Sejarah Kalender Gregorian

Oleh Matthew E. Bunson

Kalender Gregorian Oktober 1582 (Sumber: rhapsodyinbooks.wordpress.com)

Jika Anda mengucapkan, ‘Selamat tahun baru’ pada tanggal 1 Januari, Anda harus mengucapkan doa syukur kepada Paus Gregorius XIII.

Pada malam tanggal 4 Oktober 1582, warga Spanyol dan koloninya, Portugal, Polandia, dan sebagian besar Italia tidur dan sepuluh hari kemudian bangun dari tidurnya.

Peristiwa aneh tersebut bukanlah keajaiban abad pertengahan, melainkan sebuah upaya Gereja untuk melakukan perubahan waktu yang sangat diperlukan. Setelah beberapa bulan sebelumnya memutuskan bahwa reformasi kalender sangat penting untuk kebaikan peradaban Barat, Paus Gregorius XIII (menjabat dari tahun 1572-1585) menerapkan kalender baru pada malam 4 Oktober. Keesokan harinya, perbaikan besar-besaran pada kalender Julian tidak dihitung sebagai tanggal 5 Oktober, melainkan 15 Oktober 1582. Reformasi kalender ini membuktikan salah satu pencapaian paling penting dan mengesankan bagi kemajuan Eropa di sepanjang era Renaisans.

Bagi para pengkritik Gereja, abad keenam belas adalah gudangnya hal yang memalukan bagi umat Katolik mulai dari apa yang disebut sebagai “Paus-paus yang tak bermoral,” Inkuisisi, hingga Reformasi Protestan. Namun, puncak dari kritik tersebut adalah Galileo dan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh kepausan yang tidak jelas, tirani, dan tidak berpengetahuan. Namun, yang hilang dalam banyak retorika seputar Galileo adalah pencapaian besar Paus Gregorius XIII dalam membawa perubahan yang sangat penting pada kalender.

Masalahnya adalah satu tahun tidak bisa terdiri dari hari atau bulan yang tersusun rapi. Sederhananya, ada interval antara titik balik musim semi (vernal equinox) yang terjadi secara berurutan (setiap 365,2424 hari) yaitu sekitar kurang sebelas menit dari 365 seperempat hari. Pada saat yang sama, periode sinodis bulan (yaitu waktu antara setiap bulan purnama atau bulan baru) adalah sekitar dua puluh sembilan setengah hari, sehingga dua belas bulan hanya berjumlah sekitar 354 hari. Sebuah kalender yang menggabungkan pergerakan matahari dan bulan menjadi sebuah tantangan, dan orang-orang dari berbagai peradaban telah memberikan kontribusi terbaiknya.

Karena kalender ini belum diadopsi secara luas, upaya untuk memecahkan dilema ini adalah kalender Julian, yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada tahun 45 SM untuk menggantikan kalender Romawi yang sudah lama ada yang sudah sangat tidak akurat karena menggunakan perhitungan tahun lunar dan bulan interkalasi. Dengan sedikit bantuan dari Sosigenes seorang astronom Aleksandria, pemikiran Caesar untuk menyusun kalender matahari dengan bulan-bulan yang panjangnya tetap. Alih-alih mencoba memperkenalkan perubahan yang bertahap, Caesar menerapkan apa yang disebut “tahun kebingungan” dengan menambahkan sembilan puluh hari dalam satu tahun untuk menyelaraskan bulan-bulan dalam kalender Romawi dengan pergantian musim. Tahun Julian pertama dimulai pada tanggal 1 Januari 46 SM, tahun ke-708 sejak berdirinya kota Roma.

Hasilnya, durasi rata-rata tahun kalender Julian adalah 365,25 hari. Untuk memperhitungkan penyimpangan yang tidak kentara namun penting dalam perjalanan waktu, setiap tahun keempat dimasukkan satu hari interkalasi untuk menjaga keselarasan antara tahun kalender dan tahun tropis. Caesar mengatur bulan pertama, ketiga, kelima, ketujuh, kesembilan, dan kesebelas (yaitu Januari, Maret, Mei, Juli, September, dan November) berjumlah tiga puluh satu hari, sedangkan bulan-bulan lainnya berjumlah tiga puluh hari, kecuali bulan Februari, yang pada tahun-tahun biasa hanya memiliki dua puluh sembilan hari tetapi setiap tahun keempat memiliki tiga puluh hari. Untuk menyamakan diri dengan pendahulunya yang termasyhur, Kaisar Augustus menambahkan tambahan satu hari pada bulan Agustus supaya jumlah harinya sama dengan bulan Juli, yang diambil dari nama Kaisar pertama (Julius Caesar). Jadi, satu hari diambil dari bulan Februari dan ditambahkan ke bulan Agustus; untuk mencegah tiga bulan berturut-turut terdiri dari tiga puluh satu hari, September dan November dikurangi menjadi tiga puluh hari, dan Oktober dan Desember menjadi tiga puluh satu hari. Hari tambahan setiap tahun keempat ditambahkan ke bulan Februari, bulan terpendek. Dalam kalender modern, hari interkalasi masih ditambahkan pada bulan Februari, tetapi sebagai hari ke dua puluh sembilan.

Kalender Julian tetap digunakan sepanjang sejarah Kekaisaran Romawi. Gereja pun secara otomatis mengadopsinya dalam pengembangan kalender liturgi. Paskah ditempatkan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah titik balik musim semi (vernal equinox). Maka, jelaslah bahwa perhitungan ekuinoks menjadi sesuatu yang sangat berarti dan penting. Jika ekuinoks salah maka Paskah dirayakan pada hari yang salah, dan penentuan hari raya lainnya seperti permulaan masa Prapaskah dan Pentakosta juga akan salah.

Karena kalender Julian masih jauh dari sempurna, kesalahan memang mulai merambat ke dalam pencatatan waktu. Karena ketidaktepatan yang ada pada kalender tersebut, tahun yang dihitung terlalu panjang, yaitu sebelas menit dan empat belas detik. Masalahnya semakin besar setiap tahun karena ekuinoks mundur satu hari penuh pada kalender setiap 130 tahun. Contohnya, pada saat awal diperkenalkan kalender Julian menempatkan ekuinoks pada tanggal 25 Maret. Pada saat Konsili Nikea pada tahun 325, ekuinoks telah mundur ke tanggal 21 Maret. Pada tahun 1500, ekuinoks sudah bergeser sepuluh hari.

Sepuluh hari merupakan hal yang semakin penting bagi navigasi dan pertanian sehingga menyebabkan masalah besar bagi para pelaut, pedagang, dan petani yang mata pencahariannya bergantung pada pengukuran waktu dan musim yang tepat. Pada saat yang sama di sepanjang Abad Pertengahan, penggunaan kalender Julian membawa banyak variasi dan keanehan di berbagai daerah yang selalu menjadi sumber kekecewaan para sejarawan. Sebagai contoh, banyak catatan gerejawi abad pertengahan, transaksi keuangan, dan penghitungan tanggal dari hari-hari raya para kudus tidak mengikuti kalender Julian baku, tetapi menampilkan penyesuaian lokal. Tidak mengherankan, kebingungan pun terjadi.

Gereja menyadari ketidakakuratan tersebut dan pada akhir abad ke-15, terdapat kesepakatan besar di antara para pemimpin Gereja bahwa tidak merayakan Paskah pada hari yang tepat merupakan sebuah skandal, karena Paskah adalah peristiwa yang paling penting dan paling khidmat dalam kalender.

Paus Sixtus IV (menjabat dari tahun 1471-1484) melakukan upaya pertama untuk mereformasi kalender, dengan melibatkan astronom Johann Müller, yang sayangnya dibunuh tak lama kemudian. Karena hasil kerja astronom lain tidak dapat diterima secara universal karena masalah persaingan kepentingan nasional dan perbedaan pendapat, Gereja tetap menjadi peluang terbaik untuk mengumumkan solusi pasti bagi krisis yang berkembang.

Paus St. Pius V memperkenalkan brevir baru pada tahun 1568 dan buku Misa pada tahun 1570 sesuai dengan mandat Konsili Trente, dan kedua dokumen baru tersebut mencakup penyesuaian pada tabel bulan dan sistem tahun kabisat. Namun, masalah Paskah tetap ada seperti halnya kesulitan-kesulitan mendasar dengan kalender Julian.

Pada tahun 1563, pada intinya Konsili Trente telah menyetujui sebuah rencana untuk mengembalikan tanggal titik balik musim semi ke tahun 325 dan melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan pada kalender agar perhitungan Paskah menjadi lebih akurat. Luigi Lilius seorang astronom dan doktor Italia mengusulkan sebuah solusi dalam karyanya yang ambisius, Compendium novae rationis restituendi kalendarium (Ringkasan Rencana Baru untuk Restorasi Kalender). Dia menyarankan koreksi sepuluh hari secara perlahan untuk memperbaiki pergeseran temporal sejak Nikea dan penerapan hari kabisat yang lebih hati-hati. Lilius meninggal pada tahun 1576, namun saudaranya mempresentasikan teorinya kepada satu orang yang dapat melakukan sesuatu tentang hal itu yaitu kepada Paus.

Kardinal Ugo Buoncompagni terpilih sebagai Paus Gregorius XIII pada tanggal 13 Mei 1572 sebagai penerus Paus Pius, dan ia bertekad untuk memperbaiki keadaan untuk selamanya. Dengan senang hati menerima naskah tersebut, Paus menunjuk sebuah komisi untuk melakukan investigasi untuk mencari solusi. Dia menempatkan seorang ahli matematika dan astronom Yesuit bernama Christoph Clavius sebagai kepalanya. Pemikiran dasar Lilius diadopsi, tetapi Clavius lebih memilih bahwa setiap koreksi harus dilakukan dalam satu langkah besar daripada implementasi bertahap. Rekomendasi komisi tersebut kemudian disampaikan kepada Paus dan diumumkan oleh Paus dalam bulla kepausan Inter Gravissimus, yang ditandatangani pada tanggal 24 Februari 1582.

Sebagaimana Julius Caesar sebelumnya, Paus setuju bahwa penyesuaian kecil tidak lagi dapat dilakukan. Sebaliknya, ia memutuskan bahwa usulan Clavius harus dilaksanakan: sepuluh hari akan dihapus dari kalender. Jadi sesudah tanggal 4 Oktober menjadi 15 Oktober. Dengan satu langkah, titik balik musim semi tahun 1583 dan tahun-tahun berikutnya akan terjadi sekitar tanggal 20 Maret, tanggal yang lebih dekat dengan tanggal Konsili Nikea. Untuk mengatasi persoalan kehilangan satu hari setiap 130 tahun, kalender baru ini menghilangkan tiga tahun kabisat setiap 400 tahun sehingga tahun-tahun dalam satu abad menjadi tahun kabisat hanya jika habis dibagi 400. Dengan menggunakan metode ini, tahun 1600 dan 2000 adalah tahun kabisat, namun tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan tahun kabisat.

Secara teknis, Paus tidak dapat memerintahkan negara dan kerajaan untuk mengadopsi kalender baru, tetapi manfaatnya langsung terlihat dalam memperbaiki ketidakakuratan kalender Julian yang sudah digunakan selama berabad-abad. Kalender baru ini pertama kali diresmikan di Spanyol, Portugal, koloni-koloni Spanyol di Dunia Baru, Persemakmuran Polandia-Lituania, dan sebagian besar Italia. Kekaisaran Romawi Suci menyusul, dan kemudian seluruh dunia Katolik. Prancis menggunakan kalender baru ini pada bulan Desember 1582.

Seandainya Reformasi Protestan terjadi seabad sebelumnya, maka akan jauh lebih mudah untuk menerapkannya di seluruh wilayah yang pada saat itu masih bersatu. Namun, di Eropa pasca-Reformasi Protestan, perhitungan baru ini disambut dengan kecurigaan di negeri-negeri yang tidak lagi beragama Katolik. Jerman yang menganut Protestan mengadopsi kalender ini secara perlahan. Prusia menerimanya pada tahun 1610, sementara negara-negara Protestan lainnya baru menetapkannya pada tahun 1700.

Orang Inggris terutama pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I (memerintah 1558-1603) menolak pemikiran untuk mengadopsi kalender yang dibuat atas nama Paus dan tetap curiga bahwa ini adalah rencana rahasia Katolik. Akibatnya, bahkan ketika kaum anti-Katolik garis keras di Kepulauan Inggris mencemooh para paus sebagai musuh kemajuan, mereka tertinggal sepuluh hari dari semua orang di Eropa Barat selama lebih dari 150 tahun. Dan setelah tahun kabisat 1700, mereka tertinggal sebelas hari. Orang Inggris memperparah dilema penanggalan ini dengan merayakan Tahun Baru bukan pada tanggal 1 Januari, melainkan menurut kebiasaan lama pada tanggal 25 Maret. Karena koloni-koloni di Amerika menganut sistem Inggris, mereka ikut merasakan pergeseran waktu tersebut. Orang Amerika sekarang merayakan kelahiran George Washington pada tanggal 22 Februari 1732, menurut kalender Gregorian. Namun, menurut perhitungan Inggris, ia lahir pada 11 Februari 1731-32.

Setelah mengakui bahwa dengan tetap menggunakan kalender Julian dan merayakan tahun baru pada tanggal 25 Maret “menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak orang,” akhirnya Parlemen Inggris mengesahkan Undang-Undang Kalender (Versi Baru) pada tahun 1750. Tahun Baru akan dimulai pada tanggal 1 Januari bukan lagi pada 25 Maret, dan waktu akan dihitung menurut kalender Gregorian. Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 2 September 1752 dan keesokan harinya ditetapkan menjadi tanggal 14 September 1782.

Rusia dan gereja-gereja Ortodoks Timur menolak kalender baru dan terus menggunakan kalender Julian dalam perhitungan Paskah. Kalender Gregorian baru diterima sebagai kalender sipil di Rusia setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917. Gereja Ortodoks Timur masih tetap menggunakan kalender Julian yang sudah direvisi, kecuali Gereja Ortodoks Finlandia yang menggunakan kalender Gregorian.

Kalender Gregorian adalah kalender yang paling banyak digunakan di dunia saat ini dan telah memenuhi harapan Paus Gregorius XIII dengan baik. Jadi, Gereja yang sama yang dianggap sebagai penghambat kemajuan dan ilmu pengetahuan justru memberikan kontribusi kepada dunia dunia berupa metode penghitungan hari yang dapat diandalkan dan sudah teruji sepanjang zaman.

 

Sumber: “Like Your Calendar? Thank the Catholic Church”

Posted on 2 January 2024, in Apologetika and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.