Mengapa Kita Mempersembahkan Misa untuk Orang Meninggal?

Oleh John M. Grondelski

Pemakaman (Sumber: catholic.com)

Singkatnya, karena cinta kasih menuntut demikian.

Sebelumnya, kita sudah membahas bagaimana Ekaristi adalah kurban yang dihadirkan di sini (di gereja ini di New York City) dan sekarang (16 Agustus 2023), persembahan diri Yesus di Kalvari dalam tindakan ketaatan-Nya yang sempurna dan absolut kepada Bapa yang membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Mari kita lanjutkan dengan pertanyaan lain: mengapa kita merayakan Misa bagi orang yang sudah meninggal?

Umat Katolik terkadang memberikan “undangan Misa” kepada orang-orang yang berduka – undangan yang menyatakan bahwa Misa akan dirayakan di tempat dan waktu tertentu (atau mengumumkan ajakan dalam suatu persekutuan rohani yang anggotanya rutin merayakan Misa) untuk orang yang sudah meninggal. Hal ini merupakan sesuatu yang unik dalam agama Katolik; salah satu prinsip utama Reformasi Protestan yang menolak daya guna doa bagi orang yang meninggal.

Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa identitas rohani seseorang yang bersifat permanen terbentuk pada saat kematian. Seseorang membuat dirinya menjadi jenis pribadi tertentu secara moral, baik atau buruk seseorang di sepanjang hidupnya, yaitu ketika tubuh dan jiwanya bersatu. Kematian yang artinya pemisahan tubuh dan jiwa, maka waktu seseorang untuk mengubah identitas moralnya telah berakhir. Seperti apa dia semasa hidupnya, itulah dirinya untuk selamanya. Itulah mengapa kita umat Katolik berbicara tentang kematian, diikuti dengan penghakiman, yang berakhir di surga atau neraka.

Atau melalui api penyucian.

Api penyucian atau purgatorium adalah ajaran Katolik lainnya yang ditolak oleh Reformasi Protestan. Namun, inilah sebuah realitas yang sesuai dengan kehidupan dan pengalaman manusia.

Dosa mortal/berat yaitu dosa yang menghancurkan kehidupan Allah di dalam jiwa kita karena dosa ini secara radikal bertentangan dengan cinta kasih adikodrati, cinta kasih sehingga sangat pantas disebut sebagai dosa. Namun, kita juga tahu bahwa ada banyak dosa yang dilakukan manusia yang tidak sepenuhnya merusak hubungan mereka dengan Allah, karena masalahnya sendiri tidak berat, dosa-dosa yang tidak sungguh-sungguh dilakukan, dan/atau kebebasan seseorang dalam beberapa hal terganggu (misalnya mungkin orang itu mengalami kecanduan). Hal-hal yang mereka lakukan memang salah. Allah itu sempurna; oleh karena itu, tidak ada sesuatu yang ternoda oleh dosa sedikit pun yang dapat berada di hadirat-Nya. Api Penyucian adalah sebuah cara bagi orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat (yaitu tidak ternoda oleh dosa berat) tetapi juga belum sempurna dalam cinta kasih untuk menjadi sempurna.

Api Penyucian memurnikan jiwa dari dosa-dosa duniawi yang menghalangi naiknya jiwa secara sempurna kepada Allah. Namun, seperti yang telah disebutkan di atas, kematian mengakhiri kemampuan seseorang untuk berubah secara moral, karena tubuh dan jiwa yang tadinya satu pribadi yang tidak terpisahkan sekarang terpisah. Oleh karena itu, jiwa bersifat pasif terhadap dirinya sendiri. Jiwa tidak dapat melakukan apa pun untuk dirinya sendiri (meskipun, karena kasih, jiwa dapat melakukan sesuatu untuk orang lain, itulah sebabnya kita dapat memohon doa-doa dari orang-orang yang sudah meninggal). Selama ada cinta kasih adikodrati, kita selalu dapat membantu orang lain.

Sebagai umat Katolik, kita mengakui “persekutuan para kudus” – yaitu bahwa orang-orang yang ada di dunia, di api penyucian, dan di surga tetap terhubung dengan ikatan cinta kasih (lihat Katekismus Gereja Katolik 958). Itulah sebabnya, bahkan sejak dalam Perjanjian Lama, penulis Alkitab mengatakan kepada kita, “Namun, jika ia memandang pahala mulia yang disediakan bagi semua orang yang meninggal dalam kesalehan, pikiran itu suci dan saleh” (2 Makabe 12:45 TB2).

Kita yang masih hidup, dapat melakukan perbuatan cinta kasih bagi umat beriman yang sudah meninggal di api penyucian yang tidak dapat mereka lakukan bagi diri mereka sendiri. Cinta kasih kita dapat diberikan kepada mereka untuk membantu silih atas dosa-dosa mereka.

Nah, jika kita mengharapkan doa untuk menebus dosa, tidak ada doa yang lebih sempurna, tidak ada doa yang lebih absolut, tidak ada doa yang lebih lengkap daripada pengorbanan Kristus, yang hadir dalam kurban Misa. Ketika imam mempersembahkan Misa untuk intensi tertentu, baik untuk seseorang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, doa ketaatan Yesus yang sempurna dipersembahkan kepada Allah secara khusus karena kasih kita kepada orang tersebut. Kita dapat mempersembahkan doa-doa kita sendiri, tindakan penyangkalan diri, atau amal kasih atas nama mereka, tetapi tidak ada doa yang lebih berdaya guna juga tidak ada tindakan yang lebih berdaya guna daripada pengorbanan Yesus sendiri (KGK 1032, 1055). Bagaimanapun juga, kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi Allah memampukan “persembahan janda miskin” dari perbuatan-perbuatan baik kita yang dilakukan dalam kasih karunia dan cinta kasih untuk memberikan sumbangsih. Tetapi pengorbanan Yesus (yang memungkinkan cinta kasih kita) adalah sebuah realitas yang secara kualitatif dan sepenuhnya lain.

Itulah sebabnya mengapa umat Katolik mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang mereka cintai dengan Misa pemakaman segera setelah meninggal dunia (KGK 1689) dan mengapa mereka secara teratur mengatur Misa yang dirayakan untuk orang yang mereka cintai, terutama pada hari ulang tahun meninggalnya. Kita percaya bahwa, melalui Kristus, kita tetap bersatu dengan mereka yang telah “mendahului kita, yang sudah ditandai dengan tanda iman,” dan bahwa tidak ada cara yang lebih baik bagi kita untuk mencapai rumah Bapa selain melalui penghadiran kembali kurban Yesus dalam Misa.

Izinkan saya menawarkan satu pengamatan modern. Seringkali, terutama dalam pemakaman non-Katolik atau film dan acara televisi yang menampilkan pemakaman, penekanannya adalah pada kehidupan almarhum: apa yang sudah dilakukannya, apa yang sudah dicapainya, betapa hebatnya dia sebagai seorang pribadi, pasangan, orang tua, dan sebagainya. Sering kali, ada eulogi yang berfokus pada poin-poin penting tersebut.

Pendekatan itu tampaknya terbalik. Tampaknya benar-benar tidak percaya pada kehidupan setelah kematian, atau dengan berani mengasumsikan bahwa “semua anjing [dan manusia] masuk surga.” Sebagai orang Katolik, kita diharapkan lebih realistis: orang sering mati dengan beberapa cacat moral (sesuatu yang, jika dipaksakan, akan diakui oleh orang yang memberikan eulogi). Jadi, alih-alih berfokus pada apa yang telah berlalu, apa yang tidak dapat diubah, umat Katolik ingin berfokus pada apa yang ada: seorang saudara yang membutuhkan doa-doa kita saat ia berdiri di hadapan Tuhan yang penuh belas kasih dan juga adil. St. Ambrosius menyimpulkannya: “Kita telah mengasihi mereka semasa hidup; janganlah kita meninggalkan mereka dalam kematian, sebelum kita mengantar mereka dengan doa-doa kita ke rumah Tuhan.”

Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk melakukan hal itu selain melalui Kurban Kudus Misa.

 

Sumber: “Why Do We Offer Masses for the Dead?”

Posted on 8 November 2023, in Ekaristi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.