Mengapa Injil Yohanes Tak Mencatat Penetapan Ekaristi?

oleh Clement Harrold

Albrecht Dürer, The Last Supper, 1523 (Sumber: wikipedia.org)

Di akhir masa Prapaskah, dalam Misa malam pada Kamis Putih, kita merayakan penetapan Ekaristi Kudus. Namun, bagi banyak orang, pemilihan bacaan Injil yang ditetapkan Gereja untuk Misa ini mungkin terasa agak janggal.

Alih-alih menyajikan kisah dari Injil Matius, Markus, atau Lukas mengenai Yesus yang mengonsekrasikan roti dan anggur pada Perjamuan Malam Terakhir, Gereja justru mengajak kita untuk membaca dari satu-satunya Injil yang bahkan tidak menyebut sama sekali tentang penetapan Ekaristi—yaitu Injil Yohanes!

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang besar: Mengapa Yohanes memilih untuk tidak menyebutkan peristiwa penting ini. Jika pandangan umat Katolik tentang Ekaristi benar, seharusnya penetapan Ekaristi tidak akan diabaikan oleh Yohanes?

Simbolisme yang Lebih Dalam

Dalam bukunya yang sangat bagus tentang Ekaristi, Lawrence Feingold secara langsung membahas pertanyaan ini:

Mengapa Yohanes tidak menceritakan tentang penetapan Ekaristi? Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa Yohanes tertarik untuk melengkapi Injil-Injil Sinoptik dengan menceritakan hal-hal yang tidak mereka ceritakan. Oleh karena itu, ia menambahkan Pengajaran tentang Roti Hidup dan pembasuhan kaki, tetapi mengabaikan kisah penetapan Ekaristi yang telah diceritakan dalam empat tulisan [Matius, Markus, Lukas, dan Paulus]. Alasan pelengkap kedua yang mungkin adalah bahwa Yohanes menulis pada masa yang lebih akhir, di mana pada saat itu dianggap bijaksana untuk menjaga tabir kerahasiaan atas inti paling suci dari ibadah Kristen. Praktik umum di Gereja perdana yang dikenal sebagai disciplina arcani. … Kecenderungan untuk menyembunyikan hal-hal yang paling suci di balik tabir kiasan mungkin telah mendorong St. Yohanes untuk berbicara tentang Ekaristi melalui gambaran pembasuhan kaki para murid daripada memberikan kisah langsung tentang penetapan Ekaristi. Segala yang dikatakan tentang pembasuhan kaki juga dapat diterapkan pada Ekaristi. (The Eucharist, hlm. 82-83)

Penjelasan ini membantu kita memahami bahwa tidak dicantumkannya narasi tentang penetapan Ekaristi oleh Yohanes bukanlah untuk mengatakan bahwa Ekaristi tidak penting. Seandainya demikian, maka upaya Yohanes justru akan menjadi bumerang yang luar biasa, karena dalam bab 6 Injil yan g ditulisnya—Pengajaran tentang Roti Hidup—mengandung bagian yang paling kaya akan makna Ekaristi di antara keempat Injil.

Lalu, apa yang dilakukan Yohanes?

Feingold mengajukan dua kemungkinan penjelasan yang tidak saling bertentangan. Penjelasan yang kedua (yang menyatakan bahwa Yohanes menghilangkan kata-kata penetapan Ekaristi untuk menjaga kerahasiaan liturgi Gereja perdana) memang masuk akal, tetapi bersifat spekulatif. Dengan demikian, penjelasan pertama Feingold tampaknya menjadi cara yang lebih menjanjikan untuk dipelajari lebih lanjut.

Secara umum, kita harus berhati-hati agar tidak membuat pernyataan yang terlalu meyakinkan mengenai alasan mengapa seorang penginjil tertentu menggambarkan atau tidak suatu peristiwa tertentu.

Meskipun Yohanes tidak menuliskan penetapan Ekaristi dan banyak hal lainnya, ia juga mencantumkan banyak hal yang tidak terdapat dalam Injil-Injil Sinoptik. Misalnya, membangkitkan Lazarus adalah mukjizat terbesar yang dilakukan Yesus, namun mukjizat ini tidak disebutkan sama sekali dalam Injil Matius, Markus, atau Lukas.

Mengapa demikian?

Jawaban singkatnya adalah kita tidak tahu pasti, sehingga kita hanya bisa berspekulasi.

Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa para penulis Injil Sinoptik menulis pada masa yang lebih awal, sehingga mereka ingin melindungi identitas Lazarus dan saudara perempuannya dari pihak berwenang Yahudi. Sebaliknya, Yohanes menulis pada masa yang lebih belakangan, ketika ia memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menceritakan detail peristiwa yang terjadi.

Meskipun penjelasan praktis semacam ini mungkin berlaku dalam beberapa kasus, kita juga harus terbuka terhadap penjelasan teologis yang lebih mendalam, seperti yang diuraikan oleh Feingold.

Penjelasan teologis ini membantu kita memahami lebih dalam, meskipun ada banyak peristiwa penting dalam Injil-injil Sinoptik yang tidak disebutkan dalam Injil Yohanes, hal ini tidak berarti bahwa Yohanes sama sekali mengabaikan peristiwa-peristiwa tersebut.

Misalnya, sudah lama diketahui bahwa tidak ada kisah pengusiran setan dalam Injil Yohanes.

Sebaliknya, Yohanes menyajikan Salib sebagai pengusiran setan kosmik yang paling mutlak, melalui mana “sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (Yohanes 12:31). Atau lagi, Yohanes tidak pernah menyebut Transfigurasi, tetapi ia menggambarkan penyaliban itu sendiri sebagai klimaks epifani kemuliaan Tritunggal.

Dengan demikian, tampaknya masuk akal untuk berasumsi bahwa hal serupa juga terjadi dalam keputusan Yohanes untuk tidak menyebutkan penetapan Ekaristi. Yohanes melakukan hal ini bukan untuk menyiratkan bahwa Ekaristi tidak penting, melainkan untuk mengajak kita merenungkan Ekaristi secara lebih mendalam.

Masih sebagai Perjamuan Paskah Yahudi [Passover]

Sebelum mengupas makna simbolis yang lebih dalam, ada baiknya kita membahas secara singkat pertanyaan yang masih menjadi perdebatan, yaitu apakah Perjamuan Malam Terakhir yang dijelaskan dalam Injil Yohanes merupakan perjamuan Paskah atau bukan.

Dalam ketiga Injil Sinoptik, penetapan Ekaristi oleh Yesus secara eksplisit digambarkan terjadi dalam konteks perjamuan Paskah (lihat Matius 26:17-19; Markus 14:12, 14, 16; Lukas 22:7, 8, 11, 13, 15).

Di sini kita harus ingat bahwa, dalam perhitungan waktu Yahudi, hari kalender baru dimulai setelah matahari terbenam. Oleh karena itu, dalam Injil-injil Sinoptik, persiapan untuk makan malam Paskah dimulai pada sore hari tanggal 14 Nisan, dan Perjamuan Terakhir berlangsung setelah matahari terbenam, yang merupakan awal dari tanggal 15 Nisan.

Namun, dalam Injil Yohanes semua hal itu tidak sesederhana itu.

Sebagaimana dirangkum Feingold dalam bukunya, ada empat argumen utama yang mungkin menunjukkan bahwa Perjamuan Malam Terakhir dalam Injil Yohanes bukanlah perjamuan Paskah:

  1. Yohanes 13:1-2 tampaknya menyiratkan bahwa Perjamuan Malam Terakhir berlangsung sebelum Perayaan Paskah.
  2. Yohanes 18:28 menunjukkan bahwa para pemimpin Yahudi akan “merayakan Paskah” setelah penyaliban Yesus, yang berarti perayaan Paskah tidak mungkin berlangsung pada malam sebelum Yesus wafat.
  3. Yohanes 19:14 menggambarkan tanggal penyaliban Yesus sebagai “hari Persiapan Paskah.” Hal ini menyiratkan bahwa Yesus disalibkan pada sore hari tanggal 14 Nisan dan bahwa Paskah tidak akan dimulai hingga matahari terbenam.
  4. Tampaknya tidak mungkin Sanhedrin dapat berkumpul untuk menghukum Yesus jika perayaan Paskah sudah berlangsung.

Bagaimana kita harus menafsirkan keempat hal ini?

Sebuah teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli adalah bahwa Yohanes hanya menyusun ulang fakta-fakta sejarah untuk menyampaikan suatu poin teologis. Menurut teori ini, Yohanes dengan sengaja mengatur alur cerita sedemikian rupa sehingga Yesus disalibkan pada sore hari tanggal 14 Nisan. Yohanes melakukan hal ini karena ia ingin menggambarkan Yesus sebagai sosok yang mempersembahkan pengorbanan-Nya pada waktu yang persis sama ketika ribuan domba disembelih di Bait Suci (dan kemudian dibawa pulang untuk dimakan sebagai bagian dari perayaan Paskah).

Dengan demikian, Yohanes menyoroti peran Yesus sebagai Anak Domba Paskah yang baru dan kekal (kita akan membahas lebih lanjut tentang hal ini nanti!).

Meskipun teori ini memiliki daya tarik teologis, teori ini memiliki dua kelemahan utama.

  1. Hal ini mengabaikan fakta bahwa, meskipun Yohanes tidak pernah secara eksplisit menggambarkan Perjamuan Terakhir sebagai perayaan Paskah, Perjamuan Malam Terakhir dalam Injilnya memang mencakup sejumlah unsur yang khas dalam perayaan Paskah (misalnya, kesakralan acara tersebut, fakta bahwa mereka bersantap sambil bertumpu di meja, fakta bahwa perjamuan itu berlangsung pada malam hari, dan fakta bahwa mereka mencelupkan roti ke dalam sesuatu).
  2. Yang lebih penting lagi, kita harus bersikap skeptis terhadap teori apa pun yang menyatakan bahwa salah satu penulis Injil telah secara serius memanipulasi fakta-fakta sejarah.

Lalu, bagaimana kita dapat menyelaraskan Injil Yohanes dengan Injil-injil Sinoptik mengenai pertanyaan apakah Perjamuan Malam Terakhir merupakan perayaan Paskah?

Di sini, Feingold mengajukan sejumlah penjelasan potensial yang berbeda.

Kami akan merangkum penjelasan yang menurutnya paling masuk akal, yaitu bahwa perbedaan antara Injil Yohanes dan Injil-injil Sinoptik hanyalah kontradiksi semu, bukan kontradiksi yang sesungguhnya. Feingold menunjukkan bahwa terdapat bantahan yang meyakinkan untuk masing-masing dari empat argumen yang diajukan untuk menentang pandangan bahwa Perjamuan Malam Terakhir dalam Injil Yohanes merupakan perayaan Paskah.

Argumen pertama mengenai Yohanes 13:1-2 bukanlah argumen yang kuat karena, sebagaimana dikatakan Feingold, “petunjuk kronologis ini mungkin saja merujuk secara langsung pada perhatian Yesus bahwa saat-Nya telah tiba, bukan pada tanggal Perjamuan Terakhir itu sendiri” (hlm. 92).

Argumen kedua yang didasarkan pada Yohanes 18:28 dapat dijelaskan oleh fakta bahwa ungkapan “makan Paskah” tidak hanya merujuk pada penyajian anak domba Paskah pada tanggal 15 Nisan, tetapi juga pada memakan roti tak beragi, yang dilakukan selama hari raya Paskah selama  tujuh hari (lih. Ulangan 16:2-3).

Argumen ketiga ini dapat dengan cepat dijelaskan ketika kita menyadari bahwa istilah “hari persiapan Paskah” memiliki lebih dari satu makna. Meskipun bagi kita istilah tersebut terdengar seolah-olah merujuk pada hari sebelum Paskah, dalam terminologi Yahudi setiap hari Jumat dikenal sebagai hari persiapan (untuk Sabat). Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa Yohanes 19:14 hanya merujuk pada “hari Jumat yang jatuh pada pekan Paskah.”

Terakhir, argumen keempat itu tidak terbukti, dan pada kenyataannya kita memiliki bukti sejarah bahwa hukum Yahudi justru mewajibkan agar para nabi palsu dieksekusi selama salah satu perayaan ziarah besar (seperti Paskah) untuk menjadikan mereka contoh bagi masyarakat.

Meskipun masih banyak hal yang dapat dibahas mengenai topik ini, kesimpulan-kesimpulan di atas membuat kita yakin bahwa Yohanes dan Injil-injil Sinoptik tidak perlu ditafsirkan dengan dipertentangkan.

Dapat dikatakan dengan masuk akal bahwa baik Injil Yohanes maupun Injil-injil Sinoptik sepakat bahwa para murid Yesus telah mempersiapkan Perjamuan Malam Terakhir pada sore hari tanggal 14 Nisan. Setelah matahari terbenam—pada awal tanggal 15 Nisan—Yesus dan para murid-Nya memulai perayaan Paskah bersama-sama. Pada malam hari itu juga, Yesus ditangkap di Getsemani, dan Ia disalibkan keesokan harinya.

Melihat Anak Domba Allah 

Kita telah menempuh perjalanan eksegetis yang panjang, namun kini saatnya untuk merangkum refleksi-refleksi kita.

Yohanes memang tidak secara eksplisit menyebutkan penetapan Ekaristi, namun kisahnya tentang Perjamuan Malam Terakhir serta Injilnya secara keseluruhan, tetap sarat dengan makna Ekaristi.

Dalam kisahnya tentang Yesus yang membasuh kaki para murid, misalnya, Yohanes menyajikan kepada kita sebuah perumpamaan miniatur tentang seluruh pelayanan Yesus: Yesus melepaskan jubah-Nya (Inkarnasi/kenosis), membasuh kekotoran kita (wafat Sang Penyelamat di kayu Salib), mengenakan kembali jubah-Nya (Kebangkitan), dan kembali ke tempat-Nya di meja (Kenaikan). Adegan ini sarat dengan nuansa Ekaristi: alih-alih berkata, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” Yesus menunjukkan pemberian Tubuh-Nya dengan berlutut dan membasuh kaki para murid.

Namun, yang lebih penting daripada upacara pembasuhan kaki adalah simbolisme utama yang disampaikan Yohanes mengenai Yesus sebagai Anak Domba Allah.

Sebagaimana diserukan oleh Yohanes Pembaptis di awal Injil, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29 TB2; bdk. 1:36). Seruan yang tegas ini juga tercermin dalam bagian-bagian lain dalam Injil Yohanes, yang disusun berdasarkan tiga perayaan Paskah yang berbeda.

(Menariknya, ketiga Perayaan Paskah ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa Ekaristi: yang pertama terjadi segera setelah perkawinan di Kana; yang kedua terjadi pada saat peristiwa memberi makan lima ribu orang dan pengajaran tentang Roti Hidup; yang ketiga terjadi pada saat Perjamuan Malam Terakhir dan penyaliban.)

Contoh-contoh gambaran Paskah antara lain fakta bahwa tidak ada satu pun tulang Yesus yang patah di kayu salib, sama seperti tidak boleh ada tulang anak domba Paskah yang dipatahkan (lihat Yohanes 19:33; bandingkan Keluaran 12:46).

Yohanes juga mencatat ketika di kayu salib, Yesus diberi anggur asam yang disajikan pada sepotong hisop, alat yang sama yang digunakan untuk mengoleskan darah anak domba Paskah pada ambang pintu rumah (lihat Yohanes 19:29; bandingkan Keluaran 12:22).

Akhirnya, Yohanes adalah satu-satunya di antara keempat penulis Injil yang menyoroti darah dan air yang mengalir dari lambung Kristus (lihat Yohanes 19:34)—sebuah gambaran kuat yang mengingatkan pada ritual Paskah dengan penekanan pada darah keselamatan dari domba dan kambing kurban.

Inti dari semua ini adalah bahwa Yohanes mengajak kita untuk membaca kisahnya tentang Perjamuan Malam Terakhir dalam konteks Injilnya secara keseluruhan.

Ketika kita melakukan hal ini, kita menyadari bahwa Yohanes sama sekali tidak menganggap penetapan Ekaristi sebagai hal yang tidak penting. Sebaliknya, ia menganggapnya begitu penting sehingga ia ingin menyampaikan kepada kita makna yang mendalam dari arti melihat Yesus sebagai Anak Domba Paskah yang baru dan kekal, yang dalam Darah-Nya yang Mahakudus menebus kita dari perbudakan dosa dan maut, dan dalam Tubuh-Nya yang harus kita terima dalam perayaan Ekaristi.

 

Bahan Bacaan untuk Didalami:

 

Clement Harrold meraih gelar master dalam bidang teologi dari Universitas Notre Dame pada tahun 2024, dan gelar sarjana dalam bidang teologi, filsafat, dan studi klasik dari Universitas Fransiskan Steubenville pada tahun 2021. Dia seorang kolumnis untuk The Catholic Herald, dan tulisannya juga dimuat di First Things, Word on Fire, Church Life Journal, Our Sunday Visitor Magazine, Crisis Magazine, dan Washington Examiner.

 

Sumber: “Why Does John’s Gospel Not Mention the Institution of the Eucharist?”

Posted on 1 April 2026, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.