Halloween dalam Perspektif Katolik

Halloween (Sumber: catholic.com)

Dari mana asal muasal Halloween? Apa maksudnya? Apa hubungannya dengan Gereja Katolik? Apa arti kata “hallow”? Mari kita cari tahu di sini

Setiap bulan Desember, perayaan Natal secara budaya sekuler selamu membayangi hari raya keagamaan yang manjadi dasar dari Natal itu sendiri.

Hal yang sama terjadi setiap akhir Oktober, ketika cara dari budaya Amerika merayakan Halloween yang membayangi Hari Semua Orang Kudus.

Secara intrinsik tidak ada yang salah dengan kostum dan permen, tapi di benak kebanyakan orang, Halloween sudah begitu terlepas dari akar agamanya sehingga mereka tidak tahu lagi dari mana asalnya.

Kata kuno Halloween punya kontribusi dengan hal ini. Orang banyak mungkin menyangka bahwa kata itu kependekan dari “All Hallows’ Eve,” tapi memang kurang banyak membantu karena mereka tidak tahu apa itu hallow dan apa artinya merayakan malam dari suatu perayaan.

Bahasa Inggris punya kosakata ganda yang tidak umum, banyak kata yang berakar dari bahasa Latin tetapi punya akar bahasa Jerman. Oleh karena itu, kita punya dua kata untuk banyak hal. Salah satunya adalah kucing yang satu adalah cat (berasal dari akar bahasa Jerman) dan feline (berasal dari akar bahasa Latin). Kata hallow adalah kepunyaan dari satu pasangan bahasa Jerman-Latin. Tapi kurang umum bagi kita dari kata paralel yang berasal dari bahasa Latin, yaitu saint.

[Contoh dalam bahasa Indonesia adalah kudus dan suci. Kudus berasal dari akar bahasa Arab (qudus) yang menyerap dari bahasa Ibrani (kadosh), sedangkan suci berasal dari akar bahasa Sansekerta. Keduanya merujuk hal yang sama yaitu tidak najis]

Hallow berasal dari akar yang sama dengan holy, dan seseorang yang dikuduskan (hallowed) adalah seorang kudus (santo/santa) yang artinya seseorang yang sudah disucikan (sanctified) atau dijadikan kudus (holy). Maka dalam doa Bapa Kami bahasa Inggris tertulis, “Hallowed be thy name.” Maka kita mengucapkan kata-kata yang berasal dari bahasa Latin maka menjadi sesuatu yang kurang lebih bermakna demikian“Let your name be sanctified” (Biarlah nama-Mu disucikan/dikuduskan), yang artinya semoga orang banyak memperlakukan nama Tuhan sebagai sesuatu yang kudus dan demikian akan menghormati kekudusan Allah sendiri.

Bagian kata –een dari Halloween juga sama kunonya. “E’en” adalah singkatan kara even, cara lama untuk mengatakan “evening” (malam). Dengan demikian, Halloween adalah “All Hallows’ E’en” atau “malam Hari Semua Orang Kudus” dan dirayakan sebagai antisipasi awal untuk hari berikutnya, dengan cara yang sama orang merayakan Malam Natal sebagai antisipari Hari Natal.

Tapi mengapa kita merayakan Hari Semua Orang Kudus? Beberapa teman Protestan keberatan dengan kebiasaan Katolik yang merayakan orang-orang kudus tertentu dan memberi perhatian khusus kepada mereka. Sadar bahwa ada hari-hari liturgis untuk memperingati orang kudus secara individu, mereka ingin tahu mengapa tidak ada perayaan untuk semua orang yang sudah berada di surga.

Lagi pula, dalam kitab Wahyu, Yohanes menggambarkan penghuni surga dengan cara demikian:

Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Wahyu 7:9-10).

Bukankah yang lain juga layak mendapatkan pengakuan?

Jawabannya, memang mereka layak, dan oleh sebab itu kita punya Hari Raya Semua Orang Kudus. Karena hanya ada 365 hari dalam setahun, dan tidak setiap orang yang ada di surga punya peringatan liturgisnya sendiri, tapi mereka semua harus diakui karena mereka bekerja sama dengan rahmat Tuhan. Jadi, Hari Raya Semua Orang Kudus dibuat untuk memperingati setiap individu di surga, bahkan bagi mereka yang keselamatannya hanya diketahui Tuhan sendiri.

Jika nenek Anda yang sudah meninggal berada di surga, meskipun tidak pernah dikanonisasi, pada Hari Raya Semua Orang Kudus, Gereja Katolik memperingati dia dan pekerjaan yang sudah Tuhan perbuat semasa hidupnya. Maka nenek Anda juga punya tempat dalam kalender liturgi, di samping para kudus yang lebih terkenal.

Tepatnya kapan hari itu dirayakan tergantung pada kalender liturgi yang Anda gunakan. Di banyak gereja-gereja Katolik Timur, peringatan semua orang kudus dirayakan pada hari Minggu sesudah Pentakosta, yang mendasarkan pada nalar tertentu, karena Pentakosta adalah peristiwa yang menyebabkan penginjilan ke seluruh dunia dan keselamatan bagi banyak jiwa.

Di Barat, tanggal 1 November menjadi tanggal peringatan bagi semua orang kudus. Kadang-kadang ada orang yang usil untuk menodai perayaan ini dengan menghubung-hubungkannya dengan paganisme, mungkin orang itu menyatakan kalau perayaan ini didasarkan pada hari raya orang Gael yaitu Samhain seperti yang dirayakan di Kepulauan Britania.

Tapi Hari Raya Semua Orang Kudus tidak berasal dari Kepulauan Inggris. Alasan pemilihan tanggal 1 November adalah Paus Gregorius III (731-741) yang mendedikasikan sebuah kapel di Basilika Santo Petrus di Roma untuk semua orang kudus dan menetapkan peringatan tahunannya pada 1 November.

Kemudian, Paus Gregorius IV (827-844) memperluas perayaan ini ke seluruh Gereja Barat. Hal ini yang menyebabkan ada peringatan di malam sebelumnya sebagai All Hallows’ Eve, yang juga mengarah ke perayaan di hari berikutnya yaitu 2 November sebagai Hari Semua Arwah Orang Beriman, ketika kita mendoakan semua jiwa yang masih dimurnikan dalam perjalanannya menuju surga.

Meskipun Katolik dan Protestan tidak sepakat dalam berbagai hal, kita sama-sama mengucapakan Syahdat Para Rasul (Pengakuan Iman Rasuli) dan kita sama-sama mengaku percaya akan “persekutuan para kudus.” Maka perayaan Semua Orang Kudus adalah salah satu cara umat Katolik menyatakan hal ini.

Hari Raya Semua Orang Kudus menjadi hari liturgis yang sangat penting, dan hari ini adalah hari raya wajib, artinya semua umat Katolik harus merayakannya dengan ikut Misa sama dengan yang dilakukan pada hari Minggu.

Oleh karena itu, Hari Raya Semua Orang Kudus berbeda dari peringatan orang-orang kudus secara individu. Tak satu pun orang-orang kudus setelah zaman Alkitab diperingati dengan hari raya wajib. Betapa terkenalnya orang-orang kudus seperti Agustinus, Aquinas, dan Theresia dari Lisieux, mereka tidak punya hari sepenting itu dalam kalender liturgi.

Tetapi keseluruhan tubuh para kudus di surga – termasuk para leluhur kita – punya. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak hanya memperingati orang-orang kudus secara individu, tapi juga menganggap serius pengakuan imannya akan seluruh persekutuan para kudus.

Sumber: “What’s the Point of Halloween?”

Posted on 1 November 2022, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: