Yesus Naik ke Luar Angkasa?

oleh Jimmy Akin

View of a sunrise on a distant planet system in space (Sumber: catholic.com)

Apa yang terjadi pada Hari Kenaikan?

Dalam Perjanjian Baru terdapat dua kisah tentang Kenaikan Sang Kristus.

Yang pertama ada di bagian akhir Injil Lukas, yang menceritakan, “Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (24:50-51 TB2).

Yang kedua ditemukan di awal Kitab Kisah Para Rasul, yang mengisahkan demikian:

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kisah Para Rasul 1:9-11)

Perikop ini pasti dipahami oleh pembaca zaman dahulu sebagai catatan tentang sebuah mukjizat. Kata Latinnya adalah miraculum yang bermakna sebagai sesuatu yang membangkitkan rasa takjub—dan rasa takjub itu pasti telah memenuhi hati para saksi mata Kenaikan Yesus.

Orang-orang zaman modern juga menyadari bahwa ayat-ayat ini menceritakan sebuah mukjizat, tetapi pembaca modern mungkin mengalami kesulitan memahami peristiwa ini dengan cara yang tidak dialami oleh orang-orang zaman dahulu. Hal ini disebabkan karena perbedaan pemahaman kita tentang dimensi alam semesta  pada masa kini dengan pemahaman mereka di masa lampau.

Ada sejumlah model alam semesta di dunia kuno, tetapi salah satu hal yang disepakati oleh semua model tersebut menyatakan bahwa alam semesta itu kecil (setidaknya, menurut standar kita).

Model yang paling umum diyakini adalah bahwa bumi berada di pusat alam semesta, dan di sekelilingnya terdapat serangkaian bola-bola transparan (benda-benda langit) yang saling berlapis.

Tersambung secara langsung atau tidak langsung pada setiap benda langit itu adalah salah satu dari tujuh planet klasik: Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, dan Saturnus. (Setiap cahaya di langit yang tidak mempertahankan posisi tetap dianggap sebagai bintang pengembara, sehingga Matahari dan Bulan tergolong sebagai “pengembara” atau planétai).

Bintang-bintang lainnya selalu mempertahankan posisi tetap satu sama lain, sehingga membentuk rasi bintang, dan “bintang-bintang tetap” ini dianggap melekat pada bola langitnya sendiri, yang terletak tepat di luar orbit Saturnus.

Benda langit di bagian luar bintang-bintang tetap dianggap sebagai batas akhir alam semesta kita, dan karena letaknya tepat di luar Saturnus, dapat dilihat bahwa alam semesta pada zaman dahulu tidaklah terlalu luas.

Bahkan seorang filsuf Yunani bernama Archimedes, yang meyakini adanya alam semesta yang lebih luas, mengira bahwa luasnya hanya dua tahun cahaya. Ia menulis hal ini dalam sebuah buku berjudul The Sand Reckoner, di mana ia memperkirakan berapa banyak butiran pasir yang dibutuhkan untuk mengisi alam semesta. (Ia menyimpulkan bahwa dibutuhkan 8 x 10⁶³ butir.)

Bagi umat Kristen, alam di luar bintang-bintang tetap dianggap sebagai alam Tuhan—surga yang paling tinggi—dan mengingat ukuran alam semesta yang diperkirakan sangat kecil, tidaklah sulit membayangkan bahwa ketika Yesus naik ke surga, Ia dengan cepat mencapai surga yang paling tinggi dan duduk di sebelah kanan Allah (Ibrani 1:3).

Bagi kita, situasinya lebih rumit. Pada tahun 1919, banyak astronom berpendapat bahwa alam semesta memiliki diameter 300.000 tahun cahaya dan hanya berisi galaksi Bima Sakti. Namun, pada tahun 1929, Edwin Hubble menyadari bahwa “nebula spiral” tersebut bukanlah bagian dari Bima Sakti, melainkan galaksi-galaksi jauh di luar galaksi kita, sehingga diameter alam semesta setidaknya mencapai 280 juta tahun cahaya.

Saat ini kita tahu bahwa alam semesta yang dapat dilihat memiliki diameter 93 miliar tahun cahaya, dan itu hanyalah bagian yang dapat kita lihat. Kita memiliki bukti bahwa sebenarnya alam semesta itu setidaknya 250 kali lebih besar dari itu.

Hal ini menimbulkan kesulitan bagi orang-orang zaman modern. Sekalipun Yesus meninggalkan Bumi dan mulai melaju dengan kecepatan cahaya, Ia masih akan berada di dalam galaksi Bima Sakti; Ia mungkin bahkan belum sampai ke bintang Deneb (Alpha Cygni), dan Ia tidak akan meninggalkan alam semesta yang terlihat hingga 93 miliar tahun lagi.

Seorang yang skeptis mungkin akan mengejek situasi ini dan menyoroti bahwa Kedatangan Yesus yang Kedua seharusnya terjadi jauh sebelum itu, sehingga Yesus harus meninggalkan bumi dan kemudian berbalik arah di angkasa—tanpa sempat sampai kepada Allah—untuk kembali.

Tentu saja, ejekan semacam itu masih terlalu dini, karena menurut pandangan Kristen, Allahlah yang menetapkan hukum-hukum alam, sehingga Dia tidak terikat oleh batas kecepatan cahaya. Dia dapat membuat Yesus bergerak dengan kecepatan apa pun yang Ia kehendaki, bahkan Ia dapat membuat Yesus berpindah secara instan (teleportasi) ke mana pun Ia kehendaki, termasuk ke surga.

Banyak orang memandang surga sebagai alam spiritual, bukan alam fisik, dan surga jelas bukanlah bagian dari alam semesta fisik kita. Anda tidak bisa terbang ke sana dengan kapal luar angkasa, seberapa pun cepatnya kapal itu bergerak melebihi kecepatan cahaya.

Namun, dalam arti tertentu surga pasti bersifat fisik: Surga pasti mampu setidaknya menampung tubuh, karena Yesus dan beberapa orang terpilih membawa tubuh mereka ke surga. Tubuh ini mungkin tidak memiliki bentuk tiga dimensi seperti benda-benda di bumi ini, tetapi surga pasti mampu menampungnya dengan cara tertentu, meskipun hal itu tak terbayangkan bagi kita.

Mengingat bahwa Tuhan itu Maha Kuasa—dan dengan demikian mampu mewujudkan segala keadaan yang tidak mengandung kontradiksi logis—kita tidak perlu khawatir tentang batasan-batasan fisik yang kita hadapi atau bagaimana tepatnya Yesus naik ke surga. Itu adalah sesuatu yang bisa kita percayakan kepada Tuhan.

Lalu, bagaimana kita seharusnya memahami apa yang sebenarnya terjadi pada saat Yesus naik ke surga? Mengapa Yesus naik dari bumi lalu menghilang di balik awan? Mengapa Dia tidak langsung menghilang dalam kilatan cahaya atau semacamnya?

Jawabannya adalah kilatan cahaya yang menyilaukan itu tidak akan mampu menyampaikan apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada para saksi. Yesus pernah menghilang di hadapan para murid-Nya sebelumnya, seperti yang Ia lakukan pada kedua murid-Nya di jalan menuju Emaus (Lukas 24:31), dan artinya penampakan-penampakan setelah Kebangkitan belum berakhir.

Seandainya Yesus tiba-tiba menghilang, para murid mungkin mengira bahwa Yesus akan terus menampakkan diri kepada mereka, seperti yang telah Ia lakukan selama empat puluh hari sebelumnya (Kisah Para Rasul 1:3), tetapi Allah ingin menegaskan bahwa kali ini berbeda. Yesus akan kembali kepada Allah dan tidak akan lagi menampakkan diri dalam rupa jasmani.

Seperti yang dinyatakan dalam Katekismus Gereja Katolik, “Kenaikan Kristus ke surga menggambarkan langkah masuk yang definitif dari kodrat manusiawi Yesus ke dalam kemuliaan Allah di surga, dari mana Ia akan datang kembali, tetapi untuk sementara tersembunyi bagi pandangan manusia” (665).

Naiknya Yesus dari muka bumi menandakan bahwa Ia akan pergi ke surga—yang digambarkan sebagai tempat yang “di atas” dari sudut pandang duniawi—dan dengan demikian menandai perpisahan dengan kehidupan Yesus di dunia.

Awan juga merupakan unsur penting dalam simbolisme yang digunakan Allah. Kisah Para Rasul 1:9 menyebutkan dua hal mengenai peristiwa tersebut: “(1) terangkatlah Ia, dan (2) awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (TB2). Kata Yunani untuk “menutup” (hupolambanó) berarti “menyebabkan naik, mengangkat” (BDAG [Alkitab Leksikon Bauer-Danker-Arndt-Gingrich]).

Alkitab terjemahan berusaha menyederhanakan hal ini untuk menjadikan kalimat yang mengalir dengan baik, namun inti kata dari bahasa aslinya adalah bahwa Yesus terangkat, lalu awan membawanya pergi hingga tak terlihat lagi oleh mereka.

Hal ini menegaskan bahwa Yesus sebagai pengendara awan, yang merupakan salah satu sifat Allah (misalnya, Mazmur 68:4). Yesus juga mengatakan kepada imam besar bahwa ia akan melihat Sang Putera Manusia “duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa dan datang dengan awan-awan di langit” (Markus 14:62 TB2), yang merujuk pada Daniel 7:13 bahwa “tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia. Ia datang kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan dibawa ke hadapan-Nya (TB2).”

Awan yang membawa Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa hal ini sedang terjadi: Putra Manusia sedang dibawa kepada Allah di surga, tempat Ia akan memerintah hingga kedatangan-Nya kembali.

Hal ini juga menjelaskan mengapa para murid kemudian diberitahu, “Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kisah Para Rasul 1:11 TB2)—yaitu, dengan mengendarai awan.

Dengan demikian, pemahaman yang lebih mendalam terhadap naskah-naskah Alkitab yang relevan memperjelas simbolisme yang digunakan Allah serta pesan yang ingin disampaikan-Nya kepada para murid.

Allah tidak bermaksud mengajarkan struktur alam semesta kepada mereka, melainkan tentang apa yang sedang terjadi pada Yesus: Ia tidak akan lagi berada di tengah-tengah para murid, melainkan akan dimuliakan di sisi Allah hingga Kedatangan-Nya yang Kedua.

Dengan demikian, Allah memakai simbolisme yang ada dalam imajinasi para murid, serta dalam Kitab Suci Yahudi dan ajaran Yesus, untuk menjelaskan hal ini.

Apa yang terjadi secara fisik setelah Yesus menghilang dari pandangan mereka mungkin membuat kita penasaran (secara pribadi saya menduga bahwa pada saat itulah Dia menghilang dan kemudian berada di surga, yang entah bagaimana surga dapat menerima tubuh fisik), tetapi hal itu bukanlah yang ingin diajarkan oleh Allah, oleh karena itu kita harus menyerahkan hal itu kepada-Nya.

 

Sumber: Jesus Ascends . . . into Space?”

Posted on 20 May 2026, in Apologetika and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.