Tahu dari Mana Orang Kudus Berdoa Buat Kita?

Oleh Karlo Broussard

Saints Communion (Dave Armstrong’s Patheos )

Menurut Aquinas, mereka yang menjadi perantara bagi orang lain di bumi pasti terus melakukannya di surga

Selalu ada saja permata yang bisa digali dalam tulisan St. Thomas Aquinas. Dan ajarannya yang luar biasa tentang perantaraan para kudus.

Dalam Suplemen dalam karya Summa Theologiae, Aquinas berpendapat bahwa para kudus sadar akan peran mereka sebagai perantara doa dan permohonan yang dibuat atas mereka. Aquinas mulai dengan gagasan bahwa melihat esensi ilahi memberikan pengetahuan apa yang berkaitan dengan diri:

Masing-masing dari yang terberkati harus memandang dalam esensi Ilahi sebanyak yang diperlukan untuk kesempurnaan dari kebahagiaannya. Untuk kesempurnaan kebahagiaan seorang manusia perlu memiliki apa yang ia kehendaki, dan tidak ada yang hilang dari kehendaknya: dan masing-masing yang berkehendak punya hak berkehendak, tahu apa yang menjadi penting baginya. Karena itu, karena dalam diri para kudus tidak ada ketidakjujuran, mereka ingin tahu apa yang penting bagi diri mereka sendiri, dan akibatnya mereka mengetahuinya di dalam Firman (Summa Theologiae: Supplement 72: 1)

Bagi Aquinas, orang kudus merenungkan Allah dalam kesempurnaan-Nya yang kekal, memandang-Nya dalam berbagai hal dan kepentingan rancangan Allah bagi mereka. Langkah berikutnya dari pendapatnya adalah menunjukkan bahwa mereka bekerja sama dengan Allah dalam membantu mereka yang membutuhkan dalam keselamatan jiwa mereka:

Sekarang berkaitan dengan kemuliaan mereka bahwa mereka [para kudus] membantu mereka yang membutuhkan: Karena dengan demikian mereka menjadi rekan sekerja Allah, ‘karena tidak ada yang lebih besar daripada memiliki sifat seperti Allah,’ seperti yang dinyatakan Dionisius (Coel. Hier. iii).

Aquinas tidak membela penyataan ini, namun gagasan bahwa umat Kristen memiliki suatu peran untuk bekerja sama dengan Allah dalam membantu orang lain mencapai keselamatan jiwa mereka, jelas sekali alkitabiah. Contohnya ada dalam beberapa pernyataan Paulus ini:

    • Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka (1 Korintus 9:22).
    • Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau (1 Timotius 4:16).
    • Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu? (1 Korintus 7:16)

Bekerja sama dengan Allah dalam membantu orang lain mencapai keselamatan mereka jelas sekali merupakan bagian dari makna menjadi seorang Kristen. Dan salah satu cara membantu mereka adalah berkaitan dengan topik yang sedang kita bahas ini, yaitu melalui perantaraan doa (doa syafaat). Paulus menulis demikian, “Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan” (Roma 10:1). Bagi Paulus, inilah salah satu cara orang Kristen dalam “membantu kekurangan orang-orang kudus [sesama umat Kristen]” (Roma 12:12-13).

Jika “membantu kekurangan orang-orang kudus” dengan cara membantu untuk mendapatkan keselamatan melalui doa perantaraan merupakan sesuatu yang penting untuk makna menjadi seorang Kristen di bumi, maka tentu saja hal itu akan menjadi bagian dari identitas seorang Kristen di surga. Mengapa pertolongan melalui doa perantaraan tidak lagi menjadi bagian kehidupan Kristen di surga (keadaan kehidupan Kristen yang disempurnakan)?

Ingat, para kudus yang berada di surga adalah “mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29), dan mereka juga menjadi disempurnakan. Mereka menjadi sempurna serupa dengan Kristus, yang merupakan makna menjadi seorang Kristen. Karena menjadi seorang Kristen melibatkan kerja sama dengan Allah untuk membantu orang lain dalam mencapai keselamatan mereka, maka dari itu artinya mereka yang berada di surga yang sudah sempurna sesuai dengan Kristus akan menjadi rekan sekerja Allah untuk memberikan bantuan itu.

Selain itu, bekerja sama dengan Allah untuk membantu orang lain memperoleh keselamatan melalui doa perantaraan adalah cara yang digunakan oleh orang Kristen adalah cara mereka yang selaras dengan gambaran Sang Putra, karena Sang Putra, “sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7:25). Keselarasan dengan Kristus melibatkan apa yang dilakukan oleh Kristus.

Para kudus di surga sudah secara sempurna selaras dengan Kristus. Oleh karena itu, dengan doa perantaraan, menjadi milik para kudus di surga untuk membantu orang lain memperoleh keselamatan. Jika mereka tidak mempunyai peran itu, maka keselarasan mereka dengan gambaran Kristus menjadi kurang sempurna di surga atau tidak sesempurna di bumi. Maka, hal ini menjadi tidak masuk akal!

Bagian terakhir dari teka-teki Aquinas adalah para kudus harus menyadari seruan yang mereka lakukan bagi mereka adalah untuk membantu keselamatan:

Karena jelaslah bahwa para kudus sadar akan hal-hal yang diperlukan untuk tujuan ini; dank arena itu jelaslah juga bahwa mereka mengetahui dalam Firman, janji, devosi, dan doa dari mereka yang memohon bantuan dari mereka [para kudus] (Summa Theologiae: Supplement 72: 1).

Bagi St. Thomas, tidak masuk akal kalau para kudus di surga berperan sebagai perantara tapi tidak tahu apa yang dimohonkan atas nama mereka.

Sejauh ini, dengan bantuan dari pemahaman St. Thomas, kita punya alasan yang sangat kuat bahwa para kudus di surga berperan sebagai perantara dan mereka tahu permohonan apa pun yang dilakukan atas nama mereka. Tapi bagaimana hal ini menyiratkan gagasan bahwa para kudus sungguh-sungguh menjadi perantara bagi kita?

Nah, mari kita pertimbangkan skenario di mana para kudus tidak menjadi perantara atau tidak bersyafaat bagi kita. Dalam skenario ini, maka  menjadi orang Kristen tidak terpenuhi, karena menjadi perantara atau bersyafaat bagi orang lain supaya mereka beroleh keselamatan adalah hal penting dan merupakan makna menjadi seorang Kristen. Tetapi seseorang Kristen yang tidak terpenuhi tidak sesuai dengan kebahagiaan surgawi yang sempurna. Maka dari itu, para kudus di surge harus menjadi perantara bagi kita.

Sang Doktor Malaikat (Angelic Doctor, yang merupakan gelar bagi St. Thomas Aquinas) mungkin terkenal karena wawasan filosofisnya tentang keberadaan dan kodrat Allah, Tritunggal, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Kristus. Namun, wawasannya mengenai misteri yang lebih rendah dalam hierarki kebenaran juga sama bermaknanya, dan perantaraan para kudus menjadi salah satunya. St. Thomas Aquinas, doakanlah kami!

Sumber: “How Do We Know the Saints Intercede for Us?”

Posted on 9 November 2021, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: