Natal Tak Masuk Akal Tanpa Adanya Dosa

Oleh John M. Grondelski

Christmas (Sumber: catholic.com)

Pada Misa Natal, kita akan mengucapkan bahwa kita percaya bahwa Allah dilahirkan dari seorang perawan dan menjadi manusia. Tetapi mengapa Yesus dilahirkan? Mengapa Ia datang ke dunia?

Perlu diingat ajaran mengenai dosa asal selama masa Adven, karena tanpa memahami ajaran itu, Natal menjadi tidak masuk akal.

Dengan “dosa asal” yang kita maksud adalah dosa yang, pada awal mula umat manusia, telah memisahkan manusia dari Penciptanya dan merusak kodrat manusia dari semua manusia berikutnya. Seperti yang dikatakan Katekismus,

Digoda oleh setan, manusia membiarkan kepercayaan akan Penciptanya mati di dalam hatinya, menyalahgunakan kebebasannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Di situlah terletak dosa pertama manusia. Sesudah itu tiap dosa merupakan ketiaktaatan kepada Allah dan kekurangan kepercayaan akan kebaikan-Nya (KGK 397).

Setiap hari Minggu, kita mengucapkan bahwa kita percaya bahwa Ia datang “untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita,” “Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia” (Kredo Nikea-Konstantinopel). Dan selama beberapa pekan terakhir ini, kita sudah bersiap-siap untuk merayakan kelahiran Kristus. Tetapi mengapa Yesus dilahirkan? Mengapa Ia datang ke dunia?

Jika demi keselamatan kita, kita perlu diselamatkan. Dari apa? Dari dosa.

Masing-masing dari kita adalah orang berdosa. Masing-masing dari kita memiliki kesalahan pribadinya sendiri yang menjadi tanggung jawabnya secara pribadi. Masing-masing dari kita memiliki dosa-dosa pribadi. Tetapi masing-masing dari kita juga ikut terkena dosa asal.

Bagaimana bisa seperti itu? Dengan kenyataan bahwa kita memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Tidak ada yang harus mengajari kita bagaimana berbuat dosa. Tidak ada seorang pun yang duduk bersama anak kecilnya dan berkata, “Johnny, mari kita belajar bagaimana cara berdusta. Ingat: ketika Anda berbohong, maka terlihat seolah-olah Anda mempercayainya!”

Tidak, kelihatannya kita semua sudah menguasai pelajaran itu. Demikianlah, dalam arti tertentu, dosa asal merupakan: kecenderungan kita untuk berbuat jahat. Kita memulainya dari hal yang kecil. Bahkan seorang pelari maraton awalnya memulai dengan jatuh terduduk sewaktu balita.

Ada dua poin penting:

Pertama, Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kecenderungan bawaan untuk berbuat jahat, jadi fakta bahwa kodrat manusia itu menyimpang, cenderung berbuat salah, bukanlah seperti yang dimaksudkan Tuhan.

Kedua, tanpa anugerah khusus dari Allah, manusia tidak mampu menghindari semua dosa, termasuk dosa-dosa kecil (venial).

Dosa asal adalah luka yang kita semua miliki karena kita semua memiliki kodrat manusiawi yang sama. Kodrat itu sudah rusak: kecerdasan kita menjadi gelap (kita membiarkan diri kita percaya bahwa yang baik itu jahat dan yang jahat itu baik); kehendak kita menjadi lemah (berbuat baik seringkali sulit, berbuat jahat sangatlah mudah); dan kita tampaknya memiliki beberapa kemudahan dalam hal itu, mulai dari langkah kecil (mencuri pensil) hingga langkah yang sudah matang (mencuri investasi orang lain).

Anda tidak perlu menjadi seorang jenius untuk melihat bahwa manusia itu cukup pandai berperilaku buruk. Dan ketika Anda berhenti dan memikirkannya, jika Anda percaya pada Tuhan yang baik, maka Anda harus menyimpulkan bahwa Ia tidak menghendaki demikian, dan bahwa ada sesuatu mengenai Adam (dan Hawa serta keturunan mereka) yang tidak baik.

Masalahnya adalah, ketika Anda menyakiti diri sendiri, Anda tidak selalu dapat memperbaiki keadaan. Pada Adam, manusia jatuh, dan ia tidak bisa berbenah diri.  Bunuh diri dapat membunuh dirinya sendiri, tetapi tidak dapat mengubah pikirannya tentang hal itu sesudah peristiwa itu terjadi. Hal yang sama berlaku untuk kodrat kita.

Ketika manusia Humpty Dumpty jatuh, dirinya sendiri maupun “semua pasukan raja” tidak mampu menyatukannya kembali*. Manusia telah merusak mahakarya yang dibuat Tuhan. Manusia seharusnya memperbaikinya, tetapi tidak mampu (orang yang bunuh diri tidak bisa mengembalikan hidupnya). Allah bisa, tetapi Allah yang terluka, bukan yang melukai – dan yang terluka itulah yang layak mendapatkan ganti rugi.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki manusia Humpty Dumpty adalah seorang manusia yang juga Allah. Atau Allah dalam wujud manusia: Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita merayakan Natal.

Memang, ada beberapa teolog yang berspekulasi bahwa seandainya manusia tidak berdosa, Yesus mungkin saja sudah menjelma menjadi manusia. Mungkin saja. Tetapi kita tidak tahu pasti, dan bagaimanapun juga, intinya hal itu bersifat akademis. Manusia memang berdosa, dan manusia membutuhkan seorang juruselamat yang adalah Allah dan manusia. Manusia membutuhkan Yesus.

Sekarang, ada orang yang bertanya-tanya apakah dosa asal hanyalah dongeng teologis, yang muncul di masa lampau yang telah kita tinggalkan. Tidak, karena alasan-alasan berikut ini:

  1. Kemanusiaan adalah satu. Manusia mungkin terbagi-bagi berdasarkan jenis kelamin, ras, bahasa, kapan mereka hidup dan mati, dan ribuan hal lainnya. Tetapi satu hal yang kita semua miliki bersama adalah kodrat manusiawi kita. Tanpa adanya kesamaan itu, maka tidak ada umat manusia. Jika tidak ada umat manusia, maka tidak ada dasar untuk berbicara tentang kesetaraan manusia: kita semua adalah individu-individu yang terpisah, dengan kekuatan dan kelemahan yang lebih besar atau lebih kecil, dan pemikiran tentang persaudaraan manusia pun hilang.

Bagaimanapun, perlu diketahui: gagasan tentang kesetaraan manusia tidak berasal dari demokrasi liberal atau Zaman Pencerahan. Gagasan ini berasal dari doktrin Kristen tentang penciptaan manusia secara umum.

  1. Kemanusiaan itu tidak sempurna. Kodrat kita menyimpang dan dengan demikian cenderung kepada dosa. Bukan bobrok, tetapi menyimpang. Socrates – seorang bukan Kristen – berkata, “Kenalilah dirimu sendiri!” Jika Anda ingin tahu apa yang bisa (dan tidak bisa) diharapkan dari manusia, maka ketahuilah bahwa manusia memiliki sifat yang bercacat.
  2. Karena kodratnya bercacat, maka tidak ada usaha manusia untuk “memperbaiki diri” atau “usaha” yang akan berhasil dengan kekuatan sendiri. “Usaha” tidak bisa dihindari. Masa depan belum tentu akan menjadi lebih baik. Kejahatan bukanlah kurangnya pengetahuan atau disebabkan oleh pilihan yang bodoh; kejahatan itu bisa disengaja dan berniat jahat. Di bawah kasih karunia Tuhan, tidak ada satupun usaha manusia yang akan bisa memperbaiki manusia, karena manusia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri.
  3. Inilah sebabnya mengapa kita mempersiapkan Natal. Karena, sadar bahwa manusia tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri, namun masih mengasihi gambar dan rupa-Nya, yaitu Yesus – Adam Kedua – yang datang untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh Adam Pertama. Itulah sebabnya Adven memiliki aspek pertobatan: kita menantikan karena kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Di saat yang sama, “kita menghendaki dalam pengharapan yang penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita, Yesus Kristus,” karena kita tahu akhir dari kisah ini: bahwa Ia datang untuk membawa kehidupan kepada kita sampai pada kepenuhannya.

Baptisan memberi kita hak atas rahmat yang kita perlukan untuk mengatasi dosa asal – yakni, untuk mengasihi dan menaati Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Tetapi itu adalah bagian lain dari kisah ini. Untuk saat ini, nikmatilah pengharapan yang penuh sukacita itu, dan selamat Natal!

 

*Konteks lagu anak-anak Humpty Dumpty bisa dilihat isi syairnya berikut:

Humpty Dumpty sat on the wall (Humpty Dumpty duduk di tembok)
Humpty Dumpty had a great fall (Humpy Dumpty terjatuh dengan keras)
All the king’s horses and all the king’s men (Semua kuda dan semua pasukan raja)
Couldn’t put Humpty together again (Tidak mampu menyatukan Humpty lagi)

 

Sumber: “Christmas Makes No Sense Without Sin”

Posted on 24 December 2022, in Apologetika. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: