Analogi Buruk dalam Menjelaskan Tritunggal

Oleh Matt Fradd

Ilustrasi Tritunggal (Sumber: stangelabreachurch.org)

Sebaiknya hindari analogi-analogi ini ketika mencoba memahami misteri agung ini

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah “rahasia sentral iman [kita]” (Katekismus Gereja Katolik 234). Oleh karena itu, rahasia ini adalah yang paling mendasar. Jika kita salah dalam memahami misteri ini, maka segala sesuatu yang lain akan menjadi kabur atau menyimpang.

Katekismus menyimpulkan Tritunggal dengan cara ini:

Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat” (Konsili Konstantinopel II 553: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Sinode Toledo XI 675: DS 530). “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi” (K. Lateran IV 1215: DS 804). (KGK 253)

Meskipun penjelasan ini ringkas dan tepat, penjelasan ini dapat membingungkan bagi umat biasa yang tidak terbiasa dengan istilah-istilah teknis seperti konsubstansial (sehakikat) dan hakikat. Mereka mungkin akan menggunakan salah satu dari cara-cara yang lebih rendah dalam menyampaikan kebenaran Tritunggal Mahakudus, namun kita harus berusaha keras untuk menghindari analogi berikut ini.

  1. “Tritunggal adalah misteri. Jangan berusaha untuk memahaminya tetapi percaya saja.”

Ketika umat Kristiani didesak dengan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang bagaimana Allah dapat menjadi tiga pribadi atau bagaimana setiap pribadi dalam Tritunggal dapat sepenuhnya adalah Allah, beberapa umat Kristiani menggunakan taktik yang tidak menguntungkan. Mereka mengangkat tangan dan berkata, “Ini adalah misteri!” Mereka tidak mau repot-repot menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, dan terkadang mereka menuduh orang lain tidak memiliki kerendahan hati ketika ada orang yang berusaha menjelaskan Tritunggal dengan tepat. Bukankah mencoba mendefinisikan kodrat Allah Tritunggal yang tidak terbatas dan istimewa adalah pekerjaan yang mustahil? Bukankah kita sedang mencoba untuk “meminum samudera dalam cangkir teh” dengan mencoba memasukkan Allah ke dalam pikiran kita yang kecil dan terbatas?

Seperti yang sudah dikatakan, misteri bukanlah sesuatu yang tidak dapat diketahui; misteri adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami sepenuhnya. Saya tahu bahwa pi (π) adalah rasio diameter lingkaran terhadap kelilingnya, tetapi saya tidak mengerti dan tidak akan pernah bisa memahami nilai penuh dari pi, karena pi memiliki angka yang tak terbatas setelah titik desimal. Demikian juga, saya dapat mengetahui bahwa Allah itu maha tahu, tetapi saya tidak dapat sepenuhnya memahami bagaimana rasanya menjadi maha tahu.

Tidak seperti nilai pi, Gereja mengajarkan bahwa misteri-misteri iman kita adalah hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh manusia melalui akal budi semata (KGK 237). Dalam hal ini, misteri-misteri iman tidak seperti “misteri” Segitiga Bermuda atau “misteri” nilai pi, yang mana keduanya hanya merupakan sebuah celah dalam pengetahuan manusia yang dapat diisi dengan penelitian yang tekun. Misteri-misteri iman harus diwahyukan kepada manusia supaya kita dapat mengetahuinya.

Konsili Vatikan I mengajarkan bahwa meskipun manusia dapat mengetahui eksistensi Allah melalui akal budi saja, manusia tidak dapat mengetahui bahwa Allah adalah Tritunggal yang terdiri dari tiga pribadi atau Ekaristi adalah substansi tubuh Kristus dalam rupa roti dan anggur. Jika Allah tidak mewahyukan kebenaran-kebenaran ini kepada manusia, kita akan tetap berada dalam ketidaktahuan akan kebenaran-kebenaran ini, dan karena itulah kebenaran-kebenaran ini merupakan misteri-misteri suci iman.

Selain itu, hanya karena kita tidak dapat sepenuhnya memahami sesuatu, bukan berarti kita tidak dapat memahami kesalahan tentang sesuatu itu. Sebagai contoh, Yesus Kristus adalah orang yang paling misterius yang pernah hidup, karena Dia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. (Coba saja Anda pahami bagaimana bisa begitu!) Katekismus bahkan mengakui, “Banyak hal, yang karena sifat ingin tahu kita hendak kita ketahui tentang Yesus, tidak ditemukan dalam Injil-injil. Mengenai kehidupan-Nya di Nasaret hampir tidak ada apa-apa yang diberitakan, malahan mengenai sebagian besar kehidupan-Nya di muka umum tidak diberitakan apa-apa” (KGK 514).

Sederhananya, ada banyak hal tentang Yesus dari Nazaret yang misterius, dan kita tidak bisa beranggapan bahwa kita tahu lebih banyak (seperti bagaimana rupa Yesus) daripada apa yang telah diungkapkan kepada kita. Namun, mengoreksi seseorang yang mengatakan bahwa Yesus adalah seorang wanita, atau bahwa Yesus bukan orang Yahudi, tidaklah menunjukkan kurangnya kerendahan hati; hal ini menunjukkan kesetiaan pada kebenaran-kebenaran tentang Yesus yang dapat kita ketahui melalui penyelidikan historis atau melalui apa yang telah diwahyukan oleh Gereja kepada kita.

Karena Tritunggal adalah ajaran yang paling mendasar dan inti dalam “hierarki kebenaran iman” (KGK 90), kita harus memberantas kesalahan-kesalahan di mana pun kita menemukannya. Sayangnya, kesalahan-kesalahan ini biasanya muncul ketika umat Katolik yang berniat baik berusaha membuat suatu analogi untuk menolong orang-orang yang belum beriman, atau mereka yang membutuhkan katekese, untuk memahami Tritunggal.

Masalah dalam menggunakan analogi untuk menjelaskan Tritunggal adalah bahwa Allah adalah eksistensi yang paling istimewa. Bahkan, banyak teolog akan mengatakan bahwa tidaklah tepat untuk menyebut Allah sebagai makhluk, melainkan Dia adalah sang entitas atau alasan mengapa segala sesuatu ada. Karena Allah begitu istimewa, analogi apa pun yang kita gunakan pasti akan menemui kebuntuan. Katekismus menyatakan, “Allah itu agung melebihi setiap makhluk … Kata-kata manusiawi kita tidak pernah akan mencapai misteri Allah” (KGK 42).

Meskipun analogi ini dapat berguna bagi anak-anak, namun ketika mereka ditekan terlalu jauh, hal ini akan mengarah pada kesimpulan yang dianggap sesat oleh Gereja.

  1. “Tritunggal adalah seperti seorang pria yang dapat menjadi seorang anak, seorang ayah, dan seorang paman pada saat yang bersamaan. Dia adalah satu dan tiga pada saat yang sama, sama seperti Allah adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus pada saat yang sama.”

Tidak seperti itu. Analogi ini merupakan ajaran sesat modalisme. Modalisme adalah ajaran sesat yang menyatakan bahwa Allah adalah satu pribadi yang menyatakan diri-Nya dalam tiga bentuk atau modus. Modalisme juga disebut Sabellianisme, yang diambil dari nama Sabellius, seorang teolog kuno yang diekskomunikasi oleh Paus Kalistus I pada tahun 220.

Kaum modalis sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani, yang mengajarkan bahwa Allah adalah satu yang paling utama atau tindakan kesatuan. Meskipun ini merupakan kemajuan besar dari politeisme Yunani, yang mengemukakan suatu himpunan dewa-dewa yang saling bertarung satu sama lain, namun hal ini menjadi terlalu jauh ketika menyangkal bahwa Allah dapat menjadi tiga pribadi yang berbeda secara relasional dalam satu entitas.

Kembali ke analogi buruk yang mengarah pada modalisme, meskipun seorang pria bisa saja seorang anak, ayah, dan paman, dia bukanlah tiga pribadi seperti Allah, tetapi satu pribadi yang memiliki tiga sebutan.

Analogi lain yang populer tetapi salah adalah sebagai berikut: Tritunggal adalah seperti air yang dapat menjadi es, cair, dan uap. Ini lagi-lagi merupakan kesesatan modalisme. Allah tidak mengalami tiga keadaan yang berbeda. Pribadi-pribadi Tritunggal Mahakudus berada dalam koeksistensi, tidak seperti bentuk air yang berbeda-beda. Air tidak bisa menjadi es, cair, dan uap pada saat yang bersamaan. Mungkin saja air berada di antara dua tahap seperti ketika es mencair, tetapi ini bukanlah koeksistensi, melainkan transformasi.

Analogi lain yang digunakan oleh Sabellius dan masih digunakan hingga saat ini adalah analogi matahari. Bapa adalah matahari, sementara Putra dan Roh Kudus adalah cahaya dan panas yang diciptakan oleh Bapa. Tetapi analogi ini juga berbau modalisme, karena bintang hanya tampak dalam bentuk yang berbeda.

Atau dapat juga dianggap sebagai bentuk pernyataan dari Arianisme, yaitu pandangan sesat yang menyatakan bahwa Bapa lebih tinggi daripada Anak dan Roh Kudus karena merupakan substansi ilahi yang berbeda dan “lebih tinggi” daripada dua substansi ilahi lainnya. Dalam analogi matahari, cahaya dan panas adalah efek pasif dari matahari dan bukan merupakan kesetaraan yang sejati seperti halnya Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang setara dan sepenuhnya memiliki kodrat ilahi.

Akibat sesat lainnya dari Sabellianisme adalah patripassianisme: Allah hadir sebagai satu “modus” dan hanya mengenakan topeng atau peran sebagai “Bapa,” “Putra,” dan “Roh Kudus.” Akan tetapi, ini berarti bahwa ketika Putra menderita di kayu salib, Bapa juga menderita di kayu salib (meskipun Ia mengenakan topeng atau modus sebagai Putra).

Dalam novel populer The Shack karya William Young, Tritunggal diilustrasikan melalui tiga orang. Bapa adalah seorang pria Afrika-Amerika bernama “Papa,” Putra adalah seorang tukang kayu dari Timur Tengah, dan Roh Kudus adalah seorang wanita Asia yang misterius. Pada satu titik, Papa berkata kepada tokoh utama bahwa pada saat penyaliban, “dia dan Yesus ada di sana bersama-sama,” dan Papa bahkan memiliki bekas luka seperti Yesus (hlm. 95-96). Namun, Gereja mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dilukai dan tidak ada yang dapat dilakukan manusia yang dapat menyebabkan Allah menderita seperti kita. Yesus mampu menderita di kayu salib hanya karena Dia mengambil kodrat manusia dan memiliki tubuh manusia.

Pada dasarnya, masalah utama dari modalisme adalah bahwa ia menyangkal bahwa Allah adalah tiga pribadi yang berbeda. Katekismus menyatakan, “’Bapa,’ ‘Putera,’ ‘Roh Kudus,’ bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena,mereka secara real berbeda satu dengan yang lain (KGK 254). Yang Anda dapatkan adalah monoteisme yang membingungkan, di mana Allah hanya berpura-pura menjadi tiga pribadi yang berbeda dan bukannya benar-benar menjadi tiga pribadi yang berbeda.

Sayangnya, untuk memperbaiki kesalahan ini beberapa analogi yang dibuat menjadi berlebihan. Hal ini membawa kita kepada analogi buruk berikutnya.

  1. “Tritunggal itu seperti sebutir telur: kuning telur, putih telur, dan cangkang. Ketiga elemen tersebut membentuk satu telur seperti halnya ketiga bagian dari Tritunggal yang terdiri dari satu Allah.”

Hal ini merupakan kesesatan  dengan mengatakan bahwa Allah terdiri dari tiga bagian dan bahwa bagian-bagian tersebut membentuk satu Allah. Namun, Allah tidak memiliki bagian-bagian, seperti yang ditegaskan oleh Bapa Gereja pada akhir abad kedua, Irenaeus: “[Allah] itu sederhana, tidak terdiri dari bagian-bagian, tanpa struktur, sama sekali sama dan setara dengan dirinya sendiri. Dia adalah segala akal budi, segala roh, segala pikiran, segala kecerdasan, segala nalar… segala cahaya, segala sumber segala kebaikan, dan inilah cara yang biasa digunakan oleh para kaum religius dan kaum saleh untuk berbicara tentang Allah” (Melawan Ajaran Sesat 2:13:3 [189 M]).

Kuncinya di sini adalah memahami bahwa kita percaya bukan pada tiga pribadi yang ketika bersatu menjadi Allah, tetapi pada tiga pribadi yang memiliki kodrat ilahi yang sama. “Bapa adalah yang sama seperti Putra, Putra yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putra adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Konsili Toledo XI [675]: DS 530,26).

Meskipun kita tergoda untuk menggunakan analogi untuk membantu anak-anak kita memahami siapa Allah itu, menurut pengalaman saya dengan anak-anak, analogi hampir selalu memperkeruh suasana. Dan karena lebih baik anak-anak kita tidak sepenuhnya memahami siapa Allah daripada memiliki pemahaman yang salah tentang Dia, saya cenderung menjauhi analogi-analogi itu. Hal yang paling mudah yang bisa saya lakukan untuk “membuat jelas dan gampang” bagi anak-anak saya adalah dengan 1) pembicaraan sederhana tentang entitas, pribadi, dan kodrat; 2) diagram sederhana; dan 3) Pengakuan Iman Athanasian.

Pertama, inilah cara saya memulai pembicaraan dengan salah satu anak saya.

Saya: Liam, apa itu pribadi?
Liam: Entahlah.
Saya: Pribadi adalah seseorang yang berpotensi untuk mengatakan “aku.” Apakah patung adalah pribadi?
Liam: Bukan.
Saya: Mengapa?
Liam: Karena tidak bisa berkata apa-apa. Patung tidak hidup.
Aku: Tapi patung, seperti yang ada di halaman depan, itu nyata, bukan? Itu bukan khayalan seperti naga.
Liam: Tentu saja.
Saya: Jadi segala sesuatu yang nyata adalah entitas. Jadi ada beberapa entitas, seperti patung, yang bukan manusia, kan?
Liam: Benar.
Saya: Bagaimana dengan kamu, apakah kamu seorang pribadi?
Liam: Ya.
Saya: Oke, jadi patung adalah entitas yang tidak memiliki pribadi. Kamu adalah entitas yang merupakan satu pribadi. Allah adalah entitas yang terdiri dari tiga pribadi. Masuk akal?
Liam: Tidak juga.
Saya:  Bagus.

Karena anak saya baru berusia lima tahun, saya senang bahwa setidaknya saya dapat membawanya ke kaki gunung teologis ini sebelum ia mencoba untuk mencapai puncaknya. Saya lebih suka seperti itu daripada dia melompat dari tebing teologis dengan berpegang pada pandangan yang keliru tentang Tritunggal Mahakudus.

Ingatlah bahwa ketika Anda melakukan pembicaraan tentang Tritunggal, perbedaan paling penting yang dapat Anda lakukan adalah tentang entitas, pribadi, dan kodrat. Entitas adalah substansi terpadu yang ada. Pribadi adalah “aku” atau diri individu. Pikirkanlah Allah sebagai satu entitas yang terdiri dari tiga “Aku” atau tiga pribadi yang masing-masing sepenuhnya adalah Allah.

Frank Sheed menulis demikian,

Orang yang baru mengenal pemikiran seperti ini harus siap untuk berpikir keras dalam hal ini. Inilah tahap yang menentukan dalam perjalanan kita memasuki teologi untuk mendapatkan pemahaman tentang makna kodrat dan makna pribadi. Untungnya, tahap pertama dari pencarian kita berlangsung dengan cukup mudah. Kita mulai dengan diri kita sendiri. Ungkapan seperti “kodratku” menunjukkan bahwa ada satu pribadi, aku, yang memiliki satu kodrat. Pribadi itu tidak akan ada tanpa kodratnya, tetapi ada beberapa perbedaan yang sama; karena pribadilah yang memiliki kodrat dan bukan sebaliknya.

Satu perbedaan yang dapat kita lihat secara langsung. Kodrat menjawab pertanyaan tentang apa kita; pribadi menjawab pertanyaan tentang siapa kita. Setiap makhluk memiliki kodrat; dari setiap entitas, kita dapat bertanya dengan tepat, “Apakah itu?” Tetapi tidak setiap entitas adalah pribadi: hanya makhluk rasional yang merupakan pribadi. Kita tidak dapat dengan tepat bertanya pada sebuah batu atau kentang atau tiram, “Siapakah itu?” (Theology and Sanity, hal. 92).

Ketika kita mempelajari Tritunggal, kita dapat bertanya tentang Bapa, Putra, dan Roh Kudus, siapakah mereka. Bapa adalah sang pencipta, Putra adalah sang penebus, dan Roh Kudus adalah sang pengudus. Gereja mengajarkan bahwa Putra dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad. Bapa selalu menjadi Bapa, dan Putra selalu menjadi Putra. Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra.

Meskipun pribadi-pribadi Tritunggal berbeda dalam peran mereka, tidak berarti bahwa pribadi-pribadi Tritunggal itu berbeda dalam hal siapa mereka. Ketika kita bertanya apa itu Bapa, Anak dan Roh Kudus, jawabannya selalu sama. Bapa adalah Allah. Putra adalah Allah. Roh Kudus adalah Allah. Bukan suatu ilah. Masing-masing adalah Allah.

Para kritikus mungkin mengatakan bahwa Allah tidak mungkin terdiri dari tiga ilah, dan mereka benar. Tetapi jika ada entitas yang tidak memiliki pribadi, dan ada entitas yang terdiri dari satu pribadi, mengapa tidak ada entitas yang terdiri dari tiga pribadi? Mengatakan bahwa Allah tidak mungkin memiliki lebih dari satu pribadi sama saja dengan memberikan batasan manusiawi pada kemahakuasaan ilahi. Jika Allah itu maha kuasa, tidak ada alasan mengapa Ia tidak dapat memasuki ciptaan-Nya atau ada sebagai perpaduan yang sempurna dari tiga pribadi yang sama-sama ilahi.

Selain itu, Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8, 16), dan kasih tidak ada dalam kehampaan. Kasih melibatkan pemberian diri sepenuhnya kepada yang dikasihi. Jika Allah ada sebagai sang kasih untuk selama-lamanya, maka pasti ada yang menerima kasih-Nya. Jika tidak, kasih Allah tidak akan sempurna, karena kasih itu tidak akan menghendaki kebaikan bagi pribadi lain.

Lebih dalam lagi, seperti kasih suami dan istri yang menciptakan pribadi yang baru, kasih abadi yang dimiliki oleh Bapa dan Putra juga merupakan pribadi yang abadi – Roh Kudus, yang menghidupkan hati orang-orang percaya untuk memahami misteri kasih Allah dan membagikannya kepada seluruh dunia.

 

Sumber: Bad Analogies for the Trinity

Posted on 30 May 2024, in Apologetika and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.