Allah Memilih Paus?

oleh Jimmy Akin

Pope Silhouette (Sumber: catholic.com)

Ketika Paus Benediktus XVI terpilih pada tahun 2005, saya sangat gembira. Seperti halnya saya mencintai Yohanes Paulus II, Kardinal Ratzinger berbicara kepada saya dengan cara yang istimewa.

Namun, saya bingung dengan cara orang-orang mulai mengumumkannya sebagai “pilihan Tuhan” dan berbicara seolah-olah dalam setiap konklaf Roh Kudus sendiri yang memilih seorang paus.

Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang untuk berbicara seperti itu dalam kegembiraan yang terjadi setiap kali seorang paus baru terpilih. (Ketika Paus Fransiskus terpilih hal yang sama juga terjadi.) Saya tahu hal itu, tetapi sampai terpilihnya Benediktus XVI, saya belum pernah mengalaminya secara langsung.

Ungkapan semacam itu dapat dimengerti sebagai cara untuk membangun kepercayaan diri bagi kepausan yang baru, tetapi apakah hal itu secara harfiah benar? Apakah Roh Kudus benar-benar memilih orang yang terbaik untuk pekerjaan itu, atau apakah ini merupakan bentuk kesalehan yang berlebihan?

Akal sehat akan menganjurkan pilihan yang terakhir. Para kardinal dalam konklaf tentu saja memohon kepada Roh Kudus dan meminta bimbingan-Nya, tetapi Roh Kudus tidak mengesampingkan kehendak bebas mereka.

Kita pernah memiliki beberapa paus yang sangat buruk dalam sejarah Gereja, dan bukan hanya paus seperti Petrus yang melakukan kesalahan dan kemudian bertobat. Ada juga yang benar-benar jahat: misalnya, Paus Benediktus IX, yang menjadi paus selama tiga kali dalam kurun waktu yang berbeda antara tahun 1032 dan 1048.

Jadi, dalam arti apa pemilihan paus dapat dikatakan sebagai kehendak Allah?

Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah terjadi di bawah pemeliharaan Allah. Dengan kemahakuasaan-Nya, Allah dapat menghentikan peristiwa apa pun yang terjadi, sehingga jika sesuatu terjadi, itu karena Allah mengizinkannya.

Dengan demikian, pemilihan paus dapat dikatakan sebagai kehendak Allah dalam arti yang sama seperti peristiwa sejarah lainnya. Akan tetapi, dalam pengertian yang luas ini, kenyataan bahwa sesuatu adalah kehendak Allah tidak menjamin bahwa Allah menyetujuinya. Mungkin kehendak Allah untuk mengizinkan seseorang untuk berzinah, tetapi bukan berarti Dia menyetujui tindakan tersebut.

Meskipun Allah tidak mengesampingkan kehendak bebas manusia, Dia menawarkan bimbingan. Yesus memberikan janji-janji tertentu kepada Gereja dalam hal ini, dengan menyatakan:

Namun, apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13 TB2)

Dan:

Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman (Matius 28:20 TB2).

Dengan demikian, Allah telah berjanji untuk memberikan bimbingan-Nya kepada Gereja. Dia juga telah menjanjikannya kepada setiap individu:

Namun, apabila di antara kamu ada yang kurang berhikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati tanpa mencela, maka hal itu akan diberikan kepadanya (Yakobus 1:5 TB2).

Jika seseorang memohon bimbingan Allah, ia dapat mempercayai bahwa bimbingan itu akan diberikan. Bukan berarti bimbingan itu akan mudah didengar atau dipahami, atau bahwa orang tersebut akan bertindak berdasarkan bimbingan itu, tetapi artinya Allah akan menawarkan bantuan-Nya dengan cara tertentu.

Demikian pula, ketika Kolegium Kardinal memohon bimbingan Allah dalam konklaf, mereka dapat yakin bahwa Allah akan memberikannya. Memang, mengingat beratnya keputusan yang dihadapi para kardinal dan dampaknya bagi seluruh Gereja, mereka dapat berharap bahwa Allah akan memberikan bimbingan yang lebih besar lagi.

Hal ini tidak menjamin bahwa bimbingan itu akan mudah didengar atau dimengerti, atau bahwa para kardinal akan melakukannya, tetapi artinya pertolongan Allah akan diberikan.

Dengan mengandaikan kebijaksanaan dan kehendak baik dari para kardinal, kita dapat beranggapan bahwa orang yang mereka pilih adalah orang yang dipilih sesuai dengan bimbingan Allah dan dengan demikian pemilihannya adalah kehendak Allah dengan cara yang lebih besar daripada jika Allah hanya mengizinkannya.

Kita harus berhati-hati dalam berasumsi bahwa hanya ada satu pilihan yang tepat untuk menjadi paus, karena proses memilih paus mirip dengan proses memilih pasangan. Budaya pop terkadang mempromosikan gagasan bahwa semua orang mempunyai jodohnya – ada satu orang terbaik yang harus mereka nikahi – tetapi kenyataannya lebih kompleks.

Setiap prospek perkawinan memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda, dan tergantung pada siapa yang Anda pilih, perkawinan Anda akan berjalan dengan cara yang berbeda pula. Namun, bukan berarti hanya ada satu kandidat terbaik yang harus Anda temukan. Bahkan jika ada, mengidentifikasi orang tersebut dengan penuh keyakinan tidak dapat dilakukan secara manusiawi, mengingat banyaknya faktor dan banyaknya hal yang tidak diketahui.

Sama halnya, para kandidat paus memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Tergantung pada siapa yang dipilih oleh para kardinal, kepausan berikutnya akan berlangsung dengan cara yang berbeda. Tetapi mungkin tidak ada satu pilihan terbaik atau yang dapat diketahui secara manusiawi.

Begitu pilihan ditentukan, bagaimanapun juga ada cara baru dari kehendak ilahi mulai berjalan.

Dalam kasus perkawinan, setelah Anda saling mengucapkan janji perkawinan itulah kehendak Allah untuk memperlakukan orang tersebut sebagai pasangan Anda. Ranah kemungkinan yang sebelumnya ada kini telah mengerucut pada satu orang, dan orang tersebut adalah pasangan Anda yang telah ditetapkan secara ilahi. Allah menetapkan Anda sebagai pasangan pada saat sumpah diucapkan, dan “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).

Sekarang tugas Anda adalah membuat perkawinan itu berhasil, bukan untuk mengkhawatirkan tentang “bagaimana jika … ?” dan “bagaimana-jadinya.”

Demikian pula, ketika seorang pria menerima pemilihannya sebagai paus, dia menjadi paus yang ditahbiskan secara ilahi, dan sekarang menjadi tugas semua orang di Gereja untuk mendukungnya, dengan berbagai cara yang sesuai dengan kedudukannya, untuk membuat kepausan berhasil.

Pasangan suami-istri tidaklah sempurna, begitu juga dengan paus. Sama seperti setiap perkawinan yang punya tantangannya sendiri dan juga membutuhkan kerja keras, demikian pula setiap kepausan.

Pada tahun 1997, ketika Paus Benediktus XVI masih menjabat sebagai kardinal, ia mengakui bahwa para kardinal dapat memilih paus yang tidak optimal. Ketika ditanya di televisi Jerman apakah Roh Kudus bertanggung jawab atas pemilihan seorang paus, ia mengatakan:

Saya tidak akan mengatakan demikian, dalam arti bahwa Roh Kudus memilih paus. … Saya akan mengatakan bahwa Roh Kudus tidak sepenuhnya mengambil kendali atas urusan ini, melainkan seperti seorang pendidik yang baik, memberikan kita banyak ruang, banyak kebebasan, tanpa sepenuhnya meninggalkan kita. Dengan demikian, peran Roh Kudus harus dipahami dalam pengertian yang jauh lebih fleksibel, bukan berarti Ia mendikte kandidat yang harus dipilih. Mungkin satu-satunya jaminan yang Ia tawarkan adalah bahwa hal itu [Gereja] tidak akan sepenuhnya binasa.

Beliau melanjutkan:

Ada terlalu banyak contoh yang bertentangan dari para paus yang jelas tidak akan dipilih oleh Roh Kudus!

Demikian pula, dalam pidato terakhirnya di hadapan Kolegium Kardinal, Paus Benediktus XVI menyatakan:

Sebelum saya mengucapkan selamat tinggal kepada Anda masing-masing secara pribadi, saya ingin memberitahu Anda bahwa saya akan terus dekat dengan Anda dengan doa-doa saya, terutama di hari-hari mendatang, agar Anda dapat sepenuhnya tunduk pada karya Roh Kudus dalam pemilihan paus yang baru. Semoga Allah menunjukkan kepadamu orang yang dikehendaki-Nya.

Doa Paus Benediktus supaya mereka tunduk pada Roh Kudus mengindikasikan adanya kemungkinan bahwa mereka tidak akan tunduk.

Tidak ada yang tahu konklaf berikutnya akan seperti apa, tetapi kita dapat menarik beberapa implikasi dari semua ini.

Pertama, kita dapat yakin dari kenyataan bahwa para kardinal memohon bimbingan Allah bahwa Dia akan memberikannya kepada mereka, seperti yang telah Dia janjikan.

Kedua, bahkan jika mereka membuat pilihan yang kurang optimal, kita dapat yakin bahwa Allah pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan dari pilihan tersebut, karena “Dia turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah” (Roma 8:28 TB2; bdk. KGK 311).

Ketiga, kita perlu berdoa. Kita perlu berdoa sekarang supaya para kardinal yang baik akan terpilih, dan ketika mereka berkumpul dalam konklaf, kita perlu berdoa supaya mereka dengan sungguh-sungguh berusaha meminta dan mendengarkan bimbingan Allah.

 

Sumber: “Does God Pick the Pope?”

Posted on 5 May 2025, in Kenali Imanmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.