Alkitab dalam Liturgi dan Liturgi dalam Alkitab

Oleh Mike Aquilina

Kitab Suci dalam Liturgi (Sumber: stpaulcenter.com)

Sewaktu Anda berada di dalam gereja, dan mendengar bacaan dari Perjanjian Lama kemudian dilanjutkan dengan bacaan dari salah satu surat dari Perjanjian Baru. Pasti  Anda merasakan bahwa keduanya itu sangat penting karena ditempatkan secara khusus untuk dibacakan di depan gereja, dan juga ada daftar bacaan khusus tentang mana yang harus dibaca pada hari tertentu.

Tapi ketika bacaan Injil, dan segala sesuatu ditingkatkan. Umat berdiri, gereja dipenuhi dengan alleluya. Ada prosesi dilakukan, dengan kitab Injil yang besar dan penuh dengan hiasan di sampul di baris depan, diapit dengan lilin, menghadap umat dan kemudian imam – bukan umat biasa – yang membacakan Injil pada hari itu.

Jelas sekali Injil menjadi sesuatu yang sangat penting bagi Gereja. Kita tidak perlu menata sesuatu dengan upacara kecuali kalau sesuatu itu sangat berarti bagi kita. Pergi ke toko obat adalah sesuatu yang bisa kita lakukan cukup dengan memakai celana jeans dan kaos. Sedangkan, perkawinan harus direncanakan selama berbulan-bulan. Apa yang dianggap penting bisa kita ketahui dari berbagai upacara yang dilakukan untuk sesuatu itu.

Kita bisa mengatakan bahwa di dalam Gereja, Kitab Suci itu penting karena dikelilingi oleh berbagai upacara. Kita bisa mengatakan bahwa Injil punya nilai penting yang istimewa karena ada upacara-upacara yang mengesankan. Ketika Injil dibacakan, ada lilin bernyala.

Mudah sekali untuk melupakan pentingnya Alkitab pada masa kini, karena Alkitab ada di mana-mana. Ada juga Alkitab seharga satu dollar yang merupakan Alkitab Protestan yang dicetak dengan huruf sangat kecil, Alkitab yang kurang beberapa kitab di dalamnya. Jika Anda ingin punya Alkitab, tidak ada yang menghalangi Anda untuk mempunyainya dan membacanya kapan pun Anda mau. Bahkan jika Anda tidak punya Alkitab fisik, ada versi daring yang ada di aplikasi atau situs web. Jika Anda tidak bisa membaca, ada banyak Alkitab versi audio. Anda bisa memiliki Alkitab semau yang Anda kehendaki dan kapan pun Anda mau. Inilah salah satu keajaiban dari peradaban modern.

Namun, kadang-kadang kita lupa akan arti “Kitab Suci.”

Bayangkan tentang sebuah dunia di mana semuanya adalah pernyataan. Bagi orang kaya dan mereka yang punya hak istimewa ada benda yang bernama buku, tapi bagi sebagian besar orang, informasi berasal dari apa yang mereka dengar. Di dunia seperti itu, di mana kedudukan Kitab Suci?

Tentu saja ada banyak buku. Ada banyak karya sasta besar pagan, seperti epos Homeros atau sajak Sapfo. Ada juga karya filsafat seperti dialog Plato atau risalah Aristoteles. Ada juga karya penulis Kristen yang baik seperti karya St. Hippolitus dari Roma atau karya-karya Ignatius dari Antiokhia.

Tidak satu pun dari semua itu adalah Kitab Suci. Tapi bukan artinya semua itu tidak baik. St. Ignatius dari Antiokhia menulis surat-surat yang sangat menginspirasi, dan setiap orang Kristen bisa memperoleh manfaat dengan membacanya atau mendengar pembacaan surat itu.

Tapi ketika umat Kristen berjumpa dan mendengar Sabda Tuhan, hanya kitab-kitab tertentu yang bisa diwartakan dalam liturgi. Itulah kanon Kitab Suci: daftar kitab yang bisa diwartakan dalam liturgi. Itulah yang membuat kitab-kitab dalam Kitab Suci berbeda dengan buku-buku lainnya. Dan oleh kerena itu, mengapa kita memberikan rasa hormat sedemikian rupa terhadap Kitab Suci. Inilah kitab-kitab yang bisa dibacakan oleh orang-orang yang punya wewenang. Melalui merekalah kita diberitahukan kebenaran Tuhan yang ingin kita dengar. Kemudian, setelah Liturgi Sabda, kita melanjutkan ke Liturgi Ekaristi – ritus perjanjian yang menguduskan Kitab Suci.

Inilah yang selalu dimaksudkan oleh umat Kristen dengan “Kitab Suci.”

 

Mike Aquilina adalah wakil presiden eksekutif dari St. Paul Center dan penyunting kontributor untuk Angelus News. Ia adalah penulis lebih dari lima puluh buku, termasuk bukunya yang berjudul “The Fathers of the Church and The Eucharist Foretold.”

 

Sumber: “The Bible in the Liturgy and the Liturgy in the Bible”

Posted on 31 May 2022, in Ekaristi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: