Penyaliban – Penghinaan di Kayu Salib

Oleh Dr. Brant Pitre

Calvary karya Paolo Veronese, abad ke-16 (Sumber: wikimedia.org)

Kehormatan dan penghinaan adalah hal yang sangat penting pada zaman kuno. Maka elemen kedua mengenai penderitaan batin berhubungan dengan salib adalah penghinaan karena disalibkan [Elemen pertama bisa dibaca di artikel Penyaliban – Brutalnya Salib]. Bahkan Cicero seorang retoris ternama membicarakan tentang salib sebagai “pohon penghinaan.” Alasan hal itu dianggap demikian karena penyaliban secara khusus hukuman bagi para budak. Seneca menyebutnya “hukuman ekstrem dan pamungkas bagi seorang budak” dan Valerius Maximus menyebutnya “hukuman para budak.”

Saya menyebutkan St. Paulus dan wafatnya dengan dipenggal di Roma ketika masa penganiayaan Nero, alasannya karena St. Paulus menerima eksekusi yang lebih berbelas kasih karena dia seorang warga Romawi. Sedangkan St. Petrus, Uskup Roma, ia seorang Yahudi dari Yudea. Ia seorang imigran di Roma, Italia, jadi ia menderita hukuman bukan warga negara dengan disalibkan, meskipun ia meminta dengan disalibkan terbalik. Pikirkan bagaimana hal itu memperburuk penyiksaan karena ia merasa tidak layak disalibkan dengan cara yang sama persis dengan Tuhannya.

Jadi kematian dengan cara ini bermaksud untuk memberikan penghinaan atau mengejek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermalukan di depan semua orang. Jika Anda pernah merasa sangat malu, maka perasaan malu itu akan sangat mendalam dan menjadi hal yang serius. Inilah yang disebut penderitaan batin, karena orang-orang akan menyebutnya memalukan. Dan sekali lagi, baik orang Romawi dan Yahudi menyaksikan dampak dari hal ini. Maka penyaliban adalah bentuk ejekan. Contohnya Seneca menulisnya dalam Dialogues mengenai cara orang Romawi akan menyalibkan korbannya. Ia berkata demikian:

Aku melihat salib-salib di sana, tidak hanya satu jenis namun dibuat dengan berbagai macam cara: beberapa korbannya dengan kepala di bawah sampai di tanah [seperti St. Petrus]; beberapa orang menusuk bagian pribadi mereka; sebagian lagi merentangkan tangan mereka di tiang gantungan. (Seneca, Dialogue 6.20.3)

Dalam beberapa kasus, Tuhan kita dipaku sampai menembus tangan dan kaki-Nya. Dalam beberapa kasus, algojo akan bersenang-senang dengan mengarahkan pada bagian alat kelamin para korban. Jika Anda membayangkan apa yang dirasakan bukan hanya rasa malu namun juga rasa sakit dengan kematian seperti itu. Seneca berkata, “Aku melihat” maka hal ini adalah hal yang biasa atau umum terjadi. Hal ini adalah cara kematian yang mengerikan. Jika Anda pikir mengenai kesopanan itu berlaku umum, tidak setiap budaya memiliki standar kesopanan yang sama. Khususnya standar bangsa Yahudi, pandangan ditelanjangi di hadapan setiap orang akan sangat memalukan, namun dieksekusi dengan ditusuki bagian sensitif itu mengerikan. Suatu hal yang sulit kita bayangkan.

Maaf, hal seperti ini jadi semacam di luar batas atau situasi ekstrem, tapi inilah fakta mengenai penyaliban. Saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan Misteri Salib yang agung. Karena inilah Misteri Kristen. Apa artinya bagi Allah? Bukan hanya kehendak dari awal mula mengenai nasib Putra-Nya yang Ilahi, namun hal ini juga untuk menarik kita lebih dalam. Dengan kata lain, para martir dan semua yang sudah dibaptis dibentuk untuk meneladani-Nya.

Josephus juga memberi tahu kita beberapa hal mengenai penyaliban yang terjadi pada perang Yahudi-Romawi, dan ketika ia berkata mengenai Titus, yang merupakan seorang jendral Romawi yang merebut Yerusalem. Ia berkata:

[Titus] memperbolehkan serdadunya untuk bertindak sesuka hatinya, terutama ketika ia berharap akan pemandangan mengerikan dari salib yang tak terhitung jumlahnya yang mungkin bisa membuat mereka yang dikepung supaya menyerah.

Ketika orang-orang Yahudi berada di kota Yerusalam, mereka dikepung oleh Titus dan pasukan Romawi. Saat itu tahun 70 M dan mereka berusaha membuat supaya orang yang sedang dikepung itu menyerah dari pengepungan. Dan untuk melakukan itu, mereka mulai menyalibkan orang-orang, Jadi inilah yang ia katakan:

Jadi para serdadu, dengan amarah dan kebencian mereka membawa para tahanan yang mereka tangkap, memaku para tahanan itu dengan postur yang berbeda di salib-salib itu, dengan mengejeknya … (Josephus, War 5:451)

Jadi para serdadu menempatkan para tahanan dalam posisi yang bisa membuat mereka tertawa dan membiarkan para tahanan mati dengan cara itu. Jadi serdadu itu bersenang-senang atas tubuh para korban ini dengan melampiaskan kemarahan dan kekejaman mereka kepada orang yang disalibkan itu. Dan jendral Titus membiarkan para serdadunya melakukan hal itu dan berkata setidaknya ini bisa mengubah sikap orang Yahudi di kota itu untuk berhenti bersikeras untuk tetap tinggal di sana ketika mereka dikepung.

Poin keempat dari penyaliban yang meningkatkan rasa malu itu bukan hanya pada identitas sebagai budak, ejekan dan kekejaman yang dialami, namun juga ketidaksopanan yang merupakan sudah biasa menjadi bagian dari penyaliban. Inilah permasalahanya, seperti yang ditunjukkan oleh Hengel dan Keener dan sebagian besar para ahli lainnya, para korban biasanya disalibkan dengan telanjang. Inilah yang tidak begitu kita pahami mengenai penyaliban Yesus dari Nazaret dan yang pada umumnya kita melihat-Nya di kayu salib yang mana Ia mengenakan sehelai kain di pinggang-Nya. Itulah ikonografi secara umum.

Ada beberapa diskusi di antara para ahli, dalam kasus penyaliban Yesus, apakah Ia mengenakan kain pinggang atau tanpa kain. Para Bapa Gereja berbeda pandangan mengenai hal ini. Beberapa para Bapa Gereja mula-mula sepertinya memperkirakan bahwa Yesus benar-benar ditelanjangi. Contohnya, Melito dari Sardis dalam bukunya On the Pascha. Sedangakan para Bapa Gereja lainnya menggambarkan Yesus mengenakan kain pinggang. Yang mana pun caranya, menggambarkan Yesus seperti sedang dieksekusi, jika kita membayangkan, Anda hanya mengenakan pakaian dalam Anda di depan semua orang di tempat umum, sangat membuat malu kan? Jika Anda harus berpikir bukan hanya tentang standar kesopanan zaman kuno, namun juga standar kesopanan pada saat kejadian penyaliban. Melucuti seseorang dari pakaian bahkan sampai ke pakaian dalamnya di hadapan banyak orang merupakan hal yang sangat memalukan. Namun biasanya, itulah kasus pada mereka yang telanjang bulat. Tentu saja, sebagian besar film modern tidak menggambarkan aspek penyaliban seperti ini karena akan meyinggung perasaan kita, dan itulah dasarnya.

Contohnya jika kita membuka halaman 6 pada buku karangan Dionysius dari Halicarnassus, yang menuliskan buku yang panjang mengenai sejarah Romawi, ia menuliskan demikian:

Seorang warga Romawi yang kedudukannya terpandang, setelah memerintahkan seorang budaknya dijatuhi hukuman mati, menyerahkannya kepada sesama budaknya untuk dibawa pergi, dan agar hukumannya disaksikan oleh semua orang, dan memerintahkan mereka untuk menyeretnya melalui Forum dan setiap bagian kota yang mencolok ketika mereka mencambukinya …

Jika Anda sudah menyusuri Via Dolorosa di Yerusalem, mengapa harus berjalan-jalan di sepanjang kota? Ya, itulah sebuah parade. Parade penyaliban. Mereka sedang mempertontonkan kepada semua orang perjalanan menuju pohon salib. Dan elemen penting di sini adalah penghinaan.

… bahwa ia harus menjalani terlebih dahulu prosesi yang dilakukan orang Romawi pada saat itu untuk menghormati dewa.

Jadi orang Romawi mengaitkannya dengan parade lokal demi kemurahan hati dewa Dionysius atau apa pun itu.

Orang-orang itu memerintahkan untuk membawa budak itu ke hukumannya, dengan merentangkan kedua tangannya dan mengikatnya pada sebatang kayu yang membentang dari dada dan pundaknya hingga ke pergelangan tangannya, kemudian tubuhnya yang telanjang dikoyak dengan cambuk.

Di sini kita bisa melihat kembali suatu fakta sebenarnya bahwa Ia telanjang ketika memanggul salib.

Si penjahat yang berusaha mengatasi kekejaman ini, tidak hanya berteriak karena penderitaan ini, karena rasa sakit, tapi juga dari pukulan tidak senonoh di bagian bawahnya. (Dionysius dari Halicarnassus, Roman Antiquities, 7.69.1-2)

 Tidak jelas seperti apa yang dimaksudkan di tulisan itu, namun kemungkinan si penjahat diekspos dengan cara yang tidak senonoh, dipermalukan di hadapan umum, sesuatu yang sangat memalukan. Hal ini bukan hanya ada dalam literatur Romawi saja. Di literatur Yahudi kuno juga ada, penghinaan adalah bagian dari eksekusi. Dalam Mishnah ada diskusi dalam Treatise Sanhedrin (Risalah Sanhedrin). Perlu diketahui Mishnah ini adalah kumpulan tradisi para rabi dari zaman Kristus sampai akhir abad ke-2 M, sedangkan Sanhedrin itu adalah dewan pemimpin orang Yahudi. Dalam risalah itu para pemimpin Yahudi itu membahas pertanyaan bagaimana eksekusi harus dilakukan. Ada pertanyaan apakah eksekusi dilakukan dalam keadaan telanjang atau tidak, dan dalam Mishnah tertulis demikian:

“Ketika ia [pelaku kejahatan] berada sejauh empat hasta dari tempat rajam, mereka [para eksekutor] melucuti pakaiannya. Seorang pria tetap berpakaian di bagian depannya, dan wanita berpakaian baik dari depan maupun belakang. Demikianlah Rabi Yehuda. Namun para orang bijak mengatakan: Seorang pria dirajam telanjang tetapi seorang wanita tidak dirajam telanjang.” (Mishnah Sanhedrin 6:3)

Kita bisa melihat bahwa standar kesopanan dalam orang Yahudi setidaknya lebih besar daripada, sebutlah bangsa Yunani yang kebiasaan perajaman adalah sambil telanjang yang menjadi bagian penghinaannya. St. Paulus dilempari batu selama pelayanan publiknya dan mengalami nasib seperti itu. Meskipun demikian, ia seorang pria yang sulit ditaklukkan, ia baru saja bangkit dan kembali ke kota dan mulai berkhotbah lagi. Itulah sesuatu yang tidak terpikirkan oleh kita. Sekali  lagi, dalam adegan atau penggambaran dari perajaman, elemen ini dihilangkan.

Jelas sekali di sini, inilah literatur yang membuat beberapa ahli bertanya-tanya karena dikatakan bahwa seorang pria ditutupi bagian depannya dan seorang wanita ditutupi baik bagian depan dan belakangnya. Tampaknya seorang pria diberi semacam pakaian dalam seperti itu atau kain pinggang, jadi seseorang akan ditelanjangi untuk mengenakan pakaian  itu, sedangkan wanita diberikan juga pakaian dalam untuk menutupi tubuhnya. Tetapi kemudian yang para ahli lainnya berpendapat, “Tidak, seorang pria harus dirajam sambil telanjang bulat,” kan? Jadi tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa memalukannya penyaliban itu, atau dalam hal ini dirajam sampai mati.

Ada literatur lain yang tidak saya berikan di sini, yaitu Chapman menyebutkan mengenai hukuman gantung bagi pria dan wanita. Mereka berkata bahwa pria akan digantung dengan menghadap ke luar, namun karena kesopanan, mereka akan menggantung wanita dengan menghadap ke pohon, sehingga bagian depannya tidak kelihatan. Jadi itulah saat-saat yang brutal, yang sangat berbeda dari apa yang kita gunakan sekarang demi perasaan kita.

Sumber: “Crucifixion: The Shame of the Cross”

Posted on 30 March 2020, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: