Penyaliban – Brutalnya Salib

Oleh Dr. Brant Pitre

Yesus Berjumpa dengan Maria, Ibu-Nya (Sumber: thecatholictalks.com)

Kebanyakan orang Kristen saat ini sudah biasa dengan istilah penyaliban. Bahkan mereka yang bukan Kristen sudah pernah mendengar penyaliban, hanya dengan merujuk pada Yesus dari Nazaret. Sudah banyak diketahui bahwa penyaliban yang dialami Yesus itu sebagai cara kematian yang sangat kejam dan menyakitkan. Dan khususnya, belakangan ini semakin diperjelas dengan film The Passion of the Christ karya Mel Gibson. Bahkan mereka yang bukan Kristen, juga orang Katolik sekalipun yang menonton film itu mendapat khazanah yang brutal dari penyaliban menurut Romawi kuno.

Di sisi lain, beberapa dari kita mungkin sudah biasa dengan penyaliban. Dan pada tingkat tertentu, kita tidak melihat kengerian salib karena dalam tradisi Kristen kita menganggap indahnya salib. Namun pertanyaannya bagaimana kita mendapatkan sisi ngeri dari cara eksekusi itu untuk mendapatkan pandangan bahwa salib itu indah? Bagaimana kita beralih dari A ke Z? Apa hubungan yang bisa memindahkan dari satu titik ke titik lainnya?

Jika kita ingin memastikan bahwa kita tidak biasa dengan penyaliban, dan kita perlu melihatnya sebagaimana di dunia Yunani-Romawi pada zaman Yesus hidup juga di dunia Yahudi, yang memiliki konotasi yang sama namun juga lebih ke implikasi teologis untuk memandang cara eksekusi ini. Yang kita dapatkan adalah rasa terkejut dan ngeri. Maka saya akan berusaha untuk melihat salib melalui cara pandang orang Yahudi dengan memperhatikan sejarah, misteri dan teologi. Dengan kata lain, apa makna kematian Yesus di kayu salib bagi para murid-Nya? Bagaimana Yesus bisa menggambarkan kematian-Nya sebagai perkawinan dan bagaimana cara memahaminya?

Ada beberapa data mengenai salib, diantaranya buku Hengel dan Ancient Jewish and Christian Perceptions of Crucifixion karya David Chapman. Inilah disertasi yang dilakukan dan dipublikasikan oleh Baker Academic di Amerika Serikat. Buku inilah ada semua yang bisa Anda ketahui mengenai penyaliban di dunia kuno. Bahkan jauh lebih lengkap dari buku Hengel dan sangat baik cara penyajiannya.

Poin pertama, seperti yang sudah Anda duga, penyaliban adalah bentuk eksekusi yang sangat kejam, dan cara ini yang paling dikenal oleh bangsa-bangsa kuno. Secara luas hukuman ini sebagai yang nomor satu oleh bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi sebagai cara mati yang paling mengerikan. Misalnya oleh seorang sejarawan Yahudi pada abad pertama yang bernama Josephus, mengungkapkan penyaliban sebagai “kematian yang paling malang,” dan oleh seorang ahli hukum Romawi yang bernama Paulus, menyebutnya sebagai “hukuman paling berat.” Jadi inilah bahasa yang umum, bahwa penyaliban adalah cara mati yang paling buruk.

Mengapa penyaliban dianggap seperti itu? Karena kebrutalan yang terjadi saat eksekusi yang dilakukan di dunia kuno. Contohnya, biasanya sebelum seseorang disalibkan, ia akan disesah. Bukan hal yang unik bagi Yesus Kristus, Ia juga mengalami pencambukan sebelum penyaliban dan pencambukan sendiri merupakan bentuk penyiksaan yang sangat brutal, dan awal dari penyaliban itu sendiri. Di dunia kuno, seperti yang dikatakan oleh Josephus, cara mereka akan mencambuk seseorang sebelum disalibkan adalah dengan cambuk kulit atau pecut yang dipasangi paku atau pecahan besi dan tulang.

Jadi benda itu tidak seperti cambuk biasa, namun cambuk yang dibuat untuk melukai tubuh sebanyak mungkin sebelum disalibkan. Bahkan, Josephus berbicara mengenai seseorang yang dicambuk “sampai tulang-tulangnya dibiarkan kelihatan,” dan contoh lainnya berbicara mengenai orang-orang yang dicambuk sampai “isi perutnya terlihat.” Jadi cambuk akan melingkar di perut dan merobeknya sehingga isi perut terlihat atau terburai. Jadi ini merupakan bentuk penyiksaan awal yang sangat-sangat brutal yang umum dilakukan sebelum seseorang disalibkan.

Dan Hengel menunjukkan hal ini dalam bukunya. Ia menentang beberapa ahli karena dalam 30 tahun terakhir mereka menggambarkan penyaliban sebagai kematian tanpa darah, namun sebagai mati karena lemas. Dan hal itu benar sejauh yang berkaitan dengan tubuh yang mati kelelahan, namun penyaliban bukan eksekusi tanpa darah karena pada umumnya dilakukan dengan mencambukinya, pencambukan itu bertujuan membuat seseorang berdarah-darah sampai hampir mati. Dan dalam beberapa kasus, para pria tidak berhasil sampai disalib karena mereka mati karena dicambuk.

Inilah salah satu alasan mengapa Yesus wafat begitu cepat di kayu salib. Ada perdebatan mengenai berapa jam Ia tergantung di kayu salib, apakah tiga atau enam jam, namun saya tidak akan membahasnya di sini. Jika enam jam, maka waktu itu bukan waktu yang lama untuk tergantung sebelum wafat. Anda tahu ada dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Kedua penjahat ini harus mati dengan dengan dihancurkan kakinya dengan palu, sehingga mereka akan mati lebih cepat. Jadi cambuk yang disebutkan oleh Hengel adalah bagian umum dari hukuman yang akan membuat darah mengalir deras. Maksud saya jika Anda pernah terluka di dahi, ada beberapa bagian tubuh tertentu yang akan berdarah sangat banyak dan pencambukan akan membuatnya berdarah-darah, dan itu baru awal yang mengerikan.

Poin kedua, ada aspek lain dari penyiksaan yaitu memikul salib. Setelah dicambuk, mereka yang dihukum salib dipaksa untuk memikul balok salib (bagian horizontal) ke tempat eksekusi. Jadi meskipun dalam ikonografi Kristen tradisional kita melihat Yesus membawa salib utuh, walaupun kita tidak dapat membuktikannya, ada kemungkinan Ia hanya membawa balok salib saja dan mereka membawa akan membawa bagian lainnya(palang vertikal) ke tempat eksekusi dan mereka akan memasangkan ke lubang yang sudah dibuat di tanah.

Para korban seringkali dicambuki di sepanjang jalan supaya siksaannya terus berlanjut. Ketika berada di tempat eksekusi, yang dijatuhi hukuman akan dibawa ke tempat publik dan sebisa mungkin dilihat semua orang. Penulis Romawi lainnya yang bernama Quintilian berkata:

Setiap kali kita menyalibkan orang yang bersalah, jalan yang paling ramai lah yang dipilih, di mana sebagian besar orang bisa melihat dan digerakkan oleh ketakutan ini (Declamations 274)

Apa yang ditunjukkan oleh Quintilian adalah penyaliban memiliki motif. Di dunia Romawi, bukan hanya kematian orang yang dihukum saja, namun juga jadi usaha pencegahan. Eksekusi menjadi upaya pencegahan bagi orang lain sehingga dilakukan di ruang publik atau tempat yang sangat terlihat. Anda bisa bayangkan apa dampaknya bagi orang yang menontonnya. Seolah-olah penguasa berbicara, “Jangan melawan kami! Inilah yang akan terjadi padamu!”

Ketika korban ditempatkan di salib, penyaliban itu secara istilah teknisnya disebut “suspension/penggantungan” seperti yang dikatakan oleh Chapman dan para ahli lainnya. Penggantungan tubuh manusia dengan cara tertentu pada tiang atau pohon. Dalam bahasa Yunani kata ini adalah stauroō. Jadi stauroō adalah istilah salib dalam bahasa Yunani yang kemudian dalam bahasa Latin menjadi crux. Dalam bahasa Inggris, ketika kita membicarakan inti permasalahan (crux of a problem), itu adalah salib.

Alasan. Berbanding terbalik dengan guillotine Perancis yang cepat, bersih, dan korbannya mati. Ataupun pemenggalan cara Romawi kuno, selama Anda seorang ahli pedang yang cukup kuat, Anda tidak akan kesulitan untuk memenggal kepala orang, tebasan yang baik maka ia mati. St. Paulus dipenggal karena ia seorang warga Romawi. Namun, penyaliban dirancang untuk menyiksa, membuat seseorang menderita selama mungkin. Dan seorang penulis Romawi terkenal lainnya yang bernama Seneca, dalam salah satu suratnya mengatakan hal ini dalam perspektif Romawi:

Bisakah menemukan orang yang lebih suka membuang rasa sakit sekarat, atau membiarkan dirinya mati setetes demi setetes daripada langsung mati selamanya? Bisakah menemukan seseorang yang bersedia diikat ke pohon  yang terkutuk …

Pohon terkutuk kadang membingungkan kita sebagai orang Kristen apakah sinonim untuk salib. Apakah seseorang digantung di pohon atau digantung dengan kayu dari pohon? Pohon terkutuk adalah bagaimana cara orang Romawi menyebut salib.

… rasa sakit yang lama, sudah tidak berbentuk, bengkak dengan luka buruk di bahu dan dada [Dari mana luka itu berasal? Ya, dari pencambukan dan dari memanggul salib], dan menarik napas kehidupan di tengah penderitaan yang panjang? Ia akan memiliki banyak alasan untuk mati sebelum dipaku di salib. (Seneca, Epistle 101 to Lucilius)

Jadi apa yang dimaksud Seneca adalah, “Berikanlah bentuk eksekusi lain selain penyaliban.” Siapa yang akan memilih metode kematian seperti ini? Karena penyaliban itu sangat menyiksa, sangat brutal, dan sama saja dengan mati perlahan-lahan. Itulah kekejaman fisik dari penyaliban.

Sumber: “Crucifixion: The Cruelty of the Cross”

Posted on 31 March 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: