Dosa Asal, Tidak Adil?

Oleh Tim Staples

Pohon keluarga (Sumber: catholic.com)

Alkitab mengatakan bahwa seorang anak tidak akan disalahkan atas dosa-dosa ayahnya, tetapi kita memiliki dosa asal.

Beberapa kritikus berpendapat bahwa hukuman atas dosa pribadi bisa dimengerti, tetapi jiwa-jiwa yang meninggal dengan dosa asal tidak melakukan kesalahan apa pun. Jadi bagaimana mungkin mereka dapat dihukum dengan adil, bukankah secara teori hal itu sulit dimengerti? Bukankah hal itu bertentangan dengan Yehezkiel 18:20-21?

Orang yang berbuat dosa, dialah yang harus mati. Anak tidak akan ikut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan ikut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima buah kebenarannya, dan orang fasik akan menanggung akibat kefasikannya. Tetapi, apabila orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati (TB2).

Pertanyaan ini berkaitan erat dengan kesalahpahaman tentang doktrin dosa asal.

Berlawanan dengan pendapat yang menjadi mitos umum, dosa asal tidak berarti bahwa seluruh umat manusia telah melakukan dosa yang sama seperti dosa yang dilakukan oleh Adam. Bukan itu yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Yehezkiel akan mengutuk pemikiran semacam itu. Dalam ilham Roh Kudus, sang nabi menjelaskan bahwa seorang anak tidak dapat dikatakan bersalah atas dosa yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Bahkan, tidak ada orang yang secara adil dapat dituduh bersalah atas dosa yang tidak dilakukannya sendiri. Dalam kasus Adam, satu-satunya orang yang bersalah atas dosa Adam adalah Adam sendiri.

Tetapi dogma Katolik tentang dosa asal tidak mengajarkan atau menyiratkan bahwa seseorang dapat bersalah atas dosa orang lain. Gereja selalu memahami demikian:

Dengan menyerah kepada penggoda, Adam dan Hawa melakukan dosa pribadi, tetapi dosa ini menimpa kodrat manusia, yang selanjutnya diwariskan dalam keadaan dosa. Dosa itu diteruskan kepada seluruh umat manusia melalui pembiakan, yaitu melalui penerusan kodrat manusia, yang kehilangan kekudusan dan keadilan asli. Dengan demikian dosa asal adalah “dosa” dalam arti analog: ia adalah dosa, yang orang “menerimanya,” tetapi bukan melakukannya, satu keadaan, bukan perbuatan (KGK 404).

Istilah “hukuman” dalam dokumen-dokumen Gereja seperti Nequaquam sine dolore dari Paus Yohanes XXII dan Laetentur Caeli dari Paus Urban IV dapat membingungkan bagi sebagian orang. Namun, yang dimaksud oleh Gereja dengan “hukuman” adalah fakta bahwa ada berbagai macam penderitaan dan kelemahan yang menimpa kehidupan anak-anak manusia yang tidak melakukan dosa, tetapi sebagai konsekuensi dosa dan kesalahan orang tua mereka. Dosa asal adalah contoh utama dari hal itu.

Namun, bukan berarti bahwa anak itu bersalah atas dosa-dosa orang tuanya. Maksudnya adalah bahwa anak-anak bisa terkena, bahkan sering mendapat dampak dari dosa dan kesalahan orang tuanya. Dengan menggunakan contoh berikut ini bisa memudahkan pemahaman kita, ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa penggunaan kokain atau bahkan merokok oleh ibu hamil dapat berdampak pada anaknya setelah kelahiran. Dalam kasus-kasus ini, jelas anak-anak tidak memilih untuk melakukan sesuatu yang berbahaya bagi diri mereka sendiri, namun potensi bahaya tetap ada. Banyak dari anak-anak ini akan mengalami cacat dan kerusakan yang tidak dapat disalahkan karena perbuatan orang tuanya.

Dalam kasus-kasus seperti ini, “hukuman” sering kali digunakan dalam arti penderitaan dan kelemahan yang diakibatkan oleh dosa-dosa leluhur. Dan ini serupa dengan dosa asal. Karena Adam dan Hawa memiliki kodrat manusia yang akan diwariskan kepada keturunan mereka, dosa mereka (dosa asal) yang menyebabkan kejatuhan kodrat dunia yang sama, menyebabkan semua keturunan mereka secara umum menerima kodrat manusia yang telah jatuh sampai akhir zaman. Analogi “crack baby/prenatal cocaine exposure” yang lahir dengan disabilitas (“hukuman”) yang tidak ia lakukan tetapi karena perbuatan orang tua yang menggunakan kokain ketika hamil. Dalam kasus Adam dan Hawa, semua keturunan mereka akan “dihukum,” atau dilahirkan dengan dosa asal pada jiwa mereka.

Apakah semua orang bersalah karena dosa Adam? Tidak. Tetapi apakah semua manusia menderita akibat dosa Adam? Tentu saja!

 

Sumber: “Original Sin? Blame Your Dad”

Posted on 12 October 2023, in Kenali Imanmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.