Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Natal Berasal dari Perayaan Pagan?
oleh Joe Heschmeyer

(Sumber: catholic.com)
Orang-orang non-Kristen yang merasa pintar senang sekali membuat polemik tentang Natal di masa-masa seperti ini.
Sudah menjadi kebiasaan tahunan di era internet untuk memperingati hari raya besar umat Kristiani seperti Natal, Paskah, dan bahkan Halloween dengan artikel-artikel yang mengklaim bahwa semua itu adalah hari raya kafir yang diadopsi oleh umat Kristiani. Bukti-bukti untuk hal ini berkisar dari “lemah” hingga “secara harfiah dibantah dalam sumber-sumber awal.”
Bahkan Snopes.com, yang membanggakan diri dalam menyanggah informasi yang salah menayangkan sebuah artikel dari Lorna Piatti-Farnell (profesor budaya populer di Auckland University of Technology) tentang “The Borrowed Customs and Traditions of Christmas Celebrations (Kebiasaan dan Tradisi yang Dipinjam dalam Perayaan Natal),” dalam artikel itu ia mengklaim menemukan jejak sejumlah hari raya pagan di balik kedok Natal. Menurut Piatti-Farnell, “meskipun Natal seolah-olah merupakan perayaan Kristen atas kelahiran Yesus, banyak ritual dan adat istiadat yang berasal dari tradisi lain, baik yang bersifat spiritual maupun sekuler.” Mari kita lihat bagaimana klaim tersebut dapat dibuktikan.
Pertama, apakah Natal diambil dari Saturnalia? Piatti-Farnell menganggap penanggalan 25 Desember sebagai suatu hal yang bersifat sugestif, dengan mengatakan,
Tidaklah sulit untuk menemukan kesamaan antara tradisi Natal saat ini dan sudah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dengan festival Romawi, Saturnalia, yang juga dirayakan pada bulan Desember dan hidup berdampingan dengan kepercayaan Kristen selama beberapa periode.
Saturnalia menekankan pada berbagi makanan dan minuman, serta menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih saat musim dingin tiba. Bahkan ada bukti bahwa orang Romawi bertukar hadiah kecil berupa makanan untuk menandai perayaan ini.
Alasan mengapa “tidaklah sulit untuk menemukan kesamaan” antara Natal dan Saturnalia adalah karena kesamaan yang ia sebutkan yaitu orang makan dan minum bersama dan terkadang berbagi hadiah adalah hal yang sangat umum sehingga dapat menggambarkan hampir semua hari raya besar di hampir semua budaya. Haruskah kita menyimpulkan (misalnya) bahwa Saturnalia itu sendiri dipinjam dari hari raya Yahudi yang lebih tua yaitu Hanukkah, hanya karena orang-orang makan dan minum bersama di bulan Desember? Atau mungkinkah agama dan budaya yang berbeda memiliki hari raya mereka sendiri di bulan Desember?
Semakin Anda melihat detailnya, semakin tidak mirip kedua hari raya tersebut. Misalnya, Saturnalia jatuh pada tanggal 17 Desember, meskipun sejarawan Romawi, Macrobius, mencatat bahwa orang-orang akan memperpanjang “kemeriahan umum dan kegembiraan religius” mereka hingga hari raya Sigillaria pada tanggal 23 Desember. Sebaliknya, “dua belas hari Natal” berlangsung dari tanggal 25 Desember hingga 6 Januari. Jika tanggal Natal ditetapkan untuk meredam (atau bersaing dengan) festival pagan Saturnalia, mengapa Natal tidak ditetapkan pada saat Saturnalia? Dan mengapa tidak ada satupun orang Kristen perdana yang tampaknya memperhatikan atau menyebutkan hubungan ini?
Tapi mungkin saja Natal bukan berasal dari Romawi, melainkan dari Skandinavia. Piatti-Farnell membuat klaim yang berani bahwa “melalui ide pemberian hadiah, kita melihat hubungan yang jelas antara Odin dan Sinterklas.” Apa “hubungan yang jelas” ini? Inilah argumennya:
Dalam agama Nordik, Yule adalah festival musim dingin yang dirayakan selama periode yang sekarang kita kaitkan dengan bulan Desember.
Permulaan Yule ditandai dengan datangnya Perburuan Liar, suatu peristiwa spiritual ketika dewa Nordik, Odin, akan mengendarai kuda putih berkaki delapan melintasi langit.
Meskipun perburuan ini merupakan pemandangan yang menakutkan untuk dilihat, namun juga membawa kegembiraan bagi keluarga, dan terutama anak-anak, karena Odin diketahui meninggalkan hadiah kecil di setiap rumah saat ia berkuda.
Memang benar bahwa ada festival musim dingin yang bernama Yule yang dirayakan oleh kaum pagan Nordik sebelum kedatangan agama Kristen, tapi hanya sedikit yang kita ketahui tentang festival ini. Selain bahwa festival ini dilakukan dengan minum-minum dan ritual makan hati kuda. Dengan kata lain, sedikit yang kita ketahui tidak terlihat seperti Natal. (Kata “Yule” kemudian menjadi kata umum untuk Natal, itulah sebabnya kita memiliki frasa seperti “yule logs” meskipun kata ini baru muncul pada abad ke-16).
Mengenai gagasan bahwa Odin berkuda melintasi langit dalam “Perburuan Liar” sebagai cikal bakal dari gambaran populer tentang kereta luncur ajaib Sinterklas, sejarawan (sekaligus pagan) Ronald Hutton menunjukkan bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Dia menjelaskan, “Di balik seluruh konsep Perburuan Liar, pada akhirnya ada satu buku berjudul Deutsche Mythologie (Mitologi Jerman, atau ’Teutonik’) karya Jacob Grimm yang diterbitkan pada tahun 1835.” Grimm (salah satu dari dua Grimm Bersaudara yang terkenal dengan dongengnya) yakin bahwa ada beberapa mitos yang sama, termasuk mitos tentang “perburuan liar” yang ditemukan di berbagai budaya “Teutonik.” Tetapi tidak ada sumber kuno yang mendukung gagasan ini. Sebaliknya,
seperti yang diperlihatkan oleh [Claude] Lecouteux, sumber-sumber abad pertengahan dan awal modern merujuk pada tiga jenis pemburu spektral: setan, yang mengejar orang-orang berdosa; pemburu manusia yang berdosa, yang dikutuk untuk berkeliaran tanpa istirahat sebagai penebusan dosa; dan manusia liar yang mengejar mangsa dari dunia lain dan terkadang hewan ternak (Lecouteux 2011, 56-84). Tak satu pun dari mereka biasanya memiliki pengikut, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, dan karenanya tidak ada aspek-aspek yang kemudian dianggap sebagai Perburuan Liar.
Gambaran populer tentang Santa dengan kereta luncurnya tidak berasal dari Perburuan Liar Odin (karena itu bukan mitos asli bangsa Nordik kuno), atau dari mitos kuno tentang setan yang mengejar orang berdosa, atau pemburu yang mengejar mangsa. Itu juga bukan dari buku Grimm tahun 1835 yang tidak akurat. Sebaliknya, kita dapat dengan pasti melacak elemen tradisi Natal ini dalam sebuah puisi Amerika, A Visit from St. Nicholas dari tahun 1827.
Mengenai gagasan bahwa Odin memberikan hadiah kepada anak perempuan dan anak laki-laki yang baik, pakar Nordik Kuno, Jackson Crawford, menunjukkan bahwa ini adalah penyimpangan yang liar dari “hadiah” Odin:
Odin juga bukan sosok yang diasosiasikan dengan pemberian hadiah, tentu saja bukan jenis pemberian hadiah yang baik hati, tanpa pamrih, dan ramah seperti yang dilakukan Sinterklas. Contohnya, dalam Hikayat Völsung, Odin memberikan hadiah kepada manusia, tapi itu selalu berupa hadiah untuk manusia yang nantinya akan ia panen atau bunuh secara langsung untuk pasukannya di Valhalla.
Sekali lagi, begitu kita membandingkan kebiasaan pagan dan kebiasaan Kristen, kita melihat bahwa keduanya memiliki sedikit kesamaan daripada yang terlihat pada awalnya.
Namun, masih ada satu detail yang belum diketahui: bagaimana dengan fakta bahwa Odin yang bermata satu itu mengendarai kuda berkaki delapan, Sleipnir? Ini adalah detail yang cukup penting sehingga dalam Hikayat Hervor & Raja Heidrek yang Bijaksana, Gestumblindi (yang sebenarnya adalah Odin yang sedang menyamar) mengajukan suatu teka-teki: “Siapakah mereka berdua, yang memiliki sepuluh kaki, tiga mata, dan satu ekor?” Jawabannya, tentu saja, adalah Odin yang mengendarai kuda berkaki delapan. Dan benar saja, ini memang terlihat seperti Santa dan rusa kutubnya… asalkan Anda tidak tahu perbedaan antara rusa kutub dan kuda, atau antara dewa Norse bermata satu dan seorang kudus bermata dua, atau antara satu hewan dengan delapan kaki dan delapan hewan dengan masing-masing empat kaki.
Gestumblindi pasti akan terkejut mengetahui bahwa para cendekiawan seperti Lorna Piatti-Farnell mengira bahwa Santa dan rusa-rusa kutubnya (dengan total delapan belas mata, tiga puluh empat kaki, dan delapan ekor, belum termasuk satu rusa kutub yang bernama Rudolph) terlihat seperti Odin dan Sleipnir yang memiliki “sepuluh kaki, tiga mata, dan satu ekor.”
Pada akhirnya, ada keberatan yang aneh dari beberapa orang untuk percaya bahwa agama Kristen (dengan populasi 2,5 miliar penganut dan sejarah 2.000 tahun) tidak mampu menciptakan hari raya sendiri. Semua praktik-praktik yang tampaknya asli dari agama Kristen pasti diambil dari Romawi atau Skandinavia. Namun, semua itu tidak benar. Kita menemukan argumen awal untuk penanggalan hari kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember dalam tulisan-tulisan St. Hipolitus dari Roma (sekitar tahun 170 – 235), berabad-abad sebelum orang Kristen pernah mendengar tentang hari raya yang disebut “Yule.”
Dan mengenai detail dasar dari perayaan Natal, seseorang tidak perlu bertemu dengan seorang prajurit Nordik atau perwira Romawi untuk mengetahui bahwa makanan dan minuman serta pemberian hadiah dapat membuat orang bersukacita. Yesus bahkan menganggap pengetahuan semacam itu sebagai sesuatu yang sudah pasti: “Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Lukas 11:13 TB2). Jadi pada Natal kali ini, rayakanlah hari raya Tuhan kita dengan pengetahuan bahwa inilah makna Natal yang sesungguhnya, dan akan selalu menjadi makna Natal.
Posted on 26 December 2024, in Apologetika and tagged Natal. Bookmark the permalink. 1 Comment.


Pingback: Rahasia 4 Misa Natal | Terang Iman