Kisah Kelahiran Menurut Matius dan Lukas Kontradiktif?

Oleh Tim Staples

Shepherds Field Nativity by Munir Alawi (Sumber: pinterest.com)

Apa kesamaan dari pembela ateisme dan ahli Kitab Suci liberal? Mereka suka menemukan “kontradiksi” yang dituduhkan kepada Kitab Suci. Perlu diingat, ini bukanlah tugas yang mudah karena “kontradiksi” ini sebenarnya tidak ada. Meskipun banyak dugaan tentang “kontradiksi” itu, salah satu kesukaan kedua pihak itu adalah yang sering dikemukakan terus menerus di internet, khususnya Ketika menjelang Natal. Salah satu “kontradiksi” yang umum ditemukan adalah “kisah masa kecil Yesus” menurut St. Matius dan St. Lukas.

Contohnya, Alm. Romo Raymond Brown, S.S., yang dengan jelas memberikan kontribusi positif dalam studi Kitab Suci di Gereja, juga memberikan beberapa kontribusi yang tidak terlalu baik. Contohnya dalam bukunya, The Birth of the Messiah di halaman 46, ia dengan tegas menyatakan bahwa dua narasi masa kecil “saling bertentangan.”

Jadi bagaimana?

Dua “kisah masa kecil Yesus” ditemukan di Lukas 2:1-39 dan Matius 1:18-2:23. Kita akan menggunakan tulisan St. Lukas sebagai titik awal referensi dan dari sana kita akan melanjutkan dengan memasukkan dugaan “kontradiksi” ketika kita membahasnya.

Saya akan memberi tahu Anda petunjuk penting di awal supaya kita mendapatkan kejelasan: perhatikan kata-kata yang saya cetak tebal saat saya menata narasi untuk Injil St. Matius dan St. Lukas. Ini adalah masalahnya. Dan perlu diingat juga bahwa masalah ini bukan dibuat oleh naskah-naskah Kitab Suci. Melainkan dibuat dalam imajinasi orang-orang yang membuatnya yang kemudian disebut sebagai “kontradiksi.” Mari kita lihat:

Menurut tulisan St. Lukas, Maria dan Yusuf melakukan perjalanan dari Nazaret ke Betlehem karena sensus yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus. Di sanalah Maria “melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan …” (Lukas 2:1-7). Nah, apakah kelihatan sebagai hal yang biasa saja?

Mungkin tidak!

Menurut Injil Matius, tidak ada catatan tentang perjalanan dari Nazaret ke Betlehem. Dan ini benar. Namun para skeptis menyatakan bahwa St. Matius menggambarkan bahwa Keluarga Kudus sudah tinggal di Betlehem, bukan Nazaret. Tidak mungkin ada perjalanan ke Betlehem jika skenario Matius benar. Keluarga Kudus sudah ada di sana!

Selain itu, Yesus tidak berada di “palungan” seperti yang digambarkan oleh St. Lukas, tapi menurut Matius 2:11 dikatakan bahwa orang-orang bijak menemukan-Nya di sebuah “rumah” di Betlehem di mana Keluarga Kudus tidak tinggal di penginapan, atau lebih tepatnya palungan yang ada di dalam penginapan, seperti yang kita temukan di dalam Injil Lukas. Dalam Injil Matius, Yesus digambarkan lahir di rumah keluarga Maria dan Yusuf di Betlehem di mana mereka tinggal selama ini, namun hal ini bertentangan menurut Injil Lukas. Di sini kita menemukan narasi pertama yang dianggap sebagai kontradiksi yang tidak bisa didamaikan.

Tanggapan Alkitabiah:

Ada dua asumsi penting yang dibuat meskipun tidak ada hubungannya dengan teks Kitab Suci yang sebenarnya.

  1. Karena tidak ada “tulisan mengenai perjalanan dari Nazaret ke Betlehem” dalam Injil Matius, tidak berarti Injil Matius membuang ada kemungkinan itu. Bukan demikian. Tetapi, itu artinya St. Matius memilih untuk tidak menyebutkannya.
  2. Dan kesalahan yang paling fatal jika kita memahaminya dengan benar, pada akhirnya akan menghilangkan kontradiksi yang sering kali disalahartikan yang sering ditemukan di dunia maya. Asumsi yang dibuat bahwa tulisan St. Matius mengenai orang-orang majus yang mengikuti bintang membawa mereka kepada Keluarga Kudus pada hari kelahiran Yesus yang sebenarnya, dan juga di Betlehem. Namun, naskahnya tidak mengatakan demikian.

Saya akan jelaskan.

Kita lihat Matius 2:1:

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem

Para kritikus dengan suara bulat mengatakan bahwa mereka menafsirkan hal ini bahwa St. Matius menyatakan orang-orang majus tiba di Betlehem pada saat Kristus lahir. Kenyataannya, tidak demikian. Hanya dinyatakan bahwa Kristus lahir pada masa pemerintahan Raja Herodes. Seperti yang orang-orang majus tanyakan ketika mereka tiba di Yerusalem. Mereka datang untuk melihat di mana mereka bisa menemukan “raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu” (Matius 2:2). Matius 2:1-2 tidak menjelaskan berapa lama waktu yang sudah berlalu dari kelahiran Tuhan kita dari waktu yang sebenarnya.

Namun, setelah mengatakan demikian, Matius 2:1-2 tidak menyebutkan waktu kelahiran Yesus, kita punya punya petunjuk di perikop lain yang menunjukkan bahwa orang-orang majus tidak datang pada saat Kristus baru saja dilahirkan, lebih tepatnya satu sampai dua tahun kemudian.

Sejarah ‘Bocah Penabuh Drum’ (The Little Drummer Boy)

Saya tahu apa yang Anda pikirkan. Setidaknya apa yang seharusnya ada di benak Anda. Saya suka lagu “The Little Drummer Boy” juga! Saya dan keluarga saya menontonnya setiap Natal! Dan juga berulang kali.

(Senang rasanya punya anak kecil di rumah. Ini memberi saya alasan untuk menonton semua film khusus Natal yang berorientasi pada anak-anak!)

Sayangnya, “The Little Drummer Boy” sama seperti sekelompok ateis dan teolog liberal, mereka semua punya garis waktu (timeline) yang salah. Mungkin di sini kita bisa memetik pelajaran teologi atau sejarah seseorang melalui acara televisi Claymation (animasi tanah liat) anak-anak atau dari ateis dan ahli Kitab Suci liberal?

Bagaimanapun juga, kelahiran Tuhan umumnya digambarkan dengan orang-orang majus, para gembala, dan mungkin juga bocah penabuh drum, semuanya ada di palungan bersama dengan Keluarga Kudus dan bayi Yesus yang baru lahir Namun, Alkitab tidak menggambarkan seperti itu.

Pertama-tama, berdasarkan Matius 2:2, ketika orang majus “melihat bintang-Nya” di Timur yang menunjukkan kelahiran “raja orang Yahudi,” barulah mereka mulai melakukan perjalanan ke Israel. Dan ingat, ini belum zaman pesawat terbang. Kemungkinan berasal dari Persia, mereka harus melakukan perjalanan sekitar 970 mil (± 1.561 km) untuk tiba di Yerusalem. Setidaknya, itulah jarak dari Teheran pada zaman sekarang. Bahkan jika kita pindah ke timur ke Bagdad sebagai titik awal perjalanan mereka, mereka perlu menempuh jarak 500 mil (± 804 km).

Mengapa hal ini penting?

Matius 2:3-7 memberi tahu kita bahwa setelah orang majus tiba di Yerusalem dan mulai bertanya tentang lokasi “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” [Catatan TerangIman.com: dalam Alkitab English Standard Version dituliskan, “Where is he who has been born king of the Jews?” perhatikan bentuk lampau has been bukan bentuk sekarang misalnya “new-born king”]. Herodes gelisah karena suatu alasan yang jelas. Herodes seorang yang korup dan tidak mau ada “raja” lain yang mengancam kekuasaannya. Jadi, setelah “dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi” (ayat 4), dan menanyakan di mana Mesias akan dilahirkan, mereka memberi tahu Herodes mengenai nubuat Mikha (Mikha 5:2) bahwa Betlehem adalah tempat kelahiran raja yang akan datang. Kemudian Herodes memutuskan untuk pura-pura tertarik dan menyambut, dan juga hendak menyembah “raja Israel” yang baru itu, seperti yang hendak dilakukan orang-orang majus. Dengan begitu Herodes bisa mencari lokasi yang tepat di mana raja itu berada, sehingga ia bisa memusnahkan ancaman itu secara permanen.

Tapi perhatikan apa yang ditulis Matius 2:7:

Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”

Herodes ingin tahu “kapan bintang itu Nampak” sehingga ia bisa tahu perkiraan usia anak itu. Ini menunjukkan bahwa bintang itu muncul kepada orang majus ketika Yesus lahir, sebelum mereka melakukan perjalanan ke Israel. Dengan demikian, hal ini menghilangkan kemungkinan orang majus bertemu dengan para gembala dan Keluarga Kudus di palungan.

Selain itu, setelah Allah memperingatkan orang majus “supaya jangan kembali kepada Herodes” dalam Matius 2:12, dan Herodes kemudian sadar bahwa mereka tidak akan kembali untuk memberikan informasi yang diinginkannya (lokasi Tuhan kita). Dalam Matius 2:16 dikatakan bahwa Herodes “sangat marah” dan ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu” (dengan penekanan tambahan).

Jadi, jika kita memastikan Herodes mendapatkan apa yang ia kehendaki maka harus memastikan untuk membunuh anak yang tepat, informasi yang ia kumpulkan dari orang majus mungkin akan menempatkan kelahiran Kristus sekitar setahun atau lebih sebelum kedatangan orang majus. Dan Herodes ingin memastikan rentang waktu yang pasti untuk memperkirakan kelahiran Kristus.

Dan yang terpenting, hal ini menunjukkan bahwa Kristus sudah berusia sekitar setahun dan paling tua usia 2 tahun (meskipun sekali lagi saya mengatakan bahwa tidak mungkin Kristus berusia tepat dua tahun) pada waktu orang majus tiba di Yerusalem untuk menemukan kanak-kanak Kristus. Maka perkiraan adalah usia 1 sampai 2 tahun setelah kisah kelahiran menurut Injil Lukas.

Pada titik ini, banyak orang akan berkata bahwa perjalanan sejauh 500 sampai 1.000 mil tidak akan memakan waktu selama itu. Jika Anda berkata bahwa karavan orang majus bisa menempuh 5 sampai 10 mil per hari, maka perkiraan waktu adalah sekitar dua sampai tujuh bulan perjalanan. Ini benar, tetapi tidak memperhitungkan banyaknya variabel. Anda tidak bisa membayangkan hanya naik ke dalam mobil atau pesawat. Anda perlu menggunakan waktu untuk merencanakan perjalanan, mengumpulkan perbekalan, keamanan perjalanan, dan lain sebagainya. Tentu saja kemungkinan-kemungkinan ini lebih banyak lagi dan tidak diungkapkan kepada kita dalam naskah Kitab Suci. Tetapi, kita mendapatkan petunjuk-petunjuk tentang apa yang disimpulkan Herodes dari percakapan pribadinya dengan orang majus sendiri. Naskah Kitab Suci menunjukkan bahwa orang majus sendiri yang mengungkapkan waktu kelahiran Kristus jauh sebelum kedatangan mereka.

Memeriksa kembali asumsi kita

Begitu kita memperoleh garis waktu yang benar, “kontradiksi” antara “kisah masa kecil” tidak begitu kontradiktif lagi. Kita tidak akan membahas semua “kontradiksi” itu, tetapi ada satu contoh lain, pernyataan mereka adalah orang majus dikirim ke Betlehem oleh Herodes, maka dengan sendirinya akan menemukan Keluarga Kudus ketika mereka tiba “di mana Anak itu berada” dalam Matius 2:9. Inilah dasar untuk “kontradiksi” antara “palungan” yang dijelaskan oleh St. Lukas dengan “rumah” yang dijelaskan oleh St. Matius, dan masih banyak lagi. Masalahnya: naskahnya tidak mengatakan bahwa orang majus menemukan kanak-kanak Kristus di Betlehem. Itulah asumsi yang sebenarnya tidak ditemukan dalam naskah itu. Mungkin benar, tapi mungkin juga tidak.

Saya jelaskan.

Matius 2:9 memberi tahu kita bahwa setelah Herodes menyuruh orang majus ke Betlehem, maka bintang ajaib itu yang akan membimbing mereka kepada Kristus. Kemudian, jika orang bijak menuju ke Betlehem, maka Keluarga Kudus sudah lama meninggalkan tempat itu. Bintang itu mungkin akan membawa mereka ke Nazaret, di mana St. Lukas memberi tahu kita dalam 2:39, “setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.”

Kembali lagi ke Injil Lukas

Penting untuk dipahami bahwa selain penyebutan kelahiran Kristus yang sebenarnya dalam Matius 2:1, dan Keluarga Kudus tinggal di kota Nazaret dalam Matius 2:23, tidak ada tumpang tindih antara kisah masa kecil Lukas dan Matius. Berikut ini garis waktunya:

Matius 2:1 menyebutkan kelahiran Kristus yang sebenarnya terjadi di Betlehem. Satu-satunya ayat yang tumpang tindih dengan paralelnya di Lukas 2:6-7.

Namun, karena kemudian kita tahu bahwa Injil Matius melompat maju (hal ini secara merupakan tata bahasa yang umum dalam Kitab Suci dan literatur yang umum disebut sebagai “telescoping”) ke kisah orang majus, paling lama sekitar satu sampai dua tahun setelah kelahiran Kristus, kisah para gembala, dan para malaikat yang menemukan Kristus di Betlehem pada Lukas 2:8-20, penyunatan Kristus ketika Keluarga Kudus masih berada di Betlehem dalam Lukas 2:21, peristiwa “Yesus dipersembahkan di Bait Allah” dalam Lukas 2:22-36 (kira-kira perjalanan sejauh enam mil atau ± 10 km yang memakan waktu lebih dari sehari perjalanan) yang tidak ditampilkan dalam Injil Matius.

Pertanyaan besar timbul setelah peristiwa “Yesus dipersembahkan di Bait Allah” yang berakhir dalam Lukas 2:8. Pertanyaannya berpusat pada “kembali ke Nazaret” dalam Lukas 2:39. Banyak orang akan menyatakan bahwa semuanya, termasuk kembali ke Nazaret, terjadi dalam rentang waktu sekitar 40 hari atau lebih setelah kelahiran Kristus, jauh sebelum orang majus tiba di Nazaret untuk mencari “raja Israel.” Ini baru satu kemungkinan. Mungkin juga benar kalau St. Lukas sedang melakukan “telescoping” dalam Lukas 2:39-40. Naskah itu tidak menentukan waktu, melainkan hanya menyatakan:

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar …

Ada pertimbangan ketika kembali memikirkan “telescoping.” Saya tahu dalam kisah perubahan keyakinan saya sendiri, saya sering berkata, “Setelah masuk dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, uskup saya memberi saya izin untuk segera masuk ke dalam pembentukan presbiterat …” Ketika saya berkata “segera,” saya tidak menyebutkan rentang waktu enam bulan antara Malam Paskah dan permulaan pembentukan pada bulan September 1988. Itulah semacam “telescoping.

Dalam Kitab Suci, “telescoping” bisa melewati waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Namun, untuk suatu pendapat, jika kita menerima skenario yang akan membuat “kembali ke Nazaret” terjadi lebih dari 40 hari setelah kelahiran Kristus, kita bisa menghilangkan “kontradiksi” yang disebutkan di atas dengan cukup mudah:

  1. “Rumah” dalam Matius 2:11 tidak bertentangan dengan “palungan” dalam Lukas 2:7. “Rumah” itu berada di Nazaret di mana Keluarga Kudus sudah melakukan perjalanan lebih dari setahun sebelum kedatangan orang majus.
  2. Injil Matius 2:11 tidak pernah menyebutkan bahwa “rumah” itu ada di Betlehem. Bisa saja demikian, tetapi tidak disebutkan demikian dalam naskah Kitab Suci.
  3. Orang majus “diutus” ke Betlehem oleh Herodes, tetapi naskahnya tidak pernah mengatakan di sanalah tujuan mereka. Jika Keluarga Kudus sudah pergi ke Nazaret sekitar 40 atau 50 hari setelah kelahiran Tuhan kita, maka orang majus akan dituntun oleh Allah melalui bintang ke Nazaret di tempat Kristus sebenarnya berada, bukan di Betlehem.

Sekali lagi, mungkin benar bahwa orang majus menemukan Keluarga Kudus masih tinggal di Betlehem ketika mereka tiba. “Rumah” dalam Injil Matius tidak akan bertentangan dengan “palungan” dalam Injil Lukas, karena kita dengan mudah menganggap bahwa Keluarga Kudus tetap tinggal di Betlehem setelah kelahiran Yesus dan menemukan sebuah “rumah” untuk ditinggali sementara waktu setelah kelahiran Tuhan kita dan sebelum mereka pulang ke Nazaret di kemudian hari.

Asumsi lain yang timbul

Seperti yang saya katakan di atas, kita tidak akan menghilangkan semua kesalahan yang ada di luar sana yang menyatakan adanya berbagai kontradiksi antara kedua kisah masa kecil itu. Kenyataannya ada beberapa orang yang memperdebatkan kontradiksi bahkan dalam masing-masing kisah masa kecil itu sendiri, sebutlah St. Matius kontradiksi dengan St. Matius dan St. Lukas kontradiksi dengan St. Lukas. Tapi jika Anda mengingat garis waktu historis yang ada di sini, Anda bisa menghadapi sebagian besar anomali yang sering mereka nyatakan.

Berikut ini contoh terakhirnya:

Dalam Matius 2:23 diberitahukan bahwa Keluarga Kudus tidak pernah tinggal di Nazaret sampai kedatangan orang majus dan pelarian ke Mesir. Baru pada saat itu, naskah mengatakan, Setibanya di sana iapun [Yusuf dan Keluarga Kudus] tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret.” Namun, St. Lukas berkata, setelah 40 hari pentahiran sesudah kelahiran Kristus, “kembalilah mereka [Keluarga Kudus] ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.”

Sebenarnya, Matius 2:23 tidak berkata bahwa Keluarga Kudus “terlebih dahulu” pergi ke Nazaret setelah pelarian ke Mesir. Itu adalah asumsi lain yang tidak alkitabiah. Setelah diperingatkan Allah untuk melarikan diri dari murka Herodes dan melakukan perjalanan ke Mesir dalam Matius 2:13-14, dan kemudian diberi tahu oleh malaikat Tuhan untuk kembali ke Israel, dalam Matius 2:20, tampaknya St. Yusuf ingin kembali ke kampung halaman keluarganya di Betlehem di Yudea, tetapi karena putra Herodes yang bernama Arkhelaus menjadi raja di sana, “ia takut ke sana dan karena dinasihati dalam mimpi,” maka ia pergi ke Nazaret (Matius 2:22-23).

Kita perlu ingat bahwa para penulis yang diilhami itu memberikan penekanan pada aspek tertentu dari kehidupan Kristus dan Keluarga Kudus untuk alasan teologis tertentu. St. Matius menulis untuk komunitas Kristen Yahudi, dengan demikian ia menekankan dua hal, pertama kelahiran Kristus di Betlehem untuk menggenapi nubuat Perjanjian Lama yaitu Mikha 5:2 (Matius 2:5-6), kedua untuk menggenapi Tradisi Lisan atau perkataan “yang diucapkan oleh para nabi,” bahwa Kristus akan disebut orang Nazaret (Matius 2:23). St. Lukas merupakan satu-satunya Penginjil yang diilhami dan juga bukan seorang Yahudi, dan tidak tertarik menunjukkan hal-hal itu.

Untuk tujuan St. Matius, tidak cukup baginya untuk menyebutkan persinggahan singkat Tuhan kita di Betlehem sebagai bayi dan anak kecil, Ia harus dibesarkan di Nazaret untuk “disebut orang Nazaret.” Jadi, penekanan St. Matius adalah pada Kristus dan Keluarga Kudus yang datang ke Nazaret di mana Kristus dibesarkan untuk menggenapi nubuat “yang disampaikan oleh nabi-nabi” (Matius 2:23). Namun, ia [St. Matius] juga tidak menyebutkan mereka “pertama kali” berada di sana.

Atau, mungkin juga Keluarga Kudus sebenarnya tidak melakukan perjalanan kembali ke Nazaret sampai satu atau dua tahun setelah kelahiran Tuhan kita. Sehingga memungkinkan ada rentang waktu untuk adanya “rumah” di Betlehem, “pelarian ke Mesir,” dan apa yang kita temukan dalam Matius 2:13-23 dan dalam Lukas 2:8-38.

Pemikiran terakhir

Banyak hal yang perlu dilakukan di sini, yaitu dugaan “berbagai kontradiksi” untuk diselesaikan. Namun sebagai nasihat penutup, saya akan mengulangi perkataan Romo Ken Roberts beberapa tahun lalu ketika ia berada di tenda pertemuan, seperti yang dikatakannya: “Kapan pun seseorang mengutip sebuah ayat Kitab Suci kepadamu, mintalah kepadanya untuk mengutip empat ayat sebelumnya dan juga empat ayat sesudahnya sebelum berpikir untuk memulai sebuah perbincangan.”

Intinya Romo Roberts membuat hal ini: Pastikan untuk menetapkan konteks yang benar untuk Kitab Suci, konteks yang bebas dari asumsi yang tidak sesuai dengan keseluruhan naskahnya.

Setidaknya itulah langkah yang baik untuk memulai suatu hal!

 

Sumber: “Do the Infancy Narratives of Matthew and Luke Contradict Each Other?”

Posted on 1 January 2021, in Apologetika and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: