Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Dogma-dogma Maria kan Tidak Ada dalam Alkitab?
Oleh Diakon Paul Maxey

Maria dan Bayi Yesus (Sumber: catholic.com)
Jika hanya ada sedikit bukti alkitabiah mengenai doktrin-doktrin ini, mengapa Gereja mengajarkannya?
Ketika saya baru masuk seminari, pertanyaan terbesar saya adalah, “Di manakah ayat Alkitab yang mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda?” Saya pikir pasti ada di suatu perikop dalam Alkitab. Mungkin ada istilahnya dalam bahasa aslinya, tetapi tidak ada dalam terjemahan bahasa Inggris.
Saya mencari sampai saya menemukan jawaban yang kuat, tetapi jawabannya bukan berasal dari Alkitab. Saya menemukannya dalam tulisan-tulisan St. John Henry Newman.
Newman tidak berkata, “Dogma-dogma tentang Maria tidak dapat dibuktikan dengan Kitab Suci saja.” Tetapi yang ia lakukan adalah menjelaskan dogma Maria yang paling relevan dengan zamannya (Maria Dikandung Tanpa Noda), dan ia tidak menggunakan Kitab Suci sebagai sumber utama untuk melakukannya. Sumber utama Newman adalah tulisan-tulisan orang Kristen perdana, yang ia sebut sebagai para Bapa Gereja.
Di antara para cendekiawan yang mempelajari Newman, berikut ini adalah kutipan yang terkenal:
Para Bapa Gereja yang menjadikan saya Katolik, dan saya tidak akan menendang tangga yang saya gunakan untuk menaiki Gereja. Inilah tangga yang masih dapat digunakan untuk tujuan itu sekarang, seperti halnya dua puluh tahun yang lalu. Seperti yang Anda ketahui, saya percaya bahwa dengan berjalannya waktu, saya mengalami suatu proses perkembangan dalam kebenaran apostolik, namun perkembangan ini tidak menggantikan para Bapa Gereja melainkan menjelaskan dan melengkapinya.
Terus terang saja, pengajaran Katolik tentang Maria sangat ditentang oleh saudara-saudari Protestan. Mereka menganggap kita menyembah Maria sebagai sesembahan. Kita harus memahami dengan baik apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Maria sehingga kita dapat mempertanggungjawabkan keyakinan kita. Jadi, mari kita lihat bagaimana pendekatan Newman dapat membantu kita menjelaskannya.
Ada empat ajaran tentang Maria (juga dikenal sebagai dogma) yang harus diimani oleh umat Katolik tentang Maria:
- Maria adalah seorang perawan abadi: dia tetap perawan sepanjang hidupnya.
- Maria adalah Bunda Allah (artinya dia melahirkan Yesus, yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia).
- Maria Dikandung Tanpa Noda: Tidak seperti umat manusia lainnya, Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Tentu saja Yesus juga tidak dikandung dengan dosa asal karena Dia adalah Allah, dan dosa tidak ada kaitannya dengan Allah).
- Maria Diangkat ke Surga: Di akhir hidupnya di bumi, Maria diangkat ke surga, jiwa dan raganya. Hal ini selaras dengan kenaikan Kristus ke surga.
Apakah ajaran-ajaran ini diajarkan dalam Alkitab? Alkitab tentu saja tidak bertentangan dengan doktrin-doktrin ini, tetapi Alkitab juga tidak mengajarkannya secara eksplisit. Tidak ada satu pun ayat dalam Alkitab yang secara jelas mengatakan bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya. Meskipun malaikat Gabriel menyebut Maria penuh rahmat (Lukas 1:28) dapat mengindikasikan bahwa Maria dikandung tanpa noda, namun ayat ini tidak dapat dijadikan sebagai bukti (28). Mengenai Maria diangkat ke surga, jika saya adalah seorang Protestan, saya mungkin akan ragu untuk menerima argumen bahwa Wahyu 12 membuktikan bahwa Maria diangkat ke surga. Meskipun dapat dibuktikan dari Kitab Suci, kebundaan Maria harus ditetapkan secara resmi dalam Konsili Efesus pada tahun 431.
Jika Kitab Suci tidak dapat membuktikan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Maria, lalu mengapa kita mempercayai ajaran-ajaran tersebut? Kita mempercayainya karena umat Kristiani perdana tidak menganut sola scriptura. Sebaliknya, mereka juga percaya pada Tradisi Apostolik.
Kitab Suci sendiri mengajarkan bahwa Alkitab bukanlah satu-satunya otoritas (atau otoritas tertinggi). St. Paulus menyatakan dalam 2 Tesalonika 2:15 bahwa umat Allah harus berpegang teguh pada Kitab Suci (apa yang telah ia tuliskan) dan Tradisi (apa yang telah ia ajarkan dari mulut ke mulut): “Sebab itu, Saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik melalui pemberitaan maupun surat (TB2).” Oleh karena itu, Paulus juga bukan pengikut sola scriptura: baginya, Kitab Suci dan tradisi lisan membawakan otoritas yang independen satu sama lain.
Umat Kristiani perdana jelas merasakan hal yang sama:
St. Basilius Agung menulis pada tahun 375,
Dari dogma-dogma dan kerygma (pewartaan) yang dilestarikan di dalam Gereja, beberapa di antaranya kita miliki dari pengajaran tertulis, dan yang lainnya kita terima dari tradisi para Rasul. … Dalam hal kesalehan, keduanya memiliki bobot yang sama … seandainya kita mencoba untuk menolak kebiasaan-kebiasaan yang tidak tertulis karena tidak memiliki otoritas yang besar, tanpa disadari kita akan melukai Injil sampai ke intinya. … Karena kita tidak puas dengan perkataan para rasul atau yang tertulis dalam Injil, tetapi kita juga mengatakan hal-hal lain … dan kita menganggap perkataan-perkataan lain itu, yang telah kita terima dari ajaran yang tidak tertulis, sebagai sesuatu yang sangat penting.
St. Epifanius dari Salamis secara eksplisit menentang prinsip hanya kitab suci saja ketika ia menulis (antara tahun 374 dan 377),
Perlu juga untuk menggunakan Tradisi, karena tidak semua hal dapat diperoleh dari Kitab Suci. Para rasul suci mewariskan beberapa hal di dalam Kitab Suci, dan hal-hal lainnya ada di dalam Tradisi (Penawar Terhadap Segala Ajaran Sesat).
Menjabarkan 2 Tesalonika 2:15, yang telah kami kutip di atas, St. Yohanes Krisostomus menulis (antara tahun 398 dan 404) bahwa para rasul,
tidak semua hal diwariskan melalui surat, tetapi ada banyak hal yang tidak tertulis. Seperti yang tertulis, yang tidak tertulis pun layak untuk dipercayai. Jadi, marilah kita memandang tradisi Gereja juga sebagai sesuatu yang layak dipercaya. Apakah itu sebuah tradisi? Tidak usah dipertanyakan lagi.
Martin Luther berpikir bahwa St. Agustinus adalah orang pertama yang menganut sola scriptura. Luther menulis, “Di sini saya mengikuti teladan St. Agustinus, di antara hal-hal lainnya, ia adalah orang pertama dan hampir satu-satunya orang yang bertekad untuk tunduk pada Kitab Suci saja.” Tetapi mengenai tradisi-tradisi yang dipelihara oleh seluruh gereja Agustinus menulis dalam surat kepada Januarius (400 M),
Mengenai perayaan-perayaan yang kita ikuti dengan saksama dan yang dipelihara oleh seluruh dunia, dan yang tidak berasal dari Kitab Suci tetapi dari Tradisi, kita diberi pengertian bahwa perayaan-perayaan itu dianjurkan dan ditetapkan untuk dipelihara, baik oleh para Rasul sendiri maupun oleh konsili-konsili paripurna, yang otoritasnya sangat penting di dalam Gereja.
Sekarang kita sudah melihat bahwa Kitab Suci dan Tradisi Apostolik memiliki otoritas pengajaran, kita dapat lebih memahami mengapa keempat ajaran Maria ini tidak secara eksplisit ada di dalam Alkitab. Ajaran-ajaran itu disampaikan kepada kita melalui Tradisi Apostolik dan perkembangan-perkembangannya.
Perlu adanya pemahaman yang lebih mendalam akan kontribusi St. John Henry Newman dalam bidang apologetika Katolik dan Mariologi, terutama dalam karyanya Surat kepada Pusey dan Esai tentang Perkembangan Doktrin Kristiani. Tanpa kedua karya ini, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam perangkap untuk mencoba membuktikan ajaran-ajaran tentang Maria dari Kitab Suci saja. Kenyataannya, ajaran-ajaran ini tidak dapat dipertahankan secara memadai tanpa Tradisi Apostolik atau otoritas pengajaran Gereja Katolik yang infalibel (tidak dapat salah). Namun, dengan keduanya, apa yang diajarkan Gereja Katolik tentang Maria dapat dipertahankan dan dibuktikan.
Posted on 7 December 2024, in Apologetika and tagged Maria, St. Agustinus, St. Basilius Agung, St. Epifanius dari Salamis, St. John Henry Newman. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0