjukkan kesalehan yang luar biasa dan memutuskan untuk tinggal bersama ibu baptisnya di Paris. Dia merawat orang miskin, mengalami kehidupan doa yang ajaib, dan ditugaskan oleh uskupnya untuk menjaga para perawan yang membaktikan diri mereka di kota itu. Sekarang dia memohon kepada orang banyak supaya menyerahkan hidup kepada Tuhan.

Permohonannya didengar Tuhan, Atilla dan pasukannya meninggalkan Paris tanpa melakukan perusakan. Oleh karena ini, dan juga perbuatan luar biasa lainnya, di kemudian hari Genoveva dinyatakan sebagai santa pelindung Paris dan terus menerus berdoa dan menjaga kota yang sangat dia cintai itu.

Ada sebagian kecil dari kisah Genoveva mengenai peran yang tenang dari ibu baptisnya yang bernama Lutetia, yang merawatnya setelah orang tuanya meninggal. Lutetia membantu dalam membesarkan seorang kudus. Ibu baptis yang baik mengajak kita untuk mempertimbangkan peran wali baptis (atau orang tua baptis) dalam membesarkan anak baptisnya untuk menjadi pria dan wanita kudus kepunyaan Allah.

Apa tujuan dari adanya wali baptis? Tujuan dari wali baptis adalah membantu anak baptisnya mencapai surga. Wali baptis dipilih oleh orang tua dari anak yang hendak dibaptis. Menurut hukum Gereja, seorang wali baptis (atau sponsor) harus menjadi bagian yang tepat yaitu “seorang katolik yang telah menerima penguatan dan sakramen Ekaristi mahakudus, lagipula hidup sesuai dengan iman dan tugas yang diterimanya” (Kan. 874 §1.3).

Peran atau “fungsi” dari wali baptis tidak bisa diremehkan dan dianggap sebagai penghargaan sosial. Orang tua seharusnya tidak merasa berkewajiban untuk memilih anggota keluarga atau teman yang disukai, sebaliknya mereka harus mencari pasangan yang akan ikut ambil bagian bersama mereka dalam peziarahan dunia ini untuk membantu anak mereka mencapai surga. Wali baptis akan secara terbuka menegaskan komitmen mereka untuk membantu orang tua dalam tugas Kristen untuk membesarkan anak menurut agama yang sejati.

Apa tugas dari wali baptis? Tugas wali baptis itu sederhana: menjadi kudus sehingga Anda bisa membantu dalam membimbing anak baptis ke dalam kekudusan.

Seperti kisah St. Genoveva, ada tradisi bahwa wali baptis akan membesarkan anak baptisnya jika orang tua kandungnya meninggal. Mengikuti tradisi ini tentu saja tergantung dengan kebijaksanaan orang tua.

Apa yang diharapkan oleh Gereja adalah para wali baptis menunjukkan kebajikan yang diperlukan untuk bertumbuh dalam tujuan itu. Para wali baptis harus menjalani hidup kekudusan juga taat kepada Gereja. Sebagaimana Genoveva merawat Paris, demikian pula para wali baptis harus hendak membantu anak baptisnya mencapai yang baik dan menghindari yang jahat.

Wali baptis adalah pembimbing rohani dan harus menjadi teladan kebajikan Katolik baik dalam perkataan maupun perbuatan. Saat anak menjadi dewasa, penting baginya untuk melihat orang lain (selain orang tua) yang memperlakukan hal-hal rohani sebagai sesuatu yang paling tinggi dalam hidup ini.

Seperti yang diperingatkan oleh St. Paulus VI, kesenjangan antara Injil dan budaya semakin besar. Orang tua mendapat daya guna besar dari wali baptis yang akan menjadi terang dan penuntun bagi anak mereka, seperti lilin yang dinyalakan pada waktu pembaptisan.

Para wali baptis ditugaskan untuk membantu orang tua dalam membesarkan anak supaya menjadi orang kudus, tapi tidak seperti orang tua kandung, wali baptis umumnya tidak melihat anak baptis setiap hari. Faktanya, orang tua baptis mungkin jarang berinteraksi dengan anak baptisnya. Maka, bagaimana wali baptis bisa melaksanakan tugas-tugas ini dengan baik? Secara keseluruhan, salah satu faktor penting adalah intensi waktu bertemu. Sehingga, wali baptis harus meluangkan waktu bagi anak baptisnya dan tentang hal-hal rohani dalam hidup anak baptis.

Berikut ini beberapa masukan praktis ketika menjadi wali baptis yang baik:

Ingat kapan ulang tahun peringatan sakramentalnya. Kirimkan kartu atau hadiah, atau teleponlah untuk memperingati ulang tahun Pembaptisan, kemudian ulang tahun Sakramen Penguatan dan Komuni Pertama. Manusia adalah makluk sensorik. Seperti yang kita lihat dalam liturgi, bagaimana kita bersikap terhadap hal-hal tertentu, misalnya berdiri pada waktu Bacaan Injil atau berlutut di hadapan Ekaristi kudus. Sama halnya dengan ulang tahun atau ulang tahun perkawinan. Hadiah, makan malam bersama, dan pertemuan untuk membicarakan pentingnya peristiwa ini. Para wali baptis harus melakukan apa yang mereka bisa untuk menyampaikan bahwa peringatan sakramental layak untuk diingat dan dirayakan.

Bantulah untuk menimba devosi kepada santo/santa pelindungnya. Doronglah orang tua kandung untuk menamai anak itu dengan nama seorang kudus dan percayakan anak itu pada nama yang diberkati itu. Kemudian Anda bisa membantu anak baptis untuk menimba devosi dengan mengingat hari peringatan orang kudus itu selain ulang tahun sakramental, misalnya dengan memberikan hadiah yang bisa membina hubungan anak baptis dengan santo/santa pelindungnya.

Buatlah perpustakaan rohani bagi anak baptis. Setiap tahun, terutama ketika anak itu masih kecil, belilah buku klasik rohani untuk anak baptis Anda pada hari ulang tahun baptisan atau peringatan santo/santa pelindungnya, dan tulislah ucapan di buku itu. Misalnya, pada ulang tahun pertama baptisan, Anda bisa membelikan Pengakuan-pengakuan karya St. Agustinus atau Kompendium Katekismus Gereja Katolik*. Ulangi praktik ini setiap tahun. Pada waktu anak itu dewasa dan bisa membaca karya-karya itu dengan minat besar, maka anak itu sudah punya perpustakaan besar. Bayangkan anak kuliah yang punya koleksi karya rohani yang kuat – masing-masing diberikan sebagai kenang-kenangan dari sesuatu yang penting dalam hidup.

Jadilah pembimbing rohani. Anak baptis akan membutuhkan seseorang dalam hidupnya yang tidak takut untuk membahas dan menganggap serius hal-hal tentang Tuhan. Jika memungkinkan, hadirilah acara keluarga, dan ketika anak itu sudah besar tanyakan tentang kehidupan rohaninya. Kembangkan relasi dengannya misalnya sambil minum kopi bersama untuk membicarakan kehidupan batin dan tantangan dunia orang muda tidak akan aneh bukan menjadi hal yang canggung atau salah topik. Kadang-kadang, anak baptis tidak akan terbuka dengan relasi semacam ini, tapi yakinlah bahwa Anda (wali baptis) terbuka untuk membicarakan hal itu. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana Roh Kudus bekerja, mungkin saja suatu hari nanti anak baptis akan menelepon Anda.

Seperti dalam segala hal, kebijaksanaan perlu memperhatikan keadaan, dan para wali baptis harus memahami cara terbaik untuk menjalankan panggilan mereka. Namun, para wali baptis harus selalu ingat bahwa anak baptis yang dipercayakan Tuhan kepada mereka ditakdirkan untuk menjadi seorang kudus, sama seperti yang dilakukan Lutetia.

Jadi, untuk semua wali baptis dan calon wali baptis: Anda memilki tujuan. Perhatikan hal-hal mengenai Tuhan dengan serius. Dan semoga anak baptis, orang tua kandung, dan Anda sebagai wali baptis bisa bekerja sama untuk menjadi kudus dan mencapai surga.

Sumber: “The What, Why, and How of Godparents” dengan sedikit perubahan tanpa mengubah maksud*

Posted on 24 April 2022, in Kenali Imanmu and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: