Dari Permulaan yang Kecil ke Iman yang Besar – Kisah Jeff Bell

Jeff Bell (Sumber: chnetwork.org)

Saya dibesarkan dalam keluarga yang sering disebut sebagai keluarga Kristen yang tidak ke gereja. Ibu saya membacakan Alkitab kepada kami, kami menjalankan nilai-nilai Kristen, tapi kami jarang ke gereja, jarang berdoa sebelum makan, atau tidak ikut organisasi keagamaan apa pun. Saya berdoa sebelum tidur dan diajarkan untuk hidup dengan memegang kebajikan, namun ibadah keagamaan bukan pusat kehidupan keluarga kami. Saya masing ingat ketika merasakan kehadiran Tuhan di sepanjang waktu, namun saya tidak ingat tentang perasaan mendalam apa pun kalau Tuhan itu penting yang melampaui seseorang dan bisa Anda jangkau dalam doa jika situasi sulit terjadi.

Pada usia 15 tahun, saya merasakan suatu panggilan yang mendalam dengan Yesus Kristus. Hal ini terjadi sekitar masa-masa kakek buyut saya meninggal dunia. Saya terpengaruh oleh salah satu eulogi (pidato pujian terhadap orang yang meninggal) dari dua acara pemakaman. Inti eulogi itu adalah keajaiban Kebangkitan. Eulogi itu diberikan oleh seorang pendeta Protestan, meskipun saya tidak ingat dari denominasi ia berasal.

Kakek dan nenek saya ini punya kasih yang dalam kepada Tuhan. Saya masih ingat dengan gambar Tuhan yang penuh kasih digantung di lorong menuju kamar tidur mereka. Saya tidak tahu apakah mereka rutin ke gereja, yang jelas iman menjadi hal penting bagi mereka. Ukiran Mazmur 23 terukir di batu nisan mereka yang menjadi tempat peristirahatan terakhir mereka di kuburan dekat kota asal saya. Setelah mereka meninggal, saya membeli sebuah Alkitab dan mulai membacanya, saya merasa terpanggil dan memohon pengampunan serta memberikan hidup saya kepada Yesus.

Saya tidak yakin ke mana harus mencari bimbingan dalam perjalanan iman saya , dan saya ingat, kadang-kadang saya menonton para pengkhotbah Protestan di televisi yang mendorong saya untuk mendoakan “doa orang berdosa” untuk memperoleh keselamatan. Saya tidak dibaptis, tapi kata-kata itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa baptisan tidak perlu. Pesan mereka adalah “berdoalah maka kamu akan masuk surga.”

Dan yang menarik, saya juga masih ingat menonton seorang wanita yang di kemudian hari saya kenali sebagai Mother Angelica di EWTN. Saya tidak tahu apa-apa tentang Iman Katolik, dan saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya. Dalam pikiran saya, tidak peduli gereja mana yang Anda ikuti, atau jika Anda hadir di gereja atau tidak. Yang paling penting adalah mendoakan “doa orang berdosa” dan membaca Kitab Suci.

Bagaimanapun juga, Kitab Suci itu sulit untuk dipahami oleh orang baru percaya yang tidak punya dasar agama dalam didikan keluarga. Saya merasa tidak yakin bagaimana cara menafsirkan beberapa bagian dan tidak tahu apa-apa tentang sejarah Iman Kristen ini. Sungguh, saya mulai dari awal, mencoba menyatukan iman saya sambil lalu.

Pada tahun-tahun berikutnya, tata cara Kekristenan yang baru saya temukan ini dikesampingkan karena minat saya berubah. Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk ikut pesta anak SMA, yang akhirnya jatuh ke alkohol dan obat-obatan. Kadang-kadang saya masih memikirkan Yesus dan iman saya, bahkan sesekali ikut kebaktian gereja Protestan bersama dengan teman-teman, tapi dunia saya disita dengan hal-hal populer, menjadi “tinggi” dan melakukan hal-hal yang rasanya baik pada masa ini. Nilai hidup saya memburuk, begitu juga dengan hubungan dengan orang tua saya. Tak lama setelah lulus SMA, saya pindah.

Saya mendaftar di perguruan tinggi di Pittsburg State University di Pittsburg, Kansas dan bekerja sebagai reporter surat kabar kota kecil yang terbit mingguan. Jurusan yang saya ambil adalah jurnalisme, ini menjadi kesempatan besar bagi seorang anak berusia 19 tahun. Namun demikian, hubungan saya dengan obat-obatan dan alkohol sudah menjadi prioritas utama saya, tak lama kemudian dua kesempatan ini (sekolah dan bekerja) terbuang sia-sia. Saya hidup di jalur cepat, dan Tuhan menjadi jauh dalam pikiran saya.

Gaya hidup di jalur cepat ini berlanjut selama beberapa tahun. Saya masuk dan keluar sekolah, masuk dan keluar dari rumah orang tua saya, dan tidak punya arah yang jelas dalam hidup saya. Prioritas hidup saya berkisar tentang peristiwa pesta pora, saya tidak peduli apa-apa lagi. Saya sudah tidak menghormati Tuhan dan kedua orang tua saya, menjalani hidup bagaikan batu yang menggelinding.

Pada tahun 2003, ada campur tangan Tuhan dalam bentuk kesempatan berkarier. Saya dipekerjakan sebagai penyiar radio di stasiun lokal dan dengan cepat memanfaatkan latar belakang singkat saya dalam bidang jurnalisme untuk mengamankan posisi reporter berita. Prioritas hidup saya dengan cepat berubah. Saya menyukai radio dan tidak bisa memikirkan hal lain. Saya menjadi sadar dan memberikan segalanya untuk karier baru saya ini.

Ternyata, setelah itu Tuhan menuntun saya di kesempatan ini yang tidak ada hubungannya dengan radio dan lebih berkaitan dengan apa yang nantinya menjadi dasar perjalanan iman saya selanjutnya. Di antara rekan kerja ada beberapa pria yang sangat religius. Dua dari teman ini menjadi teman baik saya, yang seorang Katolik dan seorang lagi Protestan Injili.

Saya menganggap diri saya sebagai seorang Demokrat liberal yang tidak suka mengalah, yang membuat banyak perdebatan dengan rekan kerja yang lebih konservatif. Meskipun berakar pada politik, perdebatan itu akhirnya membawa saya untuk mempertimbangkan bagaimana saya memandang dunia dan apakah pandangan itu sejalan dengan Sang Pencipta saya. Hal ini tidak terjadi dalam semalam. Saya tetap berkomitmen teguh dengan pandangan politik saya. Yang berubah pada masa ini adalah posisi Tuhan yang memegang hidup saya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun sebelumnya, saya mulai berpikir tentang iman. Saya bertanya, membaca Kitab Suci, dan dan merenungkan makna semua itu. Sedikit yang saya ketahui bahwa benih yang ditanam dalam perdebatan itu, waktu itu saya percaya semua hal itu tentang politik dan pemerintahan, tapi sebenarnya tentang hal-hal yang lebih mendasar.

Akhirnya, karier saya di radio sukses, dan saya pindah ke wilayah Kansas City, mengambil jabatan sebagai pembawa berita. Sekali lagi, Tuhan mulai menabur benih iman dalam hidup saya. Kadang-kadang saya ikut kebaktian di gereja Protestan bersama dengan teman atau rekan kerja. Tuhan masih belum dekat dengan inti kehidupan saya, namun Ia pasti kembali dalam perhatian saya. Melalui semua hal itu, saya masih menganggap diri saya sebagai seorang agnostik, tidak yakin dengan apa atau sesuatu yang saya yakini.

Dalam lingkungan ini, saya berjumpa dan jatuh cinta dengan seorang wanita yang akan saya nikahi di kemudian hari. Dia bukan seorang Kristen, bahkan tidak percaya kepada Tuhan, jadi sekali lagi saya menyimpang dari jalan iman. Kami berdua menganggap diri kami sebagai orang-orang yang sangat liberal dan kami menjalani hidup kami dengan cara itu. Tentu saja, gereja bukan menjadi prioritas kami.

Setelah kami memiliki anak, saya merasakan lagi panggilan untuk beriman. Kehadiran dua putra kami membuat saya menyadari bahwa keberadaan kami pasti punya makna. Tidak mungkin kebetulan atau cara berpikir dari Sang Pencipta yang jauh dan tidak terlibat di dalamnya. Cinta yang saya rasakan untuk anak-anak saya terlalu kuat untuk disebut “reaksi biologis” semata.

Dan ini adalah masalah. Istri saya tidak tertarik untuk mendengarkan apa pun tentang keinginan saya untuk melihat kembali Kekristenan. Seiring berjalan waktu, bahkan faktor iman ini menjadi sesuatu yang memisahkan kami. Namun, panggilan itu tetap ada. Saya merasakan keinginan besar untuk menggali lebih dalam mengenai Allah, Yesus, dan iman.

Berikutnya perjalanan ini berlangsung selama beberapa tahun dan membawa saya untuk mengetahui agama-agama lain serta Kristen Protestan. Saya tahu dengan adanya Gereja Katolik tapi tidak pantas untuk diperhatikan. Di benak saya, akhirnya saya harus melihat Gereja Katolik lebih dekat, tapi saya belum siap.

Akhirnya saya menetap di Gereja Episkopal. Saya tertarik dengan liturgi dan Buku Doa Umum (Book of Common Prayer), dan saya menggap gereja itu “cukup Katolik, tapi tidak terlalu Katolik.” Baru di kemudian hari, saya menyadari bahwa saya masih berpegang pada beberapa narasi palsu yang saya dengar mengenai Katolik seperti “orang Katolik menyembah Maria” dan “mereka berdoa kepada berhala.”

Saya dibaptis menurut tata cara gereja Episkopal pada tahun 2010, dan rutin ikut ibadah, bahkan berteman dekat dengan seorang presbiter. Kami rutin makan siang bersama, mendiskusikan hal filsafat dan teologi yang mendalam. Saya mulai rajin membaca literatur Kristen. Saya menjadi penggemar berat C. S. Lewis. Buku Mere Christianity benar-benar mengubah hidup saya dan cara pandang saya tentang iman. Tetap saya, saya belum siap untuk melepaskan cara pandang dunia liberal yang saya anut. Gereja Episkopal tetap menjadi rumah saya karena pandangan “progresif” mereka tentang perkawinan sesama jenis, aborsi, dan lain-lain.

Pada masa ini, yang berlangsung selama beberapa tahun, kehidupan perkawinan saya mulai menurun. Terlihat jelas bahwa perbedaan itu adalah iman dan semakin menjadi jurang pemisah. Dalam upaya untuk berelasi dengan istri saya, saya bolak-balik pindah antara beriman dan agnostik. Saya menjalani hidup dalam kebohongan. Tidak ada jalan kembali, saya percaya akan Kekristenan dengan segala keadaan saya. Tapi, saya masih goyah.

Ada masalah lain yang memengaruhi perkawinan kami, masalah-masalah yang tidak perlu dibahas dalam tulisan ini. Iman menjadi pemecah belah yang serius antara kami, tapi pada akhirnya, ada berbagai alasan dalam perkawinan kami.

Seiring waktu berlalu, jelas sekali bahwa perjalanan saya belum berakhir. Saya mulai membaca tentang Reformasi, Henry VIII, dan awal mula Gereja Episkopal. Meskipun saya tidak mau mengakuinya, satu-satunya argumen yang paling masuk akal adalah argumen Katolik. Meskipun ada batu sandungan mengenai kepercayaan Katolik, saya merasa bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan saya di tempat saya berada.

Ada satu peristiwa yang mencuat. Di tengah perkawinan kami yang hancur dan rasa tidak puas dengan karier saya, saya mengecam Tuhan. Saya berteriak, “Jika Engkau menghendaki supaya saya tahu kebenaran, TUNJUKANLAH KEPADAKU! Saya tidak bisa bolak-balik terus seperti ini. Engkau ada atau tidak. Jika Engkau ada, bawa saya ke tempat yang Engkau kehendaki. Saya membutuhkan Engkau untuk membimbingku!”

Intinya, saya menuntut tanggapan ilahi terhadap ucapan Yesus: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7).

Pada tahun 2015, setelah banyak memikirkan hal ini, saya memutuskan untuk melirik RCIA (‘Rite of Christian Initiation of Adults’ atau kita mengenalnya sebagai Katekumen Dewasa –red.). Saya merasa diyakinkan oleh Katolikisme dan berniat untuk pindah keyakinan. Namun, selama proses itu, perkawinan saya memasuki babak terakhir, saya menjauh dari peneguhan menjadi Katolik, malu karena gagal dalam perkawinan.

Selanjutnya yang terjadi adalah perceraian yang mengerikan dan menjadi saat-saat yang sangat gelap dalam hidup saya. Saya jatuh ke dalam alkohilisme dan membuat berbagai keputusan yang membuat saya jatuh ke dalam kegelapan. Namun di tengah semua itu, saya merasakan Kehadiran Allah yang penuh kasih. Sungguh, saya adalah domba yang hilang yang Ia cari untuk dibawa pulang.

Pada tahun 2018, sekali lagi saya merasakan panggilan itu. Saya sudah pergi ke Gereja Methodist Injili dan tidak memperoleh apa yang saya perlukan. Untuk sekali untuk selamanya, saya tahu bahwa saya harus menjadi Katolik. Dengan argumen-argumen yang sudah saya baca, secara khusus dari staf Catholic Anwers yang begitu meyakinkan. Saya sudah membenamkan diri dalam literatur Katolik, dan tidak ada jalan kembali.

Saya membaca tulisan St. Agustinus, kutipan Paus St. Yohanes Paulus II, Dr. Scott Hahn, kutipan dari St. Faustina dan banyak lagi. Hal ini menjadi sangat jelas. Katolikisme bukan hanya salah satu gereja dari banyak gereja. Dulu dan sekarang adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas St. Petrus. Misa dengan segala keindahan dan kemegahannya, untuk pertama kali menjadi hal yang masuk akal. Referensi Injil Yohanes bab 6 tentang apa yang ditegaskan Yesus mengenai Tubuh dan Darah-Nya bukan sekadar perumpamaan untuk dipahami secara simbolis. Kelaparan rohani yang saya rasakan, perasaan yang sering diabaikan selama bertahun-tahun, akhirnya menemukan pemenuhannya. Semua jatuh ke tempatnya.

Saya segera mengajukan anulasi perkawinan pertama saya dan ikut RCIA setiap pekan, setiap bulan berlalu saya semakin yakin bahwa saya berada di tempat yang tepat.

Pada Malam Paskah 2018, saya menerima peneguhan dalam Gereja Katolik dan menerima Komuni Kudus untuk pertama kalinya. Pengalaman itu seperti pulang ke kampung halaman. Akhirnya saya berada di tempat saya berada.

Namun demikian, perjalanan saya belum selesai. Sementara saya sudah berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja, saya masih menantikan anulasi dan akhirnya sudah bertemu dengan orang yang akan saya nikahi. Pada masa ini, masalah dengan alkohol muncul lagi. Saya ikut Misa pada hari Minggu dan hampir mabuk setiap malam sepanjang pekan. Sesuatu harus diserahkan.

Pada awalnya, alkohol memenangkan pertempuran. Saya berhenti ikut Misa dan berhenti mengaku dosa. Anulasi dikabulkan dan saya menikahi istri saya. Tapi kami tidak menikah di Gereja. Domba yang hilang yang baru saja dibawa pulang kini tersesat kembali. Saat saya melihat kembali ke belakang, saya tidak percaya dengan kekacauan yang sudah saya perbuat. Saya adalah seorang Katolik baru yang sudah tergelincir. Dan karena minuman keras, maka perkawinan kedua saya ini berada di ambang kehancuran.

Pada tahun 2019, saya mencapai titik terendah. Sudah waktunya mengakhiri siklus minum-minum dan depresi. Pergi menuju Tuhan atau ke neraka. Sungguh, itulah keputusan yang saya hadapi. Saya tidak bisa menjadi seorang Katolik yang saya inginkan dan terus menjalani hidup dengan merusak diri sendiri.

Di suatu Sabtu sore, saya melakukan perjalanan yang paling menakutkan dalam hidup saya menuju pengakuan dosa. Saya mencurahkan isi hati saya, menceritakan dosa-dosa saya dengan rasa malu. Saya hanya ingin pulang. Hasrat saya untuk membangun hidup di sekitar Kristus dan iman tidak pernah sekuat ini. Tidak lama kemudian, saya dan istri saya mengesahkan perkawinan kami di Gereja. Saya tidak lagi minum-minum untuk selamanya dan setiap hari saya bersyukur atas ketenangan itu. Hidup iman saya yang terkurung akhirnya berubah menjadi kehidupan yang berpijak di dalam iman.

Sekarang saya seorang pengajar, anggota Knights of Columbus, dan saya pengunjung setia bulanan ke pengakuan dosa. Saya ikut pelajaran Akitab mingguan, sering berdoa Rosario, dan terus mendalami literatur Katolik.

Paskah yang lalu, istri saya memasuki Gereja dan dikukuhkan. Dulu dengan tegas dia menyatakan sebagai seorang Injili, tapi satu kado ulang tahun yang berisi buku Rome Sweet Home karya Dr. Scott Hahn dan Kimberly, istrinya, mengubah segalanya. Tanpa perbantahan, itulah hadiah terbaik yang saya berikan kepada siapa pun.

Hari ini, oleh karena kasih karunia Allah yang tak terbayangkan bersinar dalam kehidupan kami sehari-hari. Kamu sudah mampu membangun fondasi iman yang kuat pada anak-anak kami, dan saya bekerja keras untuk menebus waktu yang sudah hilang. Keinginan saya setiap hari adalah untuk melayani Tuhan dengan berbagai cara yang memungkinkan. Ketika saya tersandung, Ia mengangkat saya. Ketika saya goyah, Ia memberi saya kekuatan.

Saya masih ingat kalau saya hampir memohon kepada Tuhan dengan amarah supaya Ia mengungkapkan kebenaran-Nya kepada saya. Itu tidak terjadi dalam semalam, namun setiap langkah di sepanjang jalan hidup saya, ditandai oleh kasih-Nya dan bimbingan Roh Kudus. Ia membimbing saya mulai dari karya C. S. Lewis sampai ke Thomas Merton dan St. Faustina. Ketika saya melihat lagi ke belakang, jalan yang saya lalui ini ditandai dengan jelas, meskipun waktu itu saya mungkin tidak mengenali semua penunjuk jalan itu.

Saya memiliki iman yang mendalam dan berdiam di dalam Kristus dan tidak diragukan lagi saya tahu kalau saya adalah bagian dari Gereja yang sejati yang Ia dirikan hampir 2.000 tahun lalu.

Saya suka menceritakan kisah pertobatan saya dan berharap saya bisa membawa kedamaian yang sudah saya temukan ini untuk orang lain, yang pasti melampaui semua pengertian.

Jeff Bell adalah pendiri dan CEO Bell Public Relations, yang menyediakan bantuan hubungan masyarakat dan pemasaran kepada komunitas senior di seluruh Amerika Serikat. Ia lahir di Wichita, Kansas pada tahun 1981. Jeff adalah suami dari Erin, dan ayah dari Ethan dan Connor, yang ia besarkan dalam Iman dengan harapan supaya mereka selalu memegang erat iman itu. Sejak pulang ke Iman Katolik pada tahun 2018, Jell melibatkan diri dalam Knights of Columbus, pelajaran Alkitab mingguan, dan menjadi pengajar di parokinya, St. Joseph Catholic Church di Shawnee, KS. Jeff suka membaca, terutama karya penulis-penulis tentang pembelaan iman seperti Trent Horn, Dr. Scott Hahn, dan Uskup Robert Barron, dan ia juga suka menonton episode klasik Mother Angelica Live di EWTN.

Sumber: “From Small Beginnings to Great Faith”

Posted on 26 November 2021, in Kisah Iman and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: