Dari Wicca menjadi Katolik – Kisah Nora Jensen

Nora Jensen (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan oleh kedua orang tua yang penuh kasih di pegunungan Colorado yang indah. Sama sekali kami bukan orang yang religius, sebenarnya kami punya sikap anti-Kristen. Saya percaya pada Tuhan yang impersonal dan punya devosi mendalam kepada para malaikat, meskipun saya tidak yakin dari mana asal kepercayaan itu. Kedua orang tua saya bekerja keras untuk menafkahi saya dan saudara laki-laki saya, dan mereka menanamkan perasaan benar dan salah yang kuat dalam diri kami. Kami adalah keluarga yang kompak.

Urusan Keluarga, Wicca

Waktu saya berumur 11 tahun, saya dan saudara saya sedang bermain di halaman rumah. Kami menemukan lingkaran batu yang belum pernah kami lihat sebelumnya, jelas sekali kalau batu dan lingkaran itu diletakkan oleh manusiam dalam suatu pola yang menunjukkan tujuan ritual mereka. Kami berpikir bahwa para pemuja setan sudah menyelinap masuk halaman rumah kami dan membuat benda itu, kemudian kami menghancurkannya dengan menendang sebanyak mungkin batu besar supaya tidak berada di tempat asalnya. (Mengapa pemuja setan? Sampai hari ini kami bertanya-tanya mengapa kami berpikir seperti itu.)  Sesudah itu, kami berlari ke rumah untuk memberi tahu betapa hebat apa yang sudah kami perbuat.

Malam itu, kedua orang tua kami membicarakan hal itu. Ada daya tarik dalam mata Ayah ketika ia sedang berbicara, “Bagaimana jika Ayah beri tahu kalian kalau penyihir itu nyata?” Saya dan saudara saya saling pandang dan kami tidak suka dengan pemikiran itu. Kami tidak percaya dengan penyihir. Kemudian ayah saya menjelaskan dengan cara yang sangat menarik sehingga membuat saya tertarik, Ayah berbicara bagaimana kalau penyihir itu nyata, mereka bisa melakukan sihir. Ayah dan ibu kami adalah Wiccan. Lingkaran batu itu dibuat oleh mereka.

Saya punya banyak pertanyaan. Di akhir obrolan kami, saya juga ingin menjadi Wiccan. Saudara saya kelihatan tidak peduli. Kami minta maaf karena sudah merusak lingkaran batu itu dan mencoba untuk meletakkan kembali bebatuan itu, meskipun kedua orang tua saya sudah bilang supaya tidak usah khawatir untuk membuatnya lagi. Kedua orang tua saya membelikan saya buku tentang Wicca, dan buku itu menjadi Kitab Suci saya. Diajarkan bahwa setan itu tidak ada. Moralitas dasar Wicca adalah apa pun yang Anda kirimkan ke alam semesta, Anda mendapat balasannya tiga kali. Saya diajarkan untuk tidak menyakiti karena akan mendatangkan hal-hal buruk kepada saya.

Ada bagian dalam buku itu yang memperingatkan bahwa orang Kristen akan berusaha membuat saya meninggalkan kepercayaan Wicca. Sebagai satu keluarga, kami mengolok-olok orang Kristen baik di rumah maupun di ruang chat online secara anonim. Kami akan mencari ruang chat Kristen dan mengatakan hal-hal yang menghujat supaya mendapatkan reaksi orang lain di ruangan itu.

Pada masa itu, ibu saya memperkenalkan saya dengan kartu tarot, dan kami sering berkunjung ke took New Age yang ada stiker bemper di dindingnya. Ada satu stiker yang menarik perhatian saya. Isi dari stiker itu: “Terlalu Banyak Orang Kristen, Kurang Singa.” Saya bertanya kepada ibu apa maksud dari stiker itu, dan dia memberi tahu saya tentang penganiayaan terhadap orang Kristen perdana, mereka dilemparkan ke kandang singa yang sedang lapar. Saya membeli stiker itu dan menempelkannya di dinding kamar tidur saya. Saya mencoba merapal mantra, dan saya percaya kalau mantra itu bisa berhasil, kadang-kadang tidak berhasil.

Saya punya pengalaman lain dengan Wicca yang membuat saya gelisah sehingga saya tidak mendalami lagi okultisme. Salah satunya dengan papan Ouija yang dibelikan orang tua saya. Saya tidak akan menceritakan pengalaman ini dengan rinci, tapi saya merasa sangat ketakutan dan menolak untuk melakukannya lagi.

Kabut yang Menyesakkan

Suatu hari, ibu saya menghampiri saya untuk melakukan latihan yang memungkinkan kami mengunjungi alam kehidupan yang berbeda yang bisa kami jelajahi. Saya sangat bersemangat untuk mencobanya. Ibu saya memperingati supaya begitu saya selesai, saya harus “kembali lewat pintu” sebelum membuka mata, jika tidak maka sebagian diri saya bisa tertinggal. Kami mencoba berulang kali, tetapi setiap kali kami menutup mata, tidak ada yang terjadi. Akhirnya, sekitar 30 menit kemudian, saya memejamkan mata dan membayangkan diri saya melewati pintu. Tiba-tiba, saya berada di tempat lain. Saya berada dalam kehampaan yang dikelilingi dengan sesuatu yang saya gambarkan sebagai kabut merah dan hitam yang mengepul. Saya tidak bisa melihat apa di balik kabut itu, tapi saya bisa berjalan melewatinya, jadi saya mulai berjalan ke depan. Saat saya berjalan, kabut aneh mulai menghampiri saya dan mengeras di sekitar tubuh saya. Saya merasa tercekik. Saya berusaha untuk kembali, tetapi kabut itu seperti batu merah hitam besar yang menutupi diri saya, dan saya tidak bisa bergerak.

Karena saya ketakutan, saya mencoba untuk tidak membuka mata, saya memikirkan peringatan ibu saya, tetapi mata saya terbuka dan dengan panik saya melompat ke depan. Ibu merangkul saya karena panik juga. Dia bilang kalau saya sudah mulai terengah-engah dan terhuyung-huyung di kursi.  Saya menceritakan pengalaman saya dan menjelaskan betapa mustahilnya bisa bergerak, dan saya memutuskan untuk tidak mau melakukan latihan itu lagi. (Ketika sekarang saya memikirkannya, saya percaya kalau Malaikat Pelindung yang sudah melindungi saya dan mencegah saya untuk bergerak di dalam kabut itu.)

Saya melanjutkan kepercayaan Wicca ini selama SMA, menjalankan kepercayaan ini tapi tidak berkembang di dalamnya. Saya punya teman-teman Kristen yang tampaknya mengabaikan kepercayaan saya, dan ada juga teman-teman lain yang pindah keyakinan ke Wicca karena saya. Ada seorang teman yang mulai tertarik dengan Wicca, tetapi ketika ayahnya yang seorang Katolik mengetahuinya, ia melarang kami untuk bermain bersama. Itulah perjumpaan pertama saya dengan agama Katolik, itulah yang membuat saya punya pikiran bahwa semua orang Katolik itu berpikiran tertutup dan jahat.

Retaknya Tembok Kepercayaan Wicca

Saya juga berteman dengan beberapa orang anak yang keluarganya Mormon. Suatu hari, mereka mengajak saya untuk menemani mereka ke gereja pada hari Minggu. Saya penasaran, jadi kedua orang tua saya membiarkan saya pergi. Sebelum kebaktian, saya tidak diberi tahu apa-apa tentang itu. Saya disuruh untuk diam saja. Pada waktu kebaktian, ketika waktunya komuni tiba, saya melihat roti kering kecil dan cangkir kecil berisi air yang dibagikan di atas nampan. Secara naluriah, saya tahu kalau saya tidak boleh mengambil roti dan air itu. Begitu nampan itu sampai ke saya, saya melewatinya dan saya dilihat banyak orang dengan tatapan kebingungan. Dalam benak saya, saya merasa salah menerima komuni karena saya tidak mempercayainya; bahkan saya tidak tahu apa maknanya. Tetapi komuni tampaknya cukup penting sehingga saya tidak boleh menerimanya tanpa mengetahui maknanya.

Setelah SMA, saya kuliah di University of Colorado. Saya mencoba kelas jiu-jitsu dan langsung menyukainya. Saya cepat punya banyak teman, dan kepecayaan bukan menjadi bukan prioritas hidup lagi. Teman-teman saya juga berpikiran saya, mereka tidak punya iman, dan punya pandangan anti-Kristen juga. Kami berteman dengan baik, dan tak lama kemudian kami semua bercanda dengan mengatakan bahwa jiu-jitsu adalah agama kami.

Setelah dua tahun kulian dan ikut jiu-jitsu, saya mulai mulai gelisah. Ada perasaan gelisah di dalam diri saya, sesuatu yang mengganggu dan ada sesuatu yang tumbuh dan tak bisa disangkal dan diabaikan. Itulah lubang, yang segera saya sadari itulah lubang seukuran Tuhan. Saya tahu ini karena saya punya segala sesuatu yang saya kira saya perlukan untuk merasa puas, meskipun hal-hal itu kadang-kadang digunakan orang lain untuk mengisi kehampaan seperti narkoba, seks, atau alkohol, bukan menjadi sesuatu yang pernah saya lakukan, dan saya tidak akan mencoba hal itu. Saya sangat perlu menemukan Tuhan.

Tapi dimana Tuhan berada? Saya sudah melakukan beberapa penelitian tentang spiritualitas Timur, dan saya tahu Tuhan tidak bisa ditemukan di sana. Saya sangat yakin kalau Tuhan tidak ditemukan dalam Kekristenan, dan siapa pun Yesus itu, Ia tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Hal ini meninggalkan jawaban yang tidak memuaskan sehingga satu-satunya pilihan adalah kembali ke apa yang saya ketahui. Maka, saya membuka lagi buku penyihir berdebu yang saya punyai pada waktu masih remaja, kemudian saya mulai membacanya. Konsepnya sangat abstrak dan tidak tepat dalam cara menggambarkan Tuhan sehingga saya tidak bisa mempercayainya. Melihat kembali halaman yang pernah saya pelajari tanpa henti, saya sadar bahwa hal itu tidak menggerakkan apa pun dalam diri saya. Sekarang saya berusia 21 tahun, saya tidak lagi punya kekhawatiran yang sama ketika remaja. Saat ini saya melihat kalau buku kedua orang tua saya itu sangat membosankan. Saya membuat satu keputusan kalau saya menemukan Tuhan saya tidak mau menjalin hubungan yang dangkal dengan-Nya. Tuhan harus menjadi hal terpenting dalam hidup saya, dan saya ingin hidup dengan cara demikian.

Kekasih Katolik

Tak lama setelah saya merasa butuh Tuhan, saya melihat seorang pria tampan di tempat kerja, namanya Dane. Kebetulan ia juga tinggal di kompleks aparteman saya. Kami mulai mengobrol, dan setelah itu dia mengajak saya berkencan, kemudian topik agama muncul. Saya menjadi tahu kalau ia seorang Katolik, dan itu membuat saya terkejut. Saya pikir, inilah nasib saya. Bukan hanya seorang Kristen saja, tapi ia seorang Katolik! Ketika Dane bertanya apa yang saya yakini, dengan bangga saya mengaku sebagai penganut Wicca, tapi dalam batin saya merasa ragu. Bahkan, saya tidak percaya dengan apa yang sudah saya katakan. Tapi saya harus percaya diri, inilah yang saya ketahui, maka saya harus berusaha percaya diri dengan perkataan saya. Dan yang membuat saya terkejut, Dane tidak mengakhiri kencan atau persahabatan kami. Kelihatannya ia tertarik dengan apa yang saya katakan. Untuk pertama kali, saat ini hati saya mulai sedikit melunak.

Seiring berjalannya waktu, kami lebih sering keluar bersama dan mulai berpacaran. Pada suatu malam, topik agama. Saya tidak membicarakan Wicca, tapi saya menyuarakan semua hal yang sudah saya renungkan tentang siapa yang saya pikir mungkin adalah Tuhan.  Saya berbicara tentang bagaimana Tuhan itu tidak mungkin impersonal tetapi yang berpribadi, Tuhan yang peduli kita dan mengenal kita. Saya berbicara tentang jiwa dan perjalanan kita di bumi dan apa artinya ketika kita mati. Setiap gagasan yang saya ceritakan itu, Dane berkata, “Itulah yang diajarkan Gereja Katolik.” Saya terkesima. Kira-kira sesudah enam kali mengatakan ini, saya pikir saya perlu menyelidiki Gereja Katolik. Saya membuka halaman Wikipedia tentang Katolik dan hampir tidak bisa melewati paragraf pertama. Rasanya seperti membaca bahasa asing.

Tak lama kemudian, hubungan kami menjadi serius, jadi kami memutuskan untuk melakukan penerbangan ke Arizona supaya saya bisa bertemu keluarganya. Saya tahu kedua orang tuanya itu Katolik, dan Dane mengatakan kepada mereka kalau saya seorang Wiccan. Saya merasa sangat gugup. Tetapi begitu kami tiba di sana, saya melihat keindahan yang ada dalam keluarganya yang saya tahu itu berasal dari iman mereka. Selama di sana, kami sama sekali tidak membahas agama, tetapi saya menyaksikan kegembiraan dan kedamaian yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Semakin lama, hati saya semakin melunak.

Beberapa saat sesudah kami pulang ke Colorado, ibu Dane menyarankan supaya ia membawa saya ikut Misa. Saya setuju, dan memastikan akan merasakan sesuatu yang maksimal, Dane memutuskan untuk membawa saya ke katedral di pusat kota Colorado Springs. Saya tidak tahu apa yang diharapkan, tetapi ia menyuruh saya untuk mengikuti saja – berdiri ketika ia berdiri, duduk ketika ia duduk.

Dane juga mengatakan kepada saya bahwa ada hal penting supaya saya tidak menyambut Ekaristi. Saya merasa bingung dan sedikit tertantang, saya bertanya kenapa saya tidak bisa menyambut Ekaristi. Ia berkata kalau saya belum menjadi Katolik dan belum percaya yang diajarkan Gereja Katolik. Karena yang saya pikirkan seperti kebaktian Mormon dulu, sepertinya penjelasannya masuk akal. Ketika kami tiba di sana, penyambut tamu tersenyum pada saya dengan sikap hangat. Saya tidak mengira akan sapaan yang tulus dan menyenangkan. Ketika kami masuk ke gereja, kami duduk dekat dengan bagian depan sehingga lebih mudah mengikuti jalannya Misa.

Kedamaian Adikodrati

Bagi saya, peristiwa terpenting dalam Misa adalah ritus damai. Ketika imam berkata, “Marilah saling menyatakan salam damai,” saya menatap Dane dengan bingung. Ia malu-malu tersenyum kepada saya dan berkata, “Damai sejahtera bagimu,” kemudian ia memeluk saya dengan erat. Saya melihat ia menoleh ke orang-orang di sekitarnya dan menjabat tangan mereka dan menawarkan kedamaian, jadi saya melakukan hal yang sama. Orang-orang di sekitar saya sudah berbalik kea rah saya, dan satu per satu mereka tersenyum dan memberikan damai. Saya seorang perempuan yang sudah mengolok-olok mereka dan Tuhan yang mereka imani di sepanjang hidup saya. Saya yang sudah menghujat, mengutuk, dan mempermalukan mereka dengan tidak berperasaan. Ya! Itu saya!

Saya tahu kalau mereka tidak tahu semua ini, tetapi pada saat itu saya sadar bahwa Yesus tahu segala hal. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, jiwa saya benar-benar terbuka dan telanjang, Tuhan dan diri saya sendiri sama-sama melihatnya. Kami bisa melihatnya, semua kebusukan, keburukan, keegoisan, dan taka da tempat untuk bersembunyi. Saya merasa malu, dan saya tidak mengerti bagaimana saya bisa masuk ke rumah-Nya tanpa menerima hukuman. Meskipun dari dalam diri saya ada perasaan sangat malu, saya juga merasakan kasih dan pengampunan yang berasal dari luar diri saya, yang melingkupi saya terlepas dari segala kesalahan saya. Pada saat itu, saya tahu kalau saya sudah menemukan Tuhan; Saya sudah menemukan apa yang saya perlukan untuk mengisi lubang itu! Saya berada di rumah.

Saya tidak ingat kelanjutan di Misa itu. Yang saya ingat adalah perasaan sangat tenang dalam perjalanan pulang, mencoba menggali apa yang terjadi pada diri saya. Saya tahu kalau saya ingin menjadi Katolik, tetapi waktu itu saya tidak memberi tahu Dane. Kami kadang-kadang ikut Misa, dan ketika kami berusia 24 tahun, kami menikah. Dane menginginkan perkawinan Katolik, dan saya sepakat. Dengan senang hati menandatangani surat-surat bahwa saya akan membesarkan anak-anak kami dalam Iman Katolik, meskipun saya belum menjadi Katolik. Saya mencoba ikut RCIA (Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.) tanpa seorang sponsor (wali) yang harus seorang Katolik yang taat, saya tidak pernah lolos melewati sesi pertama.

Empat tahun setelah pernikahan kami, saya hamil seorang anak laki-laki, dan kami pindah ke Arizona supaya Dane bisa ikut dalam bisnis keluarga. Sesampai di sana, ayah mertua saya berbicara dengan saya tentang RCIA. Saya punya alasan mengapa saya tidak perlu mengikutinya, termasuk alasan melahirkan persis di tengah-tengah RCIA. RCIA terlalu berlebihan bagi seorang ibu baru yang tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bayi pertamanya. Ia menolak alasan saya dan menyuruh saya untuk mencoba dulu. Dengan kesal, saya enggan menyetujuinya.

Kekayaan RCIA

RCIA menjadi perubahan besar bagi saya. Kedua mertua saya menjadi sponsor saya pada saat saya belajar dan mempertimbangkan Iman Katolik. Ketika anak saya lahir, tidak mungkin saya berhenti menghadiri kelas RCIA, dan ayah mertua saya benar, sangat mudah membawa bayi bersama saya. Pelajaran-pelajaran itu kaya akan materi.

Saya sudah menganut relativisme moral dan saya diajarkan oleh keluarga saya bahwa ajaran-ajaran Gereja tidak lebih dari pemaksaan keyakinan. Tetapi saya masih bisa melihat kebenaran itu harus objektif jika kebenaran itu ada sepenuhnya. Ada satu topik yang dibahas di RCIA yang membantu saya untuk melihat persoalan ini dengan lebih jelas, yaitu tentang keadilan sosial. Dunia sekuler mencekokkan keadilan sosial dengan paksa dan mengajari bagaimana cara saya berpikir tentang permasalahan sosial. RCIA mengajari saya bahwa Gereja Katoliklah yang mencetuskan keadilan sosial, dan memberikan pandangan untuk melihat masalah-masalah sosial sambil tetap menjunjung tinggi martabat manusia. Saya mulai melihat bagaimana Gereja Katolik menjadi mercusuar yang akan selalu menunjukkan kebenaran jika kita mau mengikutinya. Sungguh menjadi masuk akal bahwa Tuhan yang penuh kasih akan memberikan karunia yang luar biasa ini untuk membimbing kita di sepanjang hidup kita.

Saya juga mengagumi kekayaan dan keindahan tradisi-tradisi dalam Gereja Katolik. Saya menghargai tradisi keluarga saya sendiri, tetapi saya tidak melihat pentingnya kultur dari tradisi-tradisi tersebut. Dengan mempelajari sejarah dan tradisi Gereja Katolik yang kaya selama 2000 tahun, makna dan tujuannya untuk membawa kita kembali kepada Tuhan, membuat saya rindu untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus, yaitu Gereja-Nya. Saya juga rindu untuk mewariskan tradisi-tradisi ini kepada anak-anak saya, agar dapat membantu membentuk fondasi yang akan membantu mereka untuk menjalani kehidupan yang kudus.

Mempelajari sakramen-sakramen sangatlah indah. Sakramen-sakramen, terutama Rekonsiliasi dan Ekaristi, merupakan cara nyata Tuhan dapat menyentuh dan menyembuhkan kita, sama seperti yang Yesus lakukan ketika Ia masih ada di bumi, meskipun Ia menggunakan para imam-Nya untuk bertindak dengan cara in persona Christi. Sebelum mengikuti RCIA, pengakuan dosa membuat saya tertekan, seolah-olah mengakui dosa adalah pelanggaran privasi dan martabat kita. Sekalipun demikian, beban berat itu terangkat setelah Sakramen Rekonsiliasi pertama saya, dan sejak saat itu, Sakramen Rekonsiliasi menjadi sangat berarti dan memberikan kedamaian yang mendalam yang memenuhi diri saya. Saya sangat bersyukur atas sakramen ini.

Ternyata Tuhan ingin bersama saya dan memelihara tubuh saya seperti halnya jiwa saya, dengan memberikan Tubuh dan Darah-Nya yang nyata dalam rupa roti yang sederhana, merupakan anugerah yang membuat saya tercengang. RCIA membuat saya dapat menerima anugerah yang luar biasa ini untuk pertama kalinya, dan sejak saat itu kekaguman saya semakin bertambah. Tanggapan saya pastilah rasa syukur kepada Tuhan yang begitu mengasihi saya. Ia ingin berjalan bersama saya di sepanjang pekan dengan menjadi makanan bagi saya, seperti manna yang memberi makan orang Israel di padang gurun.

Pada bulan April 2015, pada Vigili Paskah, saya dan bayi laki-laki saya dibaptis, sementara itu saya berjuang keras mengingat kembali tangisan anak laki-laki saya ketika ia dilahirkan, saya juga ingat tangisannya pada saat pembaptisannya. Tangisannya begitu indah. Setelah itu, saya merasa sangat lega sampai-sampai saya berpikir jika saya menengadah ke surga, saya mungkin akan terbang ke atas sana!

Mimpi Buruk New Age

Meskipun saya tidak lagi mengikuti New Age, saat itu saya tidak berpikir kritis tentang aliran itu. Bagaimanapun juga, saya tidak pernah menganggap saya sendiri atau keluarga saya itu jahat. Baru di kemudian hari, tepat pada saat saya bergabung dengan Gereja Katolik, saya mempertanyakan pemikiran New Age. Waktu itu saya sedang mengobrol dengan seorang anggota keluarga tentang pilot yang dengan sengaja menabrakkan pesawat ke Pegunungan Alpen Prancis, menewaskan 144 penumpang yang ada di pesawat itu. Kami sangat sedih dan prihatin, tetapi kemudian orang yang saya sayangi berkata, ” Sebenarnya, semua orang itu memilih untuk mati dengan cara demikian, jadi kita tidak perlu bersedih untuk mereka.” Itulah pola pikir New Age. Saya sangat terkejut dan melontarkan pertanyaan seperti, “Jika jiwa kita benar-benar memilih nasib kita sendiri sebelum kita dilahirkan, bukankah itu artinya menjadikan diri kita seperti robot? Bagaimana jika kita ingin mengubah keputusan kita? Bagaimana dengan bayi yang dibawa di pesawat dan tidak bisa turun sendiri? Mengapa saat itu semua orang ketakutan? Bukankah seharusnya mereka tenang, menerima takdir yang sudah mereka pilih? Dan jika jiwa kita bisa memilih mati seperti ini, bukankah artinya kita menyerahkan jiwa lain untuk melakukan perbuatan jahat?”

Tidak ada jawaban yang memuaskan pertanyaan saya. Obrolan itu membuat saya sangat kesal, dan saya mulai memikirkan kembali dampak ideologi New Age. Saya menduga bahwa New Age adalah sarana lain bagi Iblis untuk memisahkan kita dari Tuhan yang esa dan sejati. New Age adalah buah terlarang, tetapi dalam kemasan yang berbeda. Setelah membaca buku Inside the New Age Nightmare karya Randall Baer, kecurigaan saya terbukti, dan saya mengubah pemikiran saya tentang New Age. New Age ini bukan sesuatu yang jinak, tetapi sesuatu yang berbahaya, seperti yang diajarkan oleh Alkitab dan Gereja Katolik. Saya membersihkan rumah saya dari semua pernak-pernik New Age: buku, perhiasan, kristal, dan kartu-kartu semuanya saya buang ke tempat sampah. Saya harus membuang beberapa barang, seperti kalung pentagram dan cincin yang pernah saya pakai, berkali-kali karena benda-benda itu datang kembali kepada saya.

Seorang Saksi Baru

Sejak menjadi anggota Gereja Katolik, rasa lapar untuk belajar tentang iman tidak pernah terpuaskan. Untungnya, saya tidak pernah kekurangan sumber untuk belajar tentang iman Katolik, maka saya selalu membaca dan belajar. Saya mencintai iman saya; Saya mencintai Gereja Katolik, dan saya mengasihi Yesus. Saya menjadi seorang ibu, istri, teman, anak perempuan, dan pribadi yang lebih baik karena-Nya. Meskipun keluarga saya tidak antusias dengan perubahan keyakinan yang saya alami, terutama ada seorang yang memohon supaya saya tidak menjadi Katolik, saya menjalin hubungan yang baik dengan mereka dan kami melakukan diskusi-diskusi yang sangat menarik tentang iman, yang amat saya hargai. Saya berdoa bagi keluarga saya setiap hari, karena banyak dari mereka yang masih bercokol dalam New Age. Saya berdoa semoga kesaksian saya dan kasih karunia Tuhan dapat membantu melembutkan hati mereka, dan mudah-mudahan suatu hari nanti, mereka akan membiarkan Yesus membuka pintu untuk membawa mereka pulang juga.

 

Nora Jensen adalah seorang ibu rumah tangga dan mengajar homeschooling dari tiga anak yang menawan. Dia tinggal di Phoenix bersama suami dan anak-anaknya. Nora dibesarkan sebagai penganut Wicca sejak ia berusia 11 tahun. Saat kuliah, dia meninggalkan Wicca dan merasakan keinginan yang mendalam untuk menemukan Tuhan, yang membawanya ke Gereja Katolik.

 

Sumber: “Peace Be With My Soul, Too”

Posted on 31 December 2022, in Kisah Iman and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: