Advertisements

Santa Lusia Pak Hui-sun

Santa Lusia Pak Hui-sun (Sumber: cbck.or.kr)

Santa Lusia Pak Hui-sun (Sumber: cbck.or.kr)

Lusia Pak Hui-sun (1801-1839) dan Maria Pak K’un-agi (1786-1839) adalah kakak beradik yang lahir pada keluarga kaya di Hanyang. Adiknya yaitu Lusia Pak Hui-sun, dikenal karena kecantikannya, dan pada usia dini dia dipanggil untuk menjadi dayang istana yang akan menjadi ratu di istana kerajaan. Dia seorang yang pandai dan memiliki kemampuan, sehingga dia dengan cepat dipromosikan. Dia orang yang sangat fasih dalam bahasa baik bahasa Korea dan Mandarin. Di sisi lain, kecantikannya menjadi sumber permasalahan. Pada usia lima belas tahun, raja yang masih berusia tujuh belas tahun menemukan dia, dan tertarik pada kecantikannya, dan raja berusaha untuk merayunya.

Wanita istana biasanya akan menganggap hal ini sebagai suatu kehormatan dan kebanyakan dari mereka akan berusaha keras untuk menarik perhatian raja. Namun Lusia Pak Hui-sun menyadari akan kepercayaan ratu dan dengan keberanian yang besar dia menghindari supaya dia tidak jatuh dalam godaan. Sebuah rumor tentang situasi itu menyebar di seluruh istana. Kemudian, ketika Uskup Imbert mendengar hal itu, dia berkata demikian, “Hal ini adalah sebuah tindakan keberanian dan kelurushatian, hal seperti ini tidak pernah dilihat di Korea sebelumnya.”

Lusia Pak Hui-sun berusia tiga puluh tahun ketika dia mendengar tentang Gereja Katolik. Dia menjadi tidak puas dengan kehidupan di istana dan dia mencari makna kehidupan yang lebih besar ketika Gereja Katolik dikenal dan menjadi cahaya yang terang bagi dia. Dia ingin mempelajari doktrin dengan lebih mendalam supaya dia memahami dan mempercayainya dengan lebih baik. Namun, di istana yang penuh dengan kemewahan dan tahayul, di sana tidak ada tempat untuk menjalankan iman. Pada saat itu, biasanya seorang wanita istana akan hidup selamanya di istana, dan mereka yang meninggalkan istana oleh karena alasan yang sangat serius, sehingga sulit bagi dia untuk keluar dari sana. Namun demikian, dia bertekad untuk menghabiskan sisa hidupnya berdasarkan ajaran Gereja, dan dia berpura-pura sakit, dan akhirnya dia mendapatkan izin untuk meninggalkan istana.

Ayahnya dengan gigih menentang Gereja dan menolak dia untuk tinggal di rumah, sehingga dia terpaksa tinggal bersama dengan keponakannya. Di sana dia menolak semua kemegahan dan kemewahan dan memilih cara hidup sederhana. Oleh karena teladan dia, keponakannya dan juga keluarga keponakannya tertarik kepada Gereja dan mereka semua dibaptis.

Pada saat itu, kakaknya yaitu Maria Pak juga datang kepada dia untuk tinggal di rumah yang sama dengannya. Latar belakang pertobatannya tidak diketahui dengan jelas, namun tak diragukan juga karena pengaruh dari adiknya.

Ketika penganiayaan terjadi, mereka berusaha untuk hidup tenang bersama-sama, namun pada tanggal 15 April 1839, ketika mereka berusaha untuk menyusun rencana untuk menghindari amarah pihak berwenang, polisi mendatangi rumah mereka. Lusia Pak Hui-sun keluar untuk menemui mereka dan mengundang mereka untuk minum anggur dan makan. Kepada kelurganya dan umat Katolik lainnya yang terkejut akan sikapnya, dia berkata, “Tidak akan terjadi sesuatu tanpa izin dari Allah. Karena ini adalah kehendak Allah, mari kita menerimanya dengan rela.”

Lusia Pak Hui-sun, kakaknya, dan umat Katolik lainnya menuju penjara dengan semangat yang baik. Mereka tahu betul apa yang akan terjadipada mereka, namun anehnya, mereka tidak takut.

Berita tentang seorang wanita istana telah ditangkap, menyebar dengan luas. Sebuah perintah dikeluarkan oleh istana, “Jika ditemukan bukti terhadap mantan wanita istana, atapun yang masih sebagai wanita istana, mereka akan ditangkap seperti yang telah diumumkan oleh istana.” Karena Lusia Pak Hui-sun pernah menjadi seorang wanita istana, dia disiksa tanpa ampun.

Komisaris polisi berteriak kepadanya, “Wanita istana lebih terdidik daripada wanita lainnya, bagaimana kamu percaya akan agama palsu dan tercela ini?”  Pak Hui-sun menjawab, “Kami tidak mempercayai agama ini sebagai agama palsu. Allah telah menciptakan segala sesuatu di langit dan di bumi dan telah memberikan kehidupan kepada manusia, sehingga layaklah untuk memuji dan menyembah Allah. Suatu kewajiban bagi setiap orang untuk meluhurkan Allah.”

Komisaris meminta dia dengan berkata, “Menyerahlah dari Gereja Katolik, dan laporkan nama-nama umat lainnya.” Dia menjawab, “Allah adalah pencipta dan juga Bapa. Apapun yang terjadi, saya tidak dapat meninggalkan Dia. Dia juga melarang kita untuk membahayakan orang lain, sehingga saya tidak dapat memberitahukan nama umat beriman lainnya.”

Komisaris menyadari bahwa dia tidak akan berhasil membujuk Lusia Pak Hui-sun, sehingga komisaris mengembalikan dia ke penjara dan memanggil kakaknya untuk menghadap hakim. Di pengadilan penjara, dia disiksa tiga kali lebih banyak yaitu dengan tiga puluh cambukan setiap kali disiksa. Dagingnya terkoyak, darahnya mengalir, tulang kakinya terlihat dan akhirnya kaki yang satunya lagi patah, Lusia Pak Hui-sun menyeka luka-lukanya dengan rambutnya sambil berkata, “Sekarang saya mengerti sedikit rasa sakit dari Tuhan kita Yesus dan Bunda Suci Maria.” Dia menolak untuk menunjukkan rasa sakitnya keluaran. Tak peduli seberapa parah luka-lukanya, luka itu sembuh dengan sempurna dalam beberapa hari dan membuat takjub setiap orang. Para penjaga dan hakim mengaitkan hal itu dengan sihir. Menyadari tidak ada harapan untuk membujuk para tahanan untuk mengakui kesalahan mereka, mereka melaporkan demikian, “Pak Hui-sun dan teman-temannya  bertahan baik siang maupun malam dalam jalan kesesatannya. Perbuatan mereka jahat dan tidak tulus. Perkataan mereka dan keheningan mereka semuanya adalah tahayul dan sihir. Dalam perkataan dan bahasa isyarat, mereka tidak melakukan apapun selain kutukan. Mereka menolak untuk menyesalinya dan oleh karena itu meraka pantas mati.”

Di penjara, Lusia Pak Hui-sun merupakan seorang rasul yang aktif bagi Tuhan, dia mengajar para tahanan, menghibur yang berduka dan membantu umat Katolik di tengah kekhawatiran dan keraguan mereka.

Lusia mempersiapkan dirinya untuk kemartiran. Sementara itu, kehidupan di penjara sangatlah sulit dan dia sangat menginginkan untuk segera pergi ke sisi Tuhan. Suatu hari, dia memanggil algojo dan berkata kepadanya, “Saya memiliki permintaan. Ketika Anda memenggal kepala saya, janganlah ragu. Lakukanlah dengan satu kali tebasan.”

Maria Pak K’un-agi sama seperti adiknya, dia sangat menderita dan juga menerima hukuman mati. Namun hukum melarang untuk melakukan dua anggota keluarga dieksekusi sekaligus pada hari yang sama, sehingga dia dan adiknya dipisahkan. Ketika Lusia Pak Hui-sun meninggalkan penjara untuk dieksekusi pada tanggal 24 Mei 1839, dia berkata kepada para tahanan lainnya, “Mari kita berjalan bersama di jalan kemartiran untuk mendapatkan kemuliaan di Surga.” Dia berdoa sepanjang jalan menuju tempat eksekusi dan tanpa kehilangan ketenangannya dia menerima tebasan algojo dan dia pergi ke sisi Tuhan. Dia pada waktu itu berusia 39 tahun. Maria Pak K’un-agi menunggu selama empat bulan sampai pada tanggal 3 September, dan pada usia 44 tahun dia juga menumpahkan darahnya demi Tuhan.

Keduanya, Lusia dan Maria dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Sumber: cbck.or.kr

Advertisements

Posted on October 19, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: