Penyaliban, Ekaristi, dan Tamid

Oleh Dr. Brant Pitre

Agnus Dei karya Francisco de Zurbarán (Sumber: wikipedia.org)

Tamid dijelaskan di beberapa tempat dalam Perjanjian Lama. Saya akan memberikan beberapa perikop mengenai Tamid, dan marilah kita lihat apa yang Alkitab katakan mengenai perjamuan kuno ini dan bagaimana Yesus menggenapinya. Kutipan pertama dari Keluaran 29, yang menggambarkan kurban harian yang akan dilakukan bangsa Yahudi di Bait Allah:

“Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari. Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi dan domba yang lain kauolah pada waktu senja. Dan beserta domba yang satu kauolah sepersepuluh efa tepung yang terbaik dengan minyak tumbuk seperempat hin, dan korban curahan dari seperempat hin anggur” (Keluaran 29:38-40).

Apa itu korban curahan? Itulah kurban minuman. Suatu cairan yang digunakan sebagai persembahan yang dituangkan imam di altar Bait Allah. Biasanya terbuat dari anggur. Maka bisa dikatakan sebagai persembahan anggur. Jadi itulah yang dilakukan pada pagi hari. Kemudian:

Domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja; sama seperti korban sajian dan korban curahannya pada waktu pagi harus engkau mengolahnya sebagai persembahan yang harum, suatu korban api-apian bagi TUHAN, suatu korban bakaran yang tetap di antara kamu turun-temurun, di depan pintu Kemah Pertemuan di hadapan TUHAN. Sebab di sana Aku akan bertemu dengan kamu, untuk berfirman kepadamu (Keluaran 29:41-42).

Apakah Anda ingat mengenai kemah pertemuan itu apa? Itulah tabernakel Musa. Ingat juga kemah yang didirikan itu adalah bait suci yang bisa dipindah-pindah, tempat sesembahan bangsa Israel yang mengembara di padang gurun pada waktu zaman pembebasan dari tanah Mesir (Exodus). Kemah itu menjadi semacam purwarupa dari Bait Allah. Dan pada ayat di atas, itulah yang dikatakan Musa, bahwa setiap hari, setiap pagi, setiap petang, orang Yahudi akan mempersembahkan persembahan tetap, atau sebuah perayaan harian yang tidak akan pernah berhenti. Adapun perayaan itu terdiri dari tiga komponen: domba, kurban roti, dan kurban anggur. Sekarang kita lihat beberapa terjemahan dari komponen itu. Persembahan roti dalam bahasa Ibrani disebut mincha, kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kurban sajian/kurban sereal.” Mungkin Anda pernah mendengar mengenai kurban sajian, namun jika kurban sereal akan sedikit membingungkan Anda. Orang zaman sekarang mungkin berpikir kurban sereal seperti semangkuk besar sereal instan seperti yang dijual di supermarket, dan mangkuk itu dibawa imam agung ke Bait Allah dan dipersembahkan atas nama masyarakat. Namun sebenarnya, kurban sereal atau kurban sajian itu terdiri dari roti tidak beragi yang akan diurapi dengan minyak dengan bentuk salib dan dipersembahkan di Bait Allah bersama kurban anggur. Nah apakah pernah melihat roti tipis bundar yang diurapi dengan tanda salib? Ya, itulah yang kita dapatkan dalam gambaran Ekaristi, dan hal itu berasal dari Perjanjian Lama.

Jadi dalam Perjanjian Lama, kita tahu mengenai kurban harian Tamid, dan pada Bilangan 28 ada pengulangan deskripsi kurban ini karena hal ini adalah perintah yang sangat penting. Tuhan berkata kepada Musa:

Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela …

Perhatikan, domba yang dipersembahkan bukan sembarang domba, tapi harus domba yang tidak bercela.

… setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap; domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja. Juga sepersepuluh efa tepung yang terbaik untuk korban sajian, diolah dengan seperempat hin minyak tumbuk. Itulah korban bakaran yang tetap yang diolah pertama kali di atas gunung Sinai menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN. Dan korban curahannya ialah seperempat hin untuk setiap domba; curahkanlah minuman yang memabukkan sebagai korban curahan bagi TUHAN di tempat kudus.

Perhatikan, hal ini sedang membahas minuman anggur. Tidak seperti Jack Daniels, minuman keras itu hanyalah kurban anggur kepada Tuhan.

Satu domba lainnya harus dipersembahkan pada petang hari, sama seperti kurban sajian di pagi hari, dan seperti kurban curahan, Anda harus mempersembahkannya sebagai korban api-apian, aroma yang menyenangkan Tuhan.

Jadi apa yang digambarkan Perjanjian Lama di sini adalah kurban yang penting. Sesuatu yang mutlak diperlukan yaitu persembahan di Bait Allah, sejak Bait Allah itu dibangun sampai kehancurannya. Setiap hari tugas utama imam di Bait Allah adalah mempersembahkan Tamid, setiap pagi, setiap petang, kurban anak domba, roti dan anggur untuk selamanya turun temurun. Kita seringkali mengira bahwa perayaan ini adalah perayaan tahunan yang dilakukan setahun sekali bahkan sebagai perayaan musiman yang dinantikan. Namun jika Anda seorang Yahudi, dan Anda ingin ikut serta dalam liturgi di Bait Allah, yang diperlukan adalah datang ke Bait Allah pada jam kurban, pada setiap pagi dan petang hari, dan berdoa dalam persatuan dengan persembahan roti dan anggur dan kurban anak domba Tamid. Dan kenyataannya, Anda akan melihat bahwa kutipan yang baru saja kita baca di atas adalah kurban api-apian. Apa itu artinya? Pada abad pertama, di Bait Allah, di luar Tempat Kudus ada altar pengorbanan yang terbuat dari perunggu. Di sanalah Tamid dipersembahkan. Anak domba akan dikorbankan dan akan dipersembahkan di atas altar kurban perunggu itu.

Sebagai umat Katolik, apa yang kita bayangkan tentang altar? Mungkin meja kecil yang terbuat dari marmer atau batu, atau juga dari kayu yang kokoh atau yang lainnya. Namun bagi umat Yahudi, altar kurban perunggu tingginya 12 kaki (sekitar 3,6 meter) dan berdiameter 20 kaki (sekitar 6 meter), suatu benda besar pada abad pertama di zaman Yesus. Sang imam harus naik melalui tangga untuk mempersembahkan kurban. Dan dalam Mishnah kita dapat mengetahui tentang kewajiban setiap kali Tamid dipersembahkan, pada pagi hari seorang imam akan dipilih untuk memanggul balok kayu di pundaknya menaiki tangga untuk menyalakan api di altar kurban. Tindakan ini paralel dengan praktik dalam Perjanjian Lama. Siapa yang memanggul kayu bakar untuk dirinya sendiri yang akan menjadi korban sambil menaiki gunung? Ya, ia adalah Ishak. Lihat orang Yahudi melihat kurban harian mereka semacam rekapitulasi kurban Ishak. Jadi sang imam akan berperan melalui pemanggulan balok kayu, kemudian menyalakan api ke kayu itu, kemudian membawa anak domba untuk dipersembahkan sebagai kurban bakaran kepada Allah, sementara itu roti dan anggur ditumpahkan sebagai kurban makanan dan minuman kepada Allah di dalam Tempat Kudus. Nah itulah kehidupan orang Yahudi sehari-hari, inilah tujuan dari liturgi itu.

Ketika peristiwa itu berlangsung, sementara para imam melakukan hal itu di dalam Bait Allah, orang-orang awam akan berkumpul dan melalukan dua hal. Yang pertama, mereka akan berdoa, doa yang orang Yahudi sebagai Shema. Apa itu Shema? Dalam Ulangan 6, Shema dalam bahasa Ibrani artinya “dengarkanlah.” Itulah doa Yahudi yang terkenal:

Dengarlah, hai Israel. TUHAN adalah Allah kita. TUHAN adalah satu. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu (Ulangan 6:4-5).

Jadi orang-orang akan mendoakan doa Shema, dan mereka juga berdoa doa litani yang panjang yang dikenal dengan Delapan Belas Ucapan Syukur, delapan belas berkat Allah, yang merupakan doa yang dihafal dan diulang-ulang. Doa itu bukan doa spontan, tetapi doa yang sudah dibakukan. Dan praktik naik menuju Bait Allah untuk berdoa dalam persatuan dengan kurban Tamid adalah kebiasaan umum orang Yahudi. Pengurbanan ini terjadi setiap hari di waktu yang spesifik, yaitu pada jam 9 pagi dan jam 3 sore. Adapun jam 9 pagi itu disebut orang Yahudi sebagai jam ketiga, dan jam 3 sore mereka sebut jam kesembilan. Mereka menentukan jam dengan cara yang berbeda dengan cara kita sekarang ini. Jadi setiap hari, setiap jam 9 pagi dan 3 sore, dipersembahkan seekor anak domba jantan yang tidak bercela, roti dan anggur.

Anda bisa melihat Kisah Para Rasul 2:15 dan 3:1, yaitu kisah Pentakosta ketika semua rasul berkumpul dan berdoa bersama, kemudian Roh Kudus turun atas mereka, dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Ingatkah Anda? Apa yang terjadi? Beberapa orang mulai berkata, “Mereka belum diurapi Roh Kudus.” Sebenarnya mereka menuduh apa? “Mereka mabuk!” Apa yang dikatakan Petrus menganggapi hal ini? “Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan.” Apa artinya? Terlalu dini bagi seseorang untuk mabuk. Mengapa Petrus berbicara pukul sembilan pagi? Apa yang mereka lakukan? Mereka berkumpul di Bait Allah untuk bersekutu dalam Tamid. Mereka berkumpul di sana pada jam doa dan pada saat itulah Roh Kudus turun atas mereka dan Petrus mulai khotbahnya yang terkenal itu pada Pentakosta. Maka pada jam 9 pagi dan 3 sore setiap harinya, dan jika Anda seorang Katolik dan sudah tahu kapan wafat Yesus. Maka seharusnya Anda sudah melihat apa yang sedang terjadi di sini, karena Yesus menggenapi kurban Tamid, bukan tepat pada harinya saja, namun pada jamnya juga.

Sumber: “The Crucifixion, the Eucharist and the Tamid”

Posted on 6 April 2020, in Ekaristi, Kitab Suci and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: