Kecerdasan Buatan dan Iman

Oleh Jimmy Akin

AI dan Manusia (Sumber: catholic.com)

Akankah manusia menciptakan komputer dengan jiwa? Akankah kita harus berbuat amal kasih kepada robot selain kepada manusia?

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi topik hangat yang sering dibicarakan saat ini. Ada banyak berita mengenai hal ini. Mesin pencari mulai menggunakan AI sebagai cara baru. Begitu juga robot. Dan beberapa berbicara tentang singularitas di masa yang akan datang.

Apa yang dikatakan oleh iman dan akal budi tentang semua ini?

Bisakah robot memiliki jiwa? Apakah ada kebenaran dalam film fiksi ilmiah seperti Blade Runner? Apakah akan tiba saatnya kita harus menganggap kecerdasan buatan sebagai “sesama kita” (lihat Lukas 10:29-37)? Mari kita lihat masalah-masalah ini.

Pertama, apa itu kecerdasan buatan? Kecerdasan buatan dapat didefinisikan dengan berbagai cara, tetapi secara sederhana adalah kemampuan mesin untuk meniru kinerja manusia dan organisme hidup lainnya dalam melakukan tugas-tugas yang menuntut penggunaan kecerdasan.

Ada banyak bentuk kecerdasan buatan, dan sebagian besar sangat terbatas. Pertama kali mesin penjumlah mekanis mampu melakukan perhitungan matematis sederhana yang membutuhkan kecerdasan manusia, sehingga dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kecerdasan buatan primitif.

Kini, aspek kecerdasan buatan digunakan di semua jenis perangkat, mulai dari komputer, smartphone, mesin cuci, hingga lemari es. Pada dasarnya, apa pun yang memiliki chip komputer di dalamnya dan mampu melakukan beberapa bentuk operasi kecerdasan buatan adalah AI.

Namun, orang cenderung menggunakan istilah ini untuk aplikasi yang lebih mengesankan, dan terutama aplikasi yang belum dikembangkan. Penemuan luar biasa dari penelitian kecerdasan buatan adalah menghasilkan apa yang dikenal sebagai kecerdasan umum buatan atau kecerdasan buatan yang kuat (strong AI). Hal ini sering dipahami sebagai pemberian kemampuan kepada sistem mekanis untuk melakukan tugas-tugas berbasis kecerdasan sebaik atau lebih baik daripada manusia.

Apakah singularitas itu? Beberapa penulis berbicara tentang singularitas teknologi yang akan datang-yaitu, titik di mana perkembangan teknologi menjadi tidak terkendali dan tidak dapat dibalikkan, mengubah kehidupan dan budaya manusia dengan cara yang tak terduga.

Pengembangan strong AI dapat berperan dalam peristiwa ini. Penulis fiksi ilmiah Vernor Vinge melihat singularitas melibatkan pengembangan strong AI yang dapat terus meningkatkan dirinya sendiri, sehingga dapat melampaui kecerdasan manusia.

Beberapa penulis pernah mengatakan bahwa singularitas sudah dekat, bahwa kita sedang menjalani fase-fase awalnya, dan bahwa singularitas akan benar-benar terjadi antara tahun 2030 dan 2045.

Namun, penulis lainnya skeptis akan hal ini, dengan alasan bahwa kita belum mendekati strong AI, dan kita mungkin tidak akan pernah bisa mengembangkannya. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa tren yang akan mengarah pada singularitas bisa saja gagal.

Sebagai contoh, hukum Moore yang menyatakan bahwa daya komputasi berlipat ganda setiap dua tahun, yang terjadi justru saat ini sedang mengalami penurunan atau sudah mengalami penurunan, dan tanpa adanya peningkatan daya komputer yang besar dan berkelanjutan, maka mengembangkan strong AI atau membuat singularitas menjadi sangat kecil kemungkinannya.

Bisakah robot mempunyai jiwa? Tidak. Sejak zaman filsuf Yunani kuno seperti Aristoteles, jiwa telah dikenal sebagai hal yang membuat tubuh Anda hidup, dan sebagaimana Yakobus 2:26 mencatat, “tubuh tanpa roh adalah mati.”

Jiwa diasosiasikan dengan organisme hidup, sedangkan robot dan komputer tidak hidup. Oleh karena itu, keduanya tidak (dan tidak bisa) memiliki jiwa.

Ini bukan berarti bahwa kehidupan buatan tidak dapat dikembangkan. Hal itu merupakan pertanyaan yang terpisah, dan kehidupan alternatif secara kimiawi mungkin saja terjadi. Namun, entitas yang benar-benar hidup bukanlah komputer atau robot seperti yang dipahami saat ini.

Apakah ada kebenaran dalam film seperti Blade Runner? Ada kebenaran yang terkandung dalam semua bentuk fiksi, tetapi jika pertanyaannya adalah, “Apakah kita akan memiliki replikan (entitas bukan manusia dengan bentuk manusia fiksi hasil rekayasa biologis) seperti yang digambarkan dalam Blade Runner?,” maka jawabannya adalah, “Tidak dalam waktu dekat ini.”

Dalam film Blade Runner, peran Harrison Ford memburu “replikan” – makhluk buatan yang bisa dibedakan dari manusia hanya dengan tanda-tanda yang sangat halus yang akan muncul dalam dalam pengujian psikologis.

Makhluk-makhluk ini kelihatannya memiliki sifat biologis. Jika mereka hanyalah robot maka Anda tidak perlu melakukan tes psikologi. Anda bisa melakukan pengujian misalnya seperti “tes Shylock” dari drama The Merchant of Venice karya Shakespeare.

Dalam drama itu, Shylock berpendapat bahwa orang Yahudi sama seperti orang lainnya dengan mengatakan, “Jika Anda menusuk kami, bukankah kami akan berdarah?” Yang perlu Anda lakukan untuk membuka kedok robot yang menyerupai manusia (misalnya android) adalah menusuknya dengan jarum, apakah robot itu berdarah, dan kemudian melakukan tes darah.

Tes semacam itu tampaknya tidak akan membuka kedok sebuah replikan. Meskipun kita mulai menciptakan makhluk hidup sintetis (mereka dikenal sebagai xenobot), kita masih jauh dari kemampuan untuk menciptakan makhluk hidup sintetis yang dapat disamakan dengan manusia. Kita juga belum bisa membuat android yang seperti manusia.

Apakah ada saatnya kita harus menganggap kecerdasan buatan sebagai “sesama kita “? Jawaban singkatnya adalah tidak, tetapi dengan satu syarat.

Untuk melihat prinsip-prinsip yang terkait, pertimbangkan kasus mengenai binatang. Makhluk hidup yang bukan manusia tidak memiliki hak, tetapi bukan berarti kita dapat memperlakukan mereka dengan tidak hormat. Kita dapat menggunakan mereka untuk melayani kebutuhan manusia, seperti yang dinyatakan dalam Katekismus, “Bertentangan dengan martabat manusia ialah menyiksa binatang dan membunuhnya dengan cara yang tidak wajar” (2418).

Alasan mengapa kita tidak boleh berbuat kejam terhadap binatang adalah karena perbuatan itu bertentangan dengan martabat manusia – yaitu, ada cacat dalam diri manusia yang memperlakukan binatang secara tidak berperasaan. Meskipun seekor anjing tidak memiliki hak asasi, manusia yang menyiksa anak anjing untuk bersenang-senang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang cacat pada diri manusia.

Tentu saja, AI tidak memiliki kemampuan untuk menderita, tetapi mereka bisa berbuat seolah-olah menderita. Dengan sengaja menstimulasi AI dengan cara yang membuatnya terlihat menderita – dan katakanlah AI memohon belas kasihan – akan setara dengan sengaja memainkan video game berbasis penyiksaan di mana pemainnya sengaja menyiksa korban yang disimulasikan untuk bersenang-senang. Faktanya, karena video game dijalankan dengan mesin AI, maka itulah yang akan dilakukan oleh pemain.

Namun, kita akan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan seseorang yang mendapatkan kesenangan dari menyiksa karakter videogame dengan sengaja – misalnya, mencabut kuku karakter tersebut untuk mendengarnya berteriak dan memohon ampun.

Dengan demikian, posisi AI mirip dengan posisi hewan. AI tidak mempunyai hak, tetapi dapat digunakan untuk melayani kebutuhan manusia, dan tidak boleh dianggap setara dengan manusia. Mereka bukanlah “sesama kita,” tidak peduli seberapa pintarnya mereka. Namun, sejauh mereka meniru respons manusia, kita harus berinteraksi dengan mereka dengan cara yang tidak kejam.

Bukan untuk kepentingan mereka, tetapi untuk kepentingan kita.

 

Catatan kaki:
Strong AI adalah istilah yang mengacu kepada kecerdasan buatan yang mampu memecahkan masalah tanpa campur tangan manusia. Kebalikannya adalah weak AI yang merupakan kecerdasan buatan yang tidak mampu melakukan tugasnya tanpa bantuan manusia (dalam bentuk kode dan perancangan) contohnya adalah asisten virtual seperti Amazon Alexa, Apple Siri, Google Assistant dan Samsung Bixby. (Referensi: Binus University)

 

Sumber: “Artificial Intelligence and the Faith”

Posted on 13 June 2023, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.