Selangkah demi Selangkah Dibimbing Tuhan – Kisah Nick Alexander

Nick Alexander (Sumber: chnetwork.org)

Kasih karunia Tuhan yang membimbing kita semua. Ia tidak memaksa orang untuk berbuat sesuatu, melainkan Ia menggunakan berbagai elemen duniawi dan keadaan orang itu sendiri untuk membuka dan menutup pintu, Ia yang memberikan tuntunan dan kebijaksanaan.

Saya mengenal Kristus secara pribadi pada tahun 1984, waktu saya berumur 14 tahun. Saya pernah ikut retret orang muda musim panas di New England, ketika saya menjadi yakin akan realitas keberadaan Tuhan yang personal. Sesudah itu saya pulang ke sebuah apartemen di New York City dengan realitas yang baru di hadapan saya, suatu semangat yang baru ditemukan.

Orang tua saya tidak tahu bagaimana menyikapi hal ini. Saya dibesarkan oleh seorang ibu dari aliran Episkopal dan seorang ayah yang ateis. Putra mereka yang sebelumnya dirundung dan punya berat badan yang berlebih, sekarang menjadi seorang yang fanatik agama, seorang “Jesus freak.” Iman ibu saya sudah membawanya ke arah menjadi aktivis politik dan tujuan liberal yang didukungnya, terutama hak-hak perempuan. Kurangnya iman ayah saya membawa hubungan kami yang sudah rapuh ke titik perpecahan ketika ayah menggunakan ejekan dan cercaan yang merendahkan. Kasih saya kepada Kristus sudah mengganggu dinamika keluarga kami.

Kepemimpinan di SMA

Beberapa tahun berlalu, sementara itu saya menyesuaikan diri dengan iman baru saya di dalam Kristus. Bagi sebagian besar orang, saya memelihara iman saya dari anak-anak lain di sekolah. Tapi pada musim panas sebelum tahun pertama di SMA, saya ditantang untuk keluar zona nyaman saya untuk hidup sepenuhnya bagi Kristus, apa pun konsekuensinya. Saya tahu bahwa saya harus bersikap lebih terbuka dalam menghidupi iman saya dan sudah berkomitmen untuk melakukan beberapa hal untuk tujuan ini, termasuk membenamkan diri dalam kultur Kristen Injili/Evangelikal, mempelajari jenis musik Rock Kristen dan memakai pakaian dengan pesan Injili yang kreatif. Dan yang lebih penting lagi, saya mulai ikut sejumlah kelompok orang muda Kristen, dan hal ini membuat kecewa orang tua saya.

SMA saya punya ekstrakurikuler studi Alkitab yang pertemuannya diadakan setiap hari pada waktu pagi hari. Pemimpinnya bernama Ian, ia seorang anggota gereja Black Gospel. Kami mempelajari Injil bersama-sama. Selama tahun ajaran, kami bertumbuh dalam persahabatan dan pengetahuan akan iman kami, sampai-sampai ketika ia lulus saya meneruskan jabatan ketua studi Alkitab di SMA.

Tahun berikutnya, saya sepenuhnya masuk ke dalam gaya evangelis, memimpin studi Alkitab, memberikan bantuan-bantuan tambahan seperti buku lagu, perpustakaan untuk meminjamkan buku. Saya memperpanjang jam studinya dan menempelkan kertas dinding di sekolah umum seukuran satu blok perkotaan dengan selebaran. Beberapa teman sekuler saya meremehkan arah pergerakan saya ini, tapi ada orang lain yang memuji saya karena sikap terus terang dan keberanian saya, meskipun jika mereka tidak sepaham dengan saya.

Di luar sekolah, saya semakin berkomitmen untuk lebih sering ikut di paroki Episkopal saya, yang kebetulan gaya ibadahnya menjadi lebih karismatik. Saya dulu pernah menjadi seorang pembicara di Episcopal Youth Cursillo pada waktu akhir pekan dan juga bercabang ke banyak kelompok orang muda yang berbeda di luar paroki Episkopal. Pada Jumat malam, saya bepergian dengan kereta bawah tanah, feri, dan bus kota untuk ikut dalam kelompok orang muda Injili di Staten Island. Sebagai seorang presiden studi Alkitab, saya ingin memastikan bahwa studi Alkitab saya benar, dan saya tahu betul tanggung jawab yang diemban seorang guru.

Salah satu efek samping dari kehidupan Kristen ini adalah tidak seorang pun yang saya jumpai punya pengalaman baik dengan Iman Katolik. Ada satu toko buku Katolik di dekat saya yang kadang saya telusuri, tapi sebagian besar saya terima begitu saja anggapan bahwa seseorang yang menyatakan diri sebagai Katolik dengan semua aturan dan praktik buatan manusia, maka orang itu akan melupakan Injil yang sejati, yang dengan bebas menawarkan relasi pribadi dengan Kristus. Kami mengejek mereka sebagai pendekatan “Churchianity (pengikut Gereja –red.)”

Beberapa dari kelompok kami bahkan membagikan buku komik yang mempromosikan kesaksian dari seorang yang mengaku mantan Yesuit bernama Alberto Rivera, yang kesaksiannya dibuat dengan kisah-kisah fantastis mengenai korupsi Gereja selama berabad-abad. Kami menganggap itu sebagai berkat supaya bisa bebas dari kegilaan semacam itu.

Menemukan Pembaruan Karismatik

Waktu itu tahun 1988, ketika saya lulus SMA. Saya terkejut dengan pertumbuhan iman saya hanya dalam rentang waktu 4 tahun. Kejutan apa lagi yang Tuhan sediakan bagi saya di Rutgers College di pusat kota New Jersey?

Karena tahun senior di SMA adalah suatu berkat, maka saya berusaha untuk melanjutkan jalan saya, aktif juga dalam pengejaran iman Kristen di perguruan tinggi. Selama Pameran Kegiatan Kampus, saya mendaftar di semua kelompok yang berkaitan dengan iman Kristen. Di universitas besar ini, ada sekitar selusin kelompok semacam itu, beberapa di antaranya berasal dari pelayanan yang diakui secara nasional.

Namun di meja pendaftaran ini saya asyik mengobrol dengan Eric, ia adalah anggota dari kelompok yang bernama University Christian Outreach. Saya menemukan kalau kelompok ini melakukan doa pagi setiap hari. Doa pagi ini dilakukan di luar kampus, di sebuah rumah persaudaraan Kristen yang jaraknya satu blok dari asrama saya. Daftarkan saya!

Keesokan paginya, para anggota terkejut melihat orang asing ini di pintu acara yang sudah dijadwalkan itu. Saya mengikuti mereka ke basement, memperkirakan suatu pengalaman ibadah yang sama pada waktu SMA.

Kami berdiri di ruang basement yang terang dengan perlengkapan yang lengkap dengan satu salib di depan. Saya diberikan buku Mazmur dan sejilid lagu-lagu pujian. Kelompok ini mulai dengan dua mazmur dari buku mazmur, disertai dengan dentingan gitar akustik. Kemudian seorang mahasiswa membaca satu bagian Injil, sesudah itu ia menceritakan renungan untuk hari itu.

Setelah itu kelompok itu meledak dalam doa karismatik. Lagu-lagu bernada keras mengalir ke lagu-lagu lain. Tangan diangkat. Dan sesuatu seperti bicara tidak jelas (berdoa dalam bahasa roh) melimpah ruah dan berlangsung selama 20 menit lagi.

Saya terpesona. Saya jarang mengalami tingkat antusiasme ibadah seperti ini, bahkan tidak ada di semua kelompok yang saya ikuti pada tahun sebelumnya. Paroki Episkopal saya sudah melakukan eksperimen dengan ekspresi karismatik dalam liturginya, tapi tidak seperti ini. Saya penasaran, tertarik dengan kelompok ini, dan tahu pentingnya memelihara iman saya tetap hidup dalam suasana kampus di mana godaan untuk berbuat dosa itu berlimpah.

Kelompok ini juga menawarkan beberapa kelas di luar jam kampus untuk memperkenalkan mahasiswa dengan doa karismatik. Saya segera mengikutinya. Saya sudah pernah bermain gitar dan belajar memimpin  penyembahan dalam suasana seperti itu. Saya juga hadir untuk kelompok pria, satu kelompok yang ditujukan bagi mahasiswa untuk bertemu setiap minggu supaya bertumbuh dalam iman. Berpindah-pindah gereja, meneliti banyak denominasi yang berbeda (dan non-denominasi!), saya tertarik pada ekspresi ibadah yang lebih kontemporer dan mengalir bebas.

Sekitar enam bulan setelah saya terlibat di sana, saya menemukan suatu kenyataan yang membuat saya sangat tercengang. Mayoritas mahasiswa, juga penduduk di rumah tangga Kristen yang mengadakan doa pagi adalah orang Katolik! Saya tidak percaya dengan hal ini, bagaimana bisa begitu?

Mereka adalah anak-anak dari orang Katolik yang taat yang terlibat dengan komunitas perjanjian karismatik yang letaknya sekitar 45 menit dari sana. Banyak umat Katolik sudah diperkenalkan pada doa karismatik. Banyak umat Katolik yang diperkenalkan dengan doa karismatik memilih untuk bersatu, mengumpulkan dana dan membeli real estat, dan pindah ke rumah yang letaknya berdekatan untuk melanjutkan perjalanan iman mereka masing-masing dengan dukungan yang tidak mereka temukan di paroki aslinya.

Hal ini memberi saya harapan untuk iman Kristen kami. Saya tidak akan lagi berbicara hal buruk tentang Katolik. Saya ikut reuni dengan teman-teman lama saya yang beragama Kristen dan memberi tahu mereka tentang penemuan saya bahkan orang Katolik bisa diselamatkan! Mereka tidak percaya.

Maria – bagi orang Protestan!

Waktu itu Natal tahun 1989, salah satu hadiah yang saya terima adalah sebuah buku tentang Maria, penampakannya, dan Rosario … yang ditulis oleh seorang Protestan! Penulis ini sudah mengunjungi berbagai gereja arus utama yang berbeda-beda untuk menceritakan pengalamannya, keyakinannya bahwa penampakan Maria adalah fenomena nyata, dan umat Protestan bisa mengambil manfaat dari Rosario. Ibu saya yang membeli benda yang hampir dianggap sebagai benda najis ini dengan iseng, dia berpikir bahwa putranya yang fanatik agama bisa mengambil manfaat dari pemikiran seperti itu.

Saya terkejut dengan sikapnya yang tampak tidak bijaksana. Tidakkan dia tahu bahwa orang Katolik itu menyembah Maria? Tidakkah dia tahu berbagai macam penyembahan berhala dan penghujatan ada di setiap lembar buku ini? Syukurlah, ada beberapa umat Katolik (seperti yang ada di UCO) melepaskan diri dari belenggu Mariologi dan memeluk kebebasan sejati di dalam Kristus? Saya memaksakan senyuman dan berterima kasih padanya, tanpa ingin untuk mempelajari setiap halaman dalam buku itu.

Kendati demikian, suatu hari saya mengambil buku itu dan membacanya dalam sekali baca. Saya merasa ditarik ke dalam cerita si penulis. Ia menunjukkan bahwa Maria adalah hadiah bagi seluruh Gereja, menjadi yang pertama dengan setia akan panggilannya dalam membawa Kristus ke dunia, yang pada saatnya membawakan keselamatan bagi umat manusia. Kemudian, ketika kurban Yesus di kayu salib menyatukan orang-orang Kristen sebagai saudara dan saudari, Maria diberikan kepada Yohanes sebagai ibu-Nya (lihat Yohanes 19:26-27). Dalam kasus ini, Yohanes mewakili semua umat Kristen, maka Maria dalah ibu kita juga.

Jika Maria menghendaki untuk mewartakan Injil kepada dunia, mengarah kepada Yesus, setelah berabad-abad Maria ada di bumi, apakah Yesus akan melarangnya? Yesus yang sama menuruti permintaan Maria pada pesta perkawinan di Kana (lihat Yohanes 2:1-10), yang terikat untuk mengasihi Maria karena ketaatan-Nya kepada Sepuluh Perintah Allah?

Mungkin Yesus mau, mungkin juga tidak. Menurut saya, kita tidak tahu rahasia hubungan antara keduanya. Pada kebuntuan logis ini saya menyadari ada cara untuk mengetahui dengan pasti apakah doktrin-doktrin Maria ini bisa masuk akal: saya sebenarnya bisa “menguji roh-roh itu” (lihat 1 Yohanes 4:1-3) dan berdoa Rosario!

Suatu hari saya berada di sebuah toko buku Katolik, saat menghampiri kasir dengan membawa satu seta manik-manik rosario yang murah di satu tangan dan sebuah buklet “Praying the Rosary for Non-Catholics” di tangan yang satu lagi. Saya berkata kepada kasir, “Ini buat teman saya.”

Saya segera mambaca buklet itu. Saya tahu kalau waktu pengujian akan segera dimulai. Merasa takut, saya tidak akan pernah tahu pasti tanpa mencoba sendiri. Saya berdoa di bangku taman, “Tuhan, saya hanya mencoba ini karena Kitab Suci menganjurkan untuk menguji dalam roh. Saya mohon, janganlah Engkau tersinggung. Mohon lindungi saya apa pun yang terjadi, dan jika itu salah, mohon berikanlah saya bukti dan saya tidak akan pernah melakukannya lagi.” Kemudian saya mengambil manik-manik itu dan berdoa seperti petunjuk yang ada di buklet itu, dimulai dengan peristiwa “Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel.”

Saya jatuh cinta. Saya menemukan bahwa doa Rosario bukan menempatkan Maria di posisi Allah (yang merupakan dosa mortal), saya justru diundang untuk lebih mengasihi Yesus lebih dalam lagi dengan mengenal keluarga duniawi-Nya, menyaksikan kisah-Nya dari sudut pandang Maria. Maria sudah bersama dengan Yesus sepuluh kali lebih lama dari para murid. Yesus menempatkan Maria di tempat yang sangat terhormat, karena Maria mau setuju dengan kehendak Allah Bapa dalam hidupnya, yang menyebabkan keselamatan bagi umat manusia. Namun, sikap hormat yang ditujukan bagi Maria benar-benar berbeda dengan penyembahan yang ditujukan kepada Allah.

Bagi saya, kehadiran Maria menjadi istimewa dan terasa sangat kuat. Tiba-tiba saya ingat bahwa Maria dinubuatkan untuk memikul salibnya sendiri, yaitu perkataan kiasan bahwa pedang akan menusuk hatinya (lihat Lukas 2:35). Maria bukanlah yang kebal terhadap penderitaan Sengsara Sang Kristus, menghadapi penderitaan emosional dengan menyaksikan putranya yang sudah dewasa menderita. Kedukaan itu sekarang sudah diubah menjadi kemenangan yang mulia.

Kemudian, saya menceritakan pengalaman ini dengan beberapa orang teman. Cerita itu menyebar seketika. Beberapa teman Protestan lainnya mulai penasaran, jadi saya menceritakannya dengan mereka. Setelah itu, tak lama kemudian orang-orang ini mulai berdoa Rosario. Pada musim panas itu, cukup banyak dari kami yang sedang liburan di tepi pantai North Carolina melakukan doa Rosario sambil jalan kaki menyusuri pantai dipimpin oleh kami berempat yang kebetulan orang Protestan.

Apologis Non-Katolik

Meskipun saya baru punya rasa hormat akan Iman Katolik, saya memutuskan untuk tidak bergabung dengannya. Namun demikian, pada tahun ajaran berikutnya, saya mengambil kelas RCIA selama sebulan sebelum memutuskan bahwa kelas itu bukan untuk saya. Iman Episkopal saya yang sudah terbengkalai, hidup kembali karena kecintaan saya pada Rosario (kelompok Rosario Episkopal itu memang ada) dan pengakuan akan liturgi yang kuat. Saya sudah merasa puas.

Saya menemukan satu paroki yang hangat dan punya khotbah yang luar biasa. Kemudian saya menemukan tentang kesaksian Alberto Riviera (bahasan dari buku komik anti-Katolik yang saya baca tiga tahun sebelumnya) adalah penipuan menurut serial artikel dalam edisi Christianity Today yang berusia puluhan tahun. Saya sangat marah karena kepalsuan semacam itu dijual di toko-toko buku Kristen.

Beberapa tahun berikutnya, saya menjadi pembela ajaran Katolik tanpa menjadi seorang Katolik. Saya adalah jembatan di antara dua kelompok, si pembawa damai. Saya punya gagasan bahwa doktrin Katolik bisa dijelaskan kepada teman-teman non-Katolik saya melalui Kitab Suci dan logika, bahkan jika kita tidak bisa mencapai consensus baru, pemulihan akan terjadi.

Masalah tersulit yang benar-benar membuat saya bergumul adalah Ekaristi. Di satu sisi, saya yakin bahwa tidak ada yang salah dengan memahami pengajaran Roti Hidup (Yohanes 6:28-58) sebagai suatu bentuk kiasan untuk “menerima Yesus Kristus masuk ke dalam hidup Anda sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.” Gagasan bahwa Yesus bisa benar-benar hadir dalam Sakramen menjadi aneh bagi saya, karena seperti kembali ke pemikiran orang abad pertengahan. Seperti yang kemudian harus saya akui, tanggapan spontan ini tidak benar-benar berdasar pada Kitab Suci.

Yesus punya setiap kesempatan untuk tidak mempermalukan kawanan-Nya, untuk menjelaskan bahwa Ia berbicara kiasan untuk meningkatkan jumlah pengikut-Nya, tapi Yesus tidak melakukannya. Setiap kali Ia mengklarifikasi bahwa Ia berbicara tentang “menerima-Nya ke dalam hati sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi,” Ia memilih untuk menambahkan lebih banyak lagi kebingunan, menggunakan istilah yang bukan kiasan (contohnya, trago dalam bahasa Yunani yang artinya “mengunyah” dalam Yohanes 6:53-56) dan Yesus mengatakan bahwa yang “mengunyah” Tubuh-Nya akan memiliki hidup kekal.  Orang banyak merasa sangat tersinggung, sehingga banyak orang yang meninggalkan-Nya – dan Yesus membiarkan mereka pergi. Begitu juga dengan para murid yang hendak meninggalkan-Nya, tapi mereka tidak punya orang lain yang bisa diikuti (lihat Yohanes 6:67-69).

Saya tidak mau melanjutkan lebih jauh tentang bagaimana cara menafsirkan bagian ini. Saya bersikeras bahwa dengan bahasa yang kasar harus mencerminkan pentingnya hubungan pribadi dengan Kristus, tidak lebih dari itu. Konsep tentang memahami “Roti Hidup” berarti transubstansiasi, bagi saya ini menjadi jembatan yang terlalu jauh. Tapi tafsiran saya akan perikop itu akan diuji.

Adorasi Ekaristi

Di akhir masa kuliah saya pada tahun 1992, UCO membantu mengatur sebuah konferensi lokal yang berfokus pada penginjilan bagi orang Katolik. Seorang presbiter terkenal menjadi pembawa acaranya, serta dua orang pembicara terkenal dalam suasana Katolik karismatik. Saya tertarik dengan persembahan utama dari agenda yang dijadwalkan: Pemberkatan Ekaristi. Saya tidak pernah mendengar istilah itu sebelumnya, tapi bentuk ibadah tradisional yang dicampur dengan doa karismatik menarik bagi saya.

Pembicaraan itu diterima dengan baik. Dalam aula yang berukuran sedang dengan ratusan umat Katolik hadir di sana. Umat Katolik terdorong untuk belajar dan menceritakan iman mereka, dan saya sebagai seorang ekumenis yang berkehendak baik mendorong mereka supaya melakukannya.

Pemberkatan Ekaristi dijadwalkan terakhir. Kalau saya berkata tidak siap maka akan menjadi pernyataan yang meremehkan bagi mereka.

Presbiter itu keluar dengan beberapa benda bundar dari emas dalam perarakan yang khidmat dengan hosti komuni ada di dalamnya. Di seluruh ruangan hampir seperti kartu domino, di mana orang-orang berlutut mengikuti majunya perarakan itu.

Tapi, saya tidak berlutut. Kaki saya meremas lantai (merasa gugup), seolah-olah menerima semua penghormatan yang orang lain lakukan di sekitar saya. Saya belum siap. Saya belum pernah melihat penghormatan akan Ekaristi yang seperti ini. Saya hanya merasa nyaman dengan gagasan bahwa umat Katolik bisa menjadi orang Kristen terlepas dari pemikiran konyol tentang kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi, saya dihadapkan dengan ratusan orang Katolik yang taat dalam mengungkapkan ibadah mereka dengan sungguh-sungguh, mengakui bahwa Yesus benar-benar hadir di tengah-tengah kita.

Saya merasa tercabik-cabik. Entah Yesus itu benar-benar hadir dalam hosti kecil yang berada dalam wadah emas itu, atau ribuan umat paroki yang ikut rangkaian acara akhir pekan bersama saya ini juga mereka ini yang mendukung tata cara ekumenis, semuanya sangat gila. Tidak ada pilihan ketiga. Keinginan saya untuk mencari tahu bernyala kembali. Saya tahu kalau saya harus melakukan penelitian untuk mengatasi hal ini.

Hari itu saya sudah membeli buku Spiritual Journeys, yang isinya menceritakan kisah-kisah orang terkenal yang mengalami perubahan keyakinan menjadi Katolik. Saya menghabiskan buku itu dalam beberapa hari saja. Berulang kali muncul tema tunggal: bahwa Gereja Katolik yang semua kegagalannya, kesalahan historisnya, liturginya yang dipenuhi umat paroki suam-suam kuku … inilah rumah, dengan Yesus sebagai Pemilik utamanya.

Gereja-gereja interdenominasi yang saya ikuti di masa lalu itu menyenangkan, di sana saya belajar tentang Tuhan. Mereka seperti pertemuan akbar The Beatles. Akan ada musik-musik yang enak didengar dan ceramah yang menghibur. Tapi bukankah penggemar setia The Beatles yang lebih suka menjadi tamu di rumah Paul McCartney? Lingkungan itu akan jauh berbeda. Musik tidak akan diputar terus menerus tanpa henti. Anggota keluarganya tidak akan terkesan dengan statusnya sebagai selebriti. Tapi juga akan ada tingkat kedekatan yang tidak bisa ditandingi. Saya melihat bagaimana hal ini akan menjadi hal yang lebih baik bagi saya.

Tahbisan bagi Kaum Perempuan

Semua hal ini menarik, tapi saya masih belum bisa membuat komitmen. Saya punya satu masalah terakhir: Saya percaya bahwa perempuan bisa dan harus ditahbiskan dalam jajaran klerus. Kerena bawaan saya, saya percaya kalau larangan klerus wanita pada dasarnya adalah sikap misoginis (membenci kaum wanita –red.). Saya memahami kalau Gereja perdana memiliki larangan seperti itu (lihat 1 Timotius 2:11-14), tapi saya menghubungkannya dengan iklim budaya usang yang tidak bisa kita usahakan bersama. Menurut saya, rektor Episkopal wanita yang ada di paroki kampus saya adalah seorang pengkhotbah yang ulung. Dalam hati nurani yang baik, saya tidak bisa bergabung dengan suatu denominasi yang akan mencegahnya untuk mengambil apa yang saya anggap sebagai panggilannya.

Kemudian saya lulus. Saya sudah merasakan campur aduk antara pencapaian dan kewalahan. Tiba-tiba, saya punya pilihan yang mengubah hidup ini tepat di hadapan saya. Saya akan masuk dunia kerja, bahkan dengan ada Kristus dalam hidup saya, saya merasa tidak punya tujuan. Dengan tekanan seperti itu, saya menemukan jalan untuk lebih sering berdoa.

Suatu ketika, sebelum menghadap Sakramen Mahakudus, saya merasakan Tuhan bertanya kepada saya tentang apa yang menjadi kekhawatiran terbesar saya. Ada tiga: pertama, saya tidak yakin dengan pekerjaan apa yang akan saya jalani, karena jurusan kuliah saya punya banyak pilihan tempat kerja, juga kami baru saja masuk resesi. Kedua, saya tidak tahu apakah saya dipanggil untuk menempuh hidup perkawinan, jika memang begitu, saya tidak tahu caranya menemukan seorang istri. Ketiga, saya belum sepenuhnya masuk ke dalam Iman Katolik, meskipun pengalaman saya dengan Adorasi Ekaristi semakin mendalam, karena saya tidak mampu perasaan pribadi yang merendahkan yaitu larangan Gereja dalam imamat kaum perempuan.

Kemudian pada hari itu juga, saya merasakan Tuhan berbicara dalam hati saya: masalah-masalah ini adalah bukan yang utama. Ada kekhawatiran utama yang menjadi akar ketiga masalah ini: Saya tidak tahu apa maknanya menjadi seorang ayah. Wahyu semacam itu menyebabkan pikiran saya berpacu.

Relasi saya dengan ayah duniawi saya selalu campur aduk. Ketika saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus pada umur 14 tahun, saya sudah menyebabkan perpecahan besar di antara kami. Sebagian besar perasaan tidak aman yang saya alami tentang masa depan berakar pada kata-katanya yang kasar. Tidaklah heran saya merasa cemas tentang pekerjaan masa depan saya dan punya rasa khawatir dengan perkawinan. Jika saya dipanggil untuk perkawinan, akhirnya saya akan menjadi seorang ayah, dan kerena relasi saya sendiri dengan ayah saya begitu buruk, saya takut kalau saya akan menanamkan kekerasan yang sama pada anak-anak saya sendiri.

Tapi ada masalah terakhir, saat saya memasuki Iman Katolik, saya tidak mampu menghubungkan hubungan satu sama lain. Saya punya bekas luka dari relasi yang salah dengan ayah saya, namun Tuhan sudah menggunakan pengalaman itu untuk mendekatkan saya dalam pelukan kasih-Nya. Sementara saya bersyukur karena sudah menemukan Tuhan di gereja-gereja Kristen yang beraneka ragam serta kelompok orang muda dan dewasa muda ini, mampukan saya tetap berada di tempat saya sekarang dan benar-benar melayani Tuhan? Pada saat itu, saya melihat diri saya sendiri yang terhalang untuk menerima Ekaristi Katolik – sesuatu yang semakin saya yakini bahwa Yesus sendiri yang istimewa, dan akar dari keraguan saya untuk ikut ambil bagian – tapi juga ada ketidaktahuan yang saya miliki tentang apa artinya menjadi seorang ayah. Saya hanya tidak mampu melihat hubungannya.

“Tuhan, saya tidak mengeerti bagaimana ketidaktahuan saya tentang apa artinya menjadi seorang ayah ada hubungannya dengan larangan terhadap kaum perempuan dalam imamat!”

Tunggu! Apakah saya baru mengatakah hal itu?

Itu dia – hubungannya jelas, dan saya terguncang sampai ke dalam batin saya. Saya perlu melihat dengan melampaui kemampuan pribadi, menuju rancangan Tuhan dan ciptaan-Nya yang lebih dalam. Kita semua diciptakan laki-laki dan perempuan, dan ini menunjukkan realitas bagaimana Tuhan berelasi dengan kita. Dalam tindakan memberi hidup, ayah memberikan benih dan ibu memeliharanya supaya hidup, sama seperti Allah (yang melampaui gender, yang oleh Yesus sendiri dikenal sebagai Bapa) yang menciptakan kehidupan, sementara itu Bunda Gereja memelihara kita dan mempersiapkan diri kita menuju kedewasaan.

Saya juga mulai melihat bahwa imamat lebih dari sekadar homiletika, memberi nasihat, dan administrasi. Khotbah yang bagus bisa dilakukan di mana saja, ada banyak tulisan iman yang ditulis oleh para wanita yang sekarang menjadi Doktor Gereja. Nasihat yang baik juga bisa dilakukan dalam profesi bagi mereka yang membuka diri untuk melakukannya. Administrasi juga digunakan dalam setiap bisnis. Wanita tidak dilarang dari pekerjaan ini, dan bagi kaum perempuan yang menginginkannya, mereka bisa mengejar pekerjaan itu tanpa batasan.

Saya pernah punya pandangan tentang semua liturgi yang pernah dirayakan – yang sebagian adalah sandiwara panggung yang hebat, bahkan umat punya peran untuk memainkannya – tidak ada bagian yang terlalu kecil. Para imam ada di sana dalam peran Sang Kristus – yang mereka sebut in persona Christi – bahkan sampai dengan penyaliban. Peran imam terbatas bagi kaum laki-laki, bukan karena kaum perempuan tidak layak, tapi karena Sang Kristus adalah laki-laki, sehingga diperlukan representif dalam peran ini yang bisa menunjukkan peran Sang Kristus dalam keselamatan umat manusia, tanpa terganggu dengan cara yang baru.

Hal ini secara substatif berbeda dengan pelayanan belaka. Kunci untuk memahami imamat kaum perempuan berkaitan dengan perbedaan ini. Dan pada saat itu saya tahu, kartu domino terakhir yang tumbang, saya akan jadi Katolik.

Kesimpulan

Dan begitulah yang terjadi. Pada Vigili Paskah 1993, saya resmi disambut dalam Iman Katolik dengan cara yang indah dan terhormat. Keluarga saya enggan hadir. Tentu saja, ibu saya berusaha keras untuk membujuk saya supaya tidak melakukan ini, bahkan setelah upacara masih begitu, tapi begitulah dia. Selama bertahun-tahun, relasi dengan orang tua mengalami pasang surut, tapi Tuhan tetap baik.

Tak lama setelah saya pindah keyakinan, keadaan seolah-olah membuat saya untuk menjauhkan diri dari komunitas yang mendukung. Saya dipaksa untuk bertumbuh dalam iman di mana hanya ada sedikit orang dewasa muda yang punya semangat yang sama dengan saya. Saya meminjamkan keterampilan bermain gitar kepada beberapa kelompok orang muda interdenominasi, sembari saya memegang teguh posisi saya sebagai Katolik. Akhirnya saya berjumpa dengan seorang wanita Katolik yang di kemudian hari akan menjadi istri saya. Saat ini kami punya dua anak yang luar biasa. Bahkan saya belajar untuk membuat lagu parodi dari pengalaman hidup saya, dan itu menyenangkan banyak orang. Dari semua ini, saya sudah menemukan Tuhan, Ia adalah Bapa yang setia, kasihnya tidak ada bandingannya, kesetiaan-Nya tidak mengenal batas. Hidup saya tidak berakhir dengan keputusan untuk mempercayakan hidup saya kepada-Nya, melainkan menjadi awal petualangan luar biasa, suatu perjalanan hidup yang masih saya alami. Semoga Tuhan dipuji, Aleluya!

 

Nicholas A. Kleszczewski (alias Nick Alexander) adalah seorang pembicara Katolik, pemimpin pujian dan komedian. Ia terkenal karena serial parodi Katolik, mengambil lagu-lagu sekuler dan mengisinya dengan lirik komedi Katolik dalam lagu itu. Video karyanya untuk masa Prapaskah “This Time of Forty Days” (parodi dari “King of Pain” yang dinyanyikan oleh The Police), sudah ditonton lebih dari 88.000 kali. Ia juga tampil dalam acara World Youth Day, NCYC, dan Catholic TV. Ia seorang suami yang setia dan ayah dari dua anak, ia tinggal di Statford, Connecticut. Situs webnya adalah nickalexander.com.

 

Sumber: “God Leads Us One Step at a Time”

Posted on 28 July 2022, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: