Kuasa Nama Yesus

Oleh Eric Sammons

Berlutut di hadapan Yesus (Sumber: catholic.com)

Ketika saya pindah keyakinan dari Protestan Evangelikal ke Katolik, saya mengalami banyak perubahan teologis dalam hidup saya. Saya mengharapkan hal ini terjadi, namun saya tidak berharap kalau saya akan mengalami perubahan sosiologis yang besar. Setiap kelompok punya subkulturnya masing-masing, dan termasuk agama. Bahasa merupakan salah satu perbedaan yang paling besar. Bagaimana kita membicarakan iman kita, bagaimana kita berdoa, dan bagaimana kita merujuk Tuhan, semuanya berbeda. Bagi saya, semua ini harus berubah ketika saya menjadi seorang Katolik.

Salah satu yang langsung saya perhatikan adalah keraguan untuk menyebut nama Yesus di antara umat Katolik. Di dunia Protestan Injili saya, kami rutin menyebutkan nama Yesus. Tapi umat Katolik berbeda. Mereka biasanya tidak bicara tentang Yesus secara langsung, mereka sering menyebutnya sebagai “Tuhan kita” atau “Kristus.” Kemudian saya menemukan bahwa tradisi kultural ini berasal dari penghormatan nama Yesus. Dengan cara yang sama Anda tidak akan berbicara kepada seorang presiden dengan nama depannya, umat Katolik tidak menyebut Tuhan dengan namanya.

Meskipun niatnya baik, keengganan untuk menggunakan nama Yesus punya kelemahan, karena ada kuasa dalam nama Yesus. Kita bisa melihatnya dengan jelas dalam Perjanjian Baru. Perhatikan Kisah Para Rasul 4:5-12:

Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?” Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati–bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan–yaitu kamu sendiri–,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Ketika ditangkap karena menyebuhkan seseorang, Petrus dan Yohanes ditanyai pihak berwenang, “Dalam nama siapa kamu bertindak demikian?” Mereka tahu kalau nama punya kuasa, dan mereka ingin tahu nama siapa yang punya kuasa untuk menyembuhkan. Petrus dengan berani mengatakan kepada mereka bahwa nama Yesus yang menyembuhkan orang itu. Tapi kemudian, Petrus berkata lebih jauh lagi: ia memberitahukan bahwa keselamatan itu sendiri berasal dari nama ini. Bahkan, tidak ada nama lain yang bisa menyelamatkan seseorang. Keselamatan erat kaitannya dengan nama Yesus.

Secara historis, umat Katolik sudah tahu ada kuasa besar dari nama ini. Pada abad pertengahan, devosi besar kepada Nama Kudus sudah berkembang luas. Banyak umat Katolik melakukan devosi ini, salah satu contohnya adalah St. Bernard dari Clairvaux yang tanpa lelah mempromosikan nama kudus Yesus, ia menulis demikian:

Nama Yesus adalah terang, dan makanan, dan juga obat. Terang ketika diwartakan kepada kita, makanan ketika kita memikirkan-Nya, dan obat yang meredakan rasa sakit ketika kita memanggil-Nya … Karena ketika kita mengucapkan nama itu, saya mengangkat pikiran tentang seorang pria yang sempurna, lemah lembut dan rendah hati, ramah, bijaksana, murni, berbelas kasih, dan dipenuhi segala yang baik dan kudus, malah Dialah Allah yang mahakuasa sendiri – yang teladan-Nya menyembuhkan saya, yang pertolongan-Nya menguatkan saya. Saya mengatakan semua ini ketika saya mengatakan Yesus.

Devosi kepada nama Yesus bisa dilihat juga dalam liturgi. Secara tradisional, seorang imam (dan pelayan altar) akan membungkuk ketika nama Yesus diucapkan selama Misa. Maka hal ini menunjukkan penghormatan besar yang harus kita miliki akan nama yang besar kuasanya ini.

Mengapa nama ini punya kuasa? Dalam dunia modern, kita tidak terlalu memikirkan nama. Nama bersifat fungsional, tidak lebih dari itu. Tapi di dunia kuno, nama pada dasarnya mewakili pribadi orang itu, dan tahu akan nama seseorang bisa memberi tingkatan kendali atas orang itu – kemampuan untuk memanggil orang itu. Inilah sebabnya, ketika Musa bertanya tentang nama-Nya, Allah hanya menjawab, “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Tidak seperti sesembahan pagan, Allah yang benar dan sejati tidak berada di bawah perintah dan panggilan manusia. Ia yang memegang kendali penuh.

Namun, dengan peristiwa Inkarnasi, kita melihat Allah yang merendahkan diri-Nya untuk mengambil sebuah nama. Maka dalam artian tertentu, sekarang Ia siap untuk membantu kita. Kristus memberi tahu kita, “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yohanes 14:14, dengan penekanan). Allah tidak menjadi “manusia” yang umum, tetapi menjadi manusia yang spesifik: Yesus dari Nazaret. Dengan melakukan itu, Ia masuk ke dalam nama Yesus dengan kuasa ilahi.

Nama Yesus berkaitan erat dengan keselamatan. Petrus berkata bahwa hanya ada satu nama yang oleh karena nama itu kita bisa diselamatkan. Bahkan, nama Yesus punya arti “Yahwe adalah keselamatan.” Maka, nama itu punya peran sentral dalam penginjilan. Kendati demikian, ada beberapa dari kita yang menghindari nama Yesus ketika berbicara di depan orang lain. Kita merasa takut jika kita terlalu banyak mengucapkan nama itu, kita akan terlihat sebagai orang yang mabuk agama. Kita merasa takut disamakan dengan “orang-orang itu.” Namun kita perlu mengambil kembali nama Yesus dan menggunakannya ketika kita berbicara dengan orang lain ketika membahas iman Katolik.

Menyebut nama Yesus akan mengingatkan orang lain tentang suatu hal penting: pindah keyakinan (atau kembali) ke Katolik bukan sekadar menerima seperangkat doktrin. Melainkan, suatu hal mendasar yaitu memberikan hidup Anda kepada seseorang yaitu Yesus Kristus. Paus Benediktus XVI menulis, “Menjadi Kristen bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan yang luhur, tapi sebagai perjumpaan dengan suatu peristiwa, seorang pribadi, yang memberikan kehidupan suatu wawasan baru dan arah yang menentukan.” Menyebut nama Yesus membuat “perjumpaan dengan seorang pribadi” ini menjadi nyata. Tidak ada yang lebih pribadi daripada nama seseorang.

Lebih lanjut lagi, ketika berbicara dengan orang Protestan Injili bahwa menyebut nama Yesus bisa berdampak hal yang praktis. Ketika menyebut nama itu maka Anda berbicara dalam bahasa mereka. Saya sudah memperhatikan hal ini ketika saya menyebut nama Yesus ketika menjelaskan iman Katolik yang saya anut. Saya mungkin berkata seperti ini, “Yesus mengampuni dosa saya dalam Pengakuan Dosa,” atau “Kegiatan utama dalam sepekan adalah ketika saya menerima Yesus pada waktu Misa di Minggu pagi.” Perkataan seperti ini bukan yang mereka harapkan dari seorang Katolik! Dengan memperjalas kalau saya punya relasi dengan Yesus, kaum Protestan Injili mulai melihat bahwa Katolik bukanlah agama yang asing dengan sekumpulan orang yang menggunakan topi-topi lucu. Perkataan ini meruntuhkan hambatan bagi mereka untuk lebih banyak lagi belajar tentang iman Katolik.

Menyebut nama Yesus punya kuasa – kuasa yang tidak selalu tampak mata atau bisa dipahami sepenuhnya. Seperti yang St. Paulus tulis, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Roma 10:13). Jika ita menghendaki supaya orang yang kita kasihi diselamatkan, kita membutuhkan mereka untuk memahami kuasa nama itu. Pada akhirnya dan yang sebenarnya, semua orang akan mengakui kuasa nama Yesus.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi (Filipi 2:9-10, dengan penekanan)

Mari kita melakukan bagian kita untuk membawa nama itu dalam setiap sudut kehidupan kita, maka suatu hari semua orang yang kita kasihi bisa mengakui – dan mengalami – kuasa yang menyelamatkan dalam nama Yesus.

 

Sumber: “The Power of Jesus’ Name”

Posted on 30 June 2022, in Apologetika and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: