Keselamatan Bisa Hilang?

Oleh Karlo Broussard

Losing salvation (Sumber: catholic.com)

Bagaimana mungkin Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan kita bisa hilang, padahal Yesus berkata bahwa domba-domba-nya selalau mendengarkan-Nya dan tidak ada yang bisa merebut kita dari tangan-Nya?

Ingatlah Katekismus Gereja Katolik memperingatkan kita akan “melanggar kasih Allah” dan “membuat diri layak untuk disiksa” (2090). Takut kena hukuman neraka menyiratkan bahwa seseorang tidak bisa punya jaminan mutlak atas keselamatannya.

Ayat Alkitab yang digunakan beberapa orang Protestan untuk menentang topik ini adalah Yohanes 10:27-29:

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.

Jika Yesus berkata bahwa tidak seorang pun tidak akan merebut umat Kristen dari-Nya dan dari tangan Bapa, bukankah artinya kita keselamatan kita aman untuk selamanya?

Janji Yesus untuk melindungi domba-domba-Nya adalah dengan syarat bahwa domba-domba-Nya tetap berada di dalam kawanan. Tidak meniadakan bahwa ada kemungkinan domba itu tersesat, dan dengan demikian kehilangan upah kehidupan kekal.

Syarat untuk berada di antara domba-domba kepunyaan Yesus, dan dengan demikian diganjar dengan kehidupan kekal jika kita terus mendengarkan firman Yesus dan mengikuti-Nya. Yesus mengajarkan motif kesetiaan yang dilakukan terus menerus dan hal ini ada di beberapa bab berikutnya salah satunya perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya dalam Yohanes 15:4-6.

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Kita sama seperti ranting-rantingnya yang harus tetap tinggal di dalam pokok anggur Kristus, supaya kita tidak binasa, demikian pula kita domba-domba-Nya harus terus mendengarkan firman Yesus sang gembala, supaya kita tidak binasa.

Bahkan kata kerja yang digunakan untuk ayat itu sebagai perbuatan terus menerus dan berkelanjutan yang dilakukan oleh domba dan gembala, bukan peristiwa satu kali di masa lalu. Yesus tidak berkata, “Domba-domba-Ku sudah mendengarkan (heard) suara-Ku dan Aku telah mengenal (knew) mereka.” Sebaliknya, Ia berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka” (ay. 27). Domba-domba-Nya adalah mereka yang mendengarkan suara-nya di masa sekarang.

Yesus hanya mengatakan bahwa tidak ada kuasa dari luar yang bisa merebut seekor domba dari tangan-Nya. Ia tidak berkata bahwa seekor domba tidak dapat melepaskan dirinya sendiri dari tangan-Nya.

Perikop itu mengatakan bahwa tidak seorang pun yang bisa merebut – mengambil paksa – umat Kristen dari tangan Yesus dan Bapa. Ini tidak menutup kemungkinan bahwa kita bisa melepaskan diri dari perlindungan Yesus dan melalui dosa kita. Perikop serupa adalah Roma 8:35-39, di mana Paulus menuliskan hal-hal eksternal (di luar diri kita) yang tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Tapi Paulus juga tidak pernah mengatakan bahwa dosa kita sendiri tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Seperti Paulus dalam Roma 8:29-29, Yesus berkata kepada kita dalam Yohanes 10:27-29 bahwa tidak ada kuasa dari luar yang bisa merebut kita dari tangan-Nya. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melepaskan tangan-Nya dengan sukarela dengan berbuat dosa “yang mendatangkan maut” (1 Yohanes 5:16-17). Dan jika kita meninggal dalam keadaan kematian rohani tanpa penyesalan, maka kita akan kehilangan karunia yang dijanjikan kepada kita yaitu kehidupan kekal.

Ada banyak pembuktian dari Kitab Suci bahwa sebenarnya umat Kristen itu bisa jatuh dari relasi yang menyelamatkan dengan Kristus akibat dosa.

Alkitab mengajarkan bahwa domba itu bisa tersesat.

Misalnya jika kita memerhatikan perumpamaan Yesus tentang domba yang hilang yang dicari oleh sang gembala (Matius 18:12-14; Lukas 15:3-7). Tentu saja sang gembala itu mencari domba itu (Yesus tidak pernah berhenti berusaha membawa pulang kita ke kawanan-Nya). Tapi yang ditekankan di sini adalah domba itu suka mengembara ke tempat lain.

Motif yang sama bisa ditemukan dalam perumpamaan Yesus tentang hamba yang jahat yang berpikir kalau tuannya itu datang terlambat dan memukuli hamba-hamba lain dan mabuk-mabukan (Matius 24:45-51). Perhatikan bahwa hamba itu adalah anggota rumah tangga tuan itu. Tapi kaena kegagalannya untuk berjaga-jaga untuk mempersiapkan kepulangan tuannya, ia ditemukan dengan keadaan tidak setia yang kemudian diusir dengan orang-orang munafik ke tempat yang ada “ratapan dan kertakan gigi” (ay. 51). Demikian pula, umat Kristen bisa menjadi anggota kawanan Kristus dang anggota rumah-Nya, tapi jika kita tidak bertekun dalam kesetiaan kepada-Nya, kita akan kehilangan bagian kita di antara orang-orang yang dipilih.

Umat Kristen bisa terlepas dari tangan Kristus akibat dosa, dan ini terbukti dalam kritik keras Paulus kepada jemaat di Galatia:

Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. … Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia (Galatia 5:2,4)

Jika umat di Galatia “lepas dari Kristus” dan “hidup di luar kasih karunia” maka sebelumnya mereka berada di dalam Kristus dan hidup dalam kasih karunia. Tadinya mereka termasuk dalam kawanan domba, tapi kemudian mereka tersesat. Bukan karena mereka direnggut, tapi oleh kemauan mereka sendiri.

 

Artikel ini kutipan dari buku “Meeting the Protestant Challenge.”

 

Sumber: “Can You Lose Your Salvation?”

Posted on 8 July 2022, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: