Luther dan Pemisahan Umat Awam dari Pengetahuan Kitab Suci

Oleh Scott Hahn dan Benjamin Wiker

Martin Luther (Sumber: stpaulcenter.com)

Martin Luther menolak otoritas yang dinyatakan oleh Gereja Katolik sebagai penafsir Kitab Suci karena dua alasan.

Pertama, dalam pandangan Luther, bukti korupsi Gereja khususnya kepausan, sepenuhnya meruntuhkan klaim Gereja yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai pemelihara ortodoksi yang punya wewenang melalui tradisi (traditio) tafsirannya.

Kedua, doktrin Luther mengenai pembenaran oleh iman saja (sola fide) membuat Gereja sebagai institusi imamat menjadi tidak penting lagi: sebagaimana didesak oleh para reformator lain terhadap keingin Luther untuk memelihara dua sakramen, maka semua yang diperlukan supaya setiap orang menerima pengetahuan keselamatan akan kurban Kristus itu sudah bisa dibaca dalam Alkitab.

Menghapus traditio Gereja Katolik sebagai jabatan berwenang menanggung hampir semua perselisihan antara orang Katolik dan orang Protestan, yang oleh karena itulah mereka berselisih mengenai dasar Kitab Suci. Karena Luther menyatakan bahwa Gereja Katolik sebagai satu penyimpangan yang tidak sesuai Alkitab, para apologis Katolik sering kali digiring untuk berpendapat sebaliknya, bahwa struktur institusional dan doktrin Gereja sebenarnya berdasar pada Kitab Suci dan pandangan Protestan yang justru tidak Alkitabiah.

Seolah-olah perselisihan Katolik-Protestan atas naskah suci ini tidak cukup memecah belah, bahkan  perselisihan antara orang-orang Protestan sendiri yang lebih sengit dalam penafsiran Alkitab satu sama lain. Seperti yang kita ingat, tak lama kemudian Luther mengetahui bahwa rekan-rekan Protestannya menggunakan prinsip dasar sola scriptura yang sama, yang menimbulkan berbagai cara pandang iman Kristen yang sangat berbeda san tidak bisa didamaikan. Justru karena semua reformator sepakat bahwa hanya Alkitab yang harus menjadi otoritas untuk menyelesaikan ketidaksepakatan yang mendalam ini, perselisihan tekstual dan eksegetis bahkan lebih memanas di antara rivalitas orang-orang Protestan.

Dampak yang menarik di kalangan orang Prostestan juga ada dua. Pertama, doktrin sola scriptura runtuh dalam rentang waktu kurang dari satu abad, karena ketidaksepakatan tentang apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab menyebabkan perpecahan yang tampaknya tidak bisa diperbaiki, yang juga punya konsekuensi politis. Michael Legaspi menuliskan, “Pada pertengahan abad keenam belas, Reformasi sudah membentuk kembali masyarakat dan pemerintahan: gereja-gereja dan wilayah di seluruh Eropa berada dalam tambal sulam pengakuan-pengakuan yang didukung oleh negara, dengan pemisahan antara Lutheran dan Reformed [Calvinis] seringkali sekaku pembagian antara Katolik dan Protestan.”

Melihat kembali ke belakang, perpecahan tampaknya tak terelakan. Selain itu, upaya masing-masing pihak teologis untuk membuktikan alasannya dalam Alkitab mengharuskan untuk melihat bahasa aslinya, bukan hanya bahasa Ibrani dan Yunani, tapi juga bahasa Aram. Namun, hal itu artinya suatu pencarian dan konfrontasi dengan banyak manuskrip dalam bahasa asli yang memunculkan sedikit variasi bacaan, yang dengan sendirinya menjadi bagian perselisihan atas apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab. Akibat utamanya adalah tidak ada yang berharap ikut terlibat dalam konflik yang semakin memecah belah ini kecuali seseorang itu sangat fasih dalam bahasa kuno dan ilmu filologi [ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, Wikipedia.org]. Umat beriman sederhana yang ada di antara imamat semua umat beriman, tak lama kemudian mereka ini tertinggal jauh di belakang.

Begitu pula pada abad Luther, keretakan-keretakan pertama yang kemudian menjadi Pemisah Besar sudah terbuka antara umat beriman biasa dan para ahli Kitab Suci yang terlatih secara akademis, meskipun pada titik terakhir ini masih sebagai umat beriman. Kenyataanya para ahli ini masih perlu menghasilkan terjemahan-terjemahan baru dalam bahasa sehari-hari, Alkitab ditujukan sebagai naskah yang otoritatif bagi umat beriman yang tidak bisa membaca bahasa aslinya. Tak lama kemudian, masalah yang bisa diperediksi terjadi pada beberapa terjemahan vernakular dalam berbagai bahasa, yaitu sebagian besar mengikuti perpecahan teologis. Seperti yang diamati oleh Jonathan Sheehan dalam terjemahan Jerman dan Inggris, “Orang-orang Protestan mengembangkan Alkitab dalam bahasa setempat yang melambangkan komitmen pengakuan mereka dan pembeda dari otoritas Roma,” namun terjemahan bahasa setempat ini harus diulang ketika manuskrip baru ditemukan, sebuah proses yang kelihatannya mempertanyakan kekokohan Alkitab.

Hasilnya, pada awal tahun 1600-an terjadi semacam kelelahan. Mereka yang bertanggung jawab atas setiap pengakuan iman Protestan yang berbeda-beda menyadari secara publik sudah meresahkan iman yang seharusnya didasarkan pada Firman Allah yang benar-benar sejati dan tidak dapat diubah, jika mesin cetak terus menerus menghasilkan terjemahan yang sudah diubah, ketika para ahli berdebat dengan berbagai variasi bacaan yang muncul dari lebih banyak lagi manuskrip bahasa asli. Karena perpecahan teologis ini yang juga secara politis sangat meresahkan, sebuah solusi ditetapkan bersamaan selama akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Menghentikan terjemahan bahasa setempat sehingga orang awam (umat biasa/laici) bisa mempunyai Alkitab yang isinya tidak berubah; membangun pengakuan teologis eksplisit yang memungkinkan para penganutnya dalam posisi untuk menentikan sebagai traditionya sendiri, bagaimana posisi mereka dalam memahami iman dan akibatnya bagaimana posisi mereka itu harus memahami versi terjemahan bahasa setempat yang disetujui; dan akhirnya biarlah para ahli melanjutkan pekerjaannya tanpa mengganggu umat beriman.

Begitulah muncullah versi awal dari Perpecahan Besar, di satu sisi ada umat beriman awam dan mereka yang menjadi melayani mereka, dan di satu sisi lainnya adalah para ahli Kitab Suci akademis.

 

Scott Hahn adalah pendiri dan Presiden St. Paul Center dan Profesor Fr. Michael Scanlan Teologi Alkitab dan Evangelisasi Baru di Franciscan University of Steubenville. Ia seorang penulis dan penyunting lebih dari empat puluh judul buku mengenai Kitab Suci dan teologi.

Benjamin Wiker adalah seorang penulis, guru, dosen, suami dan ayah dari tujuh anak. Ia sekarang menjadi Profesor Ilmu Politik dan Direktur Studi Kehidupan Manusia di Franciscan University, dan Anggota Senior dari Franciscan’s Veritas Center.

 

Sumber: “Luther and the Separation of the Laity from Knowledge of Scripture”

Posted on 19 August 2021, in Apologetika and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: