Ketika Petrus Berjumpa dengan Yesus

Oleh Cy Kellett

Yesus dan Petrus (Sumber: catholic.com)

Perjumpaan pertama antara Yesus dan Petrus disajikan kepada kita dalam dua cara yang berbeda. Ketika Yesus memanggil Petrus untuk menjadi murid-Nya, Markus, Matius, dan Lukas menampilkan Petrus yang sedang bekerja sebagai seorang nelayan di Galilea. Di kisah lain, Yohanes memberi tahu kita bahwa Yesus sudah bepergian untuk melihat Yohanes Pembaptis di Yudea, seperti yang dilakukan orang banyak. Dan pada saat yang sama, ada sekelompok pria berasal dari Betsaida, dari kelompok itu ada Petrus dan Andreas, saudaranya yang juga pergi untuk melihat Yohanes Pembaptis. Dalam Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis bersaksi bahwa Yesus adalah “Anak Domba Allah” (Yohanes 1:36) di hadapan Andreas, yang mulai mengikuti Yesus yang kemudian memperkenalkan Petrus kepada Yesus.

Cukup wajar untuk menduga variasi kisah tentang bagaimana Petrus dan Yesus berjumpa, sehingga perjumpaan itu, seperti banyak perjumpaan antara orang banyak yang kemudian mereka berteman, termasuk kisah awal dan akhir perjumpaannya. Orang-orang yang punya lingkaran pertemanan yang tumpang tindih (ada lingkaran pertemanan kita yang juga mengenal orang lain di lingkaran pertemanan orang lain), mungkin mereka akan bertemu satu sama lain dalam beberapa kali pertemuan, dan akhirnya mereka saling mengenal. Sesuatu seperti itulah yang tampaknya terjadi pada Petrus dan Yesus. Memang, tidak ada satu tulisan Injil pun yang lengkap mengisahkan perjumpaan Petrus dengan Yesus. Setiap penulis Injil memberikan beberapa rincian yang menurutnya penting.

Mungkin Petrus mendengar Yesus dari Andreas dan juga dari orang lain. Pada titik tertentu, pada saat Yesus berada di antara orang banyak yang ingin melihat Yohanes Pembaptis, Petrus diperkenalkan kepada Yesus dan Yesus membuatnya terkesan. Yesus tampaknya menaruh perhatian khusus kepada Petrus, memberinya nama panggilan sejak awal. Tapi Yesus tidak segera memanggil Petrus untuk mengikuti-Nya.

Injil Markus (agaknya diikuti oleh Matius dan Lukas), mengisahkan suatu peristiwa yang kemungkinan besar terjadi beberapa saat kemudian, ketika Petrus kembali ke pekerjaan dan rumahnya di Betsaida dekat Laut Galilea. Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya dengan berkhotbah dan menyembuhkan orang di kota-kota sekitar Laut Galilea, Ia memanggil Petrus untuk mengikuti-Nya, dan Petrus terpesona dengan Yesus dan mengikuti-Nya (dan mungkin pada saat inilah Petrus berpikir bahwa Yesus memang seorang Mesias).

Ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai perjumpaan antara Yesus dan Petrus adalah tidak digambarkan sebagai perjumpaan sebagai seorang yang benar-benar pendosa dengan sang penyelamatnya. Petrus tidak terperosok dalam mengejar kehidupan yang berdosa hanya untuk diselamatkan oleh Yesus.

Saya menunjukkan hal ini karena ada catatan Kekristenan modern yang sering kali mengisahkan orang berdosa yang putus asa yang berjumpa dengan Yesus dalam saat-saat yang dramatis dan menyelamatkan. Memang kisah-kisah seperti itu terjadi. Tapi kadang-kadang kisah-kisah itu terlalu dilebih-lebihkan untuk efek retoris, yang bisa membuat orang-orang yang berjumpa dengan Yesus dengan cara biasa. Perjumpan seperti ini mirip dengan yang dialami Petrus, sehingga dipertanyakan apakah mereka benar-benar berjumpa dengan Yesus.

Bahkan di dunia modern, seringkali seseorang bertemu dengan Yesus di berbagai kesempatan sebelum menjalin persahabatan dengan-Nya. Tidak selalu ada peristiwa pertama yang dramatis. Dalam kasus Petrus, banyak drama akan terjadi kemudian ketika ia mengikuti Yesus, tetapi perjumpaan pertama mereka bertahap dan sederhana. Bahkan sebelum berjumpa dengan Yesus, setiap petunjuk yang disajikan kepada kita dalam Injil menunjukkan bahwa Petrus adalah seorang Yahudi yang kokoh, menjalankan imannya sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab. Petrus bukan seorang pendosa malang yang dalam kondisi sangat berkebutuhan.

Maka, jika Petrus tidak ditarik keluar oleh Yesus dari jerat dosa, apa yang sebenarnya perjumpaan ini menjadi begitu istimewa sehingga Petrus rela meninggalkan kehidupannya yang lazim dan menjadi pengikut Yesus? Pertanyaan penting ini perlu dijawab karena sebagian besar orang Kristen tidak mengenal Yesus dalam keadaan sedang berputus asa, terlepas dari kisah dramatis yang dikisahkan beberapa orang.

Memang, ada banyak orang yang menolak Yesus karena mereka pikir bahwa mereka tidak membutuhkan-Nya, karena hidup mereka tidak berada di titik terendah. Mereka pikir bahwa dirinya baik-baik saja tanpa Yesus. Orang-orang seperti itu tidak tahu apa yang mereka lewatkan itu, sehingga mereka dengan mudah bisa membiarkan perjumpaan yang mungkin berlalu begitu saja tanpa menanggapinya.

Dengan perhitungan yang biasa, mungkin juga Petrus terlihat baik-baik saja tanpa Yesus. Tapi entah bagaimana Petrus tahu bahwa dirinya tidak membutuhkan Yesus, karena seolah-olah ia sudah mengenali Yesus dalam kuasa ilahi yang menghidupkan manusia seutuhnya. Dan hidup dengan baik-baik saja dan hidup seutuhnya adalah dua hal yang sangat berbeda.

Kuasa dalam perjumpaan Petrus dalam  diri Yesus adalah sesuatu yang jauh melampaui apa yang bisa diberikan oleh para guru dan sistem agama secara manusiawi. Bahkan kekuatan militer penjajah Romawi yang menakutkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kuasa Yesus yang murni dan seketika.

Artikel ini adalah kutipan dari buku “A Teacher of Strange Things”

Sumber: “When Peter Met Jesus”

Posted on 2 December 2021, in Kenali Imanmu, Kitab Suci and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: