Santo Damianus Nam Myong-hyok

Damiano Nam Myong-hyog (Sumber: cbck.or.kr)

Damianus Nam Myong-hyog (1786-1839) lahir pada tahun 1802 dari keluarga bangsawan. Ketika ia masih muda, ia suka berfoya-foya dengan teman-temannya yang nakal. Ketika berusia 30 tahun, ia belajar agama Katolik dan mulai melakukan agamanya. Ketika ada Pastor Pasifikus Yu Pang-je, seorang imam dari Tiongkok  datang ke Korea, Damianus dibaptis olehnya.

Ia menjadi seorang katekis dan mengajar banyak orang di rumahnya. Ia merawat tetangga dan juga orang-orang sakit, juga berusaha membaptis anak-anak bukan umat beriman yang dalam bahaya kematian. Orang-orang menghormatinya. Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya dengan nama apa ia ingin dipanggil di kehidupan kekal. Damianus berkata, “Saya ingin dipanggil dengan nama Damianus Nam, martir dan anggota dari Serikat Skapulir Suci.”

Pada awal tahun 1839, penganiayaan dimulai. Ada tuduhan dari seorang katekumen yang sakit hati, sehingga membuat nama 53 orang Katolik diketahui, terutama katekis Agustinus Yi Kwang-hon dan Damianus Nam. Tak lama kemudian, mereka ditangkap bersama dengan keluarga mereka. Jubah, mitra dan buku brevir dari Uskup Imbert, yang dipercayakan kepada Damianus dirampas aparat.

Santo Damianus Nam Myong-hyok (Sumber: cbck.or.kr)

Damianus diinterogasi dengan kejam karena barang-barang kepunyaan Uskup. Damianus berkata kepada kepala polisi bahwa barang-barang keagamaan itu kepunyaan Pastor Yakobus Zhou Wen-mo, yang telah menjadi martir pada tahun 1801, bukan kepunyaan uskup misionaris dari Perancis. Kepala polisi mengetahui bahwa apa yang dikatakan Damianus itu bohong, tapi kepala polisi tersebut berpura-pura percaya dengan apa yang dikatakan Damianus, karena dalam hatinya merasa takut akan terjadi masalah besar jika menangkap orang asing.

Kepala polisi menginterogasi Damianus dengan lebih kejam untuk mengintimidasi orang lainnya.

“Kamu memberikan kesaksian palsu. Jubah dan mitra uskup adalah benda yang baru. Bagaimana mungkin benda-benda itu kepunyaan seseorang yang sudah meninggal 40 tahun yang lalu?”

Sejak Damianus menolak untuk menyangkal agamanya dan memberitahukan nama-nama umat Katolik lainnya, ia disiksa dengan kejam. Tulangnya patah. Ia dipukuli dengan kejam sehingga tidak sadarkan diri selama empat hari. Namun, syukur kepada Allah, kesadarannya pulih kembali.

Setelah Damianus dijatuhi hukuman mati, dari dalam penjara ia menulis sepucuk surat untuk istrinya. Surat itu tertulis demikian, “Dunia ini bukan apa-apa, hanya sebuah penginapan yang kita lewati saja. Rumah kita yang sebenarnya adalah Surga. Ikuti saya dan jadilah seorang martir. Saya harap kita bisa bertemu kembali di kerajaan mulia yang abadi.”

Pada hari Jumat tanggal 24 Mei 1839, Damianus dibawa keluar Pintu Gerbang Kecil Barat dan dipenggal bersama delapan umat Katolik lainnya. Berdasarkan saksi mata, Damianus tidak pernah berhenti berdoa sampai kepalanya dipenggal. Ketika menjadi seorang martir mulia, ia berusia 38 tahun.

 

Sumber: cbck.or.kr

Posted on 27 October 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: