Advertisements

Santa Barbara Kim

Santa Barbara Kim (Sumber: cbck.or.kr)

Santa Barbara Kim (Sumber: cbck.or.kr)

Santa Barbara Kim (1805-1839) adalah salah seorang yang meninggal di penjara karena penyakit. Berdasarkan “Catatan Harian Penganiayaan Tahun 1839” oleh  Karolus Hyon Sok-mum, lebih dari enam puluh orang meninggal karena disiksa dan penyakit di penjara.

Bahkan, rasa sakit dari siksaan sangat buruk, kehidupan sehari-hari di penjara lebih buruk lagi dan tak tertahankan. Banyak orang yang dengan berani menjadi saksi melalui semua bentuk siksaan, namun akhirnya menyerah karena kelaparan dan kehausan. Para tahanan hanya diberi tidak lebih dari dua genggam nasi per hari, namun sering kali kurang dari itu, sehingga mereka makan jerami kotor tempat mereka berbaring. Juga, dengan jumlah orang yang banyak sehingga mereka berdesakan dalam satu sel yang kecil, sehingga penyakit tidak dapat dihindari dan sangat cepat menyebar. Uskup Daveluy yang kemudian wafat sebagai martir menuliskan tentang situasi di penjara: Umat Katolik kami ditempatkan di penjara dengan sangat berdesakan sehingga mereka tidak dapat meregangkan kaki mereka untuk tidur. Dibandingkan dengan penderitaan di dalam penjara, rasa sakit dari siksaan itu tidak ada apa-apanya. Di atas segala hal lainnya, bau busuk dari luka yang membusuk tak tertahankan dan panas karena tifus akan muncul dan membunuh mereka dalam beberapa hari.

Orang seperti Barbara Kim menderita karena kehidupan penjara yang ekstrim. Mereka yang di dalam penjara sangat cemas apakah mereka akan hidup lebih lama lagi untuk mendapatkan kemuliaan kemartiran dari pedang algojo.

Barbara Kim lahir pada keluarga misin di Provinsi Kyonggi. Keluarganya adalah Katolik, namun tidak terlalu saleh. Pada usia tiga belas tahun, Barbara Kim dikirimkan sebagai seorang pembantu rumah tangga kepada keluarga Katolik Maria Hwang. Di sana dia secara rohani bertemu dengan Allah, dan pengabdian untuk Yesus bertumbuh. Dia orang yang berterus terang dan rajin, dan mengukir hatinya dengan ajaran Tuhan. Dia sangat memperhatikan rahmat Tuhan dalam hidupnya, dan dia bertekad untuk tetap perawan.

Suatu hari ayahnya datang untuk mengatakan bahwa perjodohan telah dirancang baginya dengan seorang pria muda Katolik.

Ayahnya berkata demikian, “Dia seorang pasangan yang sangat baik dan kita telah menyetujuinya sehingga sekarang kamu harus mempersiapkan diri untuk pernikahan.”

Dia menjawab, “Harapan saya untuk memelihara kemurnian saya bagi Tuhan.”

“Jika suami dan istri, keduanya adalah umat beriman sehingga tidak ada hambatan untuk kehidupan beriman dan pasangan ini akan menjadi keuntungan bagi kamu, sehingga janganlah begitu keras kepala,” jawab ayahnya dan dia tidak memiliki pilihan lain untuk menyetujui pernikahannya.

Namun demikian, diketahui bahwa suaminya seorang yang bukan umat beriman dan seluruh usahanya untuk mempertobatkannya sia-sia. Dia memiliki beberapa anak darinya, dan dia hanya dapat membaptis satu anak perempuannya. Perbedaan iman membuat banyak kesulitan diantara pasangan itu dan permasalahan itu tidak pernah dapat dipecahkan. Setelah kematian suaminya, dia dapat mengabdikan dirinya dalam doa dan perbuatan baik.

Dengan kedatangan imam dari luar negeri di negaranya, dia dapat menjalani kehidupan spritual yang bersemangat dan bahagia. Barbara ditangkap pada bulan Maret 1839 dan dihukum dengan disiksa, namun dia menolak untuk murtad ataupun mengungkapkan nama-nama umat Katolik lainnya. Selama tiga bulan dalam kehidupan penjaranya dia menderita dari siksaan, kelaparan, kehausan dan juga penyakit. Pada tanggal 27 Mei 1839, Barbara Kim meninggal karena demam tifus dan jenazahnya terbaring di atas tikar kotor di selnya pada usia tiga puluh lima tahun. Dia dibeatifikasi pada tanggal 5 Juli 1925, dan dikanonisasi pada tanggal 6 Mei 1984 di Yoido, Seoul oleh Paus Yohanes Paulus II.

Sumber: cbck.or.kr

Advertisements

Posted on December 10, 2015, in Orang Kudus and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: