Sejarah Puasa Ekaristi

Oleh Philip Kosloski

Komuni Kudus foto oleh Sebastian Duda (Sumber: aleteia.org dan shutterstock.com)

Laku disiplin ini menekankan kebutuhan kita supaya rindu (lapar) akan roti Ekaristi yang akan kita santap

Banyak umat Katolik dari generasi tua masih ingat akan “puasa tengah malam.” Artinya seseorang tidak makan sejak tengah malam pada hari sebelum Misa dimulai. Karena alasan inilah, pada umumnya Misa dirayakan pada saat fajar dan jarang ada Misa pada malam hari. Hanya sedikit umat yang ingin berpuasa sebelum ikut Misa dan menerima Komuni Kudus.

Praktik puasa sebelum Misa ini adalah disiplin kuno yang sudah ada sejak abad ke-2. Dan disipilin ini tetap berlangsung sampai tahun 1957, ketika Paus Pius XII mengurangi puasa menjadi tiga jam. Kemudian pada tahun 1964, Paus Paulus VI mempersingkat disiplin itu menjadi satu jam sebelum penerimaan Komuni.

Kitab Hukum Kanonik saat ini mencerminkan perubahan ini dan menyatakan demikian, “Yang akan menerima Ekaristi mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan” (Kan. 919 §1).

Namun, dalam beberapa kasus, aturan itu tidak berlaku, dinyatakan demikian, “Mereka yang lanjut usia dan menderita sakit, dan juga mereka yang merawat, dapat menerima Ekaristi mahakudus, meskipun dalam waktu satu jam sebelumnya telah makan sesuatu” (Kan. 919 §3).

Tapi mengapa demikian? Apa bedanya jika saya makan cheeseburger tepat sebelum masuk gereja ketika saya berniat untuk menerima Ekaristi Kudus?

Paus Paulus VI menulis tentang kekuatan disiplin rohani dalam konstitusi apostoliknya yang berjudul Paenitemini: “Penyangkalan diri bertujuan untuk pembebasan diri manusia, yang seringkali manusia dibelenggu oleh indranya sendiri oleh sebab hawa nafsu. Melalui ‘puasa jasmani’ manusia memperoleh kembali kekuatannya, dan luka yang disebabkan terhadap martabat kodrat kita disembuhkan oleh penguasaan diri melalui pantang yang berdaya guna sebagai obatnya.”

Yesus tahu akan kekuatan puasa dan sebelum Ia memulai pelayanan publik-Nya, Ia pergi ke padang gurun selama 40 hari tanpa makanan. Lebih dalam lagi, Ia juga mengajar kepada para murid-Nya bahwa, “Jenis [roh jahat] ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa” (Matius 17:21; Markus 9:29).

Berpuasa membangun kekuatan rohani kita, dan Gereja meminta kita untuk menyelesaikan tugas sederhana ini setiap kali kita menerima Komuni Kudus untuk kebaikan kita sendiri. Sama seperti atlet, kita juga perlu melatih kedisiplinan dan puasa menjadi cara yang sangat baik untuk membangun otot-otot rohani kita. Tanpa puasa kita menjadi lemah dan hawa nafsu yang membawa kita ke manapun yang dikehendakinya.

Selain itu, Paus Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae, menyesalkan bagaimana umat Katolik modern mengalami “kurangnya ‘lapar’ dan ‘haus’ akan Ekaristi, yang merupakan tanda kurangnya rasa peka yang memadai terhadap sakramen cinta kasih yang agung dan juga kurangnya pemahaman tentang kodratnya.” Kita perlu rasa “lapar” dan merindukan Ekaristi sebelum kita dengan pantas menyambutnya. Penerimaan Komuni Kudus yang kita lakukan harus sesuai dengan rasa lapar batin yang menunjukkan jiwa yang haus akan kasih Allah. Jika kita tidak mempunyai rasa lapar ini (yang diingatkan oleh rasa lapar jasmani ketika kita berpuasa), kita mungkin menganggap bahwa Komuni Kudus sebagai sesuatu yang biasa dan sebelumnya tidak perlu melakukan persiapan apa pun.

Dan yang terakhir, puasa sebelum Misa adalah gambaran dari kisah Ekaristi dalam Injil, khususnya peristiwa Memberi Makan Lima Ribu Orang. Setelah hari yang panjang berlalu, para murid mendesak Yesus supaya mereka itu pergi dan mereka bisa membeli makanan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, Yesus menggandakan roti dan ikan, membuat semua orang “puas” pada akhir perjamuan. Sama seperti orang banyak pada hari itu, ketika kita mendekati meja Tuhan kita pasti merasa lapar, seperti yang dinyatakan oleh pemazmur, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah” (Mazmur 42:1).

Sumber: “Why do I have to fast one hour before Mass?”

Posted on 9 November 2022, in Ekaristi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: