Santa Anna Pak A-gi

Anna Pak A-gi (Sumber: cbck.or.kr)

Di antara para martir, tidak sedikit yang harus berpaling dari keluarga mereka dan memutuskan hubungan dengan keluarga mereka untuk mengikuti Tuhan. Anna Pak A-gi (1783-1839) adalah salah satunya.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 10: 32-33)

Teringat akan ayat itu, Anna Pak A-gi menderita kerena memutuskan hubungan dengan keluarga yang dia cintai demi memenangkan kemuliaan kemartiran.

Anna Pak A-gi lahir dalam keluarga Katolik yang tinggal di sebuah desa kecil di tepi Sungai Han. Dia tidak terlalu pandai dan mengalami kesulitan mempelajari doktrin dan doa-doa, namun dia mencintai Allah dengan sepenuh hati. Dia selalu berkata, “Saya tidak dapat mengenal Allah sebanyak yang saya inginkan, namun saya dapat berusaha untuk mengasihi-Nya dengan sepenuh hati.”

Pada usia delapan belas tahun, dia menikah dengan Fransiskus T’ae Mun-haeong dan melahirkan dua anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Dia membesarkan anak-anaknya dengan baik, mengajarkan mereka kebajikan iman. Keluarganya tidak kaya, namun berusaha untuk hidup dengan jujur.

Anna Pak A-gi memiliki devosi khusus kepada Kisah Sengsara Tuhan dan dia merenungkan lima luka-Nya sambil meneteskan air mata. Ketika dia mendengar orang lain ditangkap dan menderita karena disiksa, dia menjelaskan kepada anak-anaknya tentang para martir dan mengungkapkan harapannya untuk kemartiran. Pada bulan Maret 1836, dia ditangkap bersama dengan suami dan putra sulungnya, Ung-chon.

Suami dan putranya tidak dapat menahan siksaan, mereka murtad, namun, walaupun siksaan kejam yang dijatuhkan kepada Anna Pak A-gi, dia dengan teguh memberikan kesaksian akan imannya. Ada yang lebih menyakitkan daripada kesakitan fisik akibat siksaan, yaitu rasa sakit karena melihat suami dan putranya dibebaskan karena mereka telah murtad, mereka kembali ke penjara setiap hari dan memohon supaya dia mencontoh mereka. Mereka berkata tentang nasib keluarganya tanpa dia, kecemasan ibu mertuanya yang sedang sakit, dan tangisan anak-anak yang masih kecil karena ibunya. Mendengarkan kisah ini, memberikan penderitaan yang sangat mendalam bagi Anna Pak A-gi.

Santa Anna Pak A-gi (Sumber: cbck.or.kr)

Dengan satu kata saja, dia dapat menyangkal imannya dan dapat kembali menjadi seorang ibu yang menghangatkan anak-anaknya yang sedang terpisah dengannya, menjadi seorang istri yang taat bagi suaminya yang berduka, dan menjadi seorang menantu yang berbakti bagi ibu mertuanya, membawa kembali kedamaian dan kebahagiaan kepada seluruh keluarga. Namun, Anna Pak A-gi dengan berani mengatasi godaan ini. Dengan air mata, dia menolak permohonan keluarganya untuk murtad dan malahan dia memohon kepada mereka untuk bertobat dari kemurtadan mereka.

Beberapa sahabat, sadar akan situasi yang menyedihkan di rumahnya, mereka datang ke penjara dan membujuk dia. Anna Pak A-gi mendengarkan mereka dan menjawab demikian, “Manakah yang berharga dengan risiko kematian kekal demi hidup beberapa hari lagi? Bukannya mendesak saya untuk menyangkal iman saya, tapi kalian harus bertobat. Kalian harus iri akan keberuntungan saya.”

Sipir penjara juga mendesak dia dengan berkata, “Suami dan putramu telah dibebaskan dan kembali ke rumah. Dengan satu kata saja, kamu bisa berbuat yang sama. Kamu begitu keras hati sehingga tidak dapat digerakkan oleh permohonan mereka. Apakah kamu memiliki banyak nyawa?” Kemudian Anna Pak A-gi menjawab, “Kemurtadan suami dan putra saya adalah urusan mereka. Apa hubungannya dengan saya? Saya sudah memutuskan untuk menjaga iman saya dan mati untuk itu.”

Walaupun dia dipukuli sampai dagingnya lepas dan tulangnya terlihat, Anna Pak A-gi tetap bertahan dan berlutut sambil berdoa. Akhirnya, komisaris menyadari bahwa dirinya tidak dapat mengubah pendiriannya, sehingga dia dipindahkan ke pengadilan penjara. Di sana, dia menjalani siksaan lebih lanjut. Hakim memberi usulan yang sama dengan yang lainnya, “Suami dan putramu telah dibebaskan. Dengan satu kata saja, kamu juga dapat merasakan kesenangan yang sama.” Kemudian Anna Pak A-gi menjawab, “Itu untuk keinginan mereka sendiri. Keinginan saya adalah mati bagi Tuhan.”

Setelah tiga tahun di penjara, Anna Pak A-gi dijatuhi hukuman mati pada tanggal 10 Mei 1839 dengan tuduhan membaca buku-buku sesat dan gambar-gambar yang jahat. Anna Pak akhirnya dibawa ke luar Pintu Gerbang Kecil Barat, di sana dia dipenggal bersama delapan umat Katolik lainnya pada hari Jumat tanggal 24 Mei 1839. Pada waktu dia menerima mahkota kemartiran, dia berusia 57 tahun. Anna Pak A-gi dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido Plaza, Seoul oleh Yang Mulia Paus Yohanes Paulus II.

 

Sumber: cbck.or.kr

Posted on 2 September 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: