Belajar juga dari Perempuan Samaria yang telah belajar pada Tuhan Yesus, tentang Air Hidup dan Penyembahan kepada Bapa di dalam…
Halloween dan Hari Semua Orang Kudus
oleh Joseph Shaw

Pemakaman (Sumber: catholic.com)
Annibale Bugnini, seorang arsitek reformasi yang terjadi setelah Konsili Vatikan II, dalam buku The Reform of the Liturgy 1948-1975, ia mengungkapkan penyesalannya karena tidak dapat memindahkan hari Rabu Abu ke hari Minggu. Ia menjelaskan bahwa hari Minggu yang bermakna tobat tidak mungkin terjadi, namun pada kenyataannya hari Rabu Abu selalu dikaitkan dengan Mardi Gras.
Di beberapa negara dan wilayah di mana Mardi Gras merupakan acara yang besar, kita bisa mengerti masalahnya terutama ketika perayaan ini berlangsung hingga Rabu Abu. Namun, seperti masalah konsumerisme dalam memberikan hadiah Natal dan telur cokelat pada Paskah, pada dasarnya perayaan ini adalah hasil dari liturgi Katolik. Sebagai umat Katolik, kita harus bekerja keras untuk mengatasi warisan tradisi kita sendiri yang sudah terlalu menyebar bahkan bisa dikatakan sudah berubah dari makna perayaan itu sendiri.
Kita mengalami hal yang serupa dengan Halloween.
Eve of All Hallows (Malam Semua Orang Kudus), adalah istilah untuk menyebut hari sebelum atau malam dari hari raya Semua Orang Kudus (All Hallowed (Holy) Souls Day atau All Saints’ Day atau Hallowe’en). Sebagai salah satu hari raya besar dalam kalender Gereja, Hari Raya Semua Orang Kudus merupakan hari raya wajib hingga reformasi liturgi tahun 1955, maka hari raya ini memiliki vigili dan oktaf. Oktaf berarti bahwa Misa Semua Orang Kudus akan dirayakan lagi pada hari kedelapan, dan kadang-kadang pada hari-hari berikutnya. Misa vigili, dengan doa-doa dan bacaan-bacaannya sendiri, dirayakan sehari sebelumnya. Pada hari-hari raya besar Gereja, penyusunan ini memberikan kesempatan berkali-kali untuk merenungkan misteri yang diungkapkan dalam hari raya itu, sedangkan vigili memberikan kesempatan untuk merenungkannya dalam suasana pertobatan sebelum merayakannya sebagai hari raya yang penuh sukacita. Karena vigili adalah hari pertobatan: menggunakan busana ungu dan Kitab Hukum Kanonik 1917 mencantumkan Vigili dari Hari Raya Semua Orang Kudus sebagai hari puasa.
Hari Raya Semua Orang Kudus juga diperkenalkan sebagai bulan doa khusus untuk orang-orang yang telah meninggal. Peringatan Semua Arwah Orang Beriman, mulai dirayakan pada hari berikutnya, peringatan ini hanya memiliki perbedaan dengan Hari Natal, yaitu memiliki tiga Misa berbeda yang dapat dirayakan. Maka menjadi pengingat bahwa para imam memiliki hak istimewa untuk merayakan tiga Misa pada dua hari tersebut (31 Oktober malam dihitung satu hari dengan 1 November, dan satu hari lagi adalah tanggal 2 November –red.). Sedangkan untuk hari-hari raya lainnya dalam kalender liturgi, mereka hanya dapat merayakan satu Misa kecuali ada kebutuhan pastoral.
Perpaduan antara antisipasi pertobatan dari Hari Semua Orang Kudus dan hari-hari berikutnya yang didedikasikan untuk orang-orang yang belum kudus, secara otomatis memunculkan hubungan dengan kuburan dan hantu. Pertama, teks-teks pada vigili mengingatkan kita akan harapan akan kemuliaan para kudus yang seharusnya mengingatkan kita akan kematian kita sendiri yang akan datang dan juga perlunya pertobatan. Kedua, pandangan Katolik memandang hantu sebagai arwah mereka yang berada di Api Penyucian yang dalam kasus khusus diizinkan untuk mengunjungi orang-orang yang masih hidup supaya mendoakan mereka. Ketiga, liturgi pada hari-hari ini berkaitan dengan transisi dari keadaan kehidupan duniawi dan Api Penyucian menuju penglihatan yang membahagiakan (beatific vision) dari para kudus di surga, singkatnya yaitu perjalanan jiwa dari satu keadaan ke keadaan yang lain.
Masalah timbul ketika adat istiadat kultural yang diinformasikan oleh agama Katolik diwarisi oleh masyarakat yang secara resmi menolak teologi Katolik. Misalnya, para teolog Protestan menolak jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan dasar bahwa Api Penyucian tidak ada.
Protestanisme mengubah paradigma roh-roh api penyucian yang mengingatkan akan kefanaan kita, menjadi roh-roh jahat yang untuk menghancurkan jiwa kita. Hal ini telah membuat Halloween menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih menyeramkan daripada yang seharusnya.
Dewasa ini kita harus berhadapan dengan kesalahpahaman yang lain: upaya kaum neo-pagan untuk mengklaim Halloween sebagai milik mereka. Neo-pagan menggunakan kembali argumen Protestan abad ke-16 bahwa Gereja Katolik adalah semacam takhayul pagan, dan klaim para sejarawan di awal abad ke-20 bahwa segala sesuatu tentang Katolik abad pertengahan yang terlihat aneh bagi kaum Anglikan sekuler pastilah berasal dari masa lalu pra-Kristen. Bagi kaum neo-pagan, Easter (mengacu terjemahan hari raya Paskah Kristen dalam bahasa Inggris), “Yule” (Natal), dan “Samhain” (Halloween) adalah hal-hal yang dicuri oleh orang Kristen dari paganisme, dan yang hanya dimengerti dan dihargai oleh kaum revivalis pagan.
Klaim-klaim seperti ini hampir sepenuhnya tidak memiliki dasar sejarah. Bangsa Keltik pra-Kristen dan bangsa-bangsa lain mungkin memiliki semacam festival panen, tetapi perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus berasal dari Roma bukan dari dunia Keltik, dan segala sesuatu tentang hal itu masuk akal dalam hal teologi dan budaya Katolik. Jika ada perampasan budaya yang terjadi, hal itu adalah pemahaman Katolik tentang hantu dan malaikat yang jatuh yang dirusak dan dikomersialkan yang tidak kita sadari.
Seperti yang dipikirkan oleh Bugnini tentang Mardi Gras, masalahnya tetap ada: salah satu peristiwa penting dalam kalender Gereja telah ditumpangi oleh sesuatu yang murahan, dan kadang-kadang sangat menyinggung dan tidak Kristiani. Kita terjebak di antara pemikiran Bugnini sendiri, jika memungkinkan akan lebih baik untuk memindahkan perayaan kita ke tempat lain dan membiarkan dunia modern melakukan apa yang mereka inginkan atau keinginan untuk mengkristenkan kembali sesuatu yang sudah lama kehilangan makna Kristianinya.
Bagaimana tepatnya strategi yang terakhir ini bisa berhasil akan bergantung pada praktik budaya yang dihadapi. Inilah alasan yang memadai untuk menolak strategi pertama dengan menyerah begitu saja, karena di beberapa negara kultus terhadap orang mati masih merupakan realitas sosial yang kuat. Pada saat ini, orang-orang masih mengunjungi makam orang yang mereka cintai. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat motivasi rohani yang tersisa supaya tetap menjadi budaya Katolik yang sehat, dan jika tidak banyak yang tersisa, setidaknya untuk memperkuat tanggapan pribadi kita sebagai umat Katolik, kita harus tahu apa yang diminta oleh Gereja mengenai hari raya ini.
Pesan Gereja tidak diperkuat dengan dihapuskannya Vigili Hari Raya Semua Orang Kudus pada tahun 1955. Anggapan bahwa reformasi ini, yang menghapuskan sebelas vigili dan menyisakan empat vigili saja, merupakan sikap yang berlebihan sudah tersebar luas. (Salah satu dari vigili yang dihapuskan yaitu pada Epifani, sebenarnya sedemikina rupa dipulihkan kembali dalam Missal pasca Vatikan II). Pentingnya sebuah hari raya ditandai dengan persiapan yang kita lakukan untuk itu: Paskah melalui masa Prapaskah, Natal melalui masa Adven. Jika kita ingin menganggap Hari Raya Semua Orang Kudus secara serius sebagai kejayaan Gereja dengan orang-orang kudusnya atas penganiayaan dan semua kekuatan kegelapan, maka satu hari tobat ringan pada Halloween dengan Misa sendiri, sepertinya sangat tepat.
Sementara itu, masih ada hal-hal yang harus kita lakukan: merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus dan Semua Arwah Orang Beriman dengan seserius mungkin, dan menolak anggapan “tidak perlu mendoakan orang yang telah meninggal.” Mereka tidak berdaya: mereka tidak dapat melakukan indulgensi atas dosa-dosa mereka sendiri. Sebagai apresiasi atas fakta ini, buku Handbook of Indulgences menawarkan kepada kita indulgensi yang bisa kita lakukan bagi orang-orang yang sudah meninggal selama delapan hari pertama di bulan November, jika kita berdoa di pemakaman dengan syarat-syarat yang umum. Marilah kita tidak mengabaikan kesempatan ini untuk menolong orang-orang yang kita kasihi, dan juga orang-orang yang sudah meninggal dan terlupakan karena tidak ada yang mendoakan mereka.
Sumber: “Three Halloweens”
Posted on 31 October 2024, in Ekaristi and tagged Api Penyucian, Liturgi, Orang Kudus. Bookmark the permalink. Leave a comment.


Leave a comment
Comments 0