Jalan Menuju Keabadian – Kisah Melissa Funderburk

Melissa Funderburk (Sumber: chnetwork.org)

Dahulu saya seperti hidup di dalam kabut. Pada mulanya, kabut itu tidak mengganggu saya. Saya yakin akan paru-paru saya yang masih muda dan kuat mampu mengatasi segalanya. Namun kabut itu diam-diam semakin tebal setiap harinya.

Pada tahun 2012, suasana di sekitar saya dipenuhi dengan kesibukan. Kira-kira dalam sepuluh tahun, karir saya meroket, memiliki perkawinan dengan dua orang anak, Mariah dan Carson, juga berbagai macam kegiatan bersama keluarga dan teman-teman, tanggung jawab di berbagai komite gereja, memelihara dua mobil mahal, dan memiliki sebuah rumah mewah yang ada kolam renangnya.

Semuanya tampak baik. Bahkan bisa dikatakan hebat. Hal ini sesuai dengan apa yang saya dengar di dunia bahwa saya harus memiliki dan berusaha menjadi sukses dan bahagia. Kecuali …

Kecuali, saya tidak bahagia. Suasana berputar-putar dengan ketegangan dan kesepian yang tidak dapat saya jelaskan. Akhirnya saya tidak dapat bernapas lagi. Kabut itu begitu tebal, dan juga berat. Saya berusaha memperlambat diri. Hanya untuk bernapas lebih dalam dan lebih lama. Namun semakin dalam menghirup kabut justru semakin mencekik saya ketika saya menyaksikan gerakan lambat dari “reality show” kehidupan keluarga saya di sekitar saya yang berputar di luar kendali …

Mariah berteriak dengan komentar yang penuh kebencian terhadap kakaknya karena memakan kuenya yang terakhir yang dia rencanakan untuk dimakan pada makan malam sebelum latihan pemandu sorak. Saat John, suami saya, cemas ketika mengemas koper untuk perjalanan bisnisnya yang ketiga bulan itu, ia berteriak pada putra kami untuk mengambil peluru dari pistol mainannya atau akan dibuang ke tempat sampah. Carson mengangkat bahunya tanpa alasan untuk menanggapinya, namun sebenarnya ia punya ratusan alasan. Mariah sakit selama tiga hari. Alih-alih tinggal di rumah, dia pergi latihan, dia meminta ibuprofen supaya cukup kuat mengikuti latihan. Dia pulang terlambat dan bahkan begadang untuk mengerjakan PR sambil menonton TV, dan dia batuk sepanjang malam.

Keluarga saya menjadi contoh nyata dari jadwal yang padat, respon stres yang tajam, kebiasaan melakukan pengeluaran yang berlebihan. Keluarga saya bertindak sama seperti … saya.

Selama beberapa tahun berikutnya, saya melakukan beberpa upaya untuk kembali ke jalur, dengan sahabat saya yang berada di sisi saya untuk perjalanan ini. Kami menjelajahi buku-buku pengembangan diri dan pergi ke Malibu untuk ikut lokakarya akhir pekan mengenai bagaimana mengubah hidup Anda. Saya lelah karena berusaha memperbaiki apa yang telah rusak, namun tidak pernah berhasil.

Dalam waktu yang tepat ketika saya melakukan pemogokan, majikan saya mengirimkan saya untuk ikut sesi pelatihan mengenai penentuan prioritas. Instruktur pelatihan itu membuat kami melakukan tugas sederhana. Tuliskan 5 prioritas hidup Anda. Karena saya seorang Kristen yang baik, dibesarkan dalam denominasi Disciples of Christ; saya tahu jawabannya!

  1. Tuhan
  2. Keluarga
  3. Sahabat
  4. Karier
  5. Kegiatan sukarela

Namun kemudian ujian tiba. Gunakan kalender Anda untuk menentukan prioritas yang sebenarnya – lima utama bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda pada pekan lalu.

  1. Karier
  2. Kegiatan dan olahraga anak-anak
  3. Olah raga
  4. Hiburan
  5. Pemeliharaan dan pekerjaan rumah

Membandingkan kedua daftar di atas menggantikan kabut tempat saya bernapas dengan suatu tendangan telak, seperti tendangan yang kuat di perut yang mengeluarkan sisa-sisa udara dalam diri saya. Karier saya menjalankan hidup saya. Bahkan Allah tidak ada dalam daftar saya! Begitu pula dengan keluarga saya. Saya merasa benar-benar menjadi seorang penipu, dan ketika melihat kebenaran dalam diri saya, dan masalah-masalah dunia menjadi yang utama, akhirnya air mata saya berlinang.

Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari (Pengkhotbah 2:11)

Kesedihan mendalang menyelimuti saya ketika saya mempertimbangkan semua pilihan yang saya buat tanpa Allah dan terlepas dari Allah. Saya memohon kepada-Nya untuk menyelamatkan saya, sementara itu pada saat yang bersamaan, saya bertanya-tanya apakah sudah terlambat.

Tak lama setelah itu, kami mengalami malam terdingin di Kansas yang pernah saya rasakan. Mala mini menyakiti sampai ke tulang-tulang Anda, gambaran fisik mengenai perasaan yang sedang saya alami. Ada sesuatu dalam diri saya yang patah, dan saya mendapatkan keberanian untuk memberi tahu suami saya bahwa saya ingin pergi. Bukan untuk meninggalkannya, namun menata kembali anak-anak kami dan meninggalkan plastik ini, yang menjadi gambaran kehidupan kami yang dingin itu, Keluar dari pekerjaan kami, menyingkirkan barang-barang kami, dan memulai lagi dari awal. Saya memejamkan mata rapat-rapat dan berdoa ketika saya menunggu ia untuk mengatakan bahwa saya gila. Atau lebih buruk, ini adalah jendela yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri dari perkawinan kita dan saya baru saja membukanya lebar-lebar. Alih-alih, saya mendengarkan kata-kata yang paling membebaskan: “Apa yang membuatmu begitu lama bertanya? Ayo.”

Bersama-sama kami mulai membongkar kehidupan kami. Saya mengatur ulang prioritas saya, kali ini dengan Allah sebagai tujuan saya, dan menyaksikan terengah-engah ketika Ia menanggapi seruan minta tolong saya dengan berputar balik dari “mukjizat saya sehari-hari.” Kami menerima sejumah uang yang sesuai dengan kebutuhan kami, ketika suami saya keluar dari pekerjaannya dan memulai usahanya sendiri. Kami mempersiapkan rumah kami untuk dijual, tidak pasti bagaimana akan terjadi di lingkungan tempat tinggal di mana rumah kami selama bertahun-tahun. Namun, rumah itu dijual pada hari pertama dengan sejumlah uang yang tepat kami butuhkan. Pada hari yang sama, saya mendapat tawaran pekerjaan di Florida ketika mendatangani kontrak rumah model townhouse yang pada saat itu hampir mustahil ditemukan. Dalam rentang enam bulan, kami membuat kebingungan para orang tua, saudara, teman seperjaan, dan teman-teman kami ketika kami memindahkan anak-anak kami yang mengalami guncangan karena kami pindah 1.500 ml jauhnya dari kekacauan untuk memulai kehidupan baru.

Saya menjalani tahun berikutnya untuk pencarian jiwa. Buku, lokakarya, retret. Saya mempelajari psikologi sampai saya memahami mengapa saya menghabiskan waktu untuk segala sesuatu selain Allah, saya berusaha keras dalam kehidupan duniawi dan mendapatkan hasil yang nyata. Naik jabatan, uang, barang-barang mahal. Namun hal ini tidak nyata dalam kehidupan rohani saya. Saya ke gereja hamper setiap hari Minggu. Bahkan saya semakin terlibat dan bergabung dalam dewan, mengepalai beberapa kelas, dan menjadi sukarelawan di bank makanan. Namun saya tidak melihat dan merasakan hasilnya. Apakah Allah itu tidak nyata? Apakah Kekristenan itu tidak nyata? Apakah usaha saya juga tidak nyata?

Saya mencari-cari dan dengan cepat menepis anggapan bahwa Allah itu tidak nyata. Saya dapat melihat buktinya dalam ciptaan itu sendiri. Ditambah lagi, saya sudah pernah menyaksikan mukjizat dalam hidup saya sendiri. Saya merasa yakin bahwa saya hanya perlu menyalurkan semua tenaga yang produktif dan penuh semangat ke dalam hubungang dengan-Nya, seperti yang sebelumnya sudah saya curahkan ke hal-hal duniawi. Saya bertekad untuk menjadi seorang Kristen yang paling baik semampu saya. Doa yang saya ucapkan terus menerus adalah, “Yesus, tunjukkan padaku bagaimana melakukan ini dengan nyata.”

Saya mulai membaca Alkitab. Sungguh menakjubkan, seolah-olah saya melihat kebenaran untuk pertama kalinya. Namun tak lama kemudian, saya merasa frustasi. Tidak ada yang cocok. Apa yang saya baca bertentangan dengan apa yang saya dengar di gereja, dan bagaimana saya hidup setelah perubahan yang radikal ini. Saya bertemu dengan pendeta di gereja Disciples of Christ yang baru saja saya ikut bergabung di dalamnya untuk berdiskusi bagian-bagian paling sulit dalam agama Kristen: Penderitaan, Pengorbanan. Bagaimana mengikuti perintah ini di zaman modern. Iman melawan perbuatan. Kami bergumul dengan itu semua, namun saya tidak pernah merasa puas dengan jawabannya. Pendeta itu memberikan sebuah buku yang mengubah hidup, buku itu berjudul The Imitation of Christ dan menyarankan saya untuk ke tempat retret doa dan mendiskusikannya dengan Allah dalam keheningan.

Ketika saya tiba di tempat retret, tidak ada orang lain di sana. Suatu tempat yang mampu menampung dua puluh tempat tidur, namun anehnya tempat itu kosong sepanjang akhir pekan. Jantung saya berdetak kencang ketika berjalan di tempat itu. Salib ber-corpus, patung Maria, dan di jalan setapak menuju hutan ada tempat Jalan Salib. Saya segera mengirim pesan kepada saudara saya: Sudah sampai – ini tempat Katolik.

Saudara saya sudah terlebih dahulu berubah keyakinan menjadi seorang Katolik selama lebih dari satu dekade sebelumnya, ketika ia jatuh cinta kepada seorang gadis Katolik yang cantik. Saya sudah bercanda dengannya mengenai hal itu berulang kali selama bertahun-tahun, beralih di antara kekhawatiran bahwa ia sudah memilih jalan yang salah dan tidak peduli bahwa agama Katolik itu hanyalah salah satu denominasi lainnya. Namun ketika saya berjalan di tempat Jalan Salib untuk pertama kalinya, tanpa ada orang yang membimbing saya, namun hanyalah Roh Kudus dan Bunda Allah yang membimbing saya sehingga ada sesuatu yang berubah dalam diri saya.

Dengan memusatkan perhatian pada sengsara Kristus, tanpa adanya gangguan dan dalam keheningan alam, membawa diri saya berlutut dalam air mata penuh syukur. Saya tahu sebelum akhir pekan itu Yesus sudah mati bagi saya. Namun sampai pada suatu saat saya meluangkan kisah sengsara itu sampai merasakan, menyerapinya, dan mengalaminya, hal itu hanyalah kata-kata dalam sebuah buku.Pada akhir pekan itu, Yesus menghembuskan kebenaran ke dalam jiwa saya, ketika Ia mulai menunjukkan kepada saya bagaimana melakukan hal ini secara nyata. Maka pengetahuan menjadi kenyataan. Sabda menjadi hidup. Saya mulai merasakan nama-Nya bagaikan jantung-Nya yang berdetak bersamaan dengan jantung saya. Yesus, Yesus, Yesus.

Saya pulang dari tempat retret itu dengan hati terbuka terhadap apa pun kehendak Allah bagi saya. SAya hanya ingin menjadi milik-Nya untuk selamanya. Langkah besar berikutnya adalah ikut sebuah konferensi yang mana saya sudah mendaftarkan diri, yang disebut dengan IF. Konferensi itu dikelola oleh seorang Kristen Injili yang bernama Jennie Allen, yang pesannya: JIKA ini benar, maka bagaimana seharusnya saya menjalaninya? Pertanyaannya saya terasa sangat mirip dengan doa saya: Yesus, tunjukkan padaku bagaimana melakukan ini dengan nyata.

Konferensi ini memiliki semua aspek yang biasa dari pertemuan pembinaan kehidupan Kristen non-denominasi, namun ada dua hal yang paling menonjol: Pengakuan secara public dan persekutuan. Saya terpesona ketika seorang wanita menceritakan dosa dan kegagalannya dalam video yang disiarkan ke seluruh dunia. Para wanita di mana pun mengangkat ponsel mereka sebagai solidaritas seperti mengangkat tangan bersamaan di sebuah konser (di Amerika aksi ini dilakukan sambil menyalakan korek api gas pada waktu konser musik –red.) pada sebuah konser. Dan setelah itu, konferensi berhenti dan setiap orang ikut serta dalam persekutuan. Ada sesuatu yang sangat kuat mengenai pengakuan dan berfokus pada belas kasih yang dimulai pada Perjamuan Malam Terakhir.

Saya mengirimkan pesan kepada saudara saya: Kenapa kita tidak melakukan hal ini sepanjang waktu? Hal ini masuk akal dan ada dalam Alkitab! Saya tidak akan pernah lupa jawaban dari saudara saya itu: Ya, kami melakukannya. Kami selalu melakukannya di Gereja Katolik. Ia mengirimkan saya CD Romo Larry Richards yang menjelaskan Sakramen Pengakuan dan Ekaristi. Untuk pertama kali, saya benar-benar mendengarkannya. Dan sekali lagi, kebenaran menghantam saya seperti angin keluar dari dalam diri saya.

Namun demikian, saya keras kepala. Agama Katolik tidak bisa menjadi jawaban atas doa saya. Ada begitu banyak tantangan. Saya merasa gundah karena orang Katolik itu menyembah Maria dan para kudus. Mereka itu percaya takhayul dengan berbagai macam benda suci. Maka kebutuhan akan imamat itu sudah berakhir sesudah Yesus datang; orang Katolik itu seperti orang Farisi? Martin Luther memisahkan diri karena mereka menjual indulgensi! Dan jangan sampai saya memulai dengan topik Perang Salib. Saya bertekad untuk mempelajari sejarah agama Kristen sampai saya dapat membuktikan kepada saudara saya dan juga kepada diri saya sendiri mengapa saya tidak bisa menjadi Katolik. Yesus, tunjukkan padaku bagaimana melakukan ini dengan nyata.

Sementara itu, saya mengarahkan pandangan saya kembali mengenai menjadi seorang Kristen yang terbaik semampu saya. Ada sekelompok tunawisma di persimpangan jalan yang saya lalui setiap hari. Saya bertekad untuk membuktikan nilai Kekristenan dalam diri saya, saya menurunkan jendela mobil saya dan memberikan uang sejumlah $5 ke seorang pria yang sangat kurus itu. Saya tidak akan pernah lupa senyumannya ketika ia memberikan hadiah kecil sebagai balasannya. Saya berusaha menolak, namun ia bersikeras,” Tolong Bu diterima, saya membuatnya sendiri.” Ia meletakkan tangannya di atas hatinya sambil saya meletakkan kalung biru dengan sebuah salib ber-corpus di kaca spion dalam di mobil saya.

Tak lama kemudian, saya membagikan cerita ini di blog saya. Saya menulis tentang bagaimana kalung biru itu harus dapat menjadi panggilan saya dari Allah untuk membantu para tunawisma. Adik ipar perempuan saya dengan cepat memberi komentar. “Tunawisma itu memberikanmu sebuah rosario .” Serius? Lagi-lagi dengan barang Katolik? Yesus, tunjukkan padaku bagaimana melakukan ini dengan nyata. Saya menggelengkan kepada karena tidak percaya … dan kemudian saya bertanya kepada adik ipar saya itu bagaimana cara menggunakannya.

Benda itu saya sembunyikan dalam lemari pakaian saya, dan ketika keluarga saya sudah tidur, dengan rasa gemetar ketakutan, saya berkata kepada Allah bahwa saya hanya ingin menyenangkan hati-Nya. Saya meminta Allah supaya menghentikan hal ini jika Ia merasa tersinggung dengan doa ini yang penuh dengan Salam Maria. Namun sebaliknya, saya merasakan kedamaian ketika saya membisikkan kata-kata itu dengan rosario pertama saya. Hal ini mengingatkan saya kembali tentang pengalaman di Jalan Salib …  berjalan bersama Bunda Allah, setiap perhentian di sepanjang jalan menjadi suatu pelajaran kuat yang berpusat pada Yesus.

Pernahkan Anda menyimpang dari jalan menuju surga? Maka panggillah Maria, karena namanya memiliki makna, “Bintang Laut, Bintang Utara yang akan membimbing perahu-perahu jiwa kita selama perjalanan kehidupan kita,” dan dia akan membimbing Anda ke pelabuhan keselamatan kekal. (St. Louis de Montfort, Rahasia Rosario)

Tak lama kemudian, saya mendoakan rosario dengan teratur ketika saya mempelajari sejarah Kekristenan. Bunda Allah mengarahkan saya langsung kepada Putranya. Kitab Suci yang sebelumnya tidak saya pahami, sekarang menjadi sangat jelas, terutama pada Yohanes bab 6. Saya mengikuti Yesus melalui Injil, para rasul melalui kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat lainnya dalam Perjanjian Baru, dan kemudian saya menabrak Gereja Katolik.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang telah terjadi pada tahun berikutnya, selain saya merasa jatuh cinta. Tidak ada lagi pergumulan. Gereja perdana memegang jawaban atas semua pertanyaan saya yang belum terjawab begitu lama, dan saya tidak bisa merasa cukup, secara khusus mengenai Ekaristi. Saya membaca, dan membacanya lagi tulisan St. Yustinus Martir mengenai ibadah pada abad pertama Gereja. Para Bapa Gereja mengajarkan saya bagaimana Perjanjian Lama sangat cocok dengan Perjanjian Baru. Saya mempelajari mengenai garis Suksesi Apostolik yang tidak terputus, Maria, para kudus dan para martir, para malaikat, mukjizat dan sesuatu yang adikodrati. Kemudian, ketika saya masuk ke bagian sejarah ketika Martin Luther mengumumkan keluhannya di pintu itu, saya menangis memohon kepadanya supaya tidak melanjutkan Revolusi yang dilakukannya.

Mendalami sejarah berarti berhenti menjadi Protestan. (St. John Henry Newman)

Pada titik ini, saya rindu menjadi Katolik ketika saya masih ikut kebaktian Protestan bersama dengan keluarga saya. Setiap kali, semakin sulit untuk pergi kebaktian dan merasa sangat mengerikan. Orang-orang baik ini tidak melakukan hal yang spesifik untuk merasakan perubahan sikap saya yang tiba-tiba. Namun bangunan itu terasa hampa dan sedih bagi saya, seolah-olah saya berada di rumah orang yang dicintai namun saya tidak berada di sana. Keikutsertaan saya terasa dipaksakan dan palsu. Pada akhir pertemuan yang dilakukan di luar lokasi yang suasananya santai, piring persekutuan dari kue keju dan minuman bersoda menghapiri saya. Saya melihat pendeta saya di matanya dan berbisik “Tidak” ketika saya merasa hati saya pecah menjadi jutaan keping karena sejuta alasan.

Saya mendapati diri saya dalam keadaan panic, mempersiapkan diri untuk memberi tahu suami saya bahwa saya ingin pergi dari sesuatu. Tentu saja, saya sangat ingin suami dan anak-anak ikut saya, namun mereka sudah begitu banyak menjalani perubahan. Bagaimana mungkin saya minta mereka untuk merombak hidup mereka lagi? Saya merasa takut akan ayat-ayat Alkitab yang berkata bahwa keluarga akan terpecah karena mengikuti Yesus (lihat Matius 10:35-36; Lukas 12:52-53). Namun, suami saya yang sangat sabar tidak pernah menghalangi jalan saya, katanya: “Pergilah carilah apa yang ingin kamu ketahui.”

Saudara saya mengirimi saya tautan ke sebuah paroki yang letaknya tidak jauh dari rumah saya. Saya mengirimkan e-mail ke kantor paroki itu. Saya pikir saya mungkin menjadi Katolik, dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Kurang dari seminggu kemudian, saya bertemu dengan Romo Bartholomew, yang tahu persis apa yang harus dilakukan. Dan akhirnya hal itu melibatkan Katekismus Konsili Trente dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak ada habisnya. Namun yang pertama, ia mengirimkan saya supaya ikut Misa.

Saya merasa takut ketika berjalan menuju Christ the King Catholic Church. Tangan saya gemetaran, nyaris tidak bisa memegang pegangan pintu yang paling berat di dunia. Jika mereka mendengar suara sepatu saya bergema di tempat kudus itu yang hampir sunyi, namun sebenarnya penuh dengan jemaat, namun jemaat tidak menunjukkannya. Kebanyakan dari mereka sudah berlutut, dan merenungkan sesuatu yang mendalam. Aroma dupa, lilin dan bunga memenuhi indra saya ketika saya berusaha mengapa suasanya begitu … pekat. Bukankah saya sudah meninggalkan kabut itu? Saya merasa terbuka seutuhnya, dikelilingi gambar dan patung malaikat, para kudus dan Maria. Hati saya berdegup kencang mengikuti nama-Nya, berulang-ulang di dalam kepala saya: Yesus, Yesus, Yesus.

Kegugupan yang saya rasakan bukanlah perasaan cemas biasa. Berjalan ke dalam rumah-Nya dengan pengetahuan bahwa Ia akan hadir secara fisik, saya mengalami ketakutan akan Allah untuk pertama kalinya. Suasananya begitu “pekat” karena suasanyanya menyatu dengan-Nya. Saya bertanya-tanya mengapa saya belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya ketika berjalan memasuki sebuah gereja. Jika saya benar-benar percaya bahwa Sang Pencipta alam semesta berada di sana, bukankah seharusnya saya merasa gemetar dengan sadar diri betapa kecilnya diri saya dengan Sang AKU?

Dahulu saya keliru menganggap intimidasi yang saya rasakan saat berjalan memasuki Gereja Katolik sebagai penghakiman atau kesombongan yang berasal dari jemaat. Namun sekarang saya pikir bahwa saya tidak memahami tentang penghormatan. Saya menghargai hubungan pribadi saya dengan Yesus. Ia tahu setiap helai rambut di kepala saya dan mengasihi saya meskipun setiap langkah yang saya lakukan itu gagal. Ia adalah Sahabat, Guru, dan Penasihat saya. Karena saya merasa sangat nyaman dalam bagian hubungan kami sehingga saya tidak hanya menerimanya begitu saja, saya juga tidak tahu bagaimana cara menyembah Ia sebagai Raja yang Mahakuasa. Ketika saya melihat di sekeliling saya, pada setiap orang yang mengabaikan saya, mereka berlutut dengan kepala tertunduk, membisikan doa, bahkan beberapa orang meneteskan air mata, saya bertanya-tanya, kapan saya lupa bahwa Ia adalah ALLAH?

Pikiran saya dibanjiri dengan ingatan akan ibadah dalam Perjanjian Lama, persiapan yang intens yang dilakukan para imam, Ruang Maha Kudus, para wanita yang hanya diperkenankan berada di pelataran bagian luar, cara orang yang dipukul mati karena tidak menghormati atau tidak mematuhi aturan peribadatan. Hal itu menghantam saya begitu keras sehingga tabir terkoyak, kurban Kristus memungkinkan saya, seorang pendosa berat, untuk mendekat kepada Allah saya. Saya tidak merasa berkewajiban untuk berada di sana, saya merasa rendah hati dan dihormati.

Ketika saya yang malu-malu duduk di bangku belakang, mata saya terbelalak, halaman-halaman Kitab Suci menjadi hidup di sekitar saya. Ada ingatan yang nyata akan hubungan suami-istri antara Kristus dan Gereja-Nya, karena hampir setiap orang mengenakan pakaian terbaik mereka, dan para wanita mengenakan kerudung renda yang indah (mantilla –red.).

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia (Wahyu 19:7)

Orang-orang berlutut, sebelum, sepanjang, dan sesudah peribadatan.

Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah (Roma 14:11).

Adanya pengakuan dan penghormatan terhadap Maria, Bunda Allah.

Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia (Lukas 1:48)

Ibadah itu dimulai dengan imam memerciki jemaat dengan air suci.

Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! (Mazmur 51:7)

Saya mendengar imam dan paduan suara berulang-ulang memohon belas kasih-Nya, menyanyikan Kyrie Eleison, Christe Eleison.

Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Lukas 18:38).

Dan Misa hampir seluruhnya berbahasa Latin. Saya akan belajar betapa pentingnya itu nanti, namun pada saat itu hal itu tidak mengganggu saya. Saya terpikat dengan keinginan untuk bersama-Nya. Saya terpaku oleh kebenaran yang tidak terelakan bahwa ibadah penyembahan bukan tentang diri saya atau kenyamanan saya. Namun tentang menyembah Allah dengan cara-Nya, bukan cara saya.

Bahkan dalam bahasa asing sekalipun, saya mengenali kata-kata Gloria in Excelsis Deo (Kemuliaan bagi Allah di Surga), dan berada di dekat bunyi-bunyi malaikat Sanctus, Sanctus, Sanctus (Kudus, Kudus, Kudus).

Dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang” (Wahyu 4:8)

Imam itu mengenaikan pakaian dengan detail yang rumit, dengan hati-hati dan ada tujuannya melaksanakan persyaratan kecil dalam peribadatan.

Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri (Kisah Para Rasul 20:28)

Ada doa pengakuan dan pengampunan dosa.

Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada (Yohanes 20:23)

Kemudian ada roti dan anggur yang ditransubstansiasikan menjadi Tubuh dan Darah-Nya.

Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:26-28)

Ia mengangkatnya ke arah Surga sebagai persembahan. Yesus.

Ia memecah-mecahkan dan memberkati persembahan. Yesus.

Inilah titik pusat, seluruh alasan setiap orang berada di sana. Yesus.

Ini dilakukan seperti kurban, seperti yang Ia janjikan akan terjadi.

Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam (Maleakhi 1:11)

Kemudian umat-Nya datang kepada-Nya untuk Komuni. Mereka menutup mata dan menjulurkan lidah mereka untuk menerima-Nya. Mereka juga menandari diri mereka dengan salib-Nya. Dan ketika mereka kembali ke tempat duduknya, mereka berlutut dan berdoa dengan khusyuk.

Pembacaan Injil terakhir (dan selalu ada) dari Injil Yohanes, sekali lagi menegaskan alasan setiap orang berada di sana. Dan tentu saja menjadi alasan saya berada di sana.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yohanes 1:14)

Ibadah itu berakhir, namun banyak orang masih tetap berlutut, bersyukur kepada Allah karena selalu memenuhi janji-Nya.

Saya memiliki banyak rintangan untuk diatasi. Stigma, sterotip, reputasi, dan begitu banyak pertanyaan. Namun pada hari itu kerinduan itu mulai seperti detak jantung yang meningkat. Saya benar-benar terpesona. Benar-benar kagum pada Juruselamat saya, saya berhasrat untuk ikut serta dalam Komuni … untuk sepenuhnya mengalami Ekaristi.

Kurban Misa menyelesaikan keputusan saya, dan tidak ada jalan kembali. Saya tahu pasti Tubuh dan Darah-Nya yang nyata itu akan menyelamatkan saya. Saya belum menemukan kata-kata yang layak untuk perasaan pertama mengenai hubungan yang terjadi melalui Ekaristi, namun merasakan Kehadiran Nyata adalah hal yang membuat saya tetap Katolik. Jika ada alasan lain selain Kristus, maka saya mungkin juga memilih agama lain atau strategi pembinaan kehidupan untuk menjalani kehidupan yang baik dan nyaman di bumi ini. Namun Yesus sendiri menciptakan ikatan yang tak terpatahkan di antara kita, yang mendorong kita untuk tekun dan setia yang saya rasakan bagi-Nya dan Gereja-Nya. Dan hal itu didukung oleh para imam yang menawarkan semua Sakramen, pengetahuan dari Roh Kudus melalui Kitab Suci, Tradisi, dan Pengajaran. Contoh pengajaran itu seperti para kudus yang banyak sekali, cinta serta bimbingan Maria melalui rosario yang tersuci. Namun yang paling penting adalah Darah-Nya yang benar-benar mengalir dalam diri saya melalui Ekaristi. Yesus, Yesus, Yesus.

Oleh karena rahmat Allah, melalui bantuan yang baik dan sabar dari Romo Bartholomew, saya beserta anak-anak mengubah keyakinan pada tahun 2017. Saya berdoa tak jemu-jemu untuk perantaraan Maria, menahan napas dan menyaksikan Allah mengubah suami saya di depan mata saya sendiri. Perubahan keyakinan suami saya terjadi pada tahun berikutnya. Kami masih mengalami rasa sakit karena perpisahan dari orang tua dan teman-teman kami, namun saya tahu Allah memiliki semuanya dan dalam tangan-Nya yang ajaib dan saya mempercayakan sepenuhnya kepada-Nya.

Hari ini, saya terus menuju Yesus melalui Maria. Karena itulah cara yang Yesus pilih untuk datang kepada kita ribuan tahun yang lalu, dalam sebuah kandang yang mungil di sisi lain dunia. Dan empat tahun yang lalu, di sudut jalan yang kecil, 1.500 mil jauhnya dari apa yang telah saya rencanakan. Hidup ini tidak mudah, namun sekarang lebih memiliki tujuan, damai, berbuah, dan seperti yang diinginkan karena berpusat pada-Nya. Keabadian di Surga akhirnya bisa dirasakan dengan akses penuh kepada Sakramen-Nya sebagai bagian dari Tubuh Kristus dalam Gereja Katolik.

Melissa Funderburk seorang yang mengubah keyakinannya dari Protestanisme. Dia pindah dari Kansas ke Florida, di mana dia tinggal bersama dengan kedua anak remaja dan suaminya. Dia seorang akuntan di perguruan tinggi setempat dan juga di bisnis investasi real estate suaminya. Kunjungi blognya di thepath2eternity.com.

Sumber: “The Path to Eternity”

Posted on 11 April 2020, in Kisah Iman and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: