Tidak Ada Misa Pada Jumat Agung

Oleh Philip Kosloski

Penghormatan Salib di Keuskupan Agung Boston foto oleh George Martell The Pilot Media Group (Sumber: aleteia.org)

Pada hari yang ditujukan untuk menghormati Sengsara dan Wafat Yesus, Gereja tidak mempersembahkan Misa

Salah satu hari yang paling menarik dalam kalender liturgi adalah Jumat Agung. Pada hari yang ditujukan untuk menghormati Sengsara dan Wafat Yesus, Gereja tidak mempersembahkan Misa.

Sebaliknya, Gereja memerintahkan umatnya untuk menyelenggarakan “Mengenang Sengsara Tuhan,” yang mencakup bacaan khas Injil, penghormatan salib, dan pembagian Komuni Kudus dari Sakramen yang disimpan.

St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologica menawarkan satu penjelasan mengapa tidak ada Misa yang dipersembahkan pada hari itu. Ia menyatakan, “Sosok [Misa] berhenti pada munculnya realitas. Tapi sakramen ini merupakan satu sosok atau representatif dari Sengsara Tuhan kita, seperti yang dinyatakan di atas. Dan oleh karena itu, pada hari Sengsara Tuhan diperingati sebagimana hal itu benar-benar dicapai, sakramen ini tidak dikonsekrasikan.”

Dengan cara ini, kita memperingati realitas Sengsara Yesus, tanpa merayakan “sosok” atau “representasi.”

Selain itu, tidak adanya konsekrasi roti dan anggur menyoroti kedukaan Jumat Agung, seperti yang ditunjukkan oleh Catholic News Agency.

Tidak adanya doa konsekrasi memperdalam rasa kehilangan, karena Misa di sepanjang tahun mengingatkan kita akan kemenangan Tuhan atas maut, sumber sukacita dan berkat kita. Bobot kesunyian dari ritual hari ini mengingatkan kita akan penghinaan dan penderitaan yang dialami Kristus selama Sengsara-Nya.

Dalam St. Andrew Daily Missal menggemakan kembali apa yang sudah dituliskan, menjelaskan bagaimana “Jumat Agung adalah peringatan wafat Tuhan kita. Pada hari ini, ketika berada di Kalvari, tahta salib yang berlumuran darah ditampakkan di hadapan dunia, Gereja bersembah sujud di hadapan-Nya yang meraja dari Salib, tidak merayakan kurban Misa; dengan mengikuti tata cara kuno, setelah tersebar luas, Gereja puas dengan menerima rupa kudus yang dikuduskan kemarin.”

Alternatif lain, beberapa sejarawan menyatakan bahwa liturgi Jumat Agung “menurut Duchesne (234), mewakili ‘urutan yang tepat dari sinaksis (pertemuan umat untuk beribadat) tanpa adanya suatu liturgi,’ yaitu urutan pertemuan doa dari orang Kristen paling awal, bagaimana pun juga di hari itu liturgi yang tepat adalah Misa tidak dirayakan. Pertemuan ibadat ini berasal dari upacara di Sinagoga Yahudi, dan berisikan pengajaran, nyanyian, dan doa.” Dengan cara inilah kita ikut serta dalam liturgi yang menyerupai upacara doa yang dirayakan oleh umat Kristen perdana.

Yang penting, Jumat Agung dimaksudkan sebagai hari berkabung dan kesedihan, merasakan beban dosa kita yang dibebankan di punggung Yesus Kristus. Tidak adanya Misa menekankan perasaan ini dan lebih mempersiapkan kita untuk kemuliaan yang menanti kita di hari Paskah.

Maka, hari Jumat Agung menjadi hari yang aneh dalam kelender Gereja, tapi menjadi hari yang dirancang untuk mempersiapkan hati kita untuk hari yang akan datang.

Sumber: “Why is there no Mass and only a “service” on Good Friday?”

Posted on 2 April 2021, in Ekaristi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: