Bagaimana Naskah Laut Mati Ditemukan?

Oleh Dr. John Bergsma

Gua di Qumran (Sumber: wikipedia.org)

Pada awal musim semi tahun 1947, tiga orang gembala dari suku Badawi seolah-olah sedang menggembalakan kawanan ternak mereka di sepanjang pantai Laut Mati. Hal itu sepertinya janggal dan bertentangan karena bukan benar-benar padang rumput di pantai Laut Mati, di sana adalah daerah paling tandus yang pernah Anda temui, seperti di pusat kota Steubenville. Namun bagaimanapun juga, di sana tidak ada yang bisa dimakan dan semuanya berbahaya, juga airnya buruk. Jadi ini semacam rasa ingin tahu, mengapa para gembala Badawi ini mengawasi ternak mereka di sepanjang Laut Mati? Namun, bagaimanapun juga mereka melakukannya untuk suatu alasan, dan untuk menghibur dirinya sendiri, salah seorang gembala yang bernama Muhammed edh-Dhib mulai melemparkan bebatuan ke mulut gua yang berbaris di perbukitan. Di sana ada tebing kapur besar di sepanjang pantai Laut Mati. Ada banyak gua dan rongga, baik yang alami maupun buatan manusia, dan ia suka melempar batu ke pintu-pintu masuk dari gua itu.

Ia melempar batu pada salah satu gua dan kemudian ia mendengar ada sesuatu yang pecah dari dalam gua itu. Hal ini tidak biasa karana ia tidak mengira akan ada sesuatu yang pecah di sana. Saat itu ia tidak menyelidikinya, namun pada hari berikutnya mereka berada di lokasi yang berbeda dan ia punya waktu untuk kembali ke sisi tebing itu dan merangkak ke dalamnya untuk menyelidiki. Dalam gua itu, ia menemukan sekitar selusin tempayan tanah liat. Kebanyakan tempayan itu kosong, yang satunya penuh dengan tanah, dan tempayan terakhir berisi tiga naskah kuno. Ia tidak mengenai naskah yang ia tarik dari dalam tempayan itu. Dalam beberapa bulan, naskah itu menjadi bukti bahwa salah satu naskah adalah kitab Yesaya yang hampir lengkap dan berasal dari tahun 200 SM. Kejutan ini berdampak besar pada dunia ilmu Alkitab, karena sebelum penemuan manuskrip kitab Yesaya dari gua ini, salinan Ibrani tertua berasal dari sekitar akhir tahun 900 SM. Jadi tiba-tiba ada manuskrip yang hampir lengkap dan dalam pelestarian yang hampir sempurna dari seluruh kitab Yesaya selama 1.200 tahun lebih awal dari apa yang sudah kita lihat sebelumnya.

Dua naskah lainnya yang ditemukan Muhammed edh-Dhib juga sangat menarik. Salah satunya peraturan agama untuk kehidupan suatu komunitas, dokumen itu dinamai 1Q Serekh haYahad yakni bahasa Ibrani untuk peraturan komunitas. Aturan ini semacam peraturan St. Benediktus untuk kehidupan komunitas mereka. Peraturan itu apa yang kita anggap sebagai peraturan monastik. Naskah ketiga adalah komentar tentang kitab Kejadian. Jadi pada tahun 1947 adalah waktu penemuan Naskah Laut Mati. Perlu beberapa tahun untuk memublikasikan naskah pertama dan kemudian bagi semua naskah pada saat itu yang berjumlah 800 manuskrip.  Perlu waktu sampai akhir tahun 1990-an, semua naskah itu bisa dipublikasikan dan bisa diakses bagi para ahli. Naskah Laut Mati merupakan penemuan yang sangat besar dan banyak pekerjaan yang masih diperlukan untuk menelitinya.

Sumber: “The Dead Sea Scrolls: How Were They Discovered and Why are They Important?”

Posted on 4 April 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: