Busana Sopan di Gereja

Oleh Sarah Cain

Memilih pakaian (Sumber: catholic.com)

Apa yang Anda pakai menunjukkan apa yang Anda imani.

Setiap tanggal 30 Agustus di Amerika Serikat diperingati sebagai Hari Pantai Nasional, pada hari ini banyak korporasi di Amerika akan memenuhi media sosial dengan foto-foto wisatawan yang berpakaian minim di pantai. Seiring berjalannya waktu, busana pantai berangsur-angsur menjadi lebih terbuka, kini banyak pakaian wanita yang semakin tidak tertutup ketimbang pakaian dalam yang dikenakan di balik pakaian biasa.

Sungguh tragis, karena orang-orang yang berpakaian seperti itu bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis justru dengan merendahkan martabat mereka sendiri. Menurut Josef Pieper, berpakaian sopan adalah kebiasaan “menjaga diri tidak egois,” yang merupakan suatu pembuktian dari rasa hormat terhadap diri sendiri yang didasarkan pada penghargaan terhadap tubuh sebagai bait Roh Kudus.

Di zaman modern ini, kesopanan cenderung dianggap sebagai sesuatu yang kuno, seolah-olah merupakan kebiasaan kuno yang secara khusus memerintahkan cara berpakaian wanita demi kepentingan pria. Hal ini sangat terbalik. Busana yang sopan adalah untuk kepentingan orang yang memakainya. Hal ini menunjukkan nilai seseorang, menegaskan martabatnya sebagai sesuatu yang layak dilindungi, dan menghindari dirinya direndahkan menjadi pajangan untuk kepentingan orang asing.

Salah satu tempat di mana kesopanan terlalu sering dilupakan di zaman modern ini adalah di gereja. Cara kita berpakaian saat menghadiri Misa harus dipertimbangkan karena pakaian kita mempengaruhi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Jika dulu kita harus berpakaian formal untuk menghadiri Misa, pemahaman ini berangsur-angsur terkikis, didorong oleh mereka yang dengan lantang mengatakan “Gereja bukanlah kontes mode.” Mereka benar: Gereja adalah rumah Tuhan, dan dengan demikian jauh lebih penting daripada kontes mode. Pengakuan bahwa gereja adalah rumah-Nya haruslah disertai dengan rasa hormat. Sama seperti bagaimana kita berlutut sebagai bentuk pengakuan fisik akan kehadiran-Nya di dalam Tabernakel, demikian juga kita harus berpakaian yang pantas dengan realitas yang sesuai.

Ketika akan mengunjungi orang penting, kebanyakan orang akan berusaha untuk berpakaian sebaik mungkin. Hal ini merupakan tanda penghormatan dan pengakuan atas posisi yang dipegang oleh orang penting tersebut. Jadi, jika kita menyadari bahwa kita sedang mengunjungi Tuhan di tempat ibadah yang sakral, maka hal itu akan membantu memberikan konteks mengapa berpakaian dengan sopan harus dilakukan.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa anjuran berpakaian formal adalah sebuah pelanggaran terhadap orang miskin, tetapi hal itu tidak masuk akal. Tidak ada yang menyarankan supaya umat membandingkan merek-merek pakaian setelah Misa atau membandingkan label harga. Sebaliknya, berpakaianlah dengan penuh hormat dan kerendahan hati. Sebagian besar orang Amerika dapat melakukannya. Orang yang paling miskin di masyarakat kita pun berpakaian semampunya. Masalahnya justru ada di antara kita yang tidak berpakaian semampunya, yaitu mereka berpakaian ke gereja dengan usaha yang sangat minim dibandingkan dengan berpakaian ke acara-acara lain yang justru dilakukan dengan penuh hormat.

Sering kali celana pendek dan kaos oblong tidak sesuai bahkan untuk sekadar bermain golf di sore hari. Terlebih lagi, dalam konteks beribadah kepada Tuhan, di hari ibadahnya, di rumah ibadahnya.

Bagaimana kita bertindak (termasuk apa yang kita pilih untuk dipakai) adalah suatu cerminan dari apa yang kita imani. Pada saat iman akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi berada pada titik terendah, kita harus merenungkan apakah tindakan kita menunjukkan iman kita.

Berikut ini adalah contoh latihan berpikir: apakah seorang anak akan melihat saya di gereja dan memahami bahwa Misa adalah sebuah acara yang penting? Akankah anak saya percaya bahwa acara ini sangat penting bagi saya? Apakah sikap saya sebelum, selama, dan setelah Misa menunjukkan bahwa ada sesuatu yang istimewa yang terjadi di altar?

Ingatlah bahwa pakaian formal yang kita pilih adalah untuk menunjukkan rasa hormat kita kepada Tuhan, maka tidaklah tepat untuk mengenakan pakaian untuk menarik perhatian orang lain terhadap kita. Ini adalah salah satu bagian yang membedakan dengan acara-acara formal lainnya. Jadi, secara umum diterima bahwa bahu wanita harus ditutupi, tidak boleh mengenakan atasan atau gaun berpotongan rendah, dan panjang rok harus di bawah lutut.  Beberapa wanita memilih untuk mengenakan kerudung Misa (mantilla), karena yang kudus itu terselubung, karena mereka sendiri kudus sebagai bejana kehidupan. Peran mereka dalam kuasa ilahi yang memberi kehidupan itu terselubung, layaknya bejana suci, dan diungkapkan dalam keadaan yang terbatas, dan tidak sembarang terbuka. Kerudung dulunya adalah norma tetapi sekarang adalah pilihan pribadi.

Jika kita percaya dengan apa yang kita katakan dan lakukan, maka kita harus peduli dengan simbolisme dari pilihan kita. Seperti halnya gedung gereja yang secara historis dirancang untuk mengingatkan orang-orang akan kehadiran Tuhan di dalamnya melalui kemegahan, seni, dan keindahan, setiap orang juga harus melakukan hal yang sama dengan cara berpakaian dan berperilaku.

 

Sumber: “Modesty in Church”

Posted on 7 October 2023, in Kenali Imanmu and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.